Terharulah hari Indrayana melihat kelakuan
gadis ini. Ia maklum akan perasaan gadis
ini, yang telah berada di tepi jurang kehancuran dan kehinaan yang
akan memusnakan kesucian dan
kehidupannya. Ia menyentuh rambut yang halus itu dan berkata,
“Diajeng Dewi, sudahlah jangan
menangis, betulkan letak pakaianmu dulu
……“ Sambil berkata demikian, Indrayana menutup kedua matanya. Tak tahan ia melihat keindahan
ini terbentang di depan
matanya. Melihat para penari yang bertelanjang bulat tadi, ia merasa jijik dan muak, akan
tetapi kini melihat Candra dewi
berlutut di depannya dengan pakaian hampir telepas dari
tubuh ia merasa betapa lututnya menjadi
lemas dan dadanya berdebar keras.
Sementara itu, ketika mendengar ucapan
Indrayana ini, barulah Candra Dewi sadar akan keadaannya. Mukanya
menjadi merah sekali dan
cepat-cepat ia mengkerling kepada wajah pemuda itu ia menarik napas dan makin merahlan mukanya
ketika melihat betapa pemuda
itu berdiri sambil memejamkan matanya.
Ia cepat-cepat membetulkan dan memakainya pakaiannya kembali, diikat
erat-erat dengan kembennya kemudian
ia berkata,
“Di mana Raden Pancapana?“
Candra Dewi mengangguk, tak kuasa menjawab karena jengah dan malunya, sama
sekali tidak ingat bahwa Indrayana sedang
memejamkan matanya,.
“Eh, bagaimana, diajeng? Sudah ….. sudah selesaikan berpakaian?“,
baru dara itu teringat bahwa anggukan kepalanya tadi tentu
saja tidak terlihat oleh Indrayana
“Su …… sudah,“ jawabnya sambil menundukkan muka.
Indrayana membuka matanya dan cepat memegang tangannya,
“hayo kita lekas keluar dari
sini! Selama belum keluar dari bangunan ini,
bahaya masih tetap mengancam kita!
Kakangmas Pancapana menunggu
di luar!“
Tiba-tiba terdengar suara
ribut-ribut di luar kamar itu.
Indrayana cepat menarik tangan Candra Dewi dan diajaknya ke luar. Ternyata ketika Pancapana sedang
meringkus serigala hitam yang tak
dapat berkutik dalam pitingannya tadi, tiba-tiba datang lima orang pendeta yang
duduk di dekat patung Batari Durga di ruang tarian itu. Mereka ini datang
karena selain terlalu lama menanti datangnya Candra Dewi yang di jemput oleh ketiga orang penari itu, juga
mereka mendengar suara serigala hitam yang mencurigakan.
“Orang nekad dari mana berani
mengotorkan tempat kami yang suci?“
bentak seorang antara lima pendeta itu yang segera maju menyerang Pancapana. Pemuda ini melihat datangnya serangan
kelima orang pendeta itu
cukup hebat dan berbahaya, segera
mengangkat tubuh serigala hitam dan melontarkan binatang
yang kebal itu ke arah para penyerangnya.
Kelima orang pendeta itu yang merasa dirinya telah bersih dan suci, tentu saja tidak
mau bertubrukan dengan tubuh serigala hitam dan sebagai murid-murid Bagawan Siddha Kalagana yang telah di percaya dan
memiliki kepandaian yang lumayan, mereka cepat mengelak, bahkan
seorang di antara mereka memukul ke arah leher serigala hitam itu dengan tangan dimiringkan.
“ngek!“ sekali pukul saja
binatang itu terlempar dan rebah tak berkutik lagi karena pingsan.
Pancapana terkejut sekali
melihat hal ini. Dua kali pukulannya yang amat ampuh, bahkan bacokan pedangnya dan tusukan keris
Indrayana, tak berhasil merobohkan binatang
itu, akan tetapi ddengan sekali
tampar saja pendeta ini dapat
membuat binatang itu pingsan, sungguh dapat di bayangkan betapa saktinya pendeta ini. Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya bukan demikianlah halnya. Anjing hutan
itu bukan roboh karena saktinya pukulan si
pendeta, akan tetapi, sebagai
murid Begawan Siddha
Kalagana, pendeta ini telah tau letak rahasia kekebalan serigala hitam tadi,
maka bagi dia dan kawan- kawannya, serigala hitam itu tidak memiliki kekebalan lagi.
Dengan teriakan-teriakan marah, kelima orang pendeta itu menyerbu Raden Pancapana dan
pada saat itulah Indrayana dan
Candra Dewi keluar dari kamar itu. Melihat betapa
Pancapana dikeroyok oleh lima orang pendeta, Indrayana berseru marah dan
menerjang ke depan. Kelima orang
pendeta itu sama sekali bukan lawan
Indraana dan Pancapana memiliki pukulan keras dan telapak tangan
panas. Dalam beberapa gebrakan saja, tubuh kelima orang pendeta itu bergulingan dan bertumpuk menjadi satu dengan kepala benjol, mata biru dan tulang rusuk patah.
“Hayo kita keluar dari neraka
ini!“ kata Indrayana sambil menarik tanagn Candra Dewi.
Ketika melihat betapa dara itu pucat sekali mukanya karena banyak menderita kegelisahan dan ketakutan sehingga kedua
kakinya gemetar dan tak dapat lari cepat, tanpa ragu-ragu lagi Indrayana lelu memondong tubuhnya. Untuk sesaat tubuh Candra Dewi menegang dalam pelukan kedua tangannya, akan
tetapi melihat tarikan muka Indrayana yang sungguh-sungguh dan
sama sekali tidak mengandung nafsu
tidak senonoh, tubuh dara itu
menjadi lemas dan ia bahkan
meletakkan kepalanya di atas pundak pemuda itu. Pancapana
tidak berkata sesuatu melihat
hal ini, karena saat yang amat berbahaya itu tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk meributkan hal-hal
kecil dan tidak memberi saat
untuk berjenaka pula.
Karena telah mengetahui rahasia
pintu yang di sebelah dalamnya juga ada patung-patung serigala hitam seperti di bagaian luar,
mereka dapat keluar dengan mudah. Akan tetapi sebelum mereka tiba di luar bangunan,
sepasukan penjaga telah menghadang di depan dengan senjata tajam
di tangan. Pancapana yang bertahan di depan, membuka jalan dengan pedangnya. Ke
mana saja pedangnya berkelebat, menjeritlah seorang pengeroyok dan robohlah tubuh seorang penjaga sehingga
mereka menjadi gentar sekali
dan membiarkan Pancapana dan
Indrayana yang memondong tubuh Candra Dewi lewat dan keluar dari
bangunan itu.
Kini kedua orang muda itu telah
tiba pekarangan belakang yang juga cukup luas. Mereka berlari menuju sebelah pintu gerbang kecil
yang akan membawa mereka ke tepi
Sungai Serang. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan yang keras sekali dan dengan luar biasa sekali cahaya
bulan yang tadinya terang-benderang menjadi
gelap sama sekali.
“Kakangmas Pancapana!“ bisik Indrayana yang
terpaksa berhenti berlari.
“Apakah yang terjadi?“
“Sst, dimas, tenang dan
waspadalah! Agaknya bagawan siluman
itu sendiri telah keluar dan
ini tentu perbuatan sihirnya!“
Mereka berdua berdiri berdekatan, saling berpegangan tangan, urat-urat di tubuh menegang, siap
menghadapi kemungkinan. Candra Dewi yang berada di dalam pelukan
Indrayana segera berbisik,
“Raden, turunkan aku, agar
dapat siap menghadapi lawan.“ Suara
dara itu gemetar karena merasa
ketakutan melihat kehebatan musuh yang mempunyai kesaktian demikian
mengerikan.
Indrayana menurunkan tubuh
Candra Dewi, akan tetapi tangan kanannya memegang tangan dara itu, sedang tangan kirinya memegang
tangan Pancapana. Keadaan makin gelap dan awan yang tadinya bergulung di atas agaknya kini
turun ke bawah dan menyelimuti mereka
sehingga mereka tidak dapat melihat kawan-kawan sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara yang
menyeramkan, bagaikan iblis dari neraka.
“Ha-ha-ha! Indrayana , dan Candra Dewi! Kalian hendak
melarikan diri?
Ha-ha-ha!“ Selenyapnya suara ini terdengar suara anjing atau serigala melolong-lolong
dengan hiruk-pikuk, seakan-akan ada puluhan ekor serigala buasa
yang mengurus dan hendak menyerang tiga oranga nak muda itu.
Tiba-tiba Indrayana merasa
betapa tangan Candra Dewi meremas jari
tangannya dengan etar-erat dan gadis itu berbisik.
“Aku …… aku takut …… !“
Indarayana merasa betapa tubuh gadis yang merapat padanya itu
menggigil. Siapa orangnya yang takkan
merasa ngeri dan takut dalam keadaan yang
menyeramkan itu.
“Diajeng,“ bisiknya menghibur,
“Jangan takut selama aku masih
berada di dekatmu!“
“Siddha Kalagana!“ teriak
Indrayana kemudian dengan suara keras.
“Kau pendeta siluman yang tak tau malu ! Seorang yang mengaku sakti titisan Sang
Hyang Syiwa, mengapa baru menghadapi kami dua orang muda saja sudah merasa
takut? Sungguh memalukan sekali !“
hening sejenak.
Lenyap suara anjing melolong. Kemudian, dari dalam gelap terdengar suara
Bagawan Siddha Kalagana menjawab.
“Bocah sombong, siapa takut pada kalian? Jangankan baru dua orang muda seperti kalian, di tambah dua puluh orang lagi, aku
Bagawan Siddha Kalagana, titisan
Sang Hyang Syiwa, tidak akan takut atau mundur!“
Diam-diam Indrayana yang
cerdik itu tersenyum girang. Akalnya
telah berhasil baik dan
kata-katanya tadi telah menyinggung perasaan
dan kehormatan si begawan itu. Pemuda ini lalu tertawa bergelak
dan berkata lagi.
“Siddha Kalagana, hatimu tak sama dengan lidahmu dan lidahmu tidak cocok dengan perbuatanmu! Kalau kau tidak takut terhadap kami, mengapa kau mempergunakan ilmu
iblis dan bersembunyi di dalam gelap?
Ha-ha-ha! Aku tau akan akal siasat burukmu ini.
Tentu saja kau tidak berani melawan kami
berdepan secara orang-orang gagah,
karena kau bukan orang gagah, melainkan orang
berhati curang dan pengecut!“
“Keparat jahanam mau
mampus!!“ Tiba-tiba terdengar Bagawan
Siddha Kalagana memaki marah
dan kegelapan yang menyelimuti tempat itu seketika itu juga menjadi terang.
Bulan nampak bersinar lagi dengan indahnya. Kini kelihatanlah bagawan itu yang
berdiri di depan ketika orang muda
itu dengan sikap mengancam dan
mengerikan sekali. Bagawan
itu telah menggenakan pakaiannya yang terdiri dari celana panjang warna
hitam, dan jubah hitam berkembang merah
dan kuning dan sorbannya yang
berwarna kuning pucat. Di tangan
kanannya nampak senjatanya yang amat dahsyatnya, yakni seekor ular kobra yang kering. Di
belakang pendeta siluman
ini berdiri anak buah pasukan Srigala
Hitam. Adapun suara gamelan yang
masih di tabuh ramai itu menyatakan bahwa
pesta tari-tarian yang makin menggila itu masih berlangsung, dan bahwa para penduduk yang kini telah mabuk tak sanggup menguasai batin dan pikiran sendiri itu, tidak mengetahui sama sekali peristiwa ini dan mereka itu
masih menari-nari dengan empat puluh
orang bidadari yang menggiurkan itu.
Indrayana dan Pancapana maklum
bahwa keadaan mereka berbahaya sekali.
Menghadapai bagawan itu saja
sudah merupakan hal yang amat berat
dan berbahaya, apa lagi berada di
sarang mereka dan kini bagawan itu
masih dibantu oleh sebagian anak buahnya ! Akan tetapi, semangat ksatria
pantang mundur dalam perjuangan menghadapi musuh angkara murka. Kedua orang muda itu tidak menjadi gentar dan mereka mengambil keputusan untuk melawan dengan nekad, membela dan melindungi Candra
dewi dengan nyawa mereka dan kalau pesta perlu tewas bersama di tempat itu.
“Indrayana!“ seru Bagawan Siddha Kalagana sambil tersenyum mengejek.
“Lebih baik engkau menyerah, menjadi
muridku mempelajari ilmu kepandaian yang tinggi dan aji kesaktian
yang luar biasa. Percayalah, engkau
akan menjadi murid terkasih dariku, dan akan merupakan anak angkatku. Engkau
akan dapat mempelajari seni ukir dan
seni tari. Si Candra juga akan menjadi seorang yang paling dihormati, menjadi
pelayan yang paling tinggi
kedudukannya, paling dekat dengan
Sang Hyang batari dan aku! Untuk apa engkau menyia-nyiakan nyawa dalam usia muda?“
Bagawan Siddha Kalagana kini
memandang kepada Pancapana dan ucapannya terhadap Pancapana benar-benar mengagetkan ketiga orang muda itu.
“He, Pancapana, pangeran
yang terlantar! Apakah engkau tidak ingin menjadi Raja Mataram, menggantikan kedudukan ayahmu dulu ? ha-ha-ha! Engkau
menjadi pucat mendengar ini! Ya, tidak ada perkara di dunia ini yang tidak diketahui oleh Bagawan Siddha Kalagana yang
sidik paningal dan sakti mendraguna!
Kalau engkau suka menjadi muridku, jangan khawatir. Merebut kembali Mataram
dari tangan Panamkaran akan
sama mudahnya seperti membalikkan telapak
tangan saja. Engkau menyehkan dan
aku yang akan merampaskan Mataram
untukmu!“
Tadinya Pancapana memang
menjadi pucat mendengar ucapan yang mengagetkan itu, karena sama sekali tidak pernah
disangkanya bahwa pendeta iblis itu mengetahui rahasianya. Akan tetapi ketika mendengar bujukan-bujukan pendeta itu, ia menjadi
marah sekali. Dengan muka kembali merah,
Pancapana mengangkat pedangnya
dan berseru,
“Pendeta keparat! Kalau engkau sudah tahu bahwa aku adalah seorang pangeran
Mataram, masihkah engkau
mengharapkan seorang ksatria
berlutut menyembah seekor anjing?“
Bukan main marahnya Bagawan
Siddha Kalagana mendengar kata-kata ini,
“Bocah-bocah sombong,
engkau mengandalkan apakah, berani kurang ajar terhadap Bagawan Siddha Kalagana?“
Akan tetapi Pancapana dan Indrayana tidak mau melayani pendeta itu mengobrol lebih jauh, dan keduanya lalu
menerjang dengan senjata di tangan. Bagawan Siddha
Kalagana telah merasai sepak terjang kedua orang muda ini, dan harus ia akui
bahwa dalam hal kepandaian memainkan senjata,
kedua orang muda ini lebih tangkas dan
pandai. Akan tetapi pendeta ini tidak takut, karena sekarang ia berada di tempat sendiri, dan untuk keperluan pesta itu ia telah memasang mantera
dan tenung sehingga tubuhnya diliputi oleh hawa gaib dan selaksa iblis menjadi sahabat dan
hambanya.
Keris di tangan Indrayana bukanlah
sebilah keris biasa,
melainkan sebatang keris pusaka yang amat ampuh. Keris
Bajradenta (Kilat Putih) ini mempunyai daya dan pengaruh untuk menolak pengaruh-pengauh hitam, dan kini setelah di
mainkan oleh tangan Indrayana yang terlatih dan kuat, maka keris itu berkelebatan dan menyambar-nyambar bagaikan halilintar.
Hawa yang timbul dari cahaya
berkelebatannya keris itu saja sudah
mendatangkan rasa panas bagi yang diserangnya. Indrayana
memiliki ketangkasan dan kegesitan seperti burung walet, maka tentu saja permainan kerisnya
juga hebat dan sukar sekali di hadapi.
Demikian juga Pacapana tidak
kurang hebat dan kuatnya. Pemuda ini
telah mendapat gemblengan dari
seorang pertapa yang sakti. Di bawah pimpinan Panembahan Bayumurti, pemuda ini telah melakukan tapabrata dan telah
mempelajari berbagai ilmu keperwiraan dengan amat tekunnya, maka ia merupakan seorang pemuda yang
selain gagah perkasa, juga sakti
mandraguna. Pedangnya bernama
Candrasa Wilis (Pedang Hijau)
karena terbuat daripada baja yang
bersinar kehijauan. Tajamnya
bukan alang kepalang dan baja
atau besi biasa saja yang terbacok oleh
Candrasa Wilis ini pasti akan putus
bagaikan mentimun ! juga ilmu pedang pemuda ini amat cepat
dan ganas gerakannya, pedang di
putar-putar merupakan segulung awan hijau yang bergerak-gerak menyambar
bagian lemah tubuh Bagawan Siddha Kalagana.
Sesungguhnya, dua orang pemuda itu merupakan lawan yang amat tangguh.
Biarpun Bagawan Siddha
Kalagana juga memiliki kepandaian pencak silat yang cukup tinggi,
kepandaian yang di pelajarinya di tanah airnya ketika ia masih muda,
namun menghadapi sepak-terjang Pancapana
dan Indrayana, diam-diam ia
harus mengakui keunggulan kedua
pemuda itu ! Jangankan di keroyok dua, andaikata ia menghadapi seorang
saja di antara mereka, belum tentu
ia mendapat kemenangan ! Maka perlahan-lahan Pancapana dan Indrayana mendesak dan
mengurung pendeta itu yang sibuk sekali memutar-mutar
senjata ularnya dan mengelak ke sana ke mari melepaskan diri
dari bahaya maut. Biarpun pendeta
itu amat terdesak, namun para anak
buahnya tidak berani sembarangan
bergerak membantu. Tanpa perintah dari pendeta yang
berkuasa itu, mereka tidak berani berlaku lancang.
Mereka menaruh kepercayaan penuh kepada Bagawan Siddha
kalagana, karena mereka percaya
bahwa sesembahan mereka itu bukan
lain adalah Sang Batara Syiwa sendiri yang
menjelma menjadi manusia ! Tidak ada seorang manusia, biar yang gagah-gagah seperti
dua orang pemuda itu berada di tempat tinggal Sang Maha Batari Durga yang suci dan maha kuasa, yang tentu
akan membantu suaminya dalam
pertempuran melawan siapapun
juga.
Bagawan Siddha Kalagana maklum
bahwa kalau ia terus melawan mengandalkan kepandaian dan kekuatan jasmani, ia akan kalah. Tidak boleh ia menderita kekalahan dihadapan semua
pengikutnya, karena hal ini akan menghancurkan kedudukannya, akan menghilangkan kepercayaan
para pengikutnya. Maka
diam-diam ia meulau berkemak-kemik membaca
mantera dan sepasang matanya mulai mengeluarkan cahaya yang ganjil dan menyeramkan. Candra Dewi yang berdiri memandang pertempuran itu
dengan gelisah, tiba-tiba melihat
betapa sepasang mata bagawan itu mencorong bagaikan mata
harimau di malam hari. Saking ngeri
dan takutnya. Candra Dewi
mengeluarkan jerit tertahan dan menggeluarkan kedua tangan untuk menutupi matanya.
Indrayana dan Pancapana juga
melihat perobahan pada mata lawannya itu, maka merekapun menjadi
terkejut sekali. Akan tetapi kedua orang pemuda gagah ini
masih dapat menenteramkan hati
mereka. Tiba-tiba pendeta
itu berseru keras,
“Lihat!“ Dan tangan kirinya memegang
sesuatu yang diambilnya dari dalam jubahnya. Benda yang dipegangnya itu mencorong dan memantulkan sinar bulan kepada muka Indrayana dan Pancapana. Kedua
orang muda itu hendak miringkan kepala, akan tetapi terlambat. Sinar yang keluar dari benda yang dipegang oleh Siddha Kalagana telah menyambar pandang mata mereka
sehingga bagaikan kena pesona mereka
berdua tak dapat melepaskan pandangan mata dari benda yang bersinar-sinar di tangan lawannya itu. Dengan mata memandang ke
arah benda itu, kedua orang muda ini telah masuk ke dalam perangkap pendeta
itu. Kini pendeta itu telah
menguasai kemauan mereka dengan ilmu hitamnya. Betapapun kedua orang muda itu mengerahkan tenaga batin untuk membebaskan
diri dari pengaruh yang
membuat hati dan pikiran mereka serasa beku, namun tetap mereka
tak berdaya. Pengaruh yang melumpuhkan mereka itu luar biasa
kuatnya.
“Berlututlah kalian berdua, hai kawula (hamba) baru dari Sang Maha Batari!“ terdengar suara Bagawan Siddha Kalagana memerintah. Bagaikan
ada tenaga gaib yang melemahkan seluruh semangat
mereka, Indrayana dan Pancapana lalu menjatuhkan diri
berlutut di hadapan pendeta
itu!
Bagawan Sidda Kalagana tertawa terbahak-bahak dan ia lalu melangkah maju
menghampiri Candra Dewi yang berdiri menggigil ketakutan.
“Ha-ha-ha! Candra Dewi, anak
manis, denok dan ayu! kau sudah ditakdirkan menjadi
pelayan Sang Maha Batari, sudah ditakdirkan menjadi pelayan selir Sang Batara Syiwa ! Ha-ha-ha, marilah
manis, mari ikut junjuganmu merayakan pesta dan menari gembira!“
Candra Dewi tak dapat
mengeluarkan suara saking takutnya. Ia melangkah mundur perlahan- lahan, matanya menatap pendeta itu tanpa berkedip.
“Ha-ha, kekasihku sayang, mengapa takut-takut? Mengapa malu-malu?“
Sang pendeta melangkah maju mendekat, hatinya makin gairah dan nafsunya memuncak. Sementara itu, para pengikutnya ketika melihat betapa pendeta itu
mengalahkan dua orang pemuda yang
gagah perkasa makin tunduk dan
percaya penuh. Siapakah yang akan dapat mengalahkan kesaktian
Sang Hyang Syiwa?
Akan tetapi, tiba-tiba pendeta itu dan juga
semua anak buahnya terkejut sekali ketika melihat sinar terang dibarengi suara keras menyambar dari udara. Saat itu udara tidak mendung, dari manakah datangnya kilat yang
menyambar hebat itu? Suara kilat
yang keras itu memecahkan pengauh ilmu hitam yang dilepas oleh Bagawan Siddha Kalagana kepada
Indrayana dan Pancapana sehingga
merekapun terkejut karena suara keras itu dan melompat
bangun.
Bagawan Siddha Kalagana berdiri dengan kedua mata terbelalak heran. Candra Dewi segera berlari kepada kedua pemuda itu dan dalam
ketakutan hebat, ia lalu menubruk …… Indrayana yang segera memeluk dan
mengusap kepalanya.
“Tenanglah, diajeng
……“ bisik pemuda itu.
Bagawan Siddha Kalagana masih
terbelalak memandang ke atas dengan pikiran heran karena ia tak dapat mengerti dari mana datangnya halilintar yang menyambar dan
yang menghancurkan hikmat sihirnya tadi. Kemudian, entah dari mana datangnya, terdengarlah
suara halus akan tetapi amat berpengaruh.
“Indrayana, kau tidak lekas
mengajak kedua kawanmu melanjutkan perjalanan, mau tunggu
kapan lagi?“
Indrayana terkejut mendengar suara ini.
“Eyang Ekalaya,“ bisiknya perlahan
dengan girang dan juga heran, lalu dengan cepat ia memegang tangan Candra Dewi dan berkata kepada
Pancapana.
“Kakangmas Pancapana, hayo kita
lari!“
Indrayana menarik tangan Canra
Dewi dan berlari, diikuti oleh Pancapana.
Mereka keluar dari pintu belakang dan ketika sampai di tepi Kali Serang, mereka lalu berlari menyusur
sepanjang tepi sungai.
Bagawan Siddha Kalagana amat
marah melihat korban-korbannya melarikan diri. Ia lebih marah lagi kepada suara yang telah menolong para korbannya itu. Ia berkemak kemik
membaca mantera lalu berseru keras.
“Tidak ada titah Dewata yang tak
dapat terlihat olehku!“
Bagawan Siddha Kalagana memiliki kesaktian yang tinggi dan apabila ia
telah mengucapkan mantera disusul bentakannya yang amat berpengaruh ini,
biasanya segala aji yang
dipergunakan orang untuk menghilang akan buyar dayanya. Akan tetap saja ia tidak melihat orang yang berkata-kata kepada
Indrayana tadi. Ia terkejut dan maklum bahwa ia menghadapi seorang
berilmu tinggi yang memiliki kesaktian luar biasa, maka dengan suara halus ia berkata.
“Saudara dari manakah yang
datang mengganggu kami? harap sudi
memperlihatkan diri agar kami dapat
melihat siapa yang telah memberi kehormatan besar mengunjungi tempat
kami yang buruk ini!“
Tiba-tiba terdengar suara
ketawa halus dan kedua mata Bagawan Siddha
Kalagana serta mata semua
pengikutnya kini dapat melihat seorang
kakek yang berusia tinggi berdiri di bawah pohon sambil bersedakap.
“Bagawan Siddha Kalagana,“ kakek itu berkata dengan suaranya yang
halus dan tenang,
“tiada yang kekal di dunia ini
kecuali kebenaran! Cepat atau
lambat, segala keadaan akan sirna
kembali lenyap kembali ke tempat asal. Kesesatan dan kejahatan akan lebih cepat lagi runtuhnya, kembali ke alam gelap
dan siksa dari mana ia berasal. Makin
besar nikmat duniawi yang
didatangkan oleh kesesatan, makin besar pula siksa yang akan menjadi buahnya.
Masihkah kau tidak insaf dan
hendak melanjutkan langkahmu yang menyeleweng daripada jalan
kebenaran?“ melihat kakek itu,
lenyaplah kesombongan Bagawan
Siddha Kalagana.
Ia merangkapkan kedua tangan di depan dada dengan
hormatnya lalu berkata.
“Ah, tidak tahunya Sang Bagawan Ekalaya yang telah
membersihkan batin daripada segala urusan dunia itu, kali ini sengaja turun gunung untuk bertanding ilmu dengan aku? Apakah kau berani
mempergunakan tanganmu yang telah tercuci bersih untuk menghancurkan aku?“
Sang Bagawan Ekalaya
tersenyum.
“Tidak, Siddha Kalagana, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Bukan menjadi tugasku untuk
mengakhiri pengumbaran hawa nafsu. Aku hanya datang menghalangimu dari bencana yang hendak kau timpahkan kepada
calon-calon muridku. Nah, selamat tinggal,
Siddha Kalagana!“ Sehabis berkata demikian, lenyaplah tubuh
pertapa sakti itu dari hadapan Siddha Kalagana dan para pengikutnya.
Marahlah pendeta itu, akan
tetapi ia maklum bahwa sesungguhnya pertapa itu tidak mau mengganggunya, namun ia sendiri tidak berdaya terhadap kakek yang suci dan tinggi ilmunya itu.
“Hayo! Kita melanjutkan pesta kita! Jangan perdulikan segala pertapa pemakan rumput!“
Ia lalu memimpin anak buahnya kembali ke ruang
pesta di mana masih berlagsung pesta
yang makin menggila itu. Kini semua
orang sudah mabok betul-betul sehingga mereka
melakukan perbuatan-perbuatan yang hanya patut dilakukan oleh segala setan dan iblis di neraka.
Setahun lebih Indrayana ,
Pancapana, dan Candra dewi berdiam di puncak Gunung Muria yang terletak di atas sebuah pulau kecil di seberang tepi Pulau Jawa. Mereka bertiga mendapat gemblengan dari Sang Panembahan Ekalaya, mendapat
ilmu kebatinan yang tinggi.
Kalau Candra Dewi hanya mendapat ilmu-ilmu kebatinan dan pengetahuan tentang filsafat, adalah Indrayana dan Pancapana mendapat latihan ilmu kesaktian pula. Oleh karena itu, kedua orang pemuda itu kini makin kuat
dan digdaya. Keduanya diberi wejangan dan aji kesaktian melawan ilmu-ilmu hitam.
Pada waktu-waktu terluang,
Indrayana mempelajari ilmu seni pahat dan seni ukir dari
Pancapana dan Candra Dewi. Kedua
orang muda ini sebagai puteri dan
murid Panembahan Bayumurti memang
pandai sekali membuat patung dan
gambaran terukir, terutama
sekali Candra dewi. Kalau jari-jari tangan
yang kecil, runcing dan halus itu
memegang alat pengukir patung,
jari-jari itu dapat bergerak dengan amat cekatan dan cepat. Senang benar Indrayana melihat
dara ini bekerja memahat patung untuk memberi contoh kepadanya. Kalau sedang bekerja dengan asyiknya itu, sepasang mata
dara itu menyipit dan memancarkan cahaya kalau ia memandang dan megamat-amati patung yang sedang dibentuknya. Cahaya mata seorang seniman.
Kadang-kadang, saking asyiknya Candra Dewi mengeluarkan ujung lidahnya yang kecil merah itu di antara sepasang bibirnya
dan seikal rambutnya yang hitam dan halus itu beruntai ke depan keningnya.
Hubungan antara Indrayana dan
Candra Dewi bertambah erat dan kini
gadis itu tidak canggung dan
malu-malu lagi kepada Indrayana yang selalu sopan santun dan ramah tamah.
Sungguhpun mulut mereka tak pernah
menyatakan apa yang terkandung di dalam hati masing- masing, namun pandangan mata mereka telah membocorkan
rahasia hati. Pertemuan pandang mata mereka selain mendatangkan kesan mendalam yang mendebarkan hati,
juga saling bicara dalam seribu bahasa yang hanya dapat terdengar oleh telinga hati masing-masing.
Indrayana adalah seorang pemuda
yang belum pernah tergoda oleh
rayuan asmara. Perasaan cinta yang
pertama-tama dirasainya, berikut
rindu dendam di dalam hati mudanya, adalah
ketika ia bertemu dan melihat Sang Puteri Mahkota Pramodawardani, puteri dari Kerajaan Syailendra
itu memang selama ini ia mengaku di
dalam hatinya, bahwa ia mencintai puteri itu, dan mengganggap bahwa puteri itulah wanita tercantik di seluruh permukaan bumi
ini. Ia pernah tergila-gila kepada patung puteri itu, pernah gandrung di dalam hutan bagaikan seorang
gila, mencumbu rayu patung
itu.
Akan tetapi, semenjak
patung itu lenyap, berubah menjadi
patung Dewi Tara kembali, dan
semenjak ia bertemu dan berkenalan dengan Candra Dewi, bayangan
wajah Pramodawardani makin menipis dan
suram.
Betapapun juga, sebagai seorang ksatria
yang memiliki kesetiaan, di dalam hatinya sendiri Indrayana menyalahkan hatinya yang tertarik pada wajah Candra Dewi, dan memperkuat keyakinannya bahwa
sesungguhnya yang ia cintai adalah
Pramodawardani dan sudah seharusnya demikian,
karena sebelum bertemu dengan Candra Dewi, ia telah menjatuhkan hatinya
kepada Sang Puteri Mahkota Pramodawardani itu. Sebagai seorang ksatria tidak
seharusnya demikian mudah perasaan hatinya, demikian pikir Indrayana .
Pada hari itu, menyelesaikan sebuah patung yang hanya bagian mukanya saja belum sempurna. Patung itu dibuatnya semenjak
tiba di puncak Muria, di bawah petunjuk Pancapana dan Candra Dewi. Dibuatnya dengan
amat hati-hati dan cermat. Melihat
hasil pahatannya dan ukirannya yang telah menciptakan bentuk tubuh yang cukup baik, ia merasa
amat girang. Banyak rahasia dalam cara pengukiran petung ia pelajari dari kedua orang sahabatnya itu,
dan diam-diam ia mengaku memang cara mengukir dan memahat patung dari Mataram sebagaimana yang dipelajarinya dari murid-murid Panembahan Bayumurti
itu jauh lebih sempurna daripada pelajaran yang pernah ia tuntut di Kerajaan Syilendra.
Akan
tetapi, telah beberapa pekan lamanya Indrayana merasa
jengkel dan penasaran. Patung yang
dibuatnya itu adalah patung wanita. Dari kaki sampai leher sudah baik sekali, akan tetapi ia melihat kesulitan dalam hal membentuk muka
patung itu.
“Kakangmas Indrayana,“ berkata Candra
Dewi dengan suaranya yang merdu dan
halus.
“Dalam mengukir dan membentuk bagian muka, memang lebih sukar daripada bagian-bagian lain, bahkan boleh di bilang yang paling sukar.
Selain harus cermat, juga perlu
bekerja denagn hati-hati sekali, karena sekali saja pahatmu meleset
dan mendatangkan cacat pada
muka patung, itu berarti bahwa
seluruh pekerjaanmu terbuang
sia-sia!“
“Inilah kelemahanku semenjak
dahulu dalam membuat patung, diajeng
Dewi,“ jawab Indrayana sambil
menarik napas panjang.
“Aah, memang aku yang bodoh !
Betul seperti kata ayahku dahulu, membuat patung yang indah memerlukan bakat, dan aku……aku agaknya tidak
berbakat!“
Dengan muka sedih Indrayana menunda
pekerjaannya, duduk di atas sebatang akar pohon waringin, kemudian
memandang kepada telapak kedua tangannya yang ditelentangkan di
atas pangkuannya.
“Tanganku terlampau kasar, tak
patut bagi pekerjaan yang halus-halus!“
Candra Dewi memandang kepada Indrayana dengan sinar mata seperti seorang ibu memandang kepada seorang anaknya,
lalu ia tertawa geli sehingga pemuda itu memandangnya dengan merenggut karena merasa penasaran mengapa orang sedang kesal malah ditertawakan. Melihat
mulut Indrayana yang cemberut itu, makin gelilah hati candra Dewi sehingga ia
menggunakan tangan untuk menutup dan menahan ketawanya.
“Engkau seperti anak kecil yang sedang rewel!“ kata gadis
itu.
“Seperti anak kecil minta sesuatu dan
tidak diperbolehkan oleh ibunya!“
“Alangkah baiknya kalau aku
masih menjadi anak kecil dan masih
mempunyai seorang ibu yang mencintaiku dan menghibur hatiku,“ kata Indrayana mengerutkan keningnya.
“Eh-eh, jangan merajuk, kakangmas Indrayana . Aku
khawatir jangan-jangan engkau akan
menangis! Apakah sekarang engkau
merasa demikian sengsara?“
Indrayana menghela napas,
“sekarang? Tak seorangpun peduli pada nasibku. Bahkan dalam kekesalan dan
kekecewaan seperti sekarang
ini, tidak ada yang menghiburku bahkan
ada
orang yang mengejek dan mentertawakan aku!“
Tiba-tiba berobahlan wajah
Candra Dewi, pandang matanya sayu ketika ia menatap wajah Indrayana. Ia mendekati pemuda itu dan menyentuh lengannya dengan ujung jari tangan.
“Kakangmas …… tak dapatkah engkau
menerima kelakarku ? Benar-benarkah engkau demikian berduka dan
menderita ……?”
Melihat pandang mata gadis
itu dan mendengar suaranya yang agak gemetar itu, Indrayana sadar kembali
bahwa ia memang bersikap keterlaluan. Dipegangnya pergelangan tangan
gadis itu dan berkata sambil
tersenyum lebar.
“Jeng Dewi, maafkan aku! Aku tadipun hanya bergurau dan
mengodamu saja.“
Candra Dewi tiba-tiba membentot tangannya yang
terpegang itu dengan wajah
kemerah-merahan.
“Kakangmas Indrayana, jangan engkau cemberut lagi seperti tadi. Sungguh tak sedap hati rasanya memandang mukamu yang cemberut. Sekarang
dengarlah baik-baik, orang muda pemarah. Tadi engkau menyatakan bahwa
menurut ramandamu, pembuatan patung yang indah membutuhkan bakat. Ini memang benar, akan tetapi hanya
sebagian saja, dan pernyataan itu masih belum lengkap. Kalau kau berkata bahwa tidak berbakat, itu
sama kelirunya dengan pernyataan bahwa kau tidak berkepala.“
Indrayana memandang kepada
gadis itu dengan heran dan tertegun. Memang,
gadis ini amat pandai mengingat filsafat yang pernah ia dengar dari ayahnya, dan
memiliki pandangan yang amat luas dalam hal perikehidupan sehingga
kadang-kadang Indrayana sendiri menjadi
terheran-heran. Melihat betapa
mata Indrayana memandangnya dengan penuh keheranan, gadis itu tersenyum dan berkata,
“Aku hanya mengulang kata-kata ayahku belaka. Menurut ayah, segala macam kepandaian di dunia ini, telah ada pada diri setiap
orang manusia. Kepandaian ini masuk ke dalam tubuh bersama-sama denagn jiwa dan kepandaian asli yang berasal dari Hyang Agung inilah yang dinamakan bakat. Bakat ini pula yang membuat setiap orang bayi dapat mempergunakan seluruh anggota tubuhnya
yang sudah kuat tanpa diberitahu lagi.
Hanya terserah kepada manusia sendiri
untuk menggali dan mencari bakat sendiri di dalam dirinya. Berhasil atau tidaknya seseorang mendapatkan bakat sendiri di dalam dirinya, tergantung
sepenuhnya kepada orang itu
sendiri. Ia harus rajin, tekun, tahan
uji, ulet, sabar, dan segala sifat-sifat baik
harus dikerahkan sebagai obor penerangan untuk mencari bakatnya sendiri
yang tersembunyi itu.“
Indrayana memandang kepada
Candara Dewi dengan mata dipentang lebar dan bibirnya tersenyum.
“Eh, eh, mengapa kau tersenyum-senyum? Apakah kau tak
mendengarkan kata-kataku? Jangan
membikin aku capai berkata-kata dengan sia-sia!“
Indrayana cepat mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tentu saja aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Memang amat
janggal dan aneh.“
“Apanya yang janggal dan aneh?“ tanya gadis itu curiga.
“Janggal dan aneh kedengarannya ucapan
yang mengandung arti dalam sekali itu
keluar dari bibir seorang dara
semuda dan secantik engkau!“
“Hus, jangan kau menggoda, kakangmas Indrayana. Akan kulanjutkan petunjuk untuk membuat patung ini, atau tidak?“ ia mengancam.
“Eh, tentu saja, tentu saja!
Baik, aku takkan main-main lagi dan
akan mendengarkan sebagai seorang murid yang baik.“
“Oleh karena bakat telah ada di
dalam diri setiap orang, maka aku katakan tidak
benar kalau kau menganggap bahwa kau
tidak berbakat. Setiap orang tentu dapat mengerjakan apa saja, asalkan ia
usahakan dengan hati mantap, penuh
kepercayaan kepada diri sendiri, penuh rasa sayang dan cinta kepada apa
yang dikerjakan, dan tanpa ada penyelewengan kehendak.
Buktinya, kau telah dapat
membuat patung ini dengan cukup baik, hanya bagian mukanya saja belum juga dapat kauselesaikan
sempurna. Menurut petunjuk
rama panembahan dulu,
membentuk muka patung harus menurut
contoh yang dilukis dalam angan-angan sendiri.
Pelukisan wajah seseorang dalam angan-angan ini akan lebih jelas
dan mudah muncul apabila kita
memilih orang yang lebih dekat di
hati, orang yang paling kau kasihi. Dulu,
ketika akan membuat patung untuk
pertama kalinya, baru aku berhasil setelah
gambar dalam angan-anganku itu
timbul dari cinta kasihku kepada
ayah dan ibu. Aku dapat membuat patung
ayah ibu dan dengan baik sekali.“ Indrayana
mengangguk-angguk. Ia mendengarkan dengan
penuh perhatian.
“Hm, jadi begitukah caranya?“
“Ya, dan sekarang kau bentuklah muka patung itu menurut wajah
orang yang terdekat dengan hatimu.“
Tiba-tiba muka Indrayana berseri.
“Ibuku! Benar …… sejak dulu aku
ingin sekali membuat patung ibuku!
Tahukah kau, jeng Dewi, dulu aku
pernah mencoba membuat patung dari batu-batu di tengah Kali Serang, untuk membuat patung mendiang ibuku,
akan tetapi selalu tidak berhasil. Sekarang
aku telah tahu bagaimana cara
mengukir bagian yang halus-halus dan agaknya wajah ibuku yang paling mudah
timbul dalam angan-anganku.“
Akan tetapi Candra Dewi
menggelengkan kepalanya.
“Kau lihatlah tubuh patung itu, pantaskah kiranya
kalau menjadi tubuh mendiang ibumu?“
Indrayana tertegun. Memang
tubuh patung itu merupakan tubuh
seorang wanita muda remaja,
sedangkan wajah ibunya merupakan wajah seorang wanita yang sudah setengah tua.
“Kau benar diajeng, takkan sesuai.“
“Pilihlah wajah seorang yang
lebih muda. Dapatkah kau mengingat wajah ibumu ketika masih muda?“
Indrayana menggelengkan kepala, kemudian
ia berkata,
“Oya aku akan membayangkan wajah Sang Puteri Mahkota Kerajaan
Syailendra“
Candra dewi memandang dengan mata bersinar.
“Ah, Sang Puteri Pramodawardani yang tersohor cantik jelita seperti bidadari itu?“
Indrayana mengangguk dan
wajahnya berseri-seri. Pembicaraan ini mengingatkannya lagi
kepada Sang Puteri yang jelita itu dan ketika ia menyipitkan kedua matanya, terbayanglah wajah puteri jelita itu dengan jelasnya di depan matanya. Benar ! mengapa ia begitu bodoh ? Bayangan wajah Pramodawardani yang pernah dirindukan itu demikian jelas, seakan-akan ia dapat merabanya. Tentu mudah sekali membentuk
wajah patungnya menurut contoh
ini.
“Engkau benar …… engkau benar ……
“ Bagaikan dalam mimpi.
Indrayana lalu berjalan perlahan kepada
patungnya yang berdiri tak jauh dari situ, lalu mengambil alat-alat pengukirnya, meraba-raba bagian muka patung itu sambil metanya masih setengah dikatupkan. Ia
tidak melihat betapa Candra dewi
memandangnya dengan mata sayu dan
wajah pucat, tidak mendengar betapa
berkali-kali gadis itu berbisik “Pramodawardani …… ??“
kemudian pemuda itu hanya mendengar suara
Candra Dewi berkata,
“Nah, selamat bekerja, kakanda Indrayana . Aku akan
membantu Raden Pancapana di ladang!“
Indrayana tidak melihat betapa
gadis itu berlari ke ladang menahan runtuhnya air matanya. Memang
sesungguhnya hati Candra Dewi terasa
hancur dan perih. Dari pandangan mata pemuda itu, gadis ini dapat menduga bahwa pemuda itu memilik perasaan
hati yang sama denagn dia sendiri, menduga bahwa pemuda itu tentu menaruh hati cinta kasih kepadanya. Bagaikan
ciuman sinar matahari atau
pelukan halimun pada bunga puspita, demikianlah dugaan akan cinta kasih pemuda ini
mendatangkan kehangatan dan kesegaran kepadanya. Ia maklum bahwa pemuda itu belum berani
menyatakan perasan hatinya
dan belum ada kesempatan bagi
mereka untuk saling menyatakan perasaan ini sungguhpun dari pandangan mata,
mereka telah merasa yakin bahwa mereka mempunyai perasaan hati yang
sama.
Semenjak Indrayana belajar membuat
patung dengan hati berdebar, Candra
Dewi melihat betapa pemuda itu membentuk kaki
tangan dan bentuk tubuh patung itu seperti dia,
bahkan Pancapana sendiri pernah berkata sambil tertawa,
“Ah, dimas Indrayana, melihat patungmu
ini dari kanan, kiri, atau belakang,
aku seperti melihat adikku Candra Dewi! Serupa benar.“
Indrayana hanya tersenyum saja
mendengar ini, dan Candra Dewi
sambil melerok ke arah Pancapana lalu berkata,
“Ada-ada saja Raden Pancapana, semua
orang dapat melihat bahwa patung ini
terbuat daripada batu sedangkan aku dari pada kulit dan daging, mana bisa sama? Tentu saja bentuk tubuh
kaki dan tangan semua hampir sama.“
Akan tetapi, diam-diam ie mengaku di dalam
hati bahwa tak dapat tidak, dalam pembuatan tubuh patung itu, Indrayana telah mencontoh dirinya.
Diam-diam Candra Dewi merasa girang sekali. Dan ketika merasa tadi mengadakan percakapan tentang
pembuatan patung itu,
terbukalah kesempatan bagi mereka berdua. Kesempatan mencari
keyakinan bagi Candra Dewi
dan kesempatan mengutarakan isi hatinya bagi Indrayana.
Candra Dewi telah merasa yakin
dan pasti bahwa setelah ia memberi petunjuk
kepada pemuda itu, tentu pemuda itu akan mempergunakan dia sebagai contoh pengukiran muka
patung itu. Tentu pemuda itu akan membuka rahasia hatinya
bahwa Candra Dewi adalah wanita yang selalu dekat di hatinya, yang selalu terbayang-bayang.
Namun, apakah yang didengarkan? Bukan lain ialah nama Puteri Mahkota Pramodawardani. Naiklah sedu sedan dari dadanya ketika Candra Dewi meninggalkan Indrayana. Dengan hati perih ia lalu
berlari ke lereng gunung, di mana terdapat sebuah ladang yang luas. Ladang ini adalah hasil pekerjaan mereka bertiga, di mana mereka bercocok tanam
untuk di makan sendiri hasilnya. Pada waktu itu, Raden Pancapana tengah mencangkul dengan rajinnya. Ketika
melihat Candra Dewi berlari-lari, ia menghentikan pekerjaannya.
“Eh, Candra, kenapakah?“ tanyanya setelah
gadis itu tiba di dekatnya.
Biarpun Candra Dewi tidak menangis dan
sudah berusaha menekan perasaannya, namun pandang mata
Pancapana yang tajam itu masih dapat
juga melihat kemuraman wajahnya. Candra Dewi semenjak kecil telah kehilangan ibunya dan hanya hidup berdua dengan
ayahnya yang tentu saja amat
menyayangi puteri tunggal itu. Kemudian datang Pancapana yang menjadi
murid ayahnya dan yang
dianggap sebagai kakak sendiri. Kini, berada di puncak gunung Muria bersama dengan Sang Panembahan Ekalaya
dan kedua orang muda itu, Candra Dewi makin merasa betapa Pancapana merupakan pengganti ayahnya dan hanya kepada pangeran inilah ia mengharapkan bimbingan
dan perlindungan. Hatinya sedang perih dan hancur, kini mendengar pertanyaan yang
mengandung penuh perhatian itu tak terasa lagi Candra Dewi
menjatuhkan diri di atas tanah dan
menangis sedih.
Terkejutlah hati Pancapana melihat keadaan gadis ini, ia tadi tahu bahwa Candra Dewi
sedang memberi petunjuk kepada Indrayana tentang pembuatan patung,
mengapa kini gadis ini datang
dan menangis sedih?
Untuk beberapa lama ia mendiamkan saja Candra Dewi menangis, kemudian setelah
tangis adik angkatnya itu
menjadi reda, ia bertanya,
“Candra Dewi, kau kenapakah? tak
enakkah badanmu? Sakitkah kau? Atau, adakah terjadi sesuatu
yang menyusahkan hati?“
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab oleh Candra Dewi yang hanya menggelengkan kepala sambil
menunduk.
“Kalau begitu, mengapa
engkau menagis?“
Kembali Candra Dewi tidak menjawab,
karena bagaimanakah ia harus
menjawab? Bagimanakah ia dapat
menerangkan kepada Pancapana apa yang menjadikan hatinya
perih?. Pancapana dapat
menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu
yang menyusahkan hati gadis
itu, akan tetapi tidak dapat di ceritakan kepadanya. Ia lalu duduk di dekat Candra Dewi, minum
air dari sebuah kendi air yang tersedia di
situ, lalu berkata dengan suara yang
amat halus.
“Adikku, telah setahun lebih
kita berada di sini dan banyaklah ilmu
yang telah kita pelajari dari Eyang
Panembahan Ekalaya. Dan menurut perhitungan dan pesan
Panembahan Bayumurti, ayahmu, paling lama beberapa bulan lagi kita tentu akan bertemu kembali dengan paman Panembahan.“
Kata-kata ini diucapkan oleh
Pancapana dengan maksud memacing dan ingin mengetahui apakah kesedihan gadis itu dikarenakan rindu kepada ramandanya. Akan tetapi, Candra Dewi tidak manjawab dan
masih saja menundukkan mukanya dengan muram. Pancapana mengerutkan keningnya dan
berpikir-pikir. Kemudian ia tersenyum dengan suara masih biasa.
“Adikku yang manis, di manakah adanya dimas Indrayana? Mengapa ia tak ikut datang ke sini?“
Karena suara Pancapana terengar
biasa saja, maka Candra Dewi dapat menetapkan hatinya dan menjawab sambil lalu saja.
“Dia sedang sibuk membuat patung.“
“Belum jadi jugakah patung itu? Alangkah lamanya! Bukankah hanya tinggal mukanya
saja yang belum sempurna?“
“Sekarang ia sedang mengukir bagian
mukanya,“ jawab Candra Dewi dan hatinya mulai
terasa perih lagi karena teringat betapa
jari-jari tangan Indrayana yang kuat itu sekarang tentu sedang membentuk muka Pramodawardani, meraba-raba muka patung puteri itu dengan belaian penuh kasing sayang.
“Sudah tahukah ia akan rahasia mengukir muka
patungnya?“
Candra Dewi mengangguk dan berkata perlahan,
“Sudah kuberitahu agar dia menggunakan seorang yang dikasihinya sebagai contoh.“
“Bagus! Sekarang tentu akan sempurna patung itu. Eh, aku jadi ingin sekali
tahu siapakah gerangan wanita yang dijadikan contoh bagi pengukiran muka patungnya? mendiang ibunya?”
Candra dewi menggeleng cepat karena khawatir kalau-kalau pangeran itu
menyangka dialah orangnya, maka ia cepat pula menerangkan dengan suara acuh tak acuh,
“Yang dijadikan contoh adalah Sang Puteri Pramodawardani.“
“Apa??“
Hal ini benar-benar mengejutkan hati Pancapana dan
sama sekali tak pernah disangka-sangkanya. Gurunya, yaitu ayah Candra Dewi atau Panembahan Bayumurti, pernah menyatakan kepadanya bahwa Tanah Jawa baru akan aman dan
segala pertikaian dan permusuhan dapat dilenyapkan apabila keturunan Sanjaya
dan keturunan Syailendra dapat berjodoh, sehingga Agama kedua
turunan itu, yaitu Agama Hindu dan
Agama Buddha yang bersumber satu,
dapat pula dijodohkan. Biarpun gurunya bicara dengan tidak langsung dan
merupakan harapan belaka,
namun amat berkenan di dalam
hati pangeran ini dan telah lama ia
mengandung keinginan hati yang besar untuk dapat melihat wajah Pramodawardani Puteri Syailendra itu.
Kini mendengar bahwa Indrayana hendak membuat wajah
patung itu seperti wajah
Pramodawardani, tentu saja ia merasa
terkejut dan juga heran serta
kecewa. Ia menduga bahwa pemuda
gagah itu mencintai adik angkatnya dan ia tahu pula betapa besar rasa cinta
kasih Canda Dewi terhadap Indrayana.
Mendengar keterangan itu, pemuda yang cerdik dan waspada ini dapat menduga bahwa tentu hal inilah yang membuat hati gadis itu bersedih.
“Candra Dewi, adikku yang ayu.“
katanya dengan suara menghibur,
“tadinya aku merasa terkejut juga mendengar kata-katamu bahwa
Indrayana membuat patung itu seperti wajah Pramodawardani dan
timbul sangkaan yang bukan-bukan dalam hatiku bahwa ia mencintai puteri
mahkota itu“
“Tentu saja ia mencintainya.“
jawab Candra Dewi masih tunduk, kemudian ia mengangkat mukanya dan tersenyum ketika berkata.
“Akan tetapi, apakah hubungannya itu dengan kita? Biarlah dia
mencintainya, apa peduli hal itu bagi
kita?“
“Akan tetpi belum tentu demikian halnya,
adikku. Belum tentu Indrayana mencintai Puteri Pramodawardani.“
Tadi Candra Dewi memperlihatkan sikap acuh tak acuh terhadap urusan Indrayana, akan tetapi ketika
mendengar ucapan Pancapana ini, tiba-tiba saja ia menaruh banyak
perhatian.
“Kalau tidak mencintainya, mengapa
wajah Puteri Pramodawardani sebagai contoh?“
Pancapana menahan senyumnya melihat
sikap Candra Dewi ini, dan menjawab dengan
sikap seakan-akan ia tidak tahu akan
perobahan ini,
“Pramodawardani adalah seorang Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra yang amat dicintai dan
dihormati oleh semua rakyat kerajaan itu. Sudah sepatutnya kalau sebagai seorang ksatria dari
Syailendra, Indrayana menghormatinya pula dan memujanya, sehingga sebagai pengormatan terhadap
puteri junjungannya itu, ia
membuat patung itu seperti Puteri Pramodawardani.“
Bagai awan gelap tertiup angin, kemuraman wajah Candra Dewi lenyap terganti cahaya harapan baru
yang membuat sepasang pipinya
berwarna merah kembali.
“Biar, aku intai dia Candra. Akupun ingin sekali melihat bagaimana rupa Puteri Pramodawardani yang
tersohor cantik jelita itu.“
Setelah berkata demikian, Pancapana meninggalkan ladang
itu, meninggalkan Candra Dewi yang
duduk melamun seorang diri, tidak gelisah dan berduka lagi seperti tadi,
sungguhpun ia mesih meragukan kebenaran dugaan Pancapana tadi.
Sementara itu, Indrayana mengerahkan seluruh
ingatannya untuk membayangkan wajah Pramodawardani yang pernah membuatnya tak sedap makan tak nyenyak tidur, gandrung-gandrung di sepanjang jalan. Mula-mula memang
wajah itu nampak nyata sekali, sehingga
dapat ia gambarkan bentuk bibir yang
indah itu, hidung yang mancung dan
mata yang bersinar bagaikan bintang
itu. Kedua tangannya lalu bergerak mengerjakan alat pengukirnya pada
muka patung itu yang hendak dibentuk seperti contoh bayangan wajah Pramodawardani. Akan
tetapi aneh sekali ketika ia mulai memahat bagian
rambut yang panjang terurai itu, tiba-tiba pikirannya melayang ke arah rambut di kepala Candra Dewi. Rambut
kepala Candra Dewi tidak kalah hitam, panjang,
dan halusnya daripada rambut Pramodawardani, sungguhpun rambut Candra Dewi tidak serapi dan seberes rambut puteri mahkota itu, melainkan lebih kasut dan tidak dipelihara baik-baik. Akan
tetapi, justru rambut yang kasut
itu, apalagi yang segumpal yang selalu berjuntai di depan kening, kadang-kadang mengganggu mata dan kepalanya lalu
digerakkan tiba-tiba untuk menghalau segumpal rambut itu dari depan matanya, membuat
gadis itu makin menarik dan
manis.
Indrayana mengerahkan tenaga
pikirannya untuk mengusir bayangan
rambut Candra Dewi. Hal ini bukan hanya terjadi karena cinta kasihnya kepada
gadis itu, akan tetapi terutama sekali karena ia hanya sekali saja dan sebentar melihat
bentuk kepala Pramodawardani, sedangkan
Candra Dewi dijumpai setiap
hari, bahkan sering kali ia duduk mengagumi rambut gadis itu dengan diam-diam.
“Ah, biarlah, biarlah!“ katanya dalam hati dengan perasaan mangkal.
“Tidak apa kugunakan contoh rambut kepala Candra Dewi untuk
patung ini.
Tidak ada buruknya rambut Pramodawardani disamakan
dengan rambut Candra Dewi. Untuk bagian-bagian lain pada mukanya akan
kugunakan muka Sang Puteri sebagai contoh.“
Akan tetapi pikiran ini lebih mudah direnungkan daripada
dilakukan. Setelah kepalanya mulai terbentuk dan ia hendak mulai dengan bagian kening dan telinga, kembali ia terbentur pada hal yang sama. Tadinya
memang kelihatan jelas kening
yang halus dan telinga yang terhias mutumanikam dari Puteri Pramodawardani akan
tetapi aneh sekali, kening itu yang
tadinya berwarna putih kening berobah menjadi
bentuk kening Candra Dewi yang segar kemerah-merahan dan agak nonong sedikit sedangkan daun telinga yang indah terhias mutumanikam itupun
berobah pula menjadi daun telinga Candra Dewi yang terhias oleh
sinom yang melingkar ke belakang dengan amat indahnya.
Karena telah capai mengerahkan tenaga batin dan pikiran untuk mengusir banyangan Candra
Dewi tanpa hasil yang memuaskan, maka
kembali ia menghibur hatinya
dengan keputusan seperti tadi.
Tidak apa kening dan daun telinganya menyerupai kening dan daun telinga Candra Dewi,
karena yang terpenting pada perasaan muka adalah mata dan hidung serta mulut,
maka ia melanjutkan ukirannya dan membuat patung seperti contoh
bayangan Candra Dewi, yaitu pada
bagian kening dan daun telinganya.
Dan ketika ia hendak memulai mengukir
bagian matanya dan diam-diam mengenakan sepasang mata bintang dari
Puteri Pramodawardani yang indah itu,
sehingga sepasang mata itu nampak jelas sekali seperti ketika sang puteri memandangnya dengan marah pada waktu secara lancang ia membukakan sutera penutup tempat
keputren dahulu, tiba-tiba berubah menjadi sepasang mata yang jenaka, yang indah bening, yang
manik-maniknya dapat hidup dan
memancarkan cahaya yang mengandung seribu macam bahasa indah, mata dari
Candra Dewi, pemuda itu melemparkan alat-alat ke atas tanah dan menjatuhkan dirinya
duduk di atas tanah.
“Celaka …… “ keluhnya,
“Mengapa Candra Dewi telah menguasai
seluruh hati dan pikiranku?”
Untuk beberapa lama pemuda itu duduk bersandar di batang pohon dan termenung. Tak salah lagi, ia bukan mencinta Pramodawardani, hanya kagum akan kecantikan puteri
itu. Bukan Pramodawardani yang
menguasai hatinya, melainkan Candra dewi. Hal ini tidak aneh, karena pemuda inipun maklum
akan kebenaran kata orang zaman
dahulu bahwa cinta kasih murni akan berakar
dan mendalam setelah kedua fihak sering kali bertemu dan ada penyesuaian watak dan sifat mereka. Dengan Pramodawardani ia hanya bertemu muka satu kali, itupun amat sebentar sehingga rasa cinta
kasihnya dahulu itu pada hakekatnya
hanyalah rasa silau dan kagum karena
kecantikan puteri yang sukar dicari
bandingannya itu. Hubungannya dengan
Candra Dewi lain lagi. Mereka telah bergaul
sebagai murid-murid
Panembahan Ekalaya bahkan sebelum itu mereka telah menghadapi bahaya
bersama, senasib sependeritaan dan mereka telah mengenal baik sifatnya dan tabiat masing-masing.
“Aku cinta kepada diajeng Dewi …… “ Indrayana menarik
napas panjang dan mengaku kepada diri sendiri.
“Dia lebih cocok bagiku, juga sama-sama keturunan pertapa. Mengapa
aku harus malu menyatakan kasihku?“
Setelah mengambil ketetapan dalam hatinya, pemuda ini lalu bangkit lagi,
mengambil alat-alatnya dan
melanjutkan ukirannya pada muka patung itu.
Kali ini ia membayangkan wajah Candra Dewi yang muncul bagaikan bulan purnama, bersih tidak terhalang oleh
bayangan apapun juga. Senyum dan
kerling mata Candra Dewi paling
menarik hati Indrayana, maka
bayang-bayang wajah gadis itu
tersenyum-senyum dan melirik-lirik, sehingga
ukiran pada patungnya menurut pula bayang-bayang itu. Dengan amat asiknya Indrayana mengukir
muka patungnya, makin lama makin tertarik dan gembira sekali
karena melihat betapa ukirannya benar-benar baik dan serupa benar dengan wajah gadis yang dikasihinya itu.
Benar sekali petunjuk Candra Dewi, dengan mencontoh bayangan
yang terlukis jelas di dalam
kenangannya, dengan mudah ia dapat
menyelesaikan patung itu.
Saking asyiknya Indrayana sampai tidak tahu bahwa semenjak tadi ada sepasang mata
yang mengintai dari balik daun pohon.
Pengintai ini bukan lain adalah
Pancapana yang ingin sekali melihat bagaimana wajah Puteri Syailendra yang
tersohor itu. Akan tetapi, ketika melihat wajah patung itu, hampir saja ia tak dapat menahan ketawanya. Ia mendekap mulutnya sendiri untuk menahan ketawanya, lalu pergi
diam-diam dari tempat itu.
Pancapana berlari-lari ke
ladang kembali di mana ia
mendapatkan Candra Dewi yang masih
saja duduk termenung dengan hati
binggung.
Melihat Pancapana datang
dengan muka gembira dan tertawa-tawa, Candra dewi bertanya heran.
“kau kelihatan gembira
sekali, pangeran.“
“Hush, jangan menyebut Pangeran
kepadaku, Candra. Sejak dulu aku minta kau menyebutku
kakangmas seperti menyebut
seorang kakak sendiri, akan tetapi kau selalu tidak mau menurut. Apakah kau tidak suka menjadi adikku?“
“Bukan demikian, Raden Pancapana. Sungguhpun di dalam
hati aku telah merasa seperti adikmu sendiri,
namun betapa juga kau adalah seorang
pangeran pati yang harus
dihormati. Itulah sebabnya, maka aku tidak dapat menyebutmu lebih sederhana dari sebutan Raden.
Eh, ya, kenapakah kau tertawa-tawa gembira? Agaknya cantik jelita sekali patung yang di buat oleh kakangmas Indrayana itu sehingga hatimu
terpikat oleh kecantikan Puteri Pramodawardani?“
Makin keraslah kini Pancapana tertawa.
“Itulah yang menggelikan hatiku,
Candra! Memang benar. Indrayana mencontoh wajah Pramodawardani untuk patungnya. Akan tetapi, ha-ha-ha!“
“Eh, kenapa Raden?“
“Muka itu …… seperti muka wewe (setan perempuan) buruk dan
menyeramkan! Kalau demikian buruk
menakutkan wajah Pramodawardani mengapa
Indrayana begitu bodoh untuk
menjadikannya sebagai contoh patungnya?“
“Buruk? Tak mungkin, Raden Pancapana. Sepanjang pendengaranku, Puteri Pramodawardani amat cantik jelita, tiada taranya di permukaan bumi ini.
Kabarnya, segala sifat baik wanita
ada padanya. Ia agung dan ayu
seperti Sumbadra, gandes luwes seperti Larasati, kewat merak hati seperti Srikandi!“
“Entah berita itu yang salah,
atau Indrayana yang tidak dapat
membayangkan wajah, puteri itu, akan
tetapi nyatanya, muka patung itu
tidak karuan macamnya!“
Pancapana pandai sekali membuat gadis
itu merasa penasaran dan ingin tahu.
“Tidak percaya? Lihatlah sendiri,
Candra. Akan tetapi jangan
engkau mengejek Indrayana, itu akan menyinggung perasaannya, karena
yang dipahat adalah puteri
sesembahannya!“
Candra Dewi lalu pergi dari situ,
menuju ke tempat mana Indrayana bekerja. Hatinya riang, karena kalau memang benar
bahwa Pramodawardani berwajah buruk, tidak mungkin Indrayana mencintai puteri itu. Akan tetapi, ia
masih merasa penasaran dan marah
kepada Indrayana. Betapapun hormatnya terhadap
Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra, mengapa pemuda itu
lebih menghargai dan lebih mengasihi puteri itu dari padanya? Salahkah pandangan matanya, mungkinkah sinar mata
pemuda itu di waktu memandangnya merupakan kepalsuan belaka?.
“Kali ini harus kucari kepastian. Tak mau aku dipermainkan, tak mau aku bimbang ragu, menderita seorang diri!“
Dipercepatnya langkah
kakinya, karena hari telah
mulai menjadi gelap, tanda senjakala telah mendatang. Ketika ia tiba di tempat
itu, ia memperlambat jalannya karena melihat bahwa Indrayana berdiri menghadapi patung dengan kedua tangan masih asyik
mengerjakan muka patung itu yang
berdiri membelakanginya. Candra Dewi tidak mau dilihat tergesa-gesa dan tidak mau memperlihatkan bahwa
ia ingin sekali melihat hasil kerja
pemuda itu. Akan tetapi Indrayana tidak
melihat dia datang. Pemuda ini sedang asyik menyelesaikan bagian
terakhir daripada pekerjaanya. Kedua matanya bersinar-sinar menatap
muka patung itu. Senyum di bibir patung itu benar-benar hidup dan ia seakan-akan melihat
Candra dewi yang hidup berdiri dan
tersenyum manis kepadanya. Tiba-tiba
ia tak dapat menahan gairah hatinya lagi.
Dirangkulnya leher patung itu dan
dibelai-belainya muka yang ayu
itu.Pada saat itu, tiba-tiba pandang
matanya bertemu dengan pandang mata Candra Dewi yang berdiri
tak jauh di belakang patung
itu.
Alangkah kaget, jengah dan malunya hati
Indrayana tak dapat dibayangkan.
“Ah …… eh …… jeng Dewi …… kaukah
itu? Kau datang seperti angin saja
…… ! Aku tidak mendengarnya sama sekali!“
Sementara itu, ketika tadi melihat betapa
Indrayana memeluk dan membelai patung itu, seakan-akan hendak
meledak rasa dada Candra Dewi karena
cemburu. Akan tetapi ia menekan perasaannya dan memperlihatkan muka biasa. Untung bahwa udara mulai menyuram, sehingga Indrayana tidak melihat betapa
mukanya sebentar merah sebentar pucat. Ia melangkah makin
dekat, akan tetapi sebelum ia dapat
melihat muka patung itu. Indrayana
tiba-tiba mencegahnya dan menghadang di depannya.
“Diajeng, jangan kau melihat muka
patung itu!“ Suara pemuda itu bersungguh-sungguh sehingga Candra Dewi merasa heran sekali.
“Mengapa …… ?“
“Jangan, diajeng, aku ……
malu!“
“Aku …… aku malu, karena …….
Patung itu …… ah, aku tidak berhasil patung
itu buruk sekali!“
Candra Dewi tersenyum mengejek, bukan karena percaya bahwa
patung itu buruk, akan tetapi karena keterangan ini sama sekali tidak cocok dengan kelakuan pemuda tadi yang memeluk dan membelai-belai patung itu.
“Hm, kalau buruk tidak nanti kau
dapat membelai dan memeluknya dengan pandang mata demikian mesra,
kakangmas Indrayana!“
Indrayana memandang dengan
mata terbelalak lebar.
“Kau …… kau tadi melihatnya ……?“
“Tentu saja aku melihatnya, aku melihat betapa engkau gandrung-gandrung kepada patung itu Hm, karena itulah maka aku harus menyaksikan dengan mata sendiri sampai dimana hebatnya dan
jelitanya Puteri Pramodawardani yang tersohor itu!“ Kembali ia
hendak melangkah maju, akan tetapi
Indrayana minta dengan suara gugup,
“Jeng Dewi…… jangan ……!“
Candra
Dewi mundur dua langkah, lalu
memperhatikan kepala dan leher patung
itu dari belakang. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang aneh
baginya dan tak terasa lagi tangan
kirinya meraba-raba rambutnya
sendiri. Mengapa rambut kepala
patung itu sama benar letaknya dengan
rambutnya sendiri?
“Kakangmas Indrayana …… “
katanya perlahan,
“rambut Sang Puteri Mahkota Syailendra …… seperti itu
benarkah ……?“ Tak terasa lagi Candra
Dewi meraba-raba seluruh rambut di kepalanya.
“Be …… be …… benar!“ jawab
Indrayana sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Seperti rambutku!“
“Memang sama.“
“Apa …… ?“
“Eh, ah …… maksudku, memang hampir serupa, yaitu …… letak dan modelnya …… lebih bagus……“
“Bagaimana pula ini? Tentu saja rambutnya
lebih bagus!“
“Tidak, tidak! Rambutnya memang lebih bagus, akan tetapi ……
rambutmu lebih indah …… ya, lebih
indah …… “
Indrayana binggung sekali, karena ia merasa gelisah kalau-kalau gadis itu melihat muka patung yang sesungguhnya bukan lain adalah wajah gadis itu sendiri. Ini masih belum hebat, yang mengerikan adalah karena gadis tadi tahu dan melihat betapa ia memeluk, membelai, dan
menciumi patung itu. Sementara itu, Candra Dewi merasa makin curiga dan
tidak mengerti melihat sikap Indrayana ini. Mengapa pemuda
itu begitu gugup dan gelisah? Mengapa patung
itu tidak boleh ia lihat?
“Kakangmas Indrayana , engkau
kenapakah? Apa salahnya kalau aku
ikut mengagumi keindahan patung
ini?“
Ia melangkah lagi hendak mendekati patung itu, akan tetapi Indrayana buru-buru memutar tubuh
patungnya sehingga tetap saja membelakangi Candra Dewi.
“Jangan …… diajeng ……. Kalau kau kasihan kepadaku
…… jangan sekarang.
Besok saja engkau boleh
melihatnya, kalau sudah kuperbaiki. Aku malu sekali kalau engkau melihatnya dalam keadaannya seperti sekarang. Amat buruk!“
Tiba-tiba Candra Dewi menjadi marah.
“Kakangmas Indrayana , kau
benar-benar keterlaluan! Sudah demikian hinakah aku sehingga untuk memandang wajah
puterimu yang ayu itupun masih
kurang berharga? Setidaknya, mengingat bahwa aku ikut pula memberi petunjuk
dalam pembuatan patung ini,
sudah sepatutnya kalau aku melihat kalau-kalau ada sesuatu yang
kurang sempurna sehingga aku dapat
memberi petunjuk lebih jauh. Atau