Selain kepala mereka yang gundul
dan klimis, juga mereka tidak berkumis atau berjenggot sehingga muka mereka seperti muka bayi yang baru dicukur rambutnya. Wajah mereka hampir sama, seperti pinang dibelah dua,
hanya kulit muka mereka saja yang berbeda, seorang
agak putih karena kulit mukanya penuh
panu dan orang kedua agak kehitam-hitaman.
Sepasang mata bundar menonjol hampir
keluar dari rongga mata, hidung pesek hampir rata dengan tulang pipi sedangkan mulut mereka berbibir tipis dan lebar sekali. Mereka hanya mengenakan sebuah celana panjang hitam, adapun tubuh bagian atas telanjang sama sekali. Inilah kedua saudara kembar yang menjadi iblis dari Gunung Papak.
Mereka ini dahulunya adalah perwira-perwira gagah perkasa dari Mataram dari
zaman pemerintahan Prabu Sanjaya, dan telah diusir dari kerajaan oleh karena mereka seringkali melakukan
pelanggaran-pelanggaran dan
kejahatan-kejahatan. Mereka
melarikan diri dan akhirnya bertapa di atas Gunung Papak sambil memperdalam ilmu-ilmu
dan kesaktian. Gunung itu
memang terkenal angker dan seram,
mungkin agaknya mereka telah dimasuki oleh roh-roh yang sesat jalan karena belum lama mereka berada di atas gunung
itu, mereka telah berobah seperti orang-orang yang miring otaknya. Akan
tetapi, mereka ini sungguh-sungguh amat sakti dan semua binatang ular yang berada di gunung itu seakan-akan menjadi
balatentara mereka.
Ketika Kerajaan Syailendra makin luas daerahnya sehingga Gunung Papan inipun termasuk wilayah Syailendra, Sang Raja Samaratungga telah
beberapa kali berusaha mengusir
atau membasmi kedua saudara kembar yang bernama Sarpajati dan Sarpawuyung. Akan
tetapi ternyata kedua orang ini amat
sakti dan pandai sekali menyembunyikan diri
sehingga selama itu usaha Sang Prabu Samaratungga tak berhasil. Oleh
karena kedua orang manusia iblis ini sering kali mengganggu keamanan,
merampok bahan makanan dan menculik orang, maka Sang Prabu memasukkan kedua orang penjahat ini
ke dalam sayembara pemilihan mantu itu.
Demikianlah sedikit
keterangan tentang Sarpanjati dan Sarpawuyung yang
berhasil menewaskan kedua senopati Sriwijaya yang bertugas mengalahkan mereka itu. Dengan cara yang amat curang
kedua orang manusia iblis ini
menyerang Kalinggapati dan Kalinggajaya dengan lembing berbisa
dari belakang pada saat kedua
orang senapati itu tengah
membidikkan panah putih ke arah ular
besar itu.
“Ha, ha, ha! Hi, hi, hi!”
Sarpawuyung tertawa-tawa sambil menari-nari memutari dua tubuh
yang menggeletak di atas tanah,
kemudian mencabut lembingnya yang menancap pada
punggung Kalinggajaya.
“Hanya sebegini saja macamnya orang-orang yang
menjadi utusan Samaratungga untuk menumpas kita! Ha, ha, ha!”
Sarpajati juga mencabut lembingnya yang menancap di punggung Kalinggapati, lalu berkata dengan suara
bersungguh-sungguh. “Adi Wuyung, jangan engkau gegabah! Aku telah mendengar bahwa yang memenangkan sayembara
di Syailendra adalah seorang ksatria Syailendra dan Raja Mataram sendiri, akan tetapi aku tidak takut menghadapi kedua orang yang masih muda-muda itu. Yang membikin hatiku gentar adalah orang kelima, yaitu Sang Begawan Siddha
Kalagana! Ah, aku merasa bulu
kudukku meremang kalau mengingat kepada penyembah Batari
Durga itu!”
“Ah, kakang Jati,” menyela Sarpawuyung,
“apa sih yang harus ditakutkan? Sampai
dimana kedigdayaan penyembah Batari Durga? Biarlah dia datang, akan kuhancurkan tubuhnya dengan
lembingku ini. Ha, ha, ha!”
Sarpawuyung mengangkat lembingnya yang berlepotan darah
itu sambil tertawa lagi.
“Jangan sembrono adi Wuyung. Siddha Kalagana benar-benar sakti dan
ia telah menghabiskan jantung segar banyak anak-anak kecil. Ilmunya tinggi dan ia kebal terhadap segala macam racun. Daripada kita mendapat bencana, lebih baik
bersembunyi dan mengerahkan barisan
ular untuk menjaga keselamatan kita. Siapa saja yang memasuki hutan ini akan berhadapan dengan barisan ular kita lebih dahulu sebelum
bertemu dengan kita!”
Kembali Sarpawuyung tertawa bergelak.
“Sesukamulah, kakang Jati, akan tetapi aku tidak takut
sama sekali!”
Tiba-tiba Sarpajati menundukkan kepalanya
yang gundul seakan-akan mendengar sesuatu.
“Sst, ada orang datang! Adi Wuyung, lekas kita bersembunyi dan
kita kerahkan barisan ular!”
Kemudian ia menengok ke arah ular besar yang masih
bergantungan di cabang pohon randu
alas itu dan berkata,
“Hai Nagaluwuk, waspadalah kau berjaga disini!” Bagaikan dua bayangan setan, sekali melompat ke dalam semak belukar lenyaplah kedua orang itu.
Pendengaran Sarpajati
memang tajam. Benar saja, tak lama setelah mereka menghilang, nampaklah
bayangan orang berjalan dalam kesuraman senja. Bayangan ini
bukan lain adalah Raden Pancapana atau
Sang Rakai Pikatan sendiri, yang menjalankan tugasnya mencari
pengganggu keamanan yang berada di puncak Gunung Papak dan
menewaskan mereka.
Sang Rakai Pikatan berjalan
perlahan dan sungguhpun ia sedang berjalan mencari blis
pengganggu di gunung itu, akan tetapi
pikirannya melayang jauh dari situ, dan di depan matanya terbayang wajah Raden Indrayana yang
dijumpainya di alun-alun tempat diadakannya sayembara menarik gendewa
tadi pagi. Ia masih merasa amat penasaran. Bagaimana Indrayana dapat melakukan hal
itu! Apakah benar-benar Indrayana yang dikenalnya sebagai pemuda gagah
dan berbudi ini telah meninggalkan Candra Dewi untuk mencoba menenangkan sayembara agar
menjadi suami sang puteri mahkota? Tadi ketika hendak meninggalkan alun-alun, ia sengaja mendekat dan memanggil Indrayana untuk
ditanya, akan tetapi Indrayana tidak menjawab sama sekali, bahkan
setelah melontarkan pandang mata yang marah lalu meninggalkannya. Ia tidak tahu bahwa pada saat itu ia
menaiki Gunung Papak dari selatan, Indrayana juga naik ke atas Gunung itu dari sebelah timur.
Senjakala telah membuat keadaan di dalam hutan itu agak gelap, namun
sepasang mata Pancapana yang tajam penglihatannya itu masih dapat melihat bahwa yang menggeletak di bawah pohon randu hutan itu adalah
tubuh dua orang yang telah tewas. Ia cepat berlari menghampiri dan alangkah kagetnya ketika ia
melihat bahwa yang menggeletak dan tewas di situ adalah sepasang senopati
Sriwijaya yang mengikuti sayembara.
Sang Rakai Pikatan cepat menghampiri dan berjongkok untuk
memeriksa keadaan kedua orang itu, akan tetapi tiba-tiba terdengar angin serangan dari
atas mengarah kepalanya. Pemuda
perkasa ini cepat melompat ke samping dan meluncurlah kepala
ular Nagaluwuk di dekat tubuhnya.
Nagaluwuk ini adalah seekor ular besar yang tadinya menjagoi
dan merupakan raja hutan di
atas puncak Gunung Papak. Bahkan macan dan badak sendiri mengakui keunggulannya dan tidak berani jalan di dekatnya, akan tetapi ia telah ditaklukkan oleh saudara kembar Sarpajati dan
Sarpawuyung sehingga menjadi
pembantunya.
Melihat bahwa yang menyerangnya adalah
seekor ular yang besar sekali, Sang
Rakai Pikatan menjadi marah dan cepat ia mencabut pedangnya. Nagaluwuk melihat
serangannya tidak berhasil cepat mengubah ayunan kepalanya dan
kini ia menyambar lagi ke arah
pemuda itu. Sang Rakai Pikatan cepat
miringkan tubuhnya mengelak, dan ketika kepala ular itu menyambar lewat, ia tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan itu. Secepat kilat pedangnya bergerak membacok dan “tak!!” pedangnya seakan-akan
membentur batu dan membal kembali.
“Keparat!” seru Rakai Pikatan yang
tidak menjadi gentar, sebaliknya malah merasa marah dan penasaran sekali.
Ia memandang penuh perhatian dan maklum bahwa kekebalan ular
itu terletak pada sisik ular itu.
Sisik itu tebal, kuat dan licin. Lagi pula bertumpuk- tumpuk sehingga amat kuatnya. Kembali kepala ular itu menyambar dengan mulut terbuka lebar. Terdengar desis keras dan dari mulutnya
tersemburlah uap hitam yang
berbau amat amis. Rakai Pikatan mengumpulkan hawa di dalam dada, menahan napas lalu meniup ke arah uap hitam yang
menyerangnya itu sambil mengelak dari terkaman kepala ular. Uap hitam itu menjadi buyar dan kembali terdorong oleh tiupan Rakai Pikatan yang kuat. Kemudian, sebelum
kepala ular itu berbalik kembali, sesigap
rusa melompat, Rakai Pikatan menubruk
maju dan masuk di bawah sisik, terus mengarah kulit dan melukai bagian
leher ular itu.
Ketika pedang dicabut, tersemburlah darah ular itu. Kepala ular mendesis-desis makin hebat sehingga tempat itu penuh dengan uap hitam.
Terpaksa Rakai Pikatan menahan napasnya
dan tidak berani menyedot napas
karena hawa di sekitar tempat itu
telah mengandung racun. Saking
sakitnya karena luka di lehernya,
Nagaluwuk melepaskan libatan
ekornya pada cabang pohon
sebelah atas dan dilibatkannya
kembali ekor itu pada cabang yang
rendah. Kini kepalanya sampai menyentuh tanah dan ia menggeliat-geliatkan lehernya yang
kesakitan. Gerakannya demikian
buas dan cepat sehingga sukarlah Rakai Pikatan untuk menyerang lagi.
Dalam penderitaannya karena luka itu,
Nagaluwuk masih saja dapat menyerang bertubi-tubi yang dielakkan oleh
Rakai Pikatan yang mengandalkan kegesitan
tubuhnya.
Pemuda perkasa itu maklum bahwa kalau dilanjutkan pertempuran ini, ia akan menderita rugi, karena selain tidak mendapat kesempatan membalas serangan lawannya
juga tak mungkin ia menahan terus pernapasannya.
Tiba-tiba ia mendapat akal.
Ketika ular itu menyerangnya lagi, ia
bukan mengelak ke samping, melainkan menggenjot tubuhnya ke atas dan sekali saja pedangnya terayun, cabang pohon dimana ekor ular
itu melilit, terbabat putus dan runtuhlah cabang itu berikut tubuh Nagaluwuk.
Kini ular itu telah berada di
atas tanah dan tentu saja daya serangannya tak
sehebat kalau ia menggantungkan diri
dari pohon. Rakai Pikatan tidak mau
menyia-nyiakan waktu lagi dan
beberapa kali ia melompat-lompat ke kanan kiri dan belakang ular sambil mengirim tusukan-tusukan maut.
Beberapa tusukan lagi kearah
perut hingga binatang itu dan ular
yang besar itu berhenti menyerang, menggelepar di atas tanah, menggeliat-geliat menanti datangnya ajal.
Rakai Pikatan meninggalkan tempat itu dan duduk mengaso
di bawah pohon, agak jauh dari situ agar jangan sampai kena mengisap hawa beracun. Ia menyeka pelupuhnya dan membersihkan pedangnya dengan
rumput alang-alang, kemudian memasukkan pedang pusaka itu di dalam sarung pedang kembali.
Baru saja pedangnya disarungkan, tiba-tiba berkelebat bayangan
hitam di depan mukanya dan kalau saja ia tidak cepat mengelak, tentu pukulan yang dilakukan oleh
bayangan itu akan mengenai dadanya!
Rakai Pikatan bangun dan
memandang.
“Dimas Indrayana!!” serunya
terkejut, heran, dan marah.
Memang penyerang itu adalah Indrayana sendiri.
Pada saat Rakai Pikatan mendaki Bukit Papak dari selatan, pemuda inipun mendaki bukit dari sebelah timur. Ia hendak mencari pula pengganggu yang tinggal di
Gunung Papak dan melenyapkannya sebagai yang diisyaratkan oleh sayembara itu.
Sesungguhnya, Indrayana
mengikuti sayembara hanya dengan satu maksud dan tujuan yaitu
menghalang-halangi Rakai Pikatan. Ia tidak ingin memperisteri Sang Puteri Pramodawardani, ia tidak mungkin dapat mencintai seorang wanita lain lagi setelah hatinya terpatah
oleh Candra Dewi yang dijadikan permaisuri oleh Rakai Pikatan karena Raja Mataram ini
merampas Candra Dewi dari tangannya, akan tetapi karena mengira bahwa Rakai Pikatan telah meninggalkan atau menyia-nyiakan Candra
Dewi, kemarahannya memuncak. Celakalah orang yang mendatangkan sengsara
kepada gadis yang dicintainya itu!
Ketika Indrayana mendaki
bukit itu, sebelum tiba di
puncak, tiba-tiba ia mendengar suara berkerosokan seperti
daun-daun kering diinjak banyak kaki. Ia cepat bersiap dan alangkah kagetnya ketika
ternyata bahwa suara itu
ditimbulkan oleh banyak sekali ular-ular kecil yang meluncur berlenggak-lenggok di atas tanah menuju ke arahnya seakan-akan barisan yang bersiap menyerang musuh.
Indrayana yang gagah dan tidak mengenal
takut itu menjadi ngeri juga
melihat betapa banyaknya ular-ular welang, dumung, sawah dan ular air berlenggak-lenggok menjijikkan. Ia tidak mau melayani ular-ular ini dan hendak mengambil jalan
memutar. Akan tetapi, baru saja ia
membalikkan tubuh ternyata dari belakang, kanan dan kiri telah penuh dengan ular.
Bahkan ketika ia mendengar suara dari atas pohon-pohon juga datang ular-ular yang merayap turun. Ia telah terkurung oleh
ratusan ekor ular!
“Hm, ini tentu perbuatan siluman
gunung ini!” bisik Indrayana.
“Baiklah, kalau kau menghendaki balamu
menjadi bangkai, aku takkan mundur setapak!”
Pemuda yang gagah berani ini lalu
mencabut keris dengan tangan kanan,
sedangkan tangan kirinya melepaskan ikatan kepala yang dipegang ujungnya. Setelah
ular-ular itu merayap dekat dan mulai menyerangnya dengan mendesis-desis dan membuka mulut mereka yang lebar, Indrayana mulai bergerak. Ikat
kepala di tangannya diputar sedemikian rupa dan ternyata kain
pengikat kepala yang lembek ini setelah berada
di tangannya, merupakan sebuah senjata yang amat dahsyat. Ujung
kain itu ketika dipukul-pukulkan mengeluarkan bunyi bagaikan pecut dan setiap kali kepala ekor terkena ujung kain itu, pecahlah kepala ekor ular itu dengan otak
berserakan! Namun ujung kain itu sendiri tetap bersih dan tidak terkena darah ular. Ular-ular yang agak besar dirobohkannya dengan keris pusakanya yang ampuh. Tak usah sampai tembus, baru tergurat sedikit saja oleh
ujung keris di tangan Indrayana, ular-ular itu
bergelimpangan dan tidak berkelojotan lagi.
Betapapun hebatnya amukan
Indrayana sehingga sebentar
saja puluhan bangkai ular bertumpang tindih, namun ular
itu merupakan lawan yang tidak
mengenal arti mundur atau takut.
Mati satu datang dua, roboh dua datang empat sehingga lama-kelamaan Indrayana
merasa ngeri dan jijik. Tempat itu telah berbau amis karena arah ular-ular yang dibunuhnya. Untuk pergi dari situ juga tak mungkin, karena kemana saja ia melompat, ia selalu terkurung dan
sama sekali tak ada jalan keluar.
Dengan gemas Indrayana lalu mencari akal. Ketika melihat batu
hitam yang besar di dekat tempat itu, ia lalu melompat ke atas batu itu sambil membawa daun-daun kering. Ular- ular yang masih mengurung lalu berlenggak-lenggok mengurung batu besar itu dan sudah ada beberapa belas ekor ular yang merambat
menaiki batu untuk
menyerangnya.
Indrayana terpaksa mempergunakan kain ikat kepalanya disabetkan ke kanan
kiri dan ular- ular itu terbanting ke
bawah kembali. Indrayana menggunakan kerisnya digurat-guratkan
kepada batu hitam. Berpijarlah bunga
api ketika keris yang ampuh itu ujungnya diguratkan pada batu hitam yang keras. Sebentar saja terbakarlah daun-daun kering yang dibawanya tadi. Dengan daun-daun terbakar
ini, Indrayana lalu
menyebarkan api pada daun-daun kering yang banyak terdapat di bawah batu, maka sebentar saja menjalarlah api membakar daun-daun kering dibawah pohon.
Akal Indrayana ini baik sekali, karena begitu menghadapi api,
ular-ular itu menjadi ketakutan dan larilah binatang-binatang itu
berserabutan.
Indrayana mentertawakan binatang-binatang itu dan melanjutkan perjalanannya, karena ia aingin “mendahului”
Rakai Pikatan membasmi penggangggu di gunung itu agar sang puteri mahkota jangan sampai terjatuh ke
dalam tangan Rakai Pikatan sehingga merusak kebahagiaan Candra Dewi.
Tiba-tiba ia mendengar suara
keras dan ketika ia berlari menghampiri, ia melihat Raja Mataram itu
tengah berjuang mati-matian melawan
seekor ular yang luar biasa besarnya! Sungguh baik sekali bahwa kedua orang muda itu mendaki bukit dari dua jurusan, karena kalau saja tidak demikian halnya,
maka mereka yang naik ke bukit itu tentu akan menghadapi ular besar itu dan dikeroyok pula oleh ratusan ular kecil! Kalau terjadi demikian, maka hal itu akan berbahaya
sekali. Agaknya tak mungkin menghadapi Nagaluwuk
jika masih dikeroyok pula oleh
ratusan ular itu. Tanpa disengaja, Indrayana
dan Pancapana telah bekerja sama, menghilangkan perintang
yang berupa anak buah Sarpajati dan
Sarpawuyung, sepasang manusia iblis di Gunung Papak itu.
Akan tetapi, ketika Indrayana menyaksikan betapa
Rakai Pikatan telah berhasil
menewaskan ular besar dan kini duduk
mengaso di bawah pohon, ia tak dapat
menahan kesabarannya lagi dan
kebencian meluap. Terbayanglah wajah Candra Dewi yang menangis sedih
karena ditinggalkan oleh suami yang
mengikuti sayembara hendak memperebutkan puteri Syailendra.
Tanpa banyak cakap pula, ia lalu
melompat dan menerjang Rakai Pikatan yang sedang duduk. Sungguhpun
ia tidak memberi tahu lebih
dulu namun sebagai seorang kesatria
ia menyerang dari depan dengan
terang-terangan, memukul dada Raja Mataram yang masih muda itu.
Demikianlah setelah
melihat bahwa yang
menyerangnya itu adalah Indrayana, Rakai Pikatan lalu menegur pemuda itu dan kini mereka berdiri berhadapan, saling menatap muka
masing- masing dengan pandangan bernyala.
“Indrayana, apakah artinya ini? Mengapa kau
menyerangku dengan tiba-tiba tanpa alasan?”
Indayana tersenyum sindir.
“Sang Prabu Pikatan, sungguhpun aku menyerangmu, akan
tetapi aku menyerang dari depan!
Majulah kau dan mari kita sama
lihat, siapa lebih unggul dan lebih digdaya!”
“Indrayana, apakah kau sudah gila!” bentak Sang Rakai
Pikatan marah.
Merahlah muka Indrayana mendengar makian ini. Ia membusungkan dadanya
dan menjawab. “Sang Prabu Pikatan! Baru
sekarang terbukti kebenaran kata-kata orang
bijaksana bahwa kedudukan tinggi itu bercahaya gemilang sehingga dapat membutakan mata
hati orang! Kau yang dahulu kuanggap orang
semulia- mulianya dan
sebaik-baiknya, setelah mendapat
kedudukan tinggi dan mulia,
ternyata juga menjadi buta dan bukan aku yang gila, melainkan kau sendiri, gila perempuan!”
Bukan main marahnya Sang Rakai Pikatan mendengar ini.
“Indrayana! Tak patut kau mengeluarkan kata-kata
sekeji ini! Agaknya kau marah
kepadaku karena Candra Dewi.”
“Jangan sebut-sebut namanya dalam persoalan ini! Sudahlah, kalau
benar-benar kau laki- laki dan gagah,
mari kita tentukan di tempat ini.
Kita berdiri sebagai saingan
dalam memperebutkan Sang
Puteri Mahkota Syailendra. Kalau kau
sanggup menyempal bahu Indrayana, barulah kau akan dapat
memboyong puteri itu. Kalau tidak,
kau harus mati dan puteri mahkota adalah
hak Indrayana!”
“Keparat!” seru Sang Rakai Pikatan dengan
mata bernyala.
“Sebelum pecah dadaku, jangan
harap kau akan dapat menjadi suami
Pramodawardani dan merusak kebahagiaan isterimu sendiri!”
Kata-kata terakhir
ini tidak terdengar lagi oleh
Indrayana yang sudah merasa marah
sekali. Ia melompat maju memukul dengan tangan kanannya, akan
tetapi Rakai Pikatan dengan sigapnya menangkis dan balas menyerang. Bukan main hebatnya pertandingan ini. Keduanya sama
tampan, sama gagah, sama sakti
mandraguna dan pernah mendapat gemblengan yang sama pula dari guru mereka, yakni Sang Begawan Ekalaya di Gunung Muria. Pukul-memukul, tendang-menendang, hempas-menghempas, membuat bumi
yang terpijak oleh mereka
seakan-akan tergetar karena hebatnya perjuangan kedua orang ksatria
itu. Tangan mereka sama ampuh, gerakan
mereka sama gesit dan tubuh mereka sama kebal pula. Pada suatu saat
ketika Indrayana lengah, sebuah pukulan hebat dari Sang Rakai Pikatan
dengan jitu mengenai dadanya, membuat
ia terlempar sampai dua
tombak lebih dan duduk dengan kepala pening beberapa saat lamanya. Akan
tetapi, ia segera bangkit kembali, membuat
serangan balasan dengan hebatnya sehingga berhasil mengirimkan pukulan yang mengenai leher
Sang Rakai Pikatan sehingga Raja Mataram ini terhuyung-huyung ke
belakang dengan pandangan mata nanar untuk seketika.
“Hm, tanganmu keras sekali Indrayana!" Sang Rakai Pikatan memuji bekas sahabatnya ini
dengan kagum.
“Babo, babo!” sumbar Indrayana.
“Kerahkan seluruh kekuatanmu Sang Prabu! Kalau kau masih penasaran, cabutlah
pedangmu dan mari kau hadapi
kesatria Syailendra ini!”
“Aduh, sesumbarmu seakan-akan kau telah menggulingkan Gunung
Mahameru! Jangan kau kira aku gentar
menghadapimu. Akan tetapi, bukan watak kesatria untuk bertempur dalam gelap gulita, mempergunakan keadaan
yang gelap untuk mencari kemenangan. Orang yang bertempur secara liar di dalam
gelap hanya orang buas yang tidak mengenal tata
kesusilaan. Kalau kau tidak mau kuanggap orang liar, kita tunda dahulu pertempuran ini dan kita lanjutkan besok pagi.”
Memang pada saat itu malam telah
tiba dan keadaan mulai menjadi gelap. Sebentar lagi tentu di dalam hutan itu gelap pekat tak kelihatan sesuatu. Indrayana menghela napas
menjawab.
“Sesukamulah! Diteruskan sekarang atau besok
pagi bagiku sama saja.
Pendeknya, kali ini kita harus mengadu tenaga
sampai salah seorang di antara kita
roboh tak bernyawa pula. Nah sampai
besok pagi Sang Prabu!”
“Indrayana…” Rakai PIkatan memanggil dengan
suara halus, akan tetapi pemuda ini telah melompat dan menghilang di
balik semak-semak. Sang Prabu Pikatan menarik
napas panjang karena ia memang amat lelah, ia lalu duduk menyandarkan tubuh di bawah pohon. Tak lama kemudian iapun tertidur nyenyak.
Sementara itu, Indrayana yang
tidak pergi jauh dari situ juga telah tertidur
di atas pohon waringin. Pemuda
inipun merasa lelah sekali. Belum
pernah ia menemui tandingan sekuat
Sang Rakai Pikatan dan dalam
perkelahian tadi ia telah mengerahkan tenaganya sehingga merasa penat dan sakit-sakit
tulang dan urat tubuhnya.
Menjelang tengah malam, dua pasang mata yang seperti mata harimau, yang dapat menembus kegelapan,
mengintai Rakai Pikatan yang sedang tidur pulas di bawah pohon.
Mereka adalah sepasang manusia iblis
di Gunung Papak, yaitu Sarpajati dan
Sarpawuyung. Ketika mereka sampai di
tempat itu, mereka terkejut sekali
melihat Nagaluwuk telah tewas. Mereka tidak mengetahui tentang
pertempuran antara ular besar
itu dan Rakai Pikatan, karena mereka menyembuyikan diri di dalam gua dan tidak berani keluar sebelum tengah malam tiba. Kini mereka mengintai Sang Rakai Pikatan yang sedang tidur.
“Kakang Jati, agaknya raja
sinatria inilah yang telah membunuh Nagaluwuk. Keparat benar! Mari kita bunuh dia, membalas sakit hati Nagaluwuk!”
“Sst, nanti dulu, Wuyung. Jangan kita bertindak sembrono. Ketahuilah bahwa kesatria yang sedang tidur itu bukan sembarang orang yang mudah dilawan begitu saja. Aku sekarang ingat bahwa dia
adalah Sang Prabu Pikatan, raja muda
dari Mataram yang terkenal. Tadinya kukira ia seorang biasa saja, akan tetapi setelah ia berhasil menewaskan
Nagaluwuk, dan melihat teja yang bercahaya dari kepalanya, ternyata ia tidak
boleh dibuat gegabah. Lebih baik
kita menguasainya dengan aji
panyirepan lebih dulu agar ia tak
berdaya.”
Kedua kakak beradik ini lalu duduk bersila di atas tanah, menyilangkan kedua lengan di depan dada dan
mengheningkan cipta lalu mengerahkan aji japa mantera mereka melakukan panyirepan.
Bukan main hebatnya aji ini
karena semua binatang di hutan itu
yang tidur di atas tanah, semua lalu jatuh pulas! Tetapi, alangkah
heran dan terkejut hati
mereka ketika mendapat kenyataan bahwa Sang Rakai Pikatan belum juga terpengaruh oleh aji mereka. Seorang manusia yang terkena aji panyirepan ini,
dapat ditentukan dari suara
mendengkur dalam tidurnya. Biarpun
tadinya orang itu tidak
mendengkur dan tidak biasa mendengkur dalam tidurnya, akan tetapi apabila telah
terkena pengaruh aji panyirepan ini, pasti akan terdengar dengkurnya, tanda bahwa tidurnya nyenyak sekali dan juga tidak sewajarnya! Akan tetapi, ditunggu-tunggu sampai
lama, ternyata Sang Rakai Pikatan
masih saja tidur dengan napas perlahan dan
halus, sama sekali tidak terdengar dengkurnya.
Hal ini tak usah diherankan apabila
diingat bahwa Rakai Pikatan adalah seorang pemuda yang telah bertahun-tahun mendapat gemblengan dari Sang Panembahan Bayumurti
yang sakti, bahkan kemudian ia
mendapat bimbingan dari Sang Begawan Ekalaya yang suci
dan berilmu tinggi. Tidak sembarang ilmu hitam akan dapat mempengaruhi pemuda yang telah menjadi raja
di Mataram ini.
Sepasang manusia iblis kembar
itu menjadi penasaran sekali dan dengan sekuat tenaga mereka
mengerahkan aji kesaktiannya dan pengaruh aji tenung mereka itu menyebarkan hikmat yang membuat daun-daun pohon seakan-akan ikut
tertidur juga! Biarpun demikian mereka masih harus menggunakan waktu hampir setengah malam sebelum mereka mendengar suara dengkur
perlahan dan halus keluar
dari dada Sang Rakai Pikatan.
Menjelang fajar, barulah Raja
Mataram itu tunduk dan terkena hikmat aji kesaktian Sarpajati dan Sarpawuyung.
“Kurang ajar, hampir habis tenagaku!”
kata Sarpawuyung sambil
mengatur napasnya yang terengah-engah. Pengerahan tenaga batin yang dipaksakan yaitu
benar-benar melelahkan kedua orang
itu sehingga mereka tidak berdiri dari tempat duduk mereka dan mengaso
sampai fajar menyingsing.
Setelah tenaga mereka terkumpul dan
hari mulai terang, barulah mereka berdiri dan memandang ke
arah Sang Rakai Pikatan yang duduk
bersandar di batang pohon dan masih
tidur mendengkur perlahan.
Keadaan di dalam hutan ini aneh sekali, karena biarpun matahari telah mulai mengusir halimun pagi, namun tidak terdengar suara ayam hutan atau binatang lain. Semua penghuni hutan masih tertidur lelap karena pengaruh sirep dan sihir kedua orang itu.
“Kakang Jati, biarkan aku
yang membunuh Raja Mataram ini!” kata Sarpawuyung smbil melangkah maju dan mencabut lembingnya. Juga Sarpajati mencabut lembing dan kedua orang itu telah siap untuk
menancapkan lembing mereka di dada Sang Rakai Pikatan. Akan tetapi, tiba-tiba pada saat
Sarpawuyung telah mengangkat lembingnya, dari atas pohon melayang turun
sebatang anak panah tahu-tahu menancap
di depan kedua orang yang hendak membunuh Raja Mataram itu! Sarpajati dan Sarpawuyung terkejut sekali. Mereka mendongak dan pada saat itu juga melayanglah turun sesosok tubuh
yang gerakannya egsit sekali dan
tahu-tahu Indrayana telah berdiri di depan Sang Rakai Pikatan, menghadapi raja itu dan sekali ia mengebutkan ikat kepalanya kearah
muka raja muda itu, terbangunlah Sang
Raja Pikatan dari tidurnya!
“Jahanam!” seru Sarpawuyung dengan
amat marah. “Kami berurusan dengan
Raja Mataram, kau siapakah berani mengganggu kami?”
“Iblis jahat dengarlah baik-baik! Aku adalah Raden Indrayana, kesatria Syailendra yang tidak membiarkan iblis-iblis seperti
kalian berlaku curang!”
“Hm, dia inilah yang menjadi pengikut
sayembara pula!” seru
Sarpajati.
“Adi Wuyung, hayo kita sirnakan manusia sombong ini!”
Sarpajati dan Sarpawuyung lalu
menggeram dan kedua orang ini menyerang dengan hebat sekali, lembing
mereka yang ujungnya hitam
dan berbisa itu menyambar-nyambar kearah tubuh Indrayana. Indrayana
harus menggunakan kegesitannya untuk menghindarkan diri daripada bahaya
maut itu. Ia maklum akan keampuhan lembing itu dan ternyata bahwa gerakan kedua
orang itu amat gesit. Diam-diam Indrayana yang tidak tahu bahwa lawannya adalah
bekas perwira-perwira Mataram, merasa heran sekali bagaimana orang-orang liar ini memiliki gerakan ilmu berkelahi yang cukup tinggi dan indah. Ia mengerahkan kelincahan dan tenaga, menghadapi dua
lembing yang berbahaya itu dengan kerisnya.
Berkali-kali ia mencoba untuk mematahkan senjata lembing
lawan dengan kerisnya yang
ampuh, akan tetapi ternyata bahwa
lembing kedua orang kembar itupun
terbuat daripada logam hitam yang
kuat sekali.
Oleh karena kedua orang lawannya itu memiliki kepandaian tinggi, maka Indrayana yang dikeroyok dua
lambat laun mulai terdesak. Hanya
berkat kegesitannya yang luar biasa
saja pemuda ini masih dapat meluputkan diri
mempergunakan kekebalannya untuk menahan serangan lembing,
akan tetapi bisa yang amat kuat dan berbahaya di ujung lembing itu
akan dapat menimbulkan bencana juga. Indrayana maklum sepenuhnya akan
bahaya ini, maka ia selalu menghindarkan diri
dari tusukan senjata lawan sehingga tubuhnya berkelebatan
di antara sinar senjata lawan.
Sementara itu, setelah tadi
dikebut oleh ikat kepala Indrayana, Rakai Pikatan menjadi sadar dari pengaruh
aji panyirepan dia ia mulai
membuka mata dan menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku dan lemah karena
pengaruh aji ilmu hitam itu. Sang
Pikatan maklum bahwa ia tentu
terkena hikmat ilmu hitam, maka
cepat-cepat ia bangun duduk dan
bersila, mengumpulkan napas dan bersamadhi sebentar,
mengatur jalannya pernapasan untuk membersihkan hawa
yang menghikmatinya selama ia
tertidur tadi. Kemudian, ia membuka matanya dan melihat betapa Indrayana terdesak hebat oleh
kedua orang gundul yang amat sakti itu, ia cepat melompat berdiri. Rakai Pikatan dapat menduga bahwa
ia tentu telah kena pengaruh ilmu
hitam kedua orang itu dan bahwa Indrayanalah
yang telah menolongnya.
“Dimas Indrayana, jangan khawatir, aku datang membantumu!” Setelah berkata
demikian, Raja Mataram ini
mencabut pedangnya dan melompat ke dalam gelanggang pertempuran.
Kini pertempuran menjadi
makin seru. Rakai Pikatan dilawan oleh Sarpajati sedangkan Indrayana menghadapi Sarpawuyung. Tiba-tiba saja
Sarpajati menahan pedang Rakai Pikatan dengan lembingnya, lalu bertanya sambil memandang
tajam.
“Kau Raja Mataram yang berjuluk Rakai Pikatan. Melihat wajahmu, kau serupa benar dengan mendiang Sang Prabu Sanjaya. Ada hubungan apakah kau dengan
raja tua itu?”
“Sang Prabu Sanjaya adalah ramandaku. Apa perlumu menyebut nama mendiang ramanda prabu?”
Mendengar jawaban ini,
Sarpajati tertawa tergelak
dan mukanya nampak makin
buas.
“Ha, ha, ha! Kebetulan sekali!
Kalau begitu, kau tentulah Pangeran pati Pancapana! Ha, akan
tercapailah hasrat hatiku membalas dendam.
Ketahuilah, Sang Prabu
Pikatan! Aku dan adikku ini dahulu
adalah perwira-perwira Kerajaan Mataram
yang telah banyak membuat jasa terhadap
kerajaan. Akan tetapi, ayahmu yang tidak mengenal budi itu telah mengusir kami. Sekarang, karena ayahmu telah meninggal dunia, kaulah yang menjadi penggantinya dan harus membayar hutang orang tuamu!”
“Sudah sepantasnya mendiang
ramanda prabu mengusir kalian kaerna kalian adalah orang–orang
yang jahat.”
“Keparat, rasakan pembalasanku!”
Setelah membentak demikian, Sarpajati lalu menyerang dengan murka dan nekat. Akan tetapi, Sang Rakai Pikatan dapat menahan dengan
pedangnya dan mereka segera bertempur dengan
seru sekali.
Kini, setelah menghadapi Sarpawuyung seorang saja, Indrayana tidak merasa berat, bahkan gerakan kerisnya sellau
mengancam jiwa lawannya.Sarpawuyung selalu mundur dan amat terdesak oleh keris Indrayana yang bagaikan telah berubah menjadi puluhan
buah itu. Sarpawuyung maklum
bahwa ia takkan dapat menang, maka
diam-diam ia membaca manteranya dan ketika ia menyemburkan hawa
dari mulutnya, maka segumpal uap hijau menyerang kea rah muka Indrayana! Pemuda ini maklum akan bahaya dan dapat
menduga bahwa uap hijau itu bukanlah sembarang uap, akan tetapi uap yang terjadi karena ilmu hitam dan yang
mengandung bisa berbahaya atau pengaruh yang kuat, maka ia lalu menahan napas untuk menjaga diri,
kemudian ia mengebutkan ikat kepalanya yang selain ampuh juga digerakkan dengan tenaga luar biasa.
Sarpawuyung hendak mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri,
akan tetapi Indrayana cepat melompat mengejarnya.
“Keparat keji, jangan lari!" teriaknya sambil menyerang dengan
kerisnya.
Ketika Sarpawuyung menangkis
dengan lembingnya, Indrayana cepat menarik kembali kerisnya dan
mengirim sebuah tendangan dengan kaki kirinya ke arah lawannya. Sarpawuyung terkejut
sekali karena ia tidak menyangka akan
serangan yang cepat sekali datangnya ini. Ia lalu menyabetkan lembingnya ke arah kaki Indrayana yang
menendang dengan maksud melukai kaki
itu, karena sekali saja ujung lembingnya dapat
melukai kulit tubuh lawan, berarti ia akan memperoleh kemenangan.
Namun, Indrayana tidak dapat dijatuhkan begitu saja. Pemuda ini semenjak kecilnya memang telah mempelajari berbagai
ilmu pukulan yang tinggi dan
memiliki gerakan yang melebihi seekor raja kera gesitnya. Ia
sengaja memperlambat gerakannya dan ketika ujung lembing lawan
sudah dekat sekali dengan kakinya, secepat kilat ia menarik kembali kaki itu dan
berbareng pada saat itu juga
kerisnya bekerja. Keris itu di ditusukkan kedepan dan …… “cap!“ uluhati Sarwapayung ternyata tidak dapat
menahan serangan keris Indrayana sehingga keris itu
menancap sambil ke gagangnya, Indrayana
mencabut kembali kerisnya sambil melompat ke belakang, sebelum roboh Sarwapayung telah melontarkan lembingnya ke
depan dan kalau saja Indrayana berada
di depannya, maka agaknya akan sukar bagi pemuda itu untuk
mengelak. Sarwapayung roboh mandi darah dan tak dapat berkutik lagi. Ketika Indrayana memandang ke arah Rakai Pikatan ternyata Raja Mataram itu masih bertempur ramai
melawan Sarjapati yang ternyata juga hebat sekali kepandaiannya. Semenjak tadi, memang ilmu pedang Rakai Pikatan lebih unggul dan dapat menekan lembing lawannya, akan tetapi seperti juga
Indrayana, Rakai Pikatan, maklum akan kejamnya lembing berbisa
itu, maka selalu bertempur dengan
hati-hati jangan sampai terluka
sedikitpun juga.
Sarjapati merasa kewalahan menghadapi Sang Prabu Pikatan, dan telah beberapa kali
ia mencari jalan untuk melarikan diri. Lebih-lebih setelah ia melihat betapa adiknya telah tewas dalam tangan Indrayana, semangatnya telah
terbang dan keberaniannya lenyap sama sekali. Ia lalu membaca mantera an ketika ia memekik nyaring,
dalam pandang mata Rakai
Pikatan lawannya itu lenyap berobah menjadi asap! Akan
tetapi Raja Mataram itu cepat
mempergunakan aji kesaktian yang ia pelajari dari Bagawan Ekalaya untuk melawan ilmu hitam. Tiga kali ia menggosok matanya sambil
membaca mantera dan nampaklah lagi olehnya Sarjapati yang
sedang melarikan diri.
“Jahanam, jangan kau lari !“ serunya sambil
mengejar.
Bukan main terkejutnya Sarjapati
ketika melihat lawannya dapat mengejarnya, maka terpaksa ia
melawan lagi dengan nekad dan
mati-matian. Seperti juga adiknya ia mengeluarkan uap
hijau dari mulutnya, namun tetap
saja lawannya yang gagah itu apat
menghindar diri. Gerakan pedang Rakai Pikatan dipercepat sehingga mendatangkan angin dan sinar pedangnya berkilat-kilat menyambar. Uap hijau
ketika terkena sambaran cahaya pedangnya, menjadi buyar pula.
Akhirnya, dengan sebuah bacokan hebat,
leher Sarjapati hampir putus oleh
pedang Rakai Pikatan ! Tewaslah dua orang manusia iblis yang telah lama merupakan gangguan bagi rakyat
Syailendra itu, binasa di dalam
tangan Indrayana dan Rakai Pikatan.
Kini kedua orang muda itu berdiri lagi berhadapan, saling pandang dengan
senjata di tangan! Matahari telah naik tinggi dan wajah mereka
berkilat karena peluh mereka
membasahi jidat dan leher.
Pertempuran melawan dua orang kembar tadi benar-benar
membutuhkan pengarahan tenaga yang tidak sedikit. Apakah dua orang jago muda ini hendak
melajutkan pertempuran mereka malam tadi?
“Bagaimana Indrayana? Masih hendak kaulanjutkan jugakah kekurangajaranmu terhadap
aku. Kalau kau memang membenciku, mengapa pula kau tadi menolongku dari ancaman kedua siluman ini?
Sungguh kau orang aneh, Indrayana!“
“Mengapa tidak kuteruskan? Kaukira aku
takut kepadamu? " jawab Indrayana dengan
keris menggigil di tangannya.
"Menolongmu tidak ada hubungannya dengan pertempuran kita. Sudah menjadi watak
seorang kesatria untuk menolong siapa saja yang terancam bahaya karena kecurangan orang jahat.“
Sang Prabu Pikatan tersenyum menyindir.
“ Pandai kau berbicara, Indrayana. Apakah kau sendiri juga
tidak berlaku curang? Ketika kau
membawa suratku dan menjadi utusanku, kau masih menjadi
seorang kawula yang bertugas. Akan tetapi kau telah berlaku curang dan khianat. Kau telah melarikan Candra Dewi yang kupinang. Dan sekarang kau hendak menghalangi aku
memboyong Pramodawardani? Apakah
semua puteri hendak kauborong? Apakah kau tega untuk menyakiti hati Candra Dewi yang telah menjadi isterimu?“
“Kakangmas Pancapana …… demi
Dewi Yang Maha Agung, katakanlah sekali
lagi. Benarkah Candra Dewi tidak menjadi permaisurimu?
Apakah artinya semua ini ……??“
Sang Prabu Pikatan juga memandang dengan penuh keheranan. Raja
Mataram ini menyimpan kembali pedangnya.
“Dimas Indrayana! Bukankah Candra Dewi telah lari dengan kau? telah
menjadi isterimu?“
“Tidak, tidak! Setelah memberikan surat
pinanganmu kepada Paman Panembahan Bayumurti, aku lalu pergi kembali ke rumah rama wiku di Syailendra. Di manakah adanya Jeng Dewi?“
Maka berceritalah Sang Prabu Pikatan akan berita dari Panembahan Bayumurti bahwa Candra Dewi menolak pinangan
itu dan bahkan dara itu lalu melarikan
diri.
“Tentu saja aku mengira bahwa Candra Dewi melarikan diri bersamamu karena kalian berdua saling mencintai. Itu pulalah yang
membuat aku diam saja, bahkan aku
telah merasa menyesal mengapa aku hendak memisahkan ikatan asmara yang dengan amat teguhnya mengikat hatimu berdua. Sungguh sama sekali tidak kuduga bahwa Candra
Dewi melarikan diri tanpa kau!“
Mendengar ini, lemaslah tubuh
Indrayana,
“mengapa aku sebodoh ini? Sang
Prabu, cabutlah pedangmu dan penggallah leherku. Hamba telah
berlaku bodoh dan sesat. Ah, diajeng Dewi …… “ Tak terasa pula air matanya menitik.
Sang Rakai Pikatan merasa terharu sekali. Ia memegang kedua bahu Indrayana.
“Jangan kau bersikap demikian. Kau hanya memperberat penderitaanku yang timbul karena penyesalanku. Sesungguhnya akulah yang menjadi gara-gara semua ini. Marilah kita pergi mencari Candra
Dewi, dimas. Aku akan mendapatkannya untukmu. Aku takkan merasa bahagia memboyong Pramodawardani sebelum melihat engkau berkumpul kembali dengan
Candra Dewi!“
Dengan hati terharu kedua orang muda yang dahulu menjadi sahabat
karib itu bersama-sama pergi menuju tempat pertapaan Panembahan Bayumurti untuk
mencari Candra Dewi. Akan tetapi
mereka kecele, karena setelah tiba di tempat itu, ternyata bahwa Sang Panembahan Bayumurti dan puterinya tidak berada di situ pula. Prabu Pikatan tidak putus harapan, dan ia lalu mengajak Indrayana untuk mencari jejak
ayah dan anak itu yang menuju ke timur. Raja Mataram ini tidak memperdulikan lagi
akan sayembara meminang puteri mahkota Syailendra karena telah bertekad untuk mencari Candra Dewi sampai dapat. Dia merasa berdosa terhadap
Candra Dewi dan Indrayana.
Kita tinggalkan dulu Sang Rakai Pikatan dan Raden Indrayana yang berkelana mencari Candra Dewi sampai berbulan lamanya dan marilah kita menengok keadaan Kerajaan
Syailendra yang mengalami keributan besar.
Pada hari Indrayana dan Sang Prabu Pikatan datanglah Siddha Kalaga memasuki hutan
itu untuk memenuhi tugas sayembara, yaitu mencari kedua manusia iblis
Sarpajati dan Sarpawuyung yang menjadi syarat sayembara.
Alagkah herannya ketika ia
melihat mayat kedua sonopati Sriwijaya, bangkai ular Nagawuluk, dan mayat kedua orang manusi iblis yang di
carinya itu. Ia dapat menduga bahwa
semua ini tentulah hasil karya
Indrayana dan Raja Mataram. Akan tetapi oleh karena di situ tidak
terlihat kedua orang muda itu,
Siddha Kalagana lalu mendatangkan
kawan-kawannya untuk mengangkat semua mayat itu ke ibu kota sebagai bukti bahwa dialah yang berjasa dalam menewaskan Sarjapati dan
Sarpawuyung !
Sang Maha Raja Samaratungga terkejut
sekali melihat tewasnya kedua senopati sriwijaya yang diharapkan akan
menang. Lebih gelisah lagi hatinya ketika bahwa yang berhasil membinasakan Sarjapati dan
Sarpawuyung adalah Pendeta Siddha Kalagana yang dibencinya! Hatinya curiga, karena ke manakah perginya Indrayana dan Sang Rakai Pikatan?
“Sang Prabu,“ kata Siddha
Kalagana dengan sikap sombong,
“karena aku yang dapat membuktikan mayat kedua orang iblis ini, akulah yang berhasil memenuhi
syarat dari sayembara. Aku
yang berhak memboyong Sang Diyah Ayu
Pramodawardani sebagai permaisuriku. Ha, ha, ha, !“
Sang Maha Raja Samaratungga menekan
kegemasan hatinya melihat
sikap yang kurang ajar dan sombong ini,
lalu berkata dengan suara tenang.
“Nanti dulu, Siddha Kalagana ! Sebagaimana kau tahu, pengikut sayembara ada lima orang jumlahnya. Yang dua, senopati-senopati dari sriwijaya, telah tewas dalam melakukan tugasnya, maka masih ada dua orang lagi, kau sendiri, Raja Mataram, dan Indrayana. Oleh
karena dua orang muda itu belum kembali, maka
kita belum menetapkan siapa yang
berhak disebut pemenang! Lagi pula,
masih ada syarat yang terpenting, yaitu
membangun sebuah candi sebesar gunung anakan yang selain besar, juga
harus indah ukiran-ukirannya dan menjadi lambang dari Agama Buddha ! “
“Ha, ha, ha. Sang Prabu, jangan
khawatir tentang candi itu ! Di seluruh Syailendra dan Mataram tidak ada
ahli-ahli seni ukir dan pahat
sepandai orang-orangku ! Anak buahku adalah ahli-ahli patung belaka yang dapat mengukir!
Serahkanlah saja kepada Maha Raja
Siddha Kalagana dan di atas dataran tinggi desa Tepusan tak lama lagi tentu akan berdiri sebuah candi indah sebesar gunung anakan. Akan kubuat yang seindah-indahnya sebagai hadian kepada calon isteriku, Pramodawardani yang denok ayu! Ha, ha, ha!“
Bukan main sebalnya hati Sang Maha raja Samaratungga mendengar
ini.
Maka ia lalu memberi isyarat dengan tangannya agar supaya pendeta tua yang tidak dikehendaki ini segera pergi meninggalkan ruang pertemuan.
Sambil tertawa-tawa Siddha Kalagana keluar dari keraton dan
ia segera menyuruh pengikutnya untuk
memanggil ahli patung di Kerajaan Durgaloka yang jumlahnya ribuan
orang itu.
Maka dimulailah pembangunan candi besar di desa Tepusan itu
oleh anak buah Siddha Kalagana. Desa
itu menjadi ramai sekali karena
penuh dengan para pembangun candi
yang di kepalai sendiri oleh Siddha Kalagana. Berkat pengaruhnya yang besar sekali dan jumlah pengikutnya yang puluhan ribu
orang itu, Siddha Kalagana dapat
mengumpulkan batu-batu besar yang
hitam dan kuat. Setiap hari, ribuan orang mengangkat batu-batu besar ke desa Tepusan. Ahli-ahli pakar yang
pandai dan cekatan lalu membentuk batu-batu itu menjadi halus dengan segi-segi yang lurus untuk kemudian di atur dan di pasang sebagai dasar candi yang hendak di bangun.
Siddha Kalagana telah mulai dengan pembagunan candi besar, dimulai dengan batu-batu besar dan kuat sebagai alas atau dasar, kemudian membuat
kaki candi yang terbuat daripada batu-batu kasar dan kuat ditumpuk-tumpuk. Takjublah semua orang ketika menyaksikan
ukuran kaki candi ini. Benar-benar besar
sekali dan luar biasa. Sebesar kaki bukit anakan betul sesuai dengan tuntutan sayembara. Alas dan candi itu bentuknya segi empat, ukurannya tidak kurang dari tujuh puluh lima depa
(satu depa ukuran kedua tangan dibentangkan ke
kanan kiri).
Pekerjaan ini benar-benar merupakan pekerjaan raksasa yang hebat
dan berat sekali. Baru pengangkatan batu ke desa Tepusan saja sudah merupakan pekerjaan yang luar biasa. Akan tetapi Siddha Kalagana benar-benar amat berpengaruh dan
berkuasa besar. Ia mempunyai banyak
tenaga ahli yang bersetia kepadanya, baik dibawah pengaruh sihir atau
yang
memang bersetia karena percaya dan tunduk kepadanya. Siddha
Kalagana juga cerdik sekali, karena untuk pekerjaan besar ini, ia tidak segan-segan menghibur
diri para pekerja. Maka
terjadilah hal yang amat mengherankan rakyat di sekeliling tempat itu. Biasanya, dalam pembuatan candi, orang-orang yang
mengerjakannya selalu berada dalam
keadaan tekun dan penuh khidmat, karena candi adalah tempat pemujaan yang suci. Akan tetapi, kali ini orang-orang yang bekerja tidak berada dalam keadaan khidmat, bahkan sebaliknya. Mereka bernyanyi-nyanyi dan
tertawa-tawa, apalagi kalau malam tiba. Siddha Kalagana sengaja
mendatangkan pelayan-pelayan wanita yang cantik jelita, yang juga menjadi penghiburnya dan juga
penari yang pandai. Setiap malam di
atas kaki candi yang rata dan lebar itu tentu diadakan malam gembira dengan
tari-tarian yang seperti biasa bersifat kecabulan yang luar
biasa. Kalau malam tiba, pekerja-pekerja laki-laki dan wanita seperti kemasukan iblis dan
menari-nari di sekitar bangunan
itu bagaikan gila. Bahkan
Kalagana secara terang-terangan mengangkut patung Batari Durga yang telanjang itu ke tempat pembangunan dan setiap malam diadakan upacara
pemujaan patung Batari Durga
seperti biasa dilakukan mereka.
Tentu saja hal ini merupakan penghinaan besar bagi Kerajaan Syailendra.
Sang Maha Raja Samaratungga ketika mendengar ini menjadi amat
marah, disuruhnya seroang utusan untuk menegur Siddha Kalagana, menuntut agar supaya
tari-tarian serupa itu dihapuskan dan
patung Batari Durga disingkirkan.
Akan tetapi apakah jawab Siddha
Kalagana? Sambil tertawa-tawa ia berkata, “Sampaikan kepada Sang Prabu bahwa akulah yang sanggup membangun candi besar sebukit anakan, dan bagaimana bentuk candi ini adalah menjadi hak tanggungjawabku. Pendeknya, Sang Prabu hanya tahu bahwa tak lama lagi
di sini akan berdiri sebuah candi yang
tiada keduanya di Tanah Jawa.”
Memang demikian kehendak
Siddha Kalagana. Ia hendak
mendesak Agama Buddha dan hendak
memasukkan agamanya sendiri
ke dalam Kerajaan Syailendra. Ia hendak membuat sebuah candi besar untuk Batari Durga. Makin marah dan gelisahlah hati Sang Prabu Samaratungga mendengar
hal ini. Apalagi ketika ia diberitahu
bahwa kini kaki candi itu mulai diukir dengan ukiran-ukiran yang amat tidak tahu malu. Ukiran-ukiran itu menggambarkan keadaan hidup manusia yang penuh kekotoran dan kecabulan, gambaran manusia dalam daerah Kamadhatu atau Kemawacara.
Ukiran-ukiran orang yang sedang menari-nari, saling membunuh, perkelahian, penangkapan
dan pembunuhan terhadap binatang-binatang yang dimakan, bahkan
digambarkan kecabulan dan perjinaan yang amat tidak patut.
Sang Maha Raja Samaratungga lalu mengadakan persidangan dengan
para senopati, perwira dan juga para
penasihat, di antaranya para wiku dan pendeta Buddha.
Hadir pula dalam persidangan itu
Maha Wiku Darmamulya dan pendeta Buddha dari Hindu yang bernama Wisnanda.
“Gusti,” Wiku Dharmamulya berkata mengajukan usulnya,
“perbuatan Siddha Kalagana benar-benar menghina
kita dan juga amat berbahaya. Kalau sampai pengaruh ilmu hitamnya itu menjalar dan
mempengaruhi jiwa para rakyat jelata, maka akan banyaklah kawula yang terpikat dan tersesat. Oleh karena itu, menurut pendapat hamba, lebih baik Siddha Kalagana disirnakan sebelum ia mendatangkan malapetaka yang lebih hebat lagi.”
“Akan tetapi, ia adalah seorang peserta sayembara yang berhak melakukan tugasnya
untuk menempuh syarat
sayembara. Bukankah akan merendahkan nama Kerajaan Syailendra apabila kita menyerang dan membinasakannya dalam tugasnya menempuh sayembara? Lagi pula, Siddha Kalagana terkenal
amat digdaya dan sakti
mandraguna, siapakah kiranya
yang akan dapat menandinginya?”
“Tidak demikian kiranya,
Gusti Sinuhun. Memang seorang peserta
tidak boleh diganggu, akan tetapi kita mempunyai alasan kuat untuk menyerangnya, yaitu oleh karena Siddha Kalagana sebagai seorang peserta
sayembara ternyata tidak memenuhi syarat dan tidak menurut perintah.
Bukankah sayembara itu menuntut agar supaya ia membuat sebuah
candi besar lambang Agama Buddha? Akan tetapi bukan saja ia tidak membuat candi seperti yang telah ditetapkan, sebaliknya ia malah menghina agama
kita dan melakkan hal-hal yang melanggar kesusilaan yang kita junjung
tinggi. Hal itu saja sudah
cukup menjadi alas an kuat untuk
membinasakan pendeta siluman
itu.”
“Sembah Maha Wiku Dharmamulya Memang benar apa yang dikatakan oleh saudara Maha Wiku Dharmamulya, Sang
Maha Raja," tiba-tiba Wisananda
berkata. "Adapun untuk menandingi Siddha Kalagana, hamba
sanggup untuk mencoba kepandaian hamba."
Wajah Sang Prabu Samaratungga menjadi
terang, bahwa hatinya girang mendengar ini.
“Wisananda, engkau adalah seorang tamu yang terhormat di Kerajaan Syailendra dan
menjadi pembantu Maha Wiku Dharmamulya. Kalau kau sanggup menolong
kami menghadapi Siddha
Kalagana, maka kami akan berterima
kasih sekali kepadamu.”
“Sudah menjadi kewajiban hamba untuk mencoba menyirnakan segala perbuatan yang tidak benar, Sang Maha Raja!”
Maka diaturlah rencana
untuk menghadapi Siddha
Kalagana. Maha Wiku Dharmamulya sendiri bersama pendeta Wisananda dengan membawa pasukan dan para
pendeta Buddha akan mendatangi Siddha Kalagana dan memberi peringatan keras.
Malam itu bulan purnama menerangi permukaan alam jagad
raya. Keadaan di kaki candi yang
sedang dibangun serta di
pesanggrahan-pesanggrahan yang
dibangun di sekitar candi itu, amat ramainya. Dari jauh sudah terdengar suara gamelan dan teriakan-teriakan orang
yang sedang mengadakan tari-tarian. Empat puluh orang gadis-gadis berpakaian tipis tengah menari-nari di
depan patung Batari Durga di atas kaki candi, diiringi gamelan yang aneh
iramanya. Patung Batari Durga yang
besar dan telanjang itu nampak
seakan-akan hidup terkena cahaya Sang Candra.
Siddha Kalagana seperti
biasa duduk di kursi dekat patung itu, menerima penghormatan para penyembahnya
dan menikmati keindahan gerak tubuh para penari yang cantik dan
denok itu. Ketika pesta itu sedang memuncak
dan ramai-ramainya, tiba-tiba datanglah rombongan Maha Wiku
Dharmamulya ke tempat itu. Sang Maha
Wiku Dharmamulya mengangkat tongkatnya ke atas, berdiri dibawah candi sambil berseru.
“Siddha Kalagana! Kami
datang membawa perintah sang maha raja!”
Siddha Kalagana menengok
ke bawah dan ketika ia melihat Wiku
Dharmamulya beserta pasukannya, ia tertawa bergelak, memandang rendah sekali. Akan tetapi ia merasa jengkel
juga karena pestanya diganggu orang. Dengan tangan kiri ia memberi isyarat
kepada semua orang, dan semua orang yang sedang menari-nari itu lalu meninggalkan lapangan
di atas kaki candi itu, menuruni anak
tangga dan berlari ke tempat
masing-masing.
Dengan muka merah Maha Wiku
Dharmamulya meramkan kedua matanya ketika ia melihat empat
puluh orang gadis itu setengah telanjang di tempat itu. Pakaian merah yang tipis itu sebagian besar telah terbuka, muka mereka kemerah-merahan penuh nafsu dan gairah, sedangkan mata mereka memancarkan cahaya berahi dan mulut mereka
tersenyum-senyum! Siddha Kalagana memberi
aba-aba kepada mereka itu
yang segera kembali ke pesanggerahan yang telah disediakan oleh Siddha Kalagana sebagai
tempat tinggalnya bersama empat puluh orang “bidadari” itu.
Kini di atas kaki candi itu
tinggallah Siddha Kalagana sendiri
dan patung Batari Durga itu. Sungguhpun
patung itu jauh lebih besar daripada
tubuh pendeta itu, namun
setelah Siddha Kalagana berdiri dan bersedekap pendeta ini nampak
bagaikan seorang iblis yang dahsyat berdiri di atas alas
dan kaki candi yang maha besar itu.
“Dharmamulya!” suaranya
menggema di sekeliling kaki candi.
“Apakah maksudmu malam-malam
datang mengganggu pesta yang sedang
kulangsungkan?”
“Siddha Kalagana!" kata Dharmamulya marah.
"Kami datang atas nama Sang
Maha Raja Samaratungga. Berkali-kali kau telah diberi peringatan akan perbuatanmu yang melanggar tata susila di tempat ini, akan tetapi kau tetap
tidak mau menghentikan kegilaanmu.
Oleh karena itu, kami datang untuk memberi peringatan yang penghabisan, yaitu bahwa kau harus menghentikan pesta-pesta dan
penyembahan Batari Durga, mengusir semua penari telanjang dan merobohkan patung-patung yang
tidak sesuai dengan Agama Buddha. Ingat
bahwa candi yang dibangun harus
merupakan lambang kebesaran Agama Buddha, maka
ukiran-ukiran di kaki candi itupun
harus dirubah pula, sesuai dengan
kehidupan Sang Buddha yang maha
agung!”
Terdengar suara Siddha Kalagana tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ini.
“Ha, ha, ha! Dharmamulya, kau seperti seorang bayi hendak
memberi wejangan kepada seorang kakek! Taukah kau siapa adanya Buddha Gautama itu? Siapakah adanya Pangeran Sidharta itu? Ha, ha, ha! Mana kau tahu? Kau
seorang Jawa, sedangkan Buddha Gautama yang kaupuja-puja itu
lahir di negeriku. Aku yang lebih
tahu bagaimana penghidupan Pangeran
Siddharta di masa mudanya! Ha, ha, ha! Apa kaukira begitu terlahir orang dapat menjadi sempurna
pengetahuannya? Apakah Pangeran Siddharta juga tidak mengalami masa
kesenangan hidup sebelum menjadi
Buddha? Kau jangan banyak ribut.
Candi ini akulah yang membangun dan aku
pula yang menentukan bagaimana nanti jadinya. Candi ini akan menjadi candi
indah dan hendak kujadikan hadiah
bagi calon pengantinku, si cantik ayu
Pramodawardani yang molek dan denok!”
Tiba-tiba Wisananda melangkah maju
dengan muka merah. Ia mengeluarkan ucapan
dalam Bahasa Hindu terhadap Siddha
Kalagana, akan tetapi setelah memandang tajam, Siddha Kalagana berkata dalam bahasa daerah.
“Wisananda, kita bukan berada di Hindu, dan biarpun kita datang dari satu negeri, akan tetapi kau datang dari Hindu Utara,
sedangkan aku datang dari selatan! Di tanah Hindu kita bermusuhan, apakah disini kau hendak memberi nasehat
kepadaku? Tidak ada gunanya,
dan lebih baik kau segera pergi dari sini. Aku tidak membutuhkan seorang
pengemis seperti kau!”
“Siddha Kalagana!” Maha Wiku
Dharmamulya berseru marah.
“Jangan kau menghina orang!”
“Ha, ha, ha, Dharmamulya. Siapa yang menghina? Bukankah
para Wiku adalah pendeta-pendeta yang
hidup sebagai pengemis? Hanya kau saja yang aneh dan hendak
menjadi enak sendiri. Kau mengaku menjadi mahawiku, akan tetapi coba lihat bagaimana keadaan hidupmu? Mewah dan enak! Kenalkah kau
akan hidup merantau sebagai pengemis? Sudah dapatkah engkau
melenyapkan nafsu-nafsu duniawi?
Lihatlah, pakaianmu masih bagus dan aku melihat minyak yang keluar dari daging ayam
membasahi bibirmu. Ha, ha, ha! Pergilah, pergilah! Aku sedang sibuk, jangan engkau berani mengganggu pestaku!”
“Siddha Kalagana!” teriak
Dharmamulya dengan marah sekali.
“Sudah kukatakan bahwa ini adalah peringatan terakhir,
kalau engkau tetap membangkang, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan!”
“Menggunakan kekerasan?“ Kening Siddha Kalagana berkerut
dan sepasang matanya yang dalam megeluarkan cahaya berapi.
“Apa maksudmu?“
“Kami akan merobohkan patung-patungmu, merusak bangunan candi, dan mengusir engkau kaki tangamu dari Syailendra!“
“Bedebah! Kau berani berkata begitu?" Sambil berkata demikian, Siddha Kalagana mengambil sebuah
batu besar yang ditumpuk di dasar
bangunan itu lalu melontarkan batu besar dan berat itu ke arah kepala
Dharmamulya.
Akan remuklah kepala pendeta itu kalau sampai tertimpa batu
yang dilontarkan ini, akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan
keras dan tongkat di tangan
Wisananda bergerak menangkis batu itu yang meledak dan hancur.
“Hmm, engkau berani
memperlihatkan kepandaian di sini, Wisananda?“
membentak Siddha Kalagana.
“Untuk membela kebenaran aku bersedia mengorbankan nyawa, Siddha Kalagana!“ menjawab
Wisananda yang segera melompat ke atas kaki candi itu.
Kedatangannya di sambut oleh Siddha Kalagana dan bertempurlah kedua orang pendeta itu
dengan dahsyatnya di atas kaki candi.
Para prajurit pasaukan
yang di bawa oleh Dharmamulya segera
mengepung dan hendak naik ke atas
kaki candi, akan tetapi tiba-tiba terdegar sorakan
riuh dan keluarlah pasukan
Srigala Hitam anak buah Siddha
Kalagana menyerbu! Perang hebat
terjadi di atas kaki candi dan di
bawah, perang yang hebat sekali, disaksikan oleh bulan purnama raya. Pesta kegilaan tadi kini terganti oleh perang tanding yang
hebat sekali. Teriak kesakitan dan sorak kemenangan terdengar saling susul, dibarengi dengan
mengalir darah yang keluar dari
tubuh manusia. Mayat bertumpuk, bergelimpangan di kaki candi. Pertandingan yang
terjadi antara Siddha Kalagana dan Wisananda amat hebat dan seru.
Keduanya sama kuat dan sama digdaya,
keduanya memiliki tenaga batin yang cukup dahsyat. Ilmu
sihir berlawanan denagn ilmu hitam,
akan tetapi keduanya memiliki daya yang mendatangkan pengaruh
yang mengerikan, yaitu ular
Cobra yang telah kering dan kaku seperti tongkat, sedangkan Wisananda mainkan tongkatnya yang berat dan panjang. Dari
cepatnya gerakan mereka,
tubuh kedua orang pendeta itu
lenyap ditelan sinar senjata mereka
sendiri. Tak seorangpun prajurit
berani membantu pertempuran ini, karena sukarlah bagi mereka untuk melihat mana yang kawan dan mana lawan. Para
prajurit pasukan Dharmamulya sibuk menghadapi pasukan Srigala Hitam yang amat liar dan buas serta
digdaya itu.
Akhirnya, terdengarlah keluhan dan Wisananda nampak terhuyung ke
belakang lalu ia roboh terlentang di atas batu-batu yang menjadi alas
candi itu. Kulit mukanya yang sudah hitam
menjadi lebih hitam lagi dan dari
jidatnya mengalir sedikit
darah. Ternyata jidatnya telah
kena tertusuk lidah ular Cobra itu
dan bisa yang amat hebat telah meracuni darahnya dan merenggut nyawa seketika itu
juga dari badannya.
Siddha Kalagana tertawa
bergelak dan menyeramkan. Kemudian
ia menggerak-gerakkan senjatanya dan
kocar-kacirlah para prajurit Syailendra. Pasukan Srigala Hitam sudah merupakan lawan yang amat kuat dan banyaklah sudah korban yang jatuh, kini ditambah
amukan Siddha Kalagana yang dahsyat, membuat
mereka tak dapat menahan lagi
dan larilah pasukan Syailendra itu.
Maha Wiku Dharmamulya dengan terpincang-pincang juga lalu melaporkan kekalahan
dan tewasnya Wisananda itu kepada Sang Maha Raja Samaratungga. Tentu saja Sang Prabu menjadi terkejut
sekali mendengar berita buruk
itu. Cepat Sang Prabu Samaratungga mengumpulkan para senopati untuk
mengatur barisan menjaga
keselamatan keraton dan mengadakan perundingan untuk
menyerbu dan mengusir Siddha Kalagana dari Syailendra.
Pada keesokan harinya
dari jurusan utara datanglah Sang Prabu Pikatan, Raja Mataram bersama Indrayana, membawa pasukan yang kuat dan terdiri dari para prajurit pilihan. Bagaimana Rakai
Pikatan dan Indrayana dapat tiba di ibukota Syailendra pada saat yang tepat itu?
Sebagaimana diketahui
di bagian depan, Sang Rakai Pikatan dan
Indrayana pergi berkelana mencari jejak Candra Dewi yang melarikan diri. Sampai berbulan-bulan lamanya
mereka merantau dan akhirnya mereka bertemu dengan Panembahan Bayumurti yang bertapa di Gunung Kidul. Sambil menumpahkan air mata, Rakai Pikatan Indrayana memohon
ampun karena mereka berdua merasa bahwa merekalah yang menjadi sebab
penderitaan batin Candra Dewi dan
yang membuat gadis itu melarikan diri.
“Sudahlah, hal itu tak perlu dipersoalkan
lagi, Anakku Candra Dewi telah pergi dan kalau memang berjodoh, tentu akan bertemu dengan Raden Indrayana. Adapun
paduka, ananda Prabu Pikatan, paduka tentu masih ingat akan pesanku
bahwa Mataram akan bangkit dan menjadi jaya kembali. Oleh karena itu, sekarang kembalilah ke
Mataram, pimpinlah pasukan
yang kuat dan pergilah kembali ke Syailendra untuk membangun candi
Buddha yang diminta oleh sang puteri
mahkota itu.“
Demikianlah, dengan bergegas Rakai Pikatan kembali ke Mataram, diikuti oleh
Indrayana yang setia. Di Mataram mereka
mendengar kabar tentang Sidda Kalagana yang mengakui telah membunuh
kedua manusia iblis di Gunung
Papak, bahkan kini pendeta itu telah
mulai membangun candi di dusun
Tepusan. Mendengar ini Rakai Pikatan menjadi marah sekali
dan ia segera memimpin pasukan prajurit
pilihan, lalu bersama Indrayana menuju keSyailendra dengan
cepat.
Sang Rakai Pikatan langsung
pergi menghadap Maha Raja
Samaratungga yang menjadi girang sekali melihat kedatangan Rakai Pikatan dan
Indrayana. Di bawah ancaman Siddha Kalagana, ia melihat kedatangan kedua orang muda ini seakan-akan cahaya penerangan yang mengusir kegelapan hatinya.
Rakai Pikatan lalu menceritakan bahwa dia dan Indrayana yang
berhasil membunuh siluman kembar di puncak Gunung Papak.
“Bagus sekali, Anak Prabu Pikatan, “ Maha Raja Samaratungga memuji,
“dan secara kebetulan sekali syarat ketiga terletak di hadapanmu. Siddha Kalagana yang
tadinya menjadi peserta
sayembara, kini ternyata telah berobah menjadi musuh dan
mengancam keselamatan Syailendra. Sudah menjadi tugasmu pula untuk mengusirnya dari kerajaan ini.“
“Jangan khawatir, paman
prabu. Hamba sanggup untuk
melenyapkan si angkara murka itu dari muka bumi ini,“ jawab
Rakai Pikatan dengan gagah.
“Hanya satu hal yang masih
membingungkan hatiku. Bagaimana Indrayana dapat
datang menghadap bersamamu? Apakah
kau juga masih hendak melanjutkan sayembara ini, Indrayana? kudengar tadi bahwa siluman itu terbunuh oleh
Anak Prabu Pikatan dan kau sendiri,
maka bagaimana kehendakmu sekarang.“
Indrayana tersenyum lalu
menyembah dengan hormatnya.
“Berkat pangestu paduka hamba dapat pula membunuh seorang
di antara kedua siluman penggangu keamanan
di Gunung Papak itu, gusti. Dan sudah tentu hamba lanjutkan pula sayembara ini dengan menempuh syarat
ketiga, mengusir musuh negara yang datang mengganggu Kerajaan
Syailendra. Akan tetapi ada sedikit perobahan dalam usaha hamba ini. Kini hamba
melakukan semua perjuangan ini, bukan lain hamba melakukannya untuk sahabat dan junjungan hamba
ini. Sang Pikatan, raja dari
Mataram!“
Biarpun hatinya merasa agak
heran, namun Maha Raja Samaratungga menjadi girang juga mendengar ini.
“Anak-anak muda, berangkatlah dan
usahakanlah agar supaya Siddha
Kalagana dapat terusir dan terbasmi sebelum
menimbulkan kerusakan lebih banyak lagi. Doa restuku mengiringi usaha kalian, semoga kalian berhasil dan kembali dengan selamat!“
Kedua orang muda itu mengundurkan diri dan segera mempersiapkan pasukan-pasukannya, dibantu pula oleh beberapa orang senopati Syailendra yang mengerahkan para prajurit pula. Bangunan
candi besar yag baru selesai alas
dan kakinya itu lalu dikurung,
termasuk pesanggerahan-pesanggerahan yang didiami oleh Siddha Kalagana beserta para bidadarinya dan bangunan-bangunan tempat
tinggal pasukan-pasukan Serigala
Hitam.
Marahlah Siddha Kalagana melihat pengepungan ini. Ia segera mengumpulkan pasukannya dan dengan senjata ular di tangan ia berseru keras.
“Orang-orang Syailendra! Apakah pengalaman semalam
itu masih belum membuat kalian
menjadi kapok? Dengarlah, bahwa akulah yang akan menjadi raja baru di Syailendra, yang akan menggantikan Sang Prabu Samaratungga dan yang akan mendatangkan kebahagiaan di negeri ini! Apakah kalian buta tidak melihat bahwa aku adalah titisan Hyang Syiwa? Apakah kalian ingin aku
menghancurkan dulu Syailendra sebelum
kalian menyerah dan
menerimaku sebagai suami Pramodawardani yang akan menggantikan kedudukan
Samaratungga?“
Akan tetapi, Siddha Kalagana terkejut ketika
tiba-tiba muncul dua orang pemuda
yang bukan lain adalah Raden Pancapana dan
Raden Indrayana, musuh-musuh besarnya
dahulu! Betapapun juga, ia
tidak merasa takut, karena bukankah ia
pernah membuat dua orang ini tidak
berdaya?
“Siddha Kalagana, pendeta siluman! Jangan membuka mulut besar karena kami yang akan melebur kejahatanmu!“ kata Rakai Pikatan,
“Ha, ha, ha,! Raja Mataram, kau seorang kanak-kanak hendak
meruntuhkan langit. Lihat senjataku yang hendak menghancurkan kepalamu!“
Siddha Kalagana melompat dan menyerang dengan hebatnya.
Akan tetapi, Rakai Pikatan dan Indrayana telah siap sedia dan kedua orang pemuda
perkasa ini lalu mengeroyok pendeta yang sakti itu. Pertempuran terjadi
dengan hebatnya, disusul oleh perang tanding antara pasukan Serigala Hitam
pasukan-pasukan Mataram dan Syailendra yang bersatu.
Kembali darah mengalir di
sekitar candi yang sedang dibangun itu.
Sebelum pertempuran terjadi, para pekerja telah mulai mengukir dan
memahat, bahkan mulai hendak
membangun candi tingkat pertama.
Akan tetapi kini mereka lari ketakutan dan bersembunyi di tempat aman agar jangan sampai terlibat dalam perang dahsyat itu. Pertempuran berjalan lebih sengit
dari kemarin, perang campuh
berkecambuk sangat hebatnya.
Siddha Kalagana mengerahkan seluruh tenaganya, bahkan telah mempergunakan ilmu hitamnya, akan tetapi kedua orang muda yang telah mendapat gemblengan dari Bagawan Ekalaya, dapat
menolak semua pengaruh ilmu hitam itu, bahkan lalu membalas dengan serangan-serangan maut yang membuat Siddha Kalagana sibuk
sekali. Betapapun pandainya ia bersilat dengan tongkat ularnya, namun ia
telah tua dan tenaganya telah banyak
berkurang, maka perlahan-lahan ia mulai terdesak hebat.
Sungguh mengagumkan Siddha
Kalagana pendeta tua itu. Biarpun ia selalu terdesak, namun
ia masih dapat mempertahankan diri
dan pertempuran itu berlangsung sampai sehari penuh. Pasukan-pasukan Serigala
Hitam bertempur laksana serigala-serigala kelaparan. Mereka
menyerang dengan nekad, liar dan
mati-matian sehingga korban yang jatuh di kedua pihak
bertumpuk-tumpuk.
Akan tetapi, akhirnya
tidak saja Siddha Kalagana harus
mengakui keunggulan ketua pemuda perkasa itu, juga pasukan-pasukan Serigala
Hitam harus mengakui pula
kekuatan lawan yang jauh lebih besar
jumlahnya. Setelah melihat
bahwa ia tidak mempunyai harapan lagi untuk menang maka Siddha Kalagana memberi
isyarat pada sisa pengikutnya untuk
mundur, dan melihat tidak berguna lagi melanjutkan peperangan Siddha
Kalagana lalu melarikan
diri, diikuti oleh sisa pasukan Serigala Hitam dan
dikejar oleh Rakai Pikatan dan Indrayana beserta pasukan-pasukan mereka.
“Babo-babo, sang prabu! Apa kaukira tidak ada orang yang berani menentangmu?
Pergunakan senjatamu kalau engkau memang jantan!"
Pemuda itu menantang kembali
sambil menyerang, dan Rakai
Pikatan segera melompat ke belakang dan melarikan diri.
Hampir saja ia bertubrukan dengan rombongan Prabu Samaratungga dan
Indrayana memasuki tamansari. Semua orang terkejut dan heran melihat raja muda itu berlari ketakutan
dengan muka pucat.
“Indrayana, adikku sayang …… kautolonglah aku …… “ Rakai Pikatan merangkul Indrayana dengan napas terengah-engah.
Indrayana heran sekali dan memeluk raja
muda itu.
“Apakah yang terjadi? Apakah paduka kalah menghadapi durjana
itu?“
“Ah, aku tak kuat menghadapinya. Ia sakti mendraguna. Hanya engkaulah orangnya yang akan
dapat mengalahkannya! Tolonglah aku
dan tangkaplah maling itu, dimas
Indrayana!“
Indrayana lalu mencabut kerisnya Bajradenta (keris pusaka Kilat Putih) dan secepat rusa melompat ia masuk ke dalam taman dengan hati
panas.
Siapa yang dapat mengganggu Pramodawardani dan menghina Sang
Rakai Pikatan?
Ketika ia masuk ke dalam pintu
keputren, ia melihat seorang
pemuda berdiri dengan keris
di tangan.
“Maling hina dina, jangan kau lari!“ teriak Indrayana sambil melompat ke hadapan pemuda itu. Pemuda itu terkejut dan mengangkat muka memandang.
“Begitu lemahkah hatimu
sehingga engkau masih mau membela raja yang tidak mengenal budi?“ pemuda itu menegur sambil memandang tajam.
Indrayana tertegun dan matanya terbelalak.
“Candra Dewi …… !“ bisiknya dan kerisnya terlepas dari pegangan.
“Aduh, diajeng Dewi …… kesuma hatiku …… , ke mana saja
gerangan engkau pergi selama ini?
Tega benar engkau melihat aku merana
…… mencari-carimu dengan hati luka karena duka nestapa dan bimbang ……“
“Pemuda“ itu menjadi lemas dan kerisnyapun terlepas
dari pegangan, jatuh
berdering di atas lantai.
Ia menunduk dan dari kedua matanya menitik
air mata! Indrayana maju
menghampirinya dan memeluk kedua bahunya.
“Diajeng …… diajeng Dewi ……
tak tahukah engkau bahwa aku dan
kangmas Pancapana mencari- carimu sampai jauh? Siapa tahu
engkau berada di sini
…… ah, jeng Dewi, bisa saja
engkau mendatangkan gara-gara!“
“Aku …… aku hendak membalas dendam kepada Pancapana ……“
Pada saat itu, rombongan Maha Raja Samaratungga datang diikuti oleh Rakai Pikatan yang
masih nampak gelisah! Melihat betapa
“maling“ itu berada dalam pelukan Indrayana,
semua orang menjadi terheran-heran, kecuali
Rakai Pikatan sendiri yang kini dapat tersenyum lega dan puas.
Puteri Mahkota Pramodawardani juga keluar dari biliknya dan
tersenyum menggoda Candra Dewi yang cepat melepaskan diri dari pelukan Indrayana dan kini menggandeng tangan puteri mahkota itu.
“Eh, eh, apakah yang telah
terjadi? Siapakah pemuda ini?“ Maha
raja Samaratungga bertanya kepada
puterinya sambil mengerutkan kening.
“Dia bukan pemuda, rama. Dia adalah seorang puteri pula, seorang puteri jelita yang bernama Candra Dewi, puteri dari Panembahan Bayumurti!“
Maka berceritalah Candra Dewi kepada kedua pemuda itu,
didengarkan pula oleh Maha Raja
Samaratungga dan para senopati. Ternyata
bahwa setelah melarikan diri dari tempat tinggal ayahnya,
Candra Dewi yang merasa sakit hati kepada Rakai Pikatan karena pinangan yang membuat ia
terpisah dari kekasihnya itu, Candra ewi pergi merantau dan akhirnya bertapa di Puncak
Gunung Suralaya di Pegunungan Kedeng.
Akhirnya ia lalu turun gunung dan menghadap Sang Puteri Pramodawardani, dan
ia diterima oleh Puteri mahkota yang
ramah tamah itu, dijadikan pelayan dan kawan yang terkasih. Ketika diadakan sayembara, Candra Dewi mengaku kepada
puteri Pramodawardani tentang keadaan dirinya,
maka Pramodawardani yang juga
merasa tidak senang mendengar perbuatan
Rakai Pikatan yang pernah melamar Candra Dewi, lalu merencanakan akal untuk menggoda dan membalas. Rakai Pikatan terkena tipu ini dan
mendapat malu di depan puteri calon
permaisurinya.
Maha Raja Samaratungga menggeleng-geleng kepalanya.
“Aah, kalian orang-orang muda memang benar-benar aneh dan suka menimbulkan gara-gara! Sudahlah sekarang kalian
telah bertemu dengan jodoh
masing-masing. Hanya satu hal yang
masih harus dilaksanakan, yaitu
pembangunan sebuah candi Buddha dan
lambang persatuan antara Mataram dan Syailendra!“
Tiba-tiba, udara malam hari yang tadinya
terang oleh bulan purnama itu,
mejadi gelap seakan-akan mendung tebal menutup seluruh angkasa di atas Kerajaan Syailendra. Bahkan api-api penerangan dari lampu-lampu yang terpasang di
situ padam semua, membuat keadaan
menjadi gelap sama sekali, sehingga
melihat tangan sendiri tidak akan nampak.
Orang-orang menjadi
kaget dan bingung, bahkan
lalu terdengar jerit dan tangis di
sana-sini seakan-akan iblis-iblis keluar mengamuk. Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak disusul oleh suara yang parau.
“Ha, ha, ha ! Orang-orang Mataram
dan syailendra! Jangan kira bahwa Siddha Kalagana mudah dikalahkan begitu saja!“
“Jahanam !“ berseru Rakai
Pikatan dan Indrayana yang lalu mengambil senjata
pusaka masing-masing. Akan
tetapi, apakah daya mereka dalam
keadaan yang gelap gulita itu?
Ternyata bahwa ilmu hitam yang dikeluarkan oleh Siddha Kalagana ini
hebat sekali, membuat semua
penerangan menjadi tertutup
oleh kabut hitam tebal. Dan lebih hebat lagi, di dalam kegelapan luar biasa itu, Siddha Kalagana membawa tentara Serigala Hitam
menyerbu. Para prajurit yang menjaga di luar tamansari dan
keraton menjadi bingung
dan panik. Mereka tidak dapat melihat
musuh dan tahu-tahu banyak prajurit jatuh
bergelimpangan ditusuk lembing.
Ada pula yang bertempur melawan
kawan-kawan sendiri yang disangka musuh.
Terdengar pekik Pramodawardani dan
Candra Dewi ketika dua buah lengan yang kuat menyambar tubuh mereka dan mereka diseret keluar dari tamansari. Indrayana dan Rakai Pikatan segera mengejar, akan
tetapi mereka tersandung dan jatuh terguling
di dalam gelap.
“Kakangmas Pancapana, lekas
menyebut nama Eyang Ekalaya ……”
Kedua orang muda itu lalu duduk
bersila dan mengheningkan cipta, minta pertolongan guru mereka, Sang Panembahan Ekalaya.
Tiba-tiba terdengar suara
guntur menyambar dibarengi kilat bercahaya dan seketika itu juga
lenyaplah kabut hitam tebal yang
menggelapi udara.
Bulan purnama bercahaya kembali sepenuhnya, tidak lagi terhalang oleh mendung hitam. Indrayana dan
Rakai Pikatan melompat bangun dan melihat tiga orang kakek berdiri di
hadapan mereka. Ternyata
bahwa mereka ini adalah Wiku Dutaprayoga ayah Indrayana, Panembahan Bayumurti ayah Candra Dewi dan seorang tua tinggi dan berwajah agung yang mereka kenal. Agaknya tiga orang tua sakti inilah yang
membuyarkan pengaruh ilmu hitam Siddha Kalagana.
Indrayana dan Rakai Pikatan hendak
memberi hormat, akan tetapi panembahan Bayumurti menunjuk ke luar pintu tamansari dan
berkata, “
“Kesanalah larinya Siddha
Kalagana yang menculik Sang Puteri dan Candra Dewi!“
Bagai
anak panah melesat dari busurnya, kedua orang muda itu lalu melompat keluar dari tamansari dan mengejar. Benar saja, di sana kelihatan
Siddha Kalagana sedang
menyeret-nyeret kedua orang dara yang meronta-ronta itu.
Ketika Siddha Kalagana melihat
Indrayana dan Rakai Pikatan datang memburu, terpaksa itu melepaskan kedua orang dara itu dan dengan muka buas
ia menerjang. Pertempuran terjadi hebat sekali. Kali ini Indrayana dan Rakai Pikatan menyerang dengan penuh amarah. Gerakan tangan mereka yang memegang senjata
bagaikan tangan maut sendiri yang menjangkau dan hendak merengut nyawa
pendeta busuk itu, Siddha Kalagana menjadi
gentar karena ilmu hitamnya dapat
dibuyarkan, maka ia melawan dengan setengah hati dan mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri.
Sementara itu, setelah keadaan menjadi
terang kembali, para prajurit Syailendra, dibantu oleh para prajurit Mataram yang sudah
menyerbu pula ke situ, membikin pembalasan hebat. Mereka menyerang pasukan
Serigala Hitam, menghantam sepuasnya
sehingga dalam waktu singkat semua anggota Serigala Hitam dapat
dibunuh atau dilukai.
Pertempuran antara Siddha Kalagana melawan
Indrayana dan Rakai Pikatan makin hebat. Pendeta itu beberapa kali mencoba untuk
melarikan diri, akan tetapi ia
selalu dikejar sehingga akhirnya, keris pusaka Bajradenta dengan tepat sekali telah terbenam ke dalam dadanya dan pedang Rakai Pikatan membacok lehernya
sehingga hampir putus. Siddha
Kalagana memekik ngeri, akan tetapi sungguh luar biasa, pendeta ini masih dapat melompat jauh dan melarikan diri, sungguhpun luka-lukanya ini bagi orang lain tentu akan
mendatangkan maut ! Indrayana dan Rakai Pikatan saling pandang dengan
heran, dan hendak mengejar. Akan
tetapi, tiba-tiba tubuh Siddha Kalagana yang lari itu terhuyung- huyung, menabrak
pohon waringin lalu jatuh
terguling dalam keadaan tertelungkap.
Indrayana menghampiri tubuh ini
dan dengan kakinya ia membalikkan tubuh pendeta itu. Ternyata bahwa
Siddha Kalagana telah tewas.
Kakek tua yang bernama Wiku Dutaprayoga dan Panembahan Bayumurti itu adalah seorang pertapa bernama
GUNADARMA, seorang yang selain suci juga memiliki kepandaian luar biasa tentang pembuatan candi-candi dan seni pahat dan ukir. Ia adalah murid dari Sang Bagawan Ekalaya
yang lama bertapa seorang diri, menanti datangnya saat baik,
yaitu masa persatuan Syailendra dan Mataram.
Setelah masa itu tiba, ia datang dan bersama Wiku Dutaprayoga dan
Panembahan Bayumurti, ia menolong kerajaan
dari pengaruh ilmu hitam yang
dilepas oleh Siddha Kalagana.
Setelah Siddha Kalagana tewas
dan anak buahnya telah ditumpas, maka pembangunan candi sebesar bukit
anakan itu dilanjutkan oleh Rakai
Pikatan dan kini pembangunan itu dilakukan bersama-sama. Ahli-ahli di Syailendra pahat yang tadinya menjadi kawula Siddha Kalagana, kini telah insyaf dan dipekerjakan pula dalam pembuatan candi, disamping ahli-ahli di
Syailendra sendiri dan ahli-ahli yang didatangkan dari
Mataram Pembangunan meha besar ini
dipimpin oleh Sang Pertapa GUNADARMA yang bijaksana.
Tadinya pembangunan kaki candi yang dilakukan oleh
Siddha Kalagana itu hendak
dibongkar, bahkan tempat itu dianggap sudah
kotor karena telah banyak darah mengalir di
situ, akan tetapi Sang Pertapa GUNADARMA berkata.
“Tidak apa, kaki candi ini cukup
baik dan kuat sekali untuk dijadikan alas
candi. Memang, kaki candi ini telah
diukir dan menggambarkan daerah Kamadhatu, penuh nafsu-nafsu keduniawian. Akan tetapi, biarlah ini
menjadikan cermin dan peringatan bagi setiap orang yang menyaksikan bahwa segala kesenangan lahir dan kenikmatan nafsu keduniawian hanya akan mendatangkan malapetaka belaka.
Biarlah candi besar ini
berdiri di atas segala kotoran, menjadi
lambang bahwa Agama Buddha
akan tumbuh dan membawa manusia yang tadinya tenggelam di dalam
lautan Kamadhatu yang penuh nafsu
jahat, ke alam bersih, ke alam
Rupadhatu dan seterusnya, untuk selanjutnya mencapai tujuan
terakhir, yaitu Nirwana.“
Betapapun juga, untuk mengusir segala
pengaruh jahat yang timbul dari
pertumpahan darah dan pembunuhan yang terjadi di daerah suci ini, diadakanlah tapa brata dan samadhi di
atas permukaan kaki candi. Di sini
Sang GUNADARMA, Penembahan Bayumurti, Wiku Dutaprayoga dan
pendeta-pendeta lain, bersamadhi selama empat puluh hari untuk mengusir pengaruh-pengaruh kotor. Setelah itu,
barulah pembangunan candi yang amat
indah, besar, dan suci dimulai, dibangun di atas kaki candi buatan Siddha Kalagana itu.
Pembangunan candi besar itu benar-benar merupakan
hasil karya yang luar biasa sekali, lambang dari keagungan Agama
Buddha dan juga merupakan lambang dari persatuan Syailendra dan Mataram. Candi ini diberi nama Bhumisambharabhudhara, juga disebut Dasyhabodhisatwabhumi atau sepuluh tingkat Bodhistwa, dibuat menjadi sebuah candi terdiri dari
sepuluh tingkat yang maha hebat.
Patung-patung Buddha,
ukiran-ukiran di seputar dinding
candi, dilakukan oleh
ahli-ahli pahat yang amat pandai sehingga ukiran-ukiran itu seakan-akan hidup, patung-patung itu
seakan-akan bernapas dan mata patung seakan-akan bercahaya
dan dapat bergerak manik
matanya.
Demikianlah, dengan pesta dan perayaan besar, Sang Rakai Pikatan, raja dari Mataram itu menikah dengan
Sang Puteri Pramodawardani yang
kemudian setelah menjadi
permaisuri Sang Rakai Pikatan lalu disebut juga Sri Kahuluan. Dengan
adanya pernikahan ini, Kerajaan
Syailendra seakan-akan di persatukan dengan Kerajaan Mataram sehingga
Kerajaan Mataram menjadi makin besar dan jaya. Tidak ada rakyat, baik yang memeluk Agama Buddha, maupun
pemeluk Agama Hindu, merasa
tersinggung lagi, karena bukankah tampuk pemerintahan berada di tangan Rakai Pikatan yang beragama Hindu, akan tetapi bukanlah
candi yang terbesar adalah candi Buddha? Tidak ada perselisihan lagi anatara Agama Buddha dan Agama Hindu yang sesungguhnya bertujuan
satu, yaitu kemuliaan lahir
batin bagi seluruh manusia.
Setelah Sang Maha Raja Samaratungga dengan
puas melihat pernikahan puterinya
berlagsung, beliau lalu mengirim puteranya, Pangeran
Balaputeradewa, ke Sriwijaya. Pertama-tama untuk menyatakan bela sungkawa atas tewasnya kedua
senopati Sriwijaya dalam tangan kedua orang iblis kembar, dan kedua untuk memberi kesempatan kepada Pangeran Balaputeradewa
yang masih belum dewasa itu mempelajari
dan memperdalam pengetahuan
dalam Agama Buddha. Keberangkatan sang pangeran ini
diantar oleh para pendeta dan wiku, di antaranya Sang Maha Wiku Dharmamulya sendiri.
Kelak Sang Pangeran Balaputera ini akan menjadi raja di Sriwijaya dan
berhasil pula membuat Kerajaan
Sriwijaya menjadi besar dan
makmur.
Adapun Indrayana dan Candra Dewi juga melangsungkan pernikahannya dengan penuh kebahagiaan dan
selajutnya menjadi pembantu
dan sahabat terkasih dari Sang Rakai Pikatan dan permaisurinya.
Betapapun tepat ucapan dari Sang Pertapa
GUNADARMA tentang keadaan
lukisan di kaki candi buatan
Siddha Kalagana itu, semua perasaan rakyat Tanah Jawa yang halus dan
menjunjung tinggi kesusilaan itu, amat tersinggung oleh lukisan-lukisan yang terdapat pada kaki candi itu lalu
ditutup dengan batu-batu sehingga
bentuk kakinya berubah dan tidak tampak lagi lukisan- lukisan yang menggambarkan keadaan hawa bafsu
atau yang disebut daerah Kamadhatu itu, yang nampak hanyalah bangunan
candi yang didirikan di atas
kaki candi.
Adapun
nama candi itu, Bumisambharabhudara. Akhirnya dipermudah oleh rakyat dengan sebutan Candi
Borobudur yang sekarang, seribu tahun lebih semenjak dibangun, masih berdiri dengan
megah dan agung, menjadi kebanggaan rakyat Indonesia, dikagumi oleh semua
orang diseluruh dunia sebagai sebuah bangunan yang besar dan luar biasa. Memang Borobudur merupakan bangunan yang patut
mendatangkan rasa bangga di dalam
hati setiap manusia Indonesia yang mencintai tanah airnya karena bangunan
manakah yang demikian kuat, besar, dah megahnya?
Bangunan manakah yang dapat
menahan goncangan-goncangan dan gempa bumi akibat letusan Gunung
Merapi yang telah terjadi beberapa kali selama seribu tahun lebih itu,
sungguhpun bangunan itu hanya didirikan daripada
batu-batu ditumpuk-tumpuk?
Kalau kita berdiri di bagian atas Candi Borobudur, atau melihat candi besar itu dari jauh, datanglah kebanggaan dan
keyakinan dalam hati yang berbisik bahwa hanya bangsa yang besar sajalah yang sanggup menciptaan bangunan sehebat
itu pada zaman tingkat hidup manusia
masih amat senderhana, dan
mesin-mesin pembangunan dan pengangkutan masih belum pernah termimpikan
oleh otak manusia!
Demikianlah, cerita ini ditutup dengan seruan “Nama Buddhaya“ untuk penghormatan kepada
Borobudur yang besar, kepada Agama
Buddha yang mendatangkan kebudayaan dan kesenian luhur, dan terutama sekali
kepada neenk moyang kita yang agung!
No comments:
Post a Comment