Wednesday, March 25, 2015

Jilid 4



Terharulah hari Indrayana melihat kelakuan gadis ini. Ia maklum akan perasaan gadis ini, yang telah berada di tepi jurang kehancuran dan kehinaan yang akan memusnakan kesucian dan kehidupannya. Ia menyentuh rambut yang halus itu dan berkata,

“Diajeng Dewi, sudahlah jangan menangis, betulkan letak pakaianmu dulu
……“ Sambil berkata demikian, Indrayana menutup kedua matanya. Tak tahan ia melihat keindahan ini terbentang di depan matanya. Melihat para penari yang bertelanjang bulat tadi, ia merasa jijik dan muak, akan tetapi kini melihat Candra dewi berlutut di depannya dengan pakaian hampir telepas dari tubuh ia merasa betapa lututnya menjadi lemas dan dadanya berdebar keras.

Sementara itu, ketika mendengar ucapan Indrayana ini, barulah Candra Dewi sadar akan keadaannya. Mukanya menjadi merah sekali dan cepat-cepat ia mengkerling kepada wajah pemuda itu ia menarik napas dan makin merahlan mukanya ketika melihat betapa pemuda itu berdiri sambil memejamkan matanya. Ia cepat-cepat membetulkan dan memakainya pakaiannya kembali, diikat erat-erat dengan kembennya kemudian ia berkata,

“Di mana Raden Pancapana?“

Candra Dewi mengangguk, tak kuasa menjawab karena jengah dan malunya, sama sekali tidak ingat bahwa Indrayana sedang memejamkan matanya,.

“Eh, bagaimana, diajeng? Sudah ….. sudah selesaikan berpakaian?“,
baru dara itu teringat bahwa anggukan kepalanya tadi tentu saja tidak terlihat oleh Indrayana
“Su …… sudah,“ jawabnya sambil menundukkan muka.

Indrayana membuka matanya dan cepat memegang tangannya,

“hayo kita lekas keluar dari sini! Selama belum keluar dari bangunan ini, bahaya masih tetap mengancam kita! Kakangmas Pancapana menunggu di luar!“

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar kamar itu. Indrayana cepat menarik tangan Candra Dewi dan diajaknya ke luar. Ternyata ketika Pancapana sedang meringkus serigala hitam yang tak dapat berkutik dalam pitingannya tadi, tiba-tiba datang lima orang pendeta yang duduk di dekat patung Batari Durga di ruang tarian itu. Mereka ini datang karena selain terlalu lama menanti datangnya Candra Dewi yang di jemput oleh ketiga orang penari itu, juga mereka mendengar suara serigala hitam yang mencurigakan.

“Orang nekad dari mana berani mengotorkan tempat kami yang suci?“

bentak seorang antara lima pendeta itu yang segera maju menyerang Pancapana. Pemuda ini melihat datangnya serangan kelima orang pendeta itu cukup hebat dan berbahaya, segera mengangkat tubuh serigala hitam dan melontarkan binatang yang kebal itu ke arah para penyerangnya.

Kelima orang pendeta itu yang merasa dirinya telah bersih dan suci, tentu saja tidak mau bertubrukan dengan tubuh serigala hitam dan sebagai murid-murid Bagawan Siddha Kalagana yang telah di percaya dan memiliki kepandaian yang lumayan, mereka cepat mengelak, bahkan seorang di antara mereka memukul ke arah leher serigala hitam itu dengan tangan dimiringkan.

“ngek!“ sekali pukul saja binatang itu terlempar dan rebah tak berkutik lagi karena pingsan.

Pancapana terkejut sekali melihat hal ini. Dua kali pukulannya yang amat ampuh, bahkan bacokan pedangnya dan tusukan keris Indrayana, tak berhasil merobohkan binatang itu, akan tetapi ddengan sekali tampar saja pendeta ini dapat membuat binatang itu pingsan, sungguh dapat di bayangkan betapa saktinya pendeta ini. Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya bukan demikianlah halnya. Anjing hutan itu bukan roboh karena saktinya pukulan si pendeta, akan tetapi, sebagai murid Begawan Siddha Kalagana, pendeta ini telah tau letak rahasia kekebalan serigala hitam tadi, maka bagi dia dan kawan- kawannya, serigala hitam itu tidak memiliki kekebalan lagi.

Dengan teriakan-teriakan marah, kelima orang pendeta itu menyerbu Raden Pancapana dan pada saat itulah Indrayana dan Candra Dewi keluar dari kamar itu. Melihat betapa Pancapana dikeroyok oleh lima orang pendeta, Indrayana berseru marah dan menerjang ke depan. Kelima orang pendeta itu sama sekali bukan lawan Indraana dan Pancapana memiliki pukulan keras dan telapak tangan panas. Dalam beberapa gebrakan saja, tubuh kelima orang pendeta itu bergulingan dan bertumpuk menjadi satu dengan kepala benjol, mata biru dan tulang rusuk patah.

“Hayo kita keluar dari neraka ini!“ kata Indrayana sambil menarik tanagn Candra Dewi.

Ketika melihat betapa dara itu pucat sekali mukanya karena banyak menderita kegelisahan dan ketakutan sehingga kedua kakinya gemetar dan tak dapat lari cepat, tanpa ragu-ragu lagi Indrayana lelu memondong tubuhnya. Untuk sesaat tubuh Candra Dewi menegang dalam pelukan kedua tangannya, akan tetapi melihat tarikan muka Indrayana yang sungguh-sungguh dan sama sekali tidak mengandung nafsu tidak senonoh, tubuh dara itu menjadi lemas dan ia bahkan meletakkan kepalanya di atas pundak pemuda itu. Pancapana tidak berkata sesuatu melihat hal ini, karena saat yang amat berbahaya itu tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk meributkan hal-hal kecil dan tidak memberi saat untuk berjenaka pula.

Karena telah mengetahui rahasia pintu yang di sebelah dalamnya juga ada patung-patung serigala hitam seperti di bagaian luar, mereka dapat keluar dengan mudah. Akan tetapi sebelum mereka tiba di luar bangunan, sepasukan penjaga telah menghadang di depan dengan senjata tajam di tangan. Pancapana yang bertahan di depan, membuka jalan dengan pedangnya. Ke mana saja pedangnya berkelebat, menjeritlah seorang pengeroyok dan robohlah tubuh seorang penjaga sehingga mereka menjadi gentar sekali dan membiarkan Pancapana dan Indrayana yang memondong tubuh Candra Dewi lewat dan keluar dari bangunan itu.

Kini kedua orang muda itu telah tiba pekarangan belakang yang juga cukup luas. Mereka berlari menuju sebelah pintu gerbang kecil yang akan membawa mereka ke tepi Sungai Serang. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan yang keras sekali dan dengan luar biasa sekali cahaya bulan yang tadinya terang-benderang menjadi gelap sama sekali.

“Kakangmas Pancapana!“ bisik Indrayana yang terpaksa berhenti berlari.
“Apakah yang terjadi?“
“Sst, dimas, tenang dan waspadalah! Agaknya bagawan siluman itu sendiri telah keluar dan ini tentu perbuatan sihirnya!“

Mereka berdua berdiri berdekatan, saling berpegangan tangan, urat-urat di tubuh menegang, siap menghadapi kemungkinan. Candra Dewi yang berada di dalam pelukan Indrayana segera berbisik,

“Raden, turunkan aku, agar dapat siap menghadapi lawan.“ Suara dara itu gemetar karena merasa ketakutan melihat kehebatan musuh yang mempunyai kesaktian demikian mengerikan.

Indrayana menurunkan tubuh Candra Dewi, akan tetapi tangan kanannya memegang tangan dara itu, sedang tangan kirinya memegang tangan Pancapana. Keadaan makin gelap dan awan yang tadinya bergulung di atas agaknya kini turun ke bawah dan menyelimuti mereka sehingga mereka tidak dapat melihat kawan-kawan sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara yang menyeramkan, bagaikan iblis dari neraka.

“Ha-ha-ha! Indrayana , dan Candra Dewi! Kalian hendak melarikan diri?
Ha-ha-ha!“ Selenyapnya suara ini terdengar suara anjing atau serigala melolong-lolong dengan hiruk-pikuk, seakan-akan ada puluhan ekor serigala buasa yang mengurus dan hendak menyerang tiga oranga nak muda itu.

Tiba-tiba Indrayana merasa betapa tangan Candra Dewi meremas jari tangannya dengan etar-erat dan gadis itu berbisik.

“Aku …… aku takut …… !“

Indarayana merasa betapa tubuh gadis yang merapat padanya itu menggigil. Siapa orangnya yang takkan merasa ngeri dan takut dalam keadaan yang menyeramkan itu.

“Diajeng,“ bisiknya menghibur,
“Jangan takut selama aku masih berada di dekatmu!“
“Siddha Kalagana!“ teriak Indrayana kemudian dengan suara keras.
“Kau pendeta siluman yang tak tau malu ! Seorang yang mengaku sakti titisan Sang Hyang Syiwa, mengapa baru menghadapi kami dua orang muda saja sudah merasa takut? Sungguh memalukan sekali !“ hening sejenak.

Lenyap suara anjing melolong. Kemudian, dari dalam gelap terdengar suara Bagawan Siddha Kalagana menjawab.

“Bocah sombong, siapa takut pada kalian? Jangankan baru dua orang muda seperti kalian, di tambah dua puluh orang lagi, aku Bagawan Siddha Kalagana, titisan Sang Hyang Syiwa, tidak akan takut atau mundur!“

Diam-diam Indrayana yang cerdik itu tersenyum girang. Akalnya telah berhasil baik dan kata-katanya tadi telah menyinggung perasaan dan kehormatan si begawan itu. Pemuda ini lalu tertawa bergelak dan berkata lagi.

“Siddha Kalagana, hatimu tak sama dengan lidahmu dan lidahmu tidak cocok dengan perbuatanmu! Kalau kau tidak takut terhadap kami, mengapa kau mempergunakan ilmu iblis dan bersembunyi di dalam gelap? Ha-ha-ha! Aku tau akan akal siasat burukmu ini. Tentu saja kau tidak berani melawan kami berdepan secara orang-orang gagah, karena kau bukan orang gagah, melainkan orang berhati curang dan pengecut!“
“Keparat jahanam mau mampus!!“ Tiba-tiba terdengar Bagawan Siddha Kalagana memaki marah dan kegelapan yang menyelimuti tempat itu seketika itu juga menjadi terang.

Bulan nampak bersinar lagi dengan indahnya. Kini kelihatanlah bagawan itu yang berdiri di depan ketika orang muda itu dengan sikap mengancam dan mengerikan sekali. Bagawan itu telah menggenakan pakaiannya yang terdiri dari celana panjang warna hitam, dan jubah hitam berkembang merah dan kuning dan sorbannya yang berwarna kuning pucat. Di tangan kanannya nampak senjatanya yang amat dahsyatnya, yakni seekor ular kobra yang kering. Di belakang pendeta siluman ini berdiri anak buah pasukan Srigala Hitam. Adapun suara gamelan yang masih di tabuh ramai itu menyatakan bahwa pesta tari-tarian yang makin menggila itu masih berlangsung, dan bahwa para penduduk yang kini telah mabuk tak sanggup menguasai batin dan pikiran sendiri itu, tidak mengetahui sama sekali peristiwa ini dan mereka itu masih menari-nari dengan empat puluh orang bidadari yang menggiurkan itu.

Indrayana dan Pancapana maklum bahwa keadaan mereka berbahaya sekali. Menghadapai bagawan itu saja sudah merupakan hal yang amat berat dan berbahaya, apa lagi berada di sarang mereka dan kini bagawan itu masih dibantu oleh sebagian anak buahnya ! Akan tetapi, semangat ksatria pantang mundur dalam perjuangan menghadapi musuh angkara murka. Kedua orang muda itu tidak menjadi gentar dan mereka mengambil keputusan untuk melawan dengan nekad, membela dan melindungi Candra dewi dengan nyawa mereka dan kalau pesta perlu tewas bersama di tempat itu.

“Indrayana!“ seru Bagawan Siddha Kalagana sambil tersenyum mengejek.
“Lebih baik engkau menyerah, menjadi muridku mempelajari ilmu kepandaian yang tinggi dan aji kesaktian yang luar biasa. Percayalah, engkau akan menjadi murid terkasih dariku, dan akan merupakan anak angkatku. Engkau akan dapat mempelajari seni ukir dan seni tari. Si Candra juga akan menjadi seorang yang paling dihormati, menjadi pelayan yang paling tinggi kedudukannya, paling dekat dengan Sang Hyang batari dan aku! Untuk apa engkau menyia-nyiakan nyawa dalam usia muda?“

Bagawan Siddha Kalagana kini memandang kepada Pancapana dan ucapannya terhadap Pancapana benar-benar mengagetkan ketiga orang muda itu.

“He, Pancapana, pangeran yang terlantar! Apakah engkau tidak ingin menjadi Raja Mataram, menggantikan kedudukan ayahmu dulu ? ha-ha-ha! Engkau menjadi pucat mendengar ini! Ya, tidak ada perkara di dunia ini yang tidak diketahui oleh Bagawan Siddha Kalagana yang sidik paningal dan sakti mendraguna! Kalau engkau suka menjadi muridku, jangan khawatir. Merebut kembali Mataram dari tangan Panamkaran akan sama mudahnya seperti membalikkan telapak tangan saja. Engkau menyehkan dan aku yang akan merampaskan Mataram untukmu!“

Tadinya Pancapana memang menjadi pucat mendengar ucapan yang mengagetkan itu, karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa pendeta iblis itu mengetahui rahasianya. Akan tetapi ketika mendengar bujukan-bujukan pendeta itu, ia menjadi marah sekali. Dengan muka kembali merah, Pancapana mengangkat pedangnya dan berseru,

“Pendeta keparat! Kalau engkau sudah tahu bahwa aku adalah seorang pangeran Mataram, masihkah engkau mengharapkan seorang ksatria berlutut menyembah seekor anjing?“

Bukan main marahnya Bagawan Siddha Kalagana mendengar kata-kata ini,

“Bocah-bocah sombong, engkau mengandalkan apakah, berani kurang ajar terhadap Bagawan Siddha Kalagana?“

Akan tetapi Pancapana dan Indrayana tidak mau melayani pendeta itu mengobrol lebih jauh, dan keduanya lalu menerjang dengan senjata di tangan. Bagawan Siddha Kalagana telah merasai sepak terjang kedua orang muda ini, dan harus ia akui bahwa dalam hal kepandaian memainkan senjata, kedua orang muda ini lebih tangkas dan pandai. Akan tetapi pendeta ini tidak takut, karena sekarang ia berada di tempat sendiri, dan untuk keperluan pesta itu ia telah memasang mantera dan tenung sehingga tubuhnya diliputi oleh hawa gaib dan selaksa iblis menjadi sahabat dan hambanya.

Keris di tangan Indrayana bukanlah sebilah keris biasa, melainkan sebatang keris pusaka yang amat ampuh. Keris Bajradenta (Kilat Putih) ini mempunyai daya dan pengaruh untuk menolak pengaruh-pengauh hitam, dan kini setelah di mainkan oleh tangan Indrayana yang terlatih dan kuat, maka keris itu berkelebatan dan menyambar-nyambar bagaikan halilintar.

Hawa yang timbul dari cahaya berkelebatannya keris itu saja sudah mendatangkan rasa panas bagi yang diserangnya. Indrayana memiliki ketangkasan dan kegesitan seperti burung walet, maka tentu saja permainan kerisnya juga hebat dan sukar sekali di hadapi.

Demikian juga Pacapana tidak kurang hebat dan kuatnya. Pemuda ini telah mendapat gemblengan dari seorang pertapa yang sakti. Di bawah pimpinan Panembahan Bayumurti, pemuda ini telah melakukan tapabrata dan telah mempelajari berbagai ilmu keperwiraan dengan amat tekunnya, maka ia merupakan seorang pemuda yang selain gagah perkasa, juga sakti mandraguna. Pedangnya bernama Candrasa Wilis (Pedang Hijau) karena terbuat daripada baja yang bersinar kehijauan. Tajamnya bukan alang kepalang dan baja atau besi biasa saja yang terbacok oleh Candrasa Wilis ini pasti akan putus bagaikan mentimun ! juga ilmu pedang pemuda ini amat cepat dan ganas gerakannya, pedang di putar-putar merupakan segulung awan hijau yang bergerak-gerak menyambar bagian lemah tubuh Bagawan Siddha Kalagana.

Sesungguhnya, dua orang pemuda itu merupakan lawan yang amat tangguh.

Biarpun Bagawan Siddha Kalagana juga memiliki kepandaian pencak silat yang cukup tinggi, kepandaian yang di pelajarinya di tanah airnya ketika ia masih muda, namun menghadapi sepak-terjang Pancapana dan Indrayana, diam-diam ia harus mengakui keunggulan kedua pemuda itu ! Jangankan di keroyok dua, andaikata ia menghadapi seorang saja di antara mereka, belum tentu ia mendapat kemenangan ! Maka perlahan-lahan Pancapana dan Indrayana mendesak dan mengurung pendeta itu yang sibuk sekali memutar-mutar senjata ularnya dan mengelak ke sana ke mari melepaskan diri dari bahaya maut. Biarpun pendeta itu amat terdesak, namun para anak buahnya tidak berani sembarangan bergerak membantu. Tanpa perintah dari pendeta yang berkuasa itu, mereka tidak berani berlaku lancang.

Mereka menaruh kepercayaan penuh kepada Bagawan Siddha kalagana, karena mereka percaya bahwa sesembahan mereka itu bukan lain adalah Sang Batara Syiwa sendiri yang menjelma menjadi manusia ! Tidak ada seorang manusia, biar yang gagah-gagah seperti dua orang pemuda itu berada di tempat tinggal Sang Maha Batari Durga yang suci dan maha kuasa, yang tentu akan membantu suaminya dalam pertempuran melawan siapapun juga.

Bagawan Siddha Kalagana maklum bahwa kalau ia terus melawan mengandalkan kepandaian dan kekuatan jasmani, ia akan kalah. Tidak boleh ia menderita kekalahan dihadapan semua pengikutnya, karena hal ini akan menghancurkan kedudukannya, akan menghilangkan kepercayaan para pengikutnya. Maka diam-diam ia meulau berkemak-kemik membaca mantera dan sepasang matanya mulai mengeluarkan cahaya yang ganjil dan menyeramkan. Candra Dewi yang berdiri memandang pertempuran itu dengan gelisah, tiba-tiba melihat betapa sepasang mata bagawan itu mencorong bagaikan mata harimau di malam hari. Saking ngeri dan takutnya. Candra Dewi mengeluarkan jerit tertahan dan menggeluarkan kedua tangan untuk menutupi matanya.

Indrayana dan Pancapana juga melihat perobahan pada mata lawannya itu, maka merekapun menjadi terkejut sekali. Akan tetapi kedua orang pemuda gagah ini masih dapat menenteramkan hati mereka. Tiba-tiba pendeta itu berseru keras,

“Lihat!“ Dan tangan kirinya memegang sesuatu yang diambilnya dari dalam jubahnya. Benda yang dipegangnya itu mencorong dan memantulkan sinar bulan kepada muka Indrayana dan Pancapana. Kedua orang muda itu hendak miringkan kepala, akan tetapi terlambat. Sinar yang keluar dari benda yang dipegang oleh Siddha Kalagana telah menyambar pandang mata mereka sehingga bagaikan kena pesona mereka berdua tak dapat melepaskan pandangan mata dari benda yang bersinar-sinar di tangan lawannya itu. Dengan mata memandang ke arah benda itu, kedua orang muda ini telah masuk ke dalam perangkap pendeta itu. Kini pendeta itu telah menguasai kemauan mereka dengan ilmu hitamnya. Betapapun kedua orang muda itu mengerahkan tenaga batin untuk membebaskan diri dari pengaruh yang membuat hati dan pikiran mereka serasa beku, namun tetap mereka tak berdaya. Pengaruh yang melumpuhkan mereka itu luar biasa kuatnya.

“Berlututlah kalian berdua, hai kawula (hamba) baru dari Sang Maha Batari!“ terdengar suara Bagawan Siddha Kalagana memerintah. Bagaikan ada tenaga gaib yang melemahkan seluruh semangat mereka, Indrayana dan Pancapana lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan pendeta itu!

Bagawan Sidda Kalagana tertawa terbahak-bahak dan ia lalu melangkah maju menghampiri Candra Dewi yang berdiri menggigil ketakutan.

“Ha-ha-ha! Candra Dewi, anak manis, denok dan ayu! kau sudah ditakdirkan menjadi pelayan Sang Maha Batari, sudah ditakdirkan menjadi pelayan selir Sang Batara Syiwa ! Ha-ha-ha, marilah manis, mari ikut junjuganmu merayakan pesta dan menari gembira!“

Candra Dewi tak dapat mengeluarkan suara saking takutnya. Ia melangkah mundur perlahan- lahan, matanya menatap pendeta itu tanpa berkedip.

“Ha-ha, kekasihku sayang, mengapa takut-takut? Mengapa malu-malu?“

Sang pendeta melangkah maju mendekat, hatinya makin gairah dan nafsunya memuncak. Sementara itu, para pengikutnya ketika melihat betapa pendeta itu mengalahkan dua orang pemuda yang gagah perkasa makin tunduk dan percaya penuh. Siapakah yang akan dapat mengalahkan kesaktian Sang Hyang Syiwa?

Akan tetapi, tiba-tiba pendeta itu dan juga semua anak buahnya terkejut sekali ketika melihat sinar terang dibarengi suara keras menyambar dari udara. Saat itu udara tidak mendung, dari manakah datangnya kilat yang menyambar hebat itu? Suara kilat yang keras itu memecahkan pengauh ilmu hitam yang dilepas oleh Bagawan Siddha Kalagana kepada Indrayana dan Pancapana sehingga merekapun terkejut karena suara keras itu dan melompat bangun.

Bagawan Siddha Kalagana berdiri dengan kedua mata terbelalak heran. Candra Dewi segera berlari kepada kedua pemuda itu dan dalam ketakutan hebat, ia lalu menubruk …… Indrayana yang segera memeluk dan mengusap kepalanya.

“Tenanglah, diajeng ……“ bisik pemuda itu.

Bagawan Siddha Kalagana masih terbelalak memandang ke atas dengan pikiran heran karena ia tak dapat mengerti dari mana datangnya halilintar yang menyambar dan yang menghancurkan hikmat sihirnya tadi. Kemudian, entah dari mana datangnya, terdengarlah suara halus akan tetapi amat berpengaruh.

“Indrayana, kau tidak lekas mengajak kedua kawanmu melanjutkan perjalanan, mau tunggu kapan lagi?“

Indrayana terkejut mendengar suara ini.

“Eyang Ekalaya,“ bisiknya perlahan dengan girang dan juga heran, lalu dengan cepat ia memegang tangan Candra Dewi dan berkata kepada Pancapana.

“Kakangmas Pancapana, hayo kita lari!“

Indrayana menarik tangan Canra Dewi dan berlari, diikuti oleh Pancapana.

Mereka keluar dari pintu belakang dan ketika sampai di tepi Kali Serang, mereka lalu berlari menyusur sepanjang tepi sungai.

Bagawan Siddha Kalagana amat marah melihat korban-korbannya melarikan diri. Ia lebih marah lagi kepada suara yang telah menolong para korbannya itu. Ia berkemak kemik membaca mantera lalu berseru keras.

“Tidak ada titah Dewata yang tak dapat terlihat olehku!“

Bagawan Siddha Kalagana memiliki kesaktian yang tinggi dan apabila ia telah mengucapkan mantera disusul bentakannya yang amat berpengaruh ini, biasanya segala aji yang dipergunakan orang untuk menghilang akan buyar dayanya. Akan tetap saja ia tidak melihat orang yang berkata-kata kepada Indrayana tadi. Ia terkejut dan maklum bahwa ia menghadapi seorang berilmu tinggi yang memiliki kesaktian luar biasa, maka dengan suara halus ia berkata.

“Saudara dari manakah yang datang mengganggu kami? harap sudi memperlihatkan diri agar kami dapat melihat siapa yang telah memberi kehormatan besar mengunjungi tempat kami yang buruk ini!“

Tiba-tiba terdengar suara ketawa halus dan kedua mata Bagawan Siddha Kalagana serta mata semua pengikutnya kini dapat melihat seorang kakek yang berusia tinggi berdiri di bawah pohon sambil bersedakap.

“Bagawan Siddha Kalagana,“ kakek itu berkata dengan suaranya yang halus dan tenang,

“tiada yang kekal di dunia ini kecuali kebenaran! Cepat atau lambat, segala keadaan akan sirna kembali lenyap kembali ke tempat asal. Kesesatan dan kejahatan akan lebih cepat lagi runtuhnya, kembali ke alam gelap dan siksa dari mana ia berasal. Makin besar nikmat duniawi yang didatangkan oleh kesesatan, makin besar pula siksa yang akan menjadi buahnya. Masihkah kau tidak insaf dan hendak melanjutkan langkahmu yang menyeleweng daripada jalan kebenaran?“ melihat kakek itu, lenyaplah kesombongan Bagawan Siddha Kalagana.

Ia merangkapkan kedua tangan di depan dada dengan hormatnya lalu berkata.

“Ah, tidak tahunya Sang Bagawan Ekalaya yang telah membersihkan batin daripada segala urusan dunia itu, kali ini sengaja turun gunung untuk bertanding ilmu dengan aku? Apakah kau berani mempergunakan tanganmu yang telah tercuci bersih untuk menghancurkan aku?“

Sang Bagawan Ekalaya tersenyum.

“Tidak, Siddha Kalagana, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Bukan menjadi tugasku untuk mengakhiri pengumbaran hawa nafsu. Aku hanya datang menghalangimu dari bencana yang hendak kau timpahkan kepada calon-calon muridku. Nah, selamat tinggal, Siddha Kalagana!“ Sehabis berkata demikian, lenyaplah tubuh pertapa sakti itu dari hadapan Siddha Kalagana dan para pengikutnya.

Marahlah pendeta itu, akan tetapi ia maklum bahwa sesungguhnya pertapa itu tidak mau mengganggunya, namun ia sendiri tidak berdaya terhadap kakek yang suci dan tinggi ilmunya itu.

“Hayo! Kita melanjutkan pesta kita! Jangan perdulikan segala pertapa pemakan rumput!“

Ia lalu memimpin anak buahnya kembali ke ruang pesta di mana masih berlagsung pesta yang makin menggila itu. Kini semua orang sudah mabok betul-betul sehingga mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang hanya patut dilakukan oleh segala setan dan iblis di neraka.

Setahun lebih Indrayana , Pancapana, dan Candra dewi berdiam di puncak Gunung Muria yang terletak di atas sebuah pulau kecil di seberang tepi Pulau Jawa. Mereka bertiga mendapat gemblengan dari Sang Panembahan Ekalaya, mendapat ilmu kebatinan yang tinggi. Kalau Candra Dewi hanya mendapat ilmu-ilmu kebatinan dan pengetahuan tentang filsafat, adalah Indrayana dan Pancapana mendapat latihan ilmu kesaktian pula. Oleh karena itu, kedua orang pemuda itu kini makin kuat dan digdaya. Keduanya diberi wejangan dan aji kesaktian melawan ilmu-ilmu hitam.

Pada waktu-waktu terluang, Indrayana mempelajari ilmu seni pahat dan seni ukir dari Pancapana dan Candra Dewi. Kedua orang muda ini sebagai puteri dan murid Panembahan Bayumurti memang pandai sekali membuat patung dan gambaran terukir, terutama sekali Candra dewi. Kalau jari-jari tangan yang kecil, runcing dan halus itu memegang alat pengukir patung, jari-jari itu dapat bergerak dengan amat cekatan dan cepat. Senang benar Indrayana melihat dara ini bekerja memahat patung untuk memberi contoh kepadanya. Kalau sedang bekerja dengan asyiknya itu, sepasang mata dara itu menyipit dan memancarkan cahaya kalau ia memandang dan megamat-amati patung yang sedang dibentuknya. Cahaya mata seorang seniman. Kadang-kadang, saking asyiknya Candra Dewi mengeluarkan ujung lidahnya yang kecil merah itu di antara sepasang bibirnya dan seikal rambutnya yang hitam dan halus itu beruntai ke depan keningnya.

Hubungan antara Indrayana dan Candra Dewi bertambah erat dan kini gadis itu tidak canggung dan malu-malu lagi kepada Indrayana yang selalu sopan santun dan ramah tamah. Sungguhpun mulut mereka tak pernah menyatakan apa yang terkandung di dalam hati masing- masing, namun pandangan mata mereka telah membocorkan rahasia hati. Pertemuan pandang mata mereka selain mendatangkan kesan mendalam yang mendebarkan hati, juga saling bicara dalam seribu bahasa yang hanya dapat terdengar oleh telinga hati masing-masing.

Indrayana adalah seorang pemuda yang belum pernah tergoda oleh rayuan asmara. Perasaan cinta yang pertama-tama dirasainya, berikut rindu dendam di dalam hati mudanya, adalah ketika ia bertemu dan melihat Sang Puteri Mahkota Pramodawardani, puteri dari Kerajaan Syailendra itu memang selama ini ia mengaku di dalam hatinya, bahwa ia mencintai puteri itu, dan mengganggap bahwa puteri itulah wanita tercantik di seluruh permukaan bumi
ini. Ia pernah tergila-gila kepada patung puteri itu, pernah gandrung di dalam hutan bagaikan seorang gila, mencumbu rayu patung itu.

Akan tetapi, semenjak patung itu lenyap, berubah menjadi patung Dewi Tara kembali, dan semenjak ia bertemu dan berkenalan dengan Candra Dewi, bayangan wajah Pramodawardani makin menipis dan suram.

Betapapun juga, sebagai seorang ksatria yang memiliki kesetiaan, di dalam hatinya sendiri Indrayana menyalahkan hatinya yang tertarik pada wajah Candra Dewi, dan memperkuat keyakinannya bahwa sesungguhnya yang ia cintai adalah Pramodawardani dan sudah seharusnya demikian, karena sebelum bertemu dengan Candra Dewi, ia telah menjatuhkan hatinya kepada Sang Puteri Mahkota Pramodawardani itu. Sebagai seorang ksatria tidak seharusnya demikian mudah perasaan hatinya, demikian pikir Indrayana .

Pada hari itu, menyelesaikan sebuah patung yang hanya bagian mukanya saja belum sempurna. Patung itu dibuatnya semenjak tiba di puncak Muria, di bawah petunjuk Pancapana dan Candra Dewi. Dibuatnya dengan amat hati-hati dan cermat. Melihat hasil pahatannya dan ukirannya yang telah menciptakan bentuk tubuh yang cukup baik, ia merasa amat girang. Banyak rahasia dalam cara pengukiran petung ia pelajari dari kedua orang sahabatnya itu, dan diam-diam ia mengaku memang cara mengukir dan memahat patung dari Mataram sebagaimana yang dipelajarinya dari murid-murid Panembahan Bayumurti itu jauh lebih sempurna daripada pelajaran yang pernah ia tuntut di Kerajaan Syilendra.

Akan tetapi, telah beberapa pekan lamanya Indrayana merasa jengkel dan penasaran. Patung yang dibuatnya itu adalah patung wanita. Dari kaki sampai leher sudah baik sekali, akan tetapi ia melihat kesulitan dalam hal membentuk muka patung itu.

“Kakangmas Indrayana,“ berkata Candra Dewi dengan suaranya yang merdu dan halus.
“Dalam mengukir dan membentuk bagian muka, memang lebih sukar daripada bagian-bagian lain, bahkan boleh di bilang yang paling sukar. Selain harus cermat, juga perlu bekerja denagn hati-hati sekali, karena sekali saja pahatmu meleset dan mendatangkan cacat pada muka patung, itu berarti bahwa seluruh pekerjaanmu terbuang sia-sia!“
“Inilah kelemahanku semenjak dahulu dalam membuat patung, diajeng Dewi,“ jawab Indrayana sambil menarik napas panjang.
“Aah, memang aku yang bodoh ! Betul seperti kata ayahku dahulu, membuat patung yang indah memerlukan bakat, dan aku……aku agaknya tidak berbakat!“

Dengan muka sedih Indrayana menunda pekerjaannya, duduk di atas sebatang akar pohon waringin, kemudian memandang kepada telapak kedua tangannya yang ditelentangkan di atas pangkuannya.

“Tanganku terlampau kasar, tak patut bagi pekerjaan yang halus-halus!“

Candra Dewi memandang kepada Indrayana dengan sinar mata seperti seorang ibu memandang kepada seorang anaknya, lalu ia tertawa geli sehingga pemuda itu memandangnya dengan merenggut karena merasa penasaran mengapa orang sedang kesal malah ditertawakan. Melihat mulut Indrayana yang cemberut itu, makin gelilah hati candra Dewi sehingga ia menggunakan tangan untuk menutup dan menahan ketawanya.

“Engkau seperti anak kecil yang sedang rewel!“ kata gadis itu.
“Seperti anak kecil minta sesuatu dan tidak diperbolehkan oleh ibunya!“
“Alangkah baiknya kalau aku masih menjadi anak kecil dan masih mempunyai seorang ibu yang mencintaiku dan menghibur hatiku,“ kata Indrayana mengerutkan keningnya.
“Eh-eh, jangan merajuk, kakangmas Indrayana . Aku khawatir jangan-jangan engkau akan menangis! Apakah sekarang engkau merasa demikian sengsara?“

Indrayana menghela napas,

“sekarang? Tak seorangpun peduli pada nasibku. Bahkan dalam kekesalan dan kekecewaan seperti sekarang ini, tidak ada yang menghiburku bahkan ada
orang yang mengejek dan mentertawakan aku!“

Tiba-tiba berobahlan wajah Candra Dewi, pandang matanya sayu ketika ia menatap wajah Indrayana. Ia mendekati pemuda itu dan menyentuh lengannya dengan ujung jari tangan.

“Kakangmas …… tak dapatkah engkau menerima kelakarku ? Benar-benarkah engkau demikian berduka dan menderita ……?”

Melihat pandang mata gadis itu dan mendengar suaranya yang agak gemetar itu, Indrayana sadar kembali bahwa ia memang bersikap keterlaluan. Dipegangnya pergelangan tangan gadis itu dan berkata sambil tersenyum lebar.

“Jeng Dewi, maafkan aku! Aku tadipun hanya bergurau dan mengodamu saja.“
Candra Dewi tiba-tiba membentot tangannya yang terpegang itu dengan wajah kemerah-merahan.

“Kakangmas Indrayana, jangan engkau cemberut lagi seperti tadi. Sungguh tak sedap hati rasanya memandang mukamu yang cemberut. Sekarang dengarlah baik-baik, orang muda pemarah. Tadi engkau menyatakan bahwa menurut ramandamu, pembuatan patung yang indah membutuhkan bakat. Ini memang benar, akan tetapi hanya sebagian saja, dan pernyataan itu masih belum lengkap. Kalau kau berkata bahwa tidak berbakat, itu sama kelirunya dengan pernyataan bahwa kau tidak berkepala.“

Indrayana memandang kepada gadis itu dengan heran dan tertegun. Memang, gadis ini amat pandai mengingat filsafat yang pernah ia dengar dari ayahnya, dan memiliki pandangan yang amat luas dalam hal perikehidupan sehingga kadang-kadang Indrayana sendiri menjadi terheran-heran. Melihat betapa mata Indrayana memandangnya dengan penuh keheranan, gadis itu tersenyum dan berkata,

“Aku hanya mengulang kata-kata ayahku belaka. Menurut ayah, segala macam kepandaian di dunia ini, telah ada pada diri setiap orang manusia. Kepandaian ini masuk ke dalam tubuh bersama-sama denagn jiwa dan kepandaian asli yang berasal dari Hyang Agung inilah yang dinamakan bakat. Bakat ini pula yang membuat setiap orang bayi dapat mempergunakan seluruh anggota tubuhnya yang sudah kuat tanpa diberitahu lagi. Hanya terserah kepada manusia sendiri untuk menggali dan mencari bakat sendiri di dalam dirinya. Berhasil atau tidaknya seseorang mendapatkan bakat sendiri di dalam dirinya, tergantung sepenuhnya kepada orang itu sendiri. Ia harus rajin, tekun, tahan uji, ulet, sabar, dan segala sifat-sifat baik harus dikerahkan sebagai obor penerangan untuk mencari bakatnya sendiri yang tersembunyi itu.“

Indrayana memandang kepada Candara Dewi dengan mata dipentang lebar dan bibirnya tersenyum.

“Eh, eh, mengapa kau tersenyum-senyum? Apakah kau tak mendengarkan kata-kataku? Jangan membikin aku capai berkata-kata dengan sia-sia!“

Indrayana cepat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tentu saja aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Memang amat janggal dan aneh.“

“Apanya yang janggal dan aneh?“ tanya gadis itu curiga.

“Janggal dan aneh kedengarannya ucapan yang mengandung arti dalam sekali itu keluar dari bibir seorang dara semuda dan secantik engkau!“
“Hus, jangan kau menggoda, kakangmas Indrayana. Akan kulanjutkan petunjuk untuk membuat patung ini, atau tidak?“ ia mengancam.
“Eh, tentu saja, tentu saja! Baik, aku takkan main-main lagi dan akan mendengarkan sebagai seorang murid yang baik.“
“Oleh karena bakat telah ada di dalam diri setiap orang, maka aku katakan tidak benar kalau kau menganggap bahwa kau tidak berbakat. Setiap orang tentu dapat mengerjakan apa saja, asalkan ia usahakan dengan hati mantap, penuh kepercayaan kepada diri sendiri, penuh rasa sayang dan cinta kepada apa yang dikerjakan, dan tanpa ada penyelewengan kehendak. Buktinya, kau telah dapat membuat patung ini dengan cukup baik, hanya bagian mukanya saja belum juga dapat kauselesaikan sempurna. Menurut petunjuk rama panembahan dulu, membentuk muka patung harus menurut contoh yang dilukis dalam angan-angan sendiri. Pelukisan wajah seseorang dalam angan-angan ini akan lebih jelas dan mudah muncul apabila kita memilih orang yang lebih dekat di hati, orang yang paling kau kasihi. Dulu, ketika akan membuat patung untuk pertama kalinya, baru aku berhasil setelah gambar dalam angan-anganku itu timbul dari cinta kasihku kepada ayah dan ibu. Aku dapat membuat patung ayah ibu dan dengan baik sekali.“ Indrayana mengangguk-angguk. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Hm, jadi begitukah caranya?“
“Ya, dan sekarang kau bentuklah muka patung itu menurut wajah orang yang terdekat dengan hatimu.“

Tiba-tiba muka Indrayana berseri.
“Ibuku! Benar …… sejak dulu aku ingin sekali membuat patung ibuku! Tahukah kau, jeng Dewi, dulu aku pernah mencoba membuat patung dari batu-batu di tengah Kali Serang, untuk membuat patung mendiang ibuku, akan tetapi selalu tidak berhasil. Sekarang aku telah tahu bagaimana cara mengukir bagian yang halus-halus dan agaknya wajah ibuku yang paling mudah timbul dalam angan-anganku.“

Akan tetapi Candra Dewi menggelengkan kepalanya.

“Kau lihatlah tubuh patung itu, pantaskah kiranya kalau menjadi tubuh mendiang ibumu?“

Indrayana tertegun. Memang tubuh patung itu merupakan tubuh seorang wanita muda remaja, sedangkan wajah ibunya merupakan wajah seorang wanita yang sudah setengah tua.

“Kau benar diajeng, takkan sesuai.“
“Pilihlah wajah seorang yang lebih muda. Dapatkah kau mengingat wajah ibumu ketika masih muda?“

Indrayana menggelengkan kepala, kemudian ia berkata,

“Oya aku akan membayangkan wajah Sang Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra“

Candra dewi memandang dengan mata bersinar.

“Ah, Sang Puteri Pramodawardani yang tersohor cantik jelita seperti bidadari itu?“

Indrayana mengangguk dan wajahnya berseri-seri. Pembicaraan ini mengingatkannya lagi kepada Sang Puteri yang jelita itu dan ketika ia menyipitkan kedua matanya, terbayanglah wajah puteri jelita itu dengan jelasnya di depan matanya. Benar ! mengapa ia begitu bodoh ? Bayangan wajah Pramodawardani yang pernah dirindukan itu demikian jelas, seakan-akan ia dapat merabanya. Tentu mudah sekali membentuk wajah patungnya menurut contoh ini.

“Engkau benar …… engkau benar …… “ Bagaikan dalam mimpi.

Indrayana lalu berjalan perlahan kepada patungnya yang berdiri tak jauh dari situ, lalu mengambil alat-alat pengukirnya, meraba-raba bagian muka patung itu sambil metanya masih setengah dikatupkan. Ia tidak melihat betapa Candra dewi memandangnya dengan mata sayu dan wajah pucat, tidak mendengar betapa berkali-kali gadis itu berbisik “Pramodawardani …… ??“
kemudian pemuda itu hanya mendengar suara Candra Dewi berkata,

“Nah, selamat bekerja, kakanda Indrayana . Aku akan membantu Raden Pancapana di ladang!“

Indrayana tidak melihat betapa gadis itu berlari ke ladang menahan runtuhnya air matanya. Memang sesungguhnya hati Candra Dewi terasa hancur dan perih. Dari pandangan mata pemuda itu, gadis ini dapat menduga bahwa pemuda itu memilik perasaan hati yang sama denagn dia sendiri, menduga bahwa pemuda itu tentu menaruh hati cinta kasih kepadanya. Bagaikan ciuman sinar matahari atau pelukan halimun pada bunga puspita, demikianlah dugaan akan cinta kasih pemuda ini mendatangkan kehangatan dan kesegaran kepadanya. Ia maklum bahwa pemuda itu belum berani menyatakan perasan hatinya dan belum ada kesempatan bagi mereka untuk saling menyatakan perasaan ini sungguhpun dari pandangan mata, mereka telah merasa yakin bahwa mereka mempunyai perasaan hati yang sama.

Semenjak Indrayana belajar membuat patung dengan hati berdebar, Candra Dewi melihat betapa pemuda itu membentuk kaki tangan dan bentuk tubuh patung itu seperti dia, bahkan Pancapana sendiri pernah berkata sambil tertawa,

“Ah, dimas Indrayana, melihat patungmu ini dari kanan, kiri, atau belakang, aku seperti melihat adikku Candra Dewi! Serupa benar.“

Indrayana hanya tersenyum saja mendengar ini, dan Candra Dewi sambil melerok ke arah Pancapana lalu berkata,

“Ada-ada saja Raden Pancapana, semua orang dapat melihat bahwa patung ini terbuat daripada batu sedangkan aku dari pada kulit dan daging, mana bisa sama? Tentu saja bentuk tubuh kaki dan tangan semua hampir sama.“

Akan tetapi, diam-diam ie mengaku di dalam hati bahwa tak dapat tidak, dalam pembuatan tubuh patung itu, Indrayana telah mencontoh dirinya.

Diam-diam Candra Dewi merasa girang sekali. Dan ketika merasa tadi mengadakan percakapan tentang pembuatan patung itu, terbukalah kesempatan bagi mereka berdua. Kesempatan mencari keyakinan bagi Candra Dewi dan kesempatan mengutarakan isi hatinya bagi Indrayana.

Candra Dewi telah merasa yakin dan pasti bahwa setelah ia memberi petunjuk kepada pemuda itu, tentu pemuda itu akan mempergunakan dia sebagai contoh pengukiran muka patung itu. Tentu pemuda itu akan membuka rahasia hatinya bahwa Candra Dewi adalah wanita yang selalu dekat di hatinya, yang selalu terbayang-bayang.

Namun, apakah yang didengarkan? Bukan lain ialah nama Puteri Mahkota Pramodawardani. Naiklah sedu sedan dari dadanya ketika Candra Dewi meninggalkan Indrayana. Dengan hati perih ia lalu berlari ke lereng gunung, di mana terdapat sebuah ladang yang luas. Ladang ini adalah hasil pekerjaan mereka bertiga, di mana mereka bercocok tanam untuk di makan sendiri hasilnya. Pada waktu itu, Raden Pancapana tengah mencangkul dengan rajinnya. Ketika melihat Candra Dewi berlari-lari, ia menghentikan pekerjaannya.

“Eh, Candra, kenapakah?“ tanyanya setelah gadis itu tiba di dekatnya.

Biarpun Candra Dewi tidak menangis dan sudah berusaha menekan perasaannya, namun pandang mata Pancapana yang tajam itu masih dapat juga melihat kemuraman wajahnya. Candra Dewi semenjak kecil telah kehilangan ibunya dan hanya hidup berdua dengan ayahnya yang tentu saja amat menyayangi puteri tunggal itu. Kemudian datang Pancapana yang menjadi murid ayahnya dan yang dianggap sebagai kakak sendiri. Kini, berada di puncak gunung Muria bersama dengan Sang Panembahan Ekalaya dan kedua orang muda itu, Candra Dewi makin merasa betapa Pancapana merupakan pengganti ayahnya dan hanya kepada pangeran inilah ia mengharapkan bimbingan dan perlindungan. Hatinya sedang perih dan hancur, kini mendengar pertanyaan yang mengandung penuh perhatian itu tak terasa lagi Candra Dewi menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis sedih.

Terkejutlah hati Pancapana melihat keadaan gadis ini, ia tadi tahu bahwa Candra Dewi sedang memberi petunjuk kepada Indrayana tentang pembuatan patung, mengapa kini gadis ini datang dan menangis sedih?
Untuk beberapa lama ia mendiamkan saja Candra Dewi menangis, kemudian setelah tangis adik angkatnya itu menjadi reda, ia bertanya,

“Candra Dewi, kau kenapakah? tak enakkah badanmu? Sakitkah kau? Atau, adakah terjadi sesuatu yang menyusahkan hati?“

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab oleh Candra Dewi yang hanya menggelengkan kepala sambil menunduk.

“Kalau begitu, mengapa engkau menagis?“

Kembali Candra Dewi tidak menjawab, karena bagaimanakah ia harus menjawab? Bagimanakah ia dapat menerangkan kepada Pancapana apa yang menjadikan hatinya perih?. Pancapana dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang menyusahkan hati gadis itu, akan tetapi tidak dapat di ceritakan kepadanya. Ia lalu duduk di dekat Candra Dewi, minum air dari sebuah kendi air yang tersedia di situ, lalu berkata dengan suara yang amat halus.

“Adikku, telah setahun lebih kita berada di sini dan banyaklah ilmu yang telah kita pelajari dari Eyang Panembahan Ekalaya. Dan menurut perhitungan dan pesan Panembahan Bayumurti, ayahmu, paling lama beberapa bulan lagi kita tentu akan bertemu kembali dengan paman Panembahan.“

Kata-kata ini diucapkan oleh Pancapana dengan maksud memacing dan ingin mengetahui apakah kesedihan gadis itu dikarenakan rindu kepada ramandanya. Akan tetapi, Candra Dewi tidak manjawab dan masih saja menundukkan mukanya dengan muram. Pancapana mengerutkan keningnya dan berpikir-pikir. Kemudian ia tersenyum dengan suara masih biasa.

“Adikku yang manis, di manakah adanya dimas Indrayana? Mengapa ia tak ikut datang ke sini?“

Karena suara Pancapana terengar biasa saja, maka Candra Dewi dapat menetapkan hatinya dan menjawab sambil lalu saja.

“Dia sedang sibuk membuat patung.“

“Belum jadi jugakah patung itu? Alangkah lamanya! Bukankah hanya tinggal mukanya saja yang belum sempurna?“
“Sekarang ia sedang mengukir bagian mukanya,“ jawab Candra Dewi dan hatinya mulai terasa perih lagi karena teringat betapa jari-jari tangan Indrayana yang kuat itu sekarang tentu sedang membentuk muka Pramodawardani, meraba-raba muka patung puteri itu dengan belaian penuh kasing sayang.

“Sudah tahukah ia akan rahasia mengukir muka patungnya?“

Candra Dewi mengangguk dan berkata perlahan,

“Sudah kuberitahu agar dia menggunakan seorang yang dikasihinya sebagai contoh.“

“Bagus! Sekarang tentu akan sempurna patung itu. Eh, aku jadi ingin sekali tahu siapakah gerangan wanita yang dijadikan contoh bagi pengukiran muka patungnya? mendiang ibunya?”

Candra dewi menggeleng cepat karena khawatir kalau-kalau pangeran itu menyangka dialah orangnya, maka ia cepat pula menerangkan dengan suara acuh tak acuh,

“Yang dijadikan contoh adalah Sang Puteri Pramodawardani.“
“Apa??“

Hal ini benar-benar mengejutkan hati Pancapana dan sama sekali tak pernah disangka-sangkanya. Gurunya, yaitu ayah Candra Dewi atau Panembahan Bayumurti, pernah menyatakan kepadanya bahwa Tanah Jawa baru akan aman dan segala pertikaian dan permusuhan dapat dilenyapkan apabila keturunan Sanjaya dan keturunan Syailendra dapat berjodoh, sehingga Agama kedua turunan itu, yaitu Agama Hindu dan Agama Buddha yang bersumber satu, dapat pula dijodohkan. Biarpun gurunya bicara dengan tidak langsung dan merupakan harapan belaka, namun amat berkenan di dalam hati pangeran ini dan telah lama ia mengandung keinginan hati yang besar untuk dapat melihat wajah Pramodawardani Puteri Syailendra itu.

Kini mendengar bahwa Indrayana hendak membuat wajah patung itu seperti wajah Pramodawardani, tentu saja ia merasa terkejut dan juga heran serta kecewa. Ia menduga bahwa pemuda gagah itu mencintai adik angkatnya dan ia tahu pula betapa besar rasa cinta kasih Canda Dewi terhadap Indrayana. Mendengar keterangan itu, pemuda yang cerdik dan waspada ini dapat menduga bahwa tentu hal inilah yang membuat hati gadis itu bersedih.

“Candra Dewi, adikku yang ayu.“ katanya dengan suara menghibur,
“tadinya aku merasa terkejut juga mendengar kata-katamu bahwa Indrayana membuat patung itu seperti wajah Pramodawardani dan timbul sangkaan yang bukan-bukan dalam hatiku bahwa ia mencintai puteri mahkota itu“
“Tentu saja ia mencintainya.“ jawab Candra Dewi masih tunduk, kemudian ia mengangkat mukanya dan tersenyum ketika berkata.
“Akan tetapi, apakah hubungannya itu dengan kita? Biarlah dia mencintainya, apa peduli hal itu bagi kita?“
“Akan tetpi belum tentu demikian halnya, adikku. Belum tentu Indrayana mencintai Puteri Pramodawardani.“

Tadi Candra Dewi memperlihatkan sikap acuh tak acuh terhadap urusan Indrayana, akan tetapi ketika mendengar ucapan Pancapana ini, tiba-tiba saja ia menaruh banyak perhatian.
“Kalau tidak mencintainya, mengapa wajah Puteri Pramodawardani sebagai contoh?“

Pancapana menahan senyumnya melihat sikap Candra Dewi ini, dan menjawab dengan sikap seakan-akan ia tidak tahu akan perobahan ini,

“Pramodawardani adalah seorang Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra yang amat dicintai dan dihormati oleh semua rakyat kerajaan itu. Sudah sepatutnya kalau sebagai seorang ksatria dari Syailendra, Indrayana menghormatinya pula dan memujanya, sehingga sebagai pengormatan terhadap puteri junjungannya itu, ia membuat patung itu seperti Puteri Pramodawardani.“

Bagai awan gelap tertiup angin, kemuraman wajah Candra Dewi lenyap terganti cahaya harapan baru yang membuat sepasang pipinya berwarna merah kembali.

“Biar, aku intai dia Candra. Akupun ingin sekali melihat bagaimana rupa Puteri Pramodawardani yang tersohor cantik jelita itu.“

Setelah berkata demikian, Pancapana meninggalkan ladang itu, meninggalkan Candra Dewi yang duduk melamun seorang diri, tidak gelisah dan berduka lagi seperti tadi, sungguhpun ia mesih meragukan kebenaran dugaan Pancapana tadi.

Sementara itu, Indrayana mengerahkan seluruh ingatannya untuk membayangkan wajah Pramodawardani yang pernah membuatnya tak sedap makan tak nyenyak tidur, gandrung-gandrung di sepanjang jalan. Mula-mula memang wajah itu nampak nyata sekali, sehingga dapat ia gambarkan bentuk bibir yang indah itu, hidung yang mancung dan mata yang bersinar bagaikan bintang itu. Kedua tangannya lalu bergerak mengerjakan alat pengukirnya pada muka patung itu yang hendak dibentuk seperti contoh bayangan wajah Pramodawardani. Akan tetapi aneh sekali ketika ia mulai memahat bagian rambut yang panjang terurai itu, tiba-tiba pikirannya melayang ke arah rambut di kepala Candra Dewi. Rambut kepala Candra Dewi tidak kalah hitam, panjang, dan halusnya daripada rambut Pramodawardani, sungguhpun rambut Candra Dewi tidak serapi dan seberes rambut puteri mahkota itu, melainkan lebih kasut dan tidak dipelihara baik-baik. Akan tetapi, justru rambut yang kasut itu, apalagi yang segumpal yang selalu berjuntai di depan kening, kadang-kadang mengganggu mata dan kepalanya lalu digerakkan tiba-tiba untuk menghalau segumpal rambut itu dari depan matanya, membuat gadis itu makin menarik dan manis.

Indrayana mengerahkan tenaga pikirannya untuk mengusir bayangan rambut Candra Dewi. Hal ini bukan hanya terjadi karena cinta kasihnya kepada gadis itu, akan tetapi terutama sekali karena ia hanya sekali saja dan sebentar melihat bentuk kepala Pramodawardani, sedangkan Candra Dewi dijumpai setiap hari, bahkan sering kali ia duduk mengagumi rambut gadis itu dengan diam-diam.

“Ah, biarlah, biarlah!“ katanya dalam hati dengan perasaan mangkal.
“Tidak apa kugunakan contoh rambut kepala Candra Dewi untuk patung ini.
Tidak ada buruknya rambut Pramodawardani disamakan dengan rambut Candra Dewi. Untuk bagian-bagian lain pada mukanya akan kugunakan muka Sang Puteri sebagai contoh.“

Akan tetapi pikiran ini lebih mudah direnungkan daripada dilakukan. Setelah kepalanya mulai terbentuk dan ia hendak mulai dengan bagian kening dan telinga, kembali ia terbentur pada hal yang sama. Tadinya memang kelihatan jelas kening yang halus dan telinga yang terhias mutumanikam dari Puteri Pramodawardani akan tetapi aneh sekali, kening itu yang tadinya berwarna putih kening berobah menjadi bentuk kening Candra Dewi yang segar kemerah-merahan dan agak nonong sedikit sedangkan daun telinga yang indah terhias mutumanikam itupun berobah pula menjadi daun telinga Candra Dewi yang terhias oleh sinom yang melingkar ke belakang dengan amat indahnya.

Karena telah capai mengerahkan tenaga batin dan pikiran untuk mengusir banyangan Candra Dewi tanpa hasil yang memuaskan, maka kembali ia menghibur hatinya dengan keputusan seperti tadi. Tidak apa kening dan daun telinganya menyerupai kening dan daun telinga Candra Dewi, karena yang terpenting pada perasaan muka adalah mata dan hidung serta mulut, maka ia melanjutkan ukirannya dan membuat patung seperti contoh bayangan Candra Dewi, yaitu pada bagian kening dan daun telinganya.

Dan ketika ia hendak memulai mengukir bagian matanya dan diam-diam mengenakan sepasang mata bintang dari Puteri Pramodawardani yang indah itu, sehingga sepasang mata itu nampak jelas sekali seperti ketika sang puteri memandangnya dengan marah pada waktu secara lancang ia membukakan sutera penutup tempat keputren dahulu, tiba-tiba berubah menjadi sepasang mata yang jenaka, yang indah bening, yang manik-maniknya dapat hidup dan memancarkan cahaya yang mengandung seribu macam bahasa indah, mata dari Candra Dewi, pemuda itu melemparkan alat-alat ke atas tanah dan menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah.

“Celaka …… “ keluhnya,
“Mengapa Candra Dewi telah menguasai seluruh hati dan pikiranku?”

Untuk beberapa lama pemuda itu duduk bersandar di batang pohon dan termenung. Tak salah lagi, ia bukan mencinta Pramodawardani, hanya kagum akan kecantikan puteri itu. Bukan Pramodawardani yang menguasai hatinya, melainkan Candra dewi. Hal ini tidak aneh, karena pemuda inipun maklum akan kebenaran kata orang zaman dahulu bahwa cinta kasih murni akan berakar dan mendalam setelah kedua fihak sering kali bertemu dan ada penyesuaian watak dan sifat mereka. Dengan Pramodawardani ia hanya bertemu muka satu kali, itupun amat sebentar sehingga rasa cinta kasihnya dahulu itu pada hakekatnya hanyalah rasa silau dan kagum karena kecantikan puteri yang sukar dicari bandingannya itu. Hubungannya dengan Candra Dewi lain lagi. Mereka telah bergaul sebagai murid-murid Panembahan Ekalaya bahkan sebelum itu mereka telah menghadapi bahaya bersama, senasib sependeritaan dan mereka telah mengenal baik sifatnya dan tabiat masing-masing.

“Aku cinta kepada diajeng Dewi …… “ Indrayana menarik napas panjang dan mengaku kepada diri sendiri.
“Dia lebih cocok bagiku, juga sama-sama keturunan pertapa. Mengapa aku harus malu menyatakan kasihku?“

Setelah mengambil ketetapan dalam hatinya, pemuda ini lalu bangkit lagi, mengambil alat-alatnya dan melanjutkan ukirannya pada muka patung itu.
Kali ini ia membayangkan wajah Candra Dewi yang muncul bagaikan bulan purnama, bersih tidak terhalang oleh bayangan apapun juga. Senyum dan kerling mata Candra Dewi paling menarik hati Indrayana, maka bayang-bayang wajah gadis itu tersenyum-senyum dan melirik-lirik, sehingga ukiran pada patungnya menurut pula bayang-bayang itu. Dengan amat asiknya Indrayana mengukir muka patungnya, makin lama makin tertarik dan gembira sekali karena melihat betapa ukirannya benar-benar baik dan serupa benar dengan wajah gadis yang dikasihinya itu.

Benar sekali petunjuk Candra Dewi, dengan mencontoh bayangan yang terlukis jelas di dalam kenangannya, dengan mudah ia dapat menyelesaikan patung itu.

Saking asyiknya Indrayana sampai tidak tahu bahwa semenjak tadi ada sepasang mata yang mengintai dari balik daun pohon. Pengintai ini bukan lain adalah Pancapana yang ingin sekali melihat bagaimana wajah Puteri Syailendra yang tersohor itu. Akan tetapi, ketika melihat wajah patung itu, hampir saja ia tak dapat menahan ketawanya. Ia mendekap mulutnya sendiri untuk menahan ketawanya, lalu pergi diam-diam dari tempat itu.
Pancapana berlari-lari ke ladang kembali di mana ia mendapatkan Candra Dewi yang masih saja duduk termenung dengan hati binggung.

Melihat Pancapana datang dengan muka gembira dan tertawa-tawa, Candra dewi bertanya heran.

“kau kelihatan gembira sekali, pangeran.“
“Hush, jangan menyebut Pangeran kepadaku, Candra. Sejak dulu aku minta kau menyebutku kakangmas seperti menyebut seorang kakak sendiri, akan tetapi kau selalu tidak mau menurut. Apakah kau tidak suka menjadi adikku?“
“Bukan demikian, Raden Pancapana. Sungguhpun di dalam hati aku telah merasa seperti adikmu sendiri, namun betapa juga kau adalah seorang pangeran pati yang harus dihormati. Itulah sebabnya, maka aku tidak dapat menyebutmu lebih sederhana dari sebutan Raden. Eh, ya, kenapakah kau tertawa-tawa gembira? Agaknya cantik jelita sekali patung yang di buat oleh kakangmas Indrayana itu sehingga hatimu terpikat oleh kecantikan Puteri Pramodawardani?“

Makin keraslah kini Pancapana tertawa.

“Itulah yang menggelikan hatiku, Candra! Memang benar. Indrayana mencontoh wajah Pramodawardani untuk patungnya. Akan tetapi, ha-ha-ha!“
“Eh, kenapa Raden?“
“Muka itu …… seperti muka wewe (setan perempuan) buruk dan menyeramkan! Kalau demikian buruk menakutkan wajah Pramodawardani mengapa Indrayana begitu bodoh untuk menjadikannya sebagai contoh patungnya?“
“Buruk? Tak mungkin, Raden Pancapana. Sepanjang pendengaranku, Puteri Pramodawardani amat cantik jelita, tiada taranya di permukaan bumi ini. Kabarnya, segala sifat baik wanita ada padanya. Ia agung dan ayu seperti Sumbadra, gandes luwes seperti Larasati, kewat merak hati seperti Srikandi!“
“Entah berita itu yang salah, atau Indrayana yang tidak dapat membayangkan wajah, puteri itu, akan tetapi nyatanya, muka patung itu tidak karuan macamnya!“

Pancapana pandai sekali membuat gadis itu merasa penasaran dan ingin tahu.

“Tidak percaya? Lihatlah sendiri, Candra. Akan tetapi jangan engkau mengejek Indrayana, itu akan menyinggung perasaannya, karena yang dipahat adalah puteri sesembahannya!“

Candra Dewi lalu pergi dari situ, menuju ke tempat mana Indrayana bekerja. Hatinya riang, karena kalau memang benar bahwa Pramodawardani berwajah buruk, tidak mungkin Indrayana mencintai puteri itu. Akan tetapi, ia masih merasa penasaran dan marah kepada Indrayana. Betapapun hormatnya terhadap Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra, mengapa pemuda itu lebih menghargai dan lebih mengasihi puteri itu dari padanya? Salahkah pandangan matanya, mungkinkah sinar mata pemuda itu di waktu memandangnya merupakan kepalsuan belaka?.

“Kali ini harus kucari kepastian. Tak mau aku dipermainkan, tak mau aku bimbang ragu, menderita seorang diri!“

Dipercepatnya langkah kakinya, karena hari telah mulai menjadi gelap, tanda senjakala telah mendatang. Ketika ia tiba di tempat itu, ia memperlambat jalannya karena melihat bahwa Indrayana berdiri menghadapi patung dengan kedua tangan masih asyik mengerjakan muka patung itu yang berdiri membelakanginya. Candra Dewi tidak mau dilihat tergesa-gesa dan tidak mau memperlihatkan bahwa ia ingin sekali melihat hasil kerja pemuda itu. Akan tetapi Indrayana tidak melihat dia datang. Pemuda ini sedang asyik menyelesaikan bagian terakhir daripada pekerjaanya. Kedua matanya bersinar-sinar menatap muka patung itu. Senyum di bibir patung itu benar-benar hidup dan ia seakan-akan melihat Candra dewi yang hidup berdiri dan tersenyum manis kepadanya. Tiba-tiba ia tak dapat menahan gairah hatinya lagi. Dirangkulnya leher patung itu dan dibelai-belainya muka yang ayu itu.Pada saat itu, tiba-tiba pandang matanya bertemu dengan pandang mata Candra Dewi yang berdiri tak jauh di belakang patung itu.

Alangkah kaget, jengah dan malunya hati Indrayana tak dapat dibayangkan.

“Ah …… eh …… jeng Dewi …… kaukah itu? Kau datang seperti angin saja
…… ! Aku tidak mendengarnya sama sekali!“

Sementara itu, ketika tadi melihat betapa Indrayana memeluk dan membelai patung itu, seakan-akan hendak meledak rasa dada Candra Dewi karena cemburu. Akan tetapi ia menekan perasaannya dan memperlihatkan muka biasa. Untung bahwa udara mulai menyuram, sehingga Indrayana tidak melihat betapa mukanya sebentar merah sebentar pucat. Ia melangkah makin dekat, akan tetapi sebelum ia dapat melihat muka patung itu. Indrayana tiba-tiba mencegahnya dan menghadang di depannya.

“Diajeng, jangan kau melihat muka patung itu!“ Suara pemuda itu bersungguh-sungguh sehingga Candra Dewi merasa heran sekali.
“Mengapa …… ?“
“Jangan, diajeng, aku …… malu!“
“Aku …… aku malu, karena ……. Patung itu …… ah, aku tidak berhasil patung itu buruk sekali!“

Candra Dewi tersenyum mengejek, bukan karena percaya bahwa patung itu buruk, akan tetapi karena keterangan ini sama sekali tidak cocok dengan kelakuan pemuda tadi yang memeluk dan membelai-belai patung itu.

“Hm, kalau buruk tidak nanti kau dapat membelai dan memeluknya dengan pandang mata demikian mesra, kakangmas Indrayana!“

Indrayana memandang dengan mata terbelalak lebar.

“Kau …… kau tadi melihatnya ……?“
“Tentu saja aku melihatnya, aku melihat betapa engkau gandrung-gandrung kepada patung itu Hm, karena itulah maka aku harus menyaksikan dengan mata sendiri sampai dimana hebatnya dan jelitanya Puteri Pramodawardani yang tersohor itu!“ Kembali ia hendak melangkah maju, akan tetapi Indrayana minta dengan suara gugup,
“Jeng Dewi…… jangan ……!“

Candra Dewi mundur dua langkah, lalu memperhatikan kepala dan leher patung itu dari belakang. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang aneh baginya dan tak terasa lagi tangan kirinya meraba-raba rambutnya sendiri. Mengapa rambut kepala patung itu sama benar letaknya dengan rambutnya sendiri?

“Kakangmas Indrayana …… “ katanya perlahan,
“rambut Sang Puteri Mahkota Syailendra …… seperti itu benarkah ……?“ Tak terasa lagi Candra Dewi meraba-raba seluruh rambut di kepalanya.
“Be …… be …… benar!“ jawab Indrayana sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Seperti rambutku!“
“Memang sama.“
“Apa …… ?“
“Eh, ah …… maksudku, memang hampir serupa, yaitu …… letak dan modelnya …… lebih bagus……“
“Bagaimana pula ini? Tentu saja rambutnya lebih bagus!“
“Tidak, tidak! Rambutnya memang lebih bagus, akan tetapi …… rambutmu lebih indah …… ya, lebih indah …… “

Indrayana binggung sekali, karena ia merasa gelisah kalau-kalau gadis itu melihat muka patung yang sesungguhnya bukan lain adalah wajah gadis itu sendiri. Ini masih belum hebat, yang mengerikan adalah karena gadis tadi tahu dan melihat betapa ia memeluk, membelai, dan menciumi patung itu. Sementara itu, Candra Dewi merasa makin curiga dan tidak mengerti melihat sikap Indrayana ini. Mengapa pemuda itu begitu gugup dan gelisah? Mengapa patung itu tidak boleh ia lihat?

“Kakangmas Indrayana , engkau kenapakah? Apa salahnya kalau aku ikut mengagumi keindahan patung ini?“

Ia melangkah lagi hendak mendekati patung itu, akan tetapi Indrayana buru-buru memutar tubuh patungnya sehingga tetap saja membelakangi Candra Dewi.

“Jangan …… diajeng ……. Kalau kau kasihan kepadaku …… jangan sekarang.
Besok saja engkau boleh melihatnya, kalau sudah kuperbaiki. Aku malu sekali kalau engkau melihatnya dalam keadaannya seperti sekarang. Amat buruk!“

Tiba-tiba Candra Dewi menjadi marah.

“Kakangmas Indrayana , kau benar-benar keterlaluan! Sudah demikian hinakah aku sehingga untuk memandang wajah puterimu yang ayu itupun masih kurang berharga? Setidaknya, mengingat bahwa aku ikut pula memberi petunjuk dalam pembuatan patung ini, sudah sepatutnya kalau aku melihat kalau-kalau ada sesuatu yang kurang sempurna sehingga aku dapat memberi petunjuk lebih jauh. Atau, kalau tidak mengingat akan perhubungan kita yang sudah lama sehingga seakan-akan aku menjadi adikmu sendiri, sudah sepatutnya kalau aku …… sebagai adikmu …… mengagumi kecantikan …… calon isterimu!“

Makin binggunglah Indrayana ketika melihat bahwa gadis itu benar-benar marah. Ia menghela napas berkali-kali, kemudia sambil menundukkan muka dan melepaskan kedua tangannya di kanan dan kiri tubuhnya, ia berkata lemah,

“Kau yang memaksa, diajeng …… apa boleh buat, nah …… kaulihatlah, kemudia terserah kepadamu apa yang akan kau perbuat atas diriku yan bodoh ini …… “

Sambil berkata demikian, Indrayana memutar patungnya, dihadapkan kepada Candra Dewi. Gadis itu cepat memandang dan …… sukarlah memilih mana mana orang mana patung pada saat itu karena Candra Dewi berdiri diam tak bergerak, tak berkedip, bahkan napasnya seakan-akan terhenti, serupa benar dengan patung di depan itu! Di depan Indrayana, seakan-akan kini berdiri dua buah patung kembar indah. Lambat laun, sebuah dari pada patung itu bergerak, dadanya naik turun dan bibirnya bergerak, Candra Dewi berkata tanpa memalingkan mukanya dari patung itu.

“Mengapa …… bukan …… Puteri Pramodawardani ……?“

Tadinya Indrayana merasa takut kalau-kalau gadis itu akan marah, akan tetapi mendengar suaranya yang lemah lembut dan sama sekali tidak marah itu, hatinya menjadi lega dan tabah kembali, sungguhpun rasa jengah masih membuat ia menundukkan maka tanpa berani memandang gadis itu.

“Jeng Dewi, kau sendiri yang memberi petunjuk agar aku mengukir patung ini menurut contoh wajah seorang yang paling mudah kuingat, seorang yang paling mudah di hatiku …… yang ku kasihi dengan sepenuh jiwaku. Telah kucoba membuat patung Pramodawardani, namun gagal, karena …… sesungguhnya …… bukan dialah yang selama ini memenuhi hati dan pikiranku. Aku hanya melakukan cara-cara yang telah kauajarkan kepadaku dan …… inilah hasilnya, diajeng. Aku membuat patung orang yang kukasihi, kusayangi, orang yang paling kucinta …… “

Tidak menanti sampai habisnya ucapan Indrayana itu, tiba-tiba Candra Dewi menengok menatap wajahnya dan ketika dua pasang mata itu bertemu, terdengar isak tertahan dan Candra Dewi lalu berlari pergi dari situ sambil terisak-isak menangis.

Indrayana mengangkat muka terkejut, lalu dengan lompatan jauh ia mengejar, memegang lengan kanan Candra Dewi dan berkata dengan suara penuh perasaan duka dan pernyataan maaf.

“Aduh, diajeng ……. Maafkanlah aku tidak bermaksud menyinggung hatimu, aku tidak bermaksud menghinamu, diajeng. Sungguh, demi kehormatanku sebagai seorang ksatriya, demi semua Dewata Yang Maha Agung, aku bersumpah bahwa semua kelakuan dan ucapanku keluar dari hati yang suci murni, sama sekali tidak maksud hati untuk merendahkanmu. Aku tahu bahwa amat lancang, jeng Dewi, Orang seperti aku tidak patut dan tidak berharga untuk menyatakan perasaan hatiku terhadap kau yang agung dan mulia …… akan tetapi, apa dayaku, diajeng …… Kau sudi memaafkan aku, bukan? Kalau kau kehendaki, aku bersumpah takkan berani berlaku seperti tadi lagi!“

Candra Dewi memandang muka pemuda itu dengan air mata masih membasahi pipinya, akan tetapi amat heranlah hati Indrayana ketika melihat bahwa biarpun mata gadis itu menangis, namun bibirnya senyum. Tersenyum manis seperti patung itu.

“Bodoh ……“ bisik dara itu,
“aku menangis karena bahagia, masih belum terbukakah matamu ……?“

Kini Indrayana yang melenggong dan berdiri bagaikan patung batu, menatap wajah Candra Dewi seakan-akan berada di dalam mimpi. Melihat pandang mata seperti itu, Candra Dewi melengoskan mukanya dan menarik tangannya.

“Lepaskan aku ……! “ bisikinya dan hendak lari.

Akan tetapi kedua lengan tangan Indrayana lebih cepat lagi, pinggangnya yang ramping itu tertangkap dan sesaat kemudian ia telah berada dalam pelukan Indrayana . Sambil memejamkan kedua matanya, Candra Dewi menyandarkan kepalanya di atas dada kekasihnya, mendengarkan bisikan cumburayu dari bibir Indrayana, bagai sepasang kekasih yang sedang berbisik-bisik memadu kasih. Waktu berlalu amat cepatnya tanpa terasa sedikitpun juga. Demikian pula dengan Indrayana dan Candra Dewi. Serasa baru beberapa patah kata saja keluar dari bibir masing-masing dan seakan-akan baru saja mereka duduk bersanding di atas akar pohon, akan tetapi tahu-tahu malam telah tiba dan bulan mulai muncul. Namun belum juga mereka sadar dan masih tenggelam dalam buaian ombak samodera asmara yang memabokkan. Memang aneh kalau orang sedang dimabok asmara. Bulan purnama serasa suram dan tidak bercahaya apabila segala bunyi-bunyian dan gamelan, seakan-akan lagu dari surga. Memang luar biasa sakti Dewa Asmara, dan bukan main ampuhnya anak panah dan gendewanya. Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini, bahkan tiada dewata sekalipun manusia di dunia
ini, bahkan tiada dewa sekalipun, yang kebal menghadapi senjatanya. Akan tiba saatnya setiap orang manusia atau dewata terkena hikmatnya dan terpaksa mengakui kekuasaan dan keunggulan Sang Dewa Asmara.

Indrayana dan Candra Dewi baru sadar ketika tiba-tiba mereka mendengar suara ombak bertembang.

“Kakangmas Pancapana ……“ bisik Indrayana sambil melepaskan tangan Candra Dewi yang dari dipegangnya.
“Ah, lebih baik aku pergi dulu, tentu kita akan di ejek habis-habisan dan diperoloknya kalau ia melihat kita disini.“

Setelah berkata demikian, Canda Dewi bangkit dan segera melarikan diri dari situ dengan lagkah ringan. Indrayana memandang bayangan kekasihnya dengan hati bungah. Ia tadi telah mendengar dari Candra Dewi bahwa Pancapana yang menjadi biang keladi dari semua ini. Pangeran itu telah melihat ia membuat patung Candra Dewi dan sengaja membohongi gadis itu agar gadis itu melihat sendiri betapa Indrayana membuat patungnya. Nakal, akan tetapi juga amat baik hati. Indrayana tidak tahu apakah ia harus menegur ataukah menyatakan terima kasih, atas perbuatan Pancapana tadi.

Ketika Indrayana keluar dari balik pohon dan menjumpai Pancapana yang sedang berjalan seorang diri sambil itu, Pancapana menghentikan tindakan kaki dan tembangnya.

“Eh, eh, dimas Indrayana!“ katanya sambil senyum dan membelalakkan matanya.
“Jelas bersinar indah melingkungi tubuhmu, tanda bahwa engkau telah bertemu dengan kebahagiaan dan mendapat berkah Dewata Yang Agung! Kebahagiaan apakah gerangan, dimas? Bagilah sedikit kepadaku.“
“Kakangmas Pancapana, kau memang pandai menggoda orang,“ jawab Indrayana.
“Tetapi tidak berbahaya, dimas godaanku tidak berbahaya, tidak seperti godaanmu! Hampir saja membuat Candra Dewi adikku itu patah hati! Jangan menggodanya sampai keterlaluan, dimas, ingat, dia adikku. Kalau sampai patah hati dan berduka, aku bisa marah kepadamu!“

Merahlah muka Indrayana dan sambil tersenyum malu ia berkata.

“Terima kasih, kangmas. Berkat campur tanganmu, sekarang semua telah menjadi baik.“ Pancapana mengangguk-angguk sambil tersenyum
“Bagus, bagus!! Hatiku sudah gelisah melihat Candra Dewi menagis di ladang tadi, menangis dengan hati penuh cemburu kepada Puteri Mahkota dari Syailendra. EH, dimas, sesungguhnya bagaimanakah rupanya Puteri Pramodawardani? Benar-benar cantik jelita seperti yang disohorkan orangkah?“
“Cantik jelita!“ kata Indrayana dengan bangga.
“Sungguhpun bagiku diajeng Candra Dewi lebih cantik, akan tetapi mencari seorang puteri di kolong langit ini yang cantiknya dapat menandingi Puteri Pramodawardani, agaknya tak mungkin dapat!“

Pancapana lalu duduk di atas sebuah batu, memberi isyarat kepada Indrayana untuk duduk pula.

“Dimas, kau tadi mengucapkan terima kasih kepadaku, adakah ucapan itu tulus iklas dan keluar dari hati sanubarimu?“
“Tentu saja, kangmas. Tanpa reka dayamu itu, agaknya diajeng Candra Dewi akan selalu marah dan benci kepadaku.“
“Kalau kau benar-benar berterima kasih, sekarang kau harus membalas jasaku itu dengan cerita tentang diri Puteri Pramodawardani! Ceritakanlah tentang keadaan kerajaannya, tentang keluarganya, tentang puteri itu sendiri, bagaimana cantiknya, betapa manisnya kalau tersenyum, bagaimana lagaknya kalau berkata-kata.“

Demikian, kedua orang pemuda itu bercakap-cakap di bawah sinar bulan.
Indrayana menceritakan keadaan Syailendra, dan terutama sekali ketika menceritakan dan memuji-muji kecantikan Pramodawardani diceritakannya dengan cara yang menarik, dengan sejelasnya sehingga Pancapana yang mendengar merasa seakan-akan Puteri Pramodawardani itu telah berdiri di hadapannya. Sudah tentu saja Indrayana banyak membohong dan hanya mengira-ngira saja dalam hal ini, oleh karena iapun baru satu kali saja bertemu muka dengan puteri itu !

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali di kala ayam hutan masih belum berhenti berkokok saling sahut-sahutan, seperti biasa Sang Panembahan Ekalaya telah duduk bersila di atas batu hitam yang bentuknya bulat dan ketiga orang muridnya duduk pula bersila di atas tanah di hadapannya.

Kebiasaannya ini telah dilakukan semenjak mereka naik ke Muria. Pada waktu fajar itulah mereka menerima pelajaran-pelajaran ilmu-ilmu kebatinan yang tinggi dari pertapa sakti itu. Ada kalanya Sang Panembahan memanggil seorang di antara mereka pada siang atau senja hari untuk memberi pelajaran khusus. Akan tetapi, setiap pagi mereka bertiga tentu menghadap dan mendengar wejangan-wejangan dari guru mereka ini.

Hampir setiap pagi, Sang Panembahan Ekalaya menutup wejangan-wejangannya dengan kata-kata,

“Sekarang pergilah bekerja, anak-anak! Bekerjalah dengan hati riang dan laksanakanlah segala pitutur yang kaudengar dan pelajari didalam perbuatan, karena pokok pangkal yang segala ilmu di dunia ini terletak pada perbuatan yang nyata. Pengetahuan memerlukan pengertian, pengertian membutuhkan kesadaran, dan kesemuannya itu masih membutuhkan pula kenyataan. Apakah artinya tahu kalau tidak mengerti, mengerti tidak sadar? Dan apa pula artinya kesemuannya itu apabila ilmu yang dipelajarinya itu hanya merupakan pengetahuan kosong tanpa dilaksanakan dalam perbuatan? Ingatlah selalu bahwa ilmu barulah sapat disebut sempurna apabila di alam pelaksanaannya dapat mendatangkan manfaat bagi kemanusiaan.“

Akan tetapi, pada hari itu, ucapan yang selalu ditekankan ke dalam hati murid-muridnya setiap pagi ini masih ditambah lagi dengan ucapan yang mendatangkan debar pada jantung ketiga orang muda itu.

“Indrayana, Candra Dewi, dan kau juga Pangeran Pancapana!“ Sang Panembahan selalu menyebut Pancapana dengan Pangeran,
“hari ini adalah hari terakhir dari kediamanmu sekalian di atas puncak gunung ini. Oleh karena itu, tak usah kalian melakukan pekerjaan seperti biasa dan duduklah saja di sini bersamaku. Masih ada beberapa pelajaran yang perlu kalian ketahui dan pelajari dengan baik.“

Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang muda itu untuk mendengar ucapan-ucapan yang penuh rahasia dari guru mereka dan mereka maklum bahwa tak boleh mereka menanyakan sesuatu yang tidak dibuka atau diberi tahu oleh gurunya. Oleh karena itu, sungguhpun hati mereka ingin sekali bertanya tentang hari terakhir dari kediaman mereka di situ, namun mereka tak berani membuka mulut sebelum Sang Panembahan menerangkan sendiri.

No comments:

Post a Comment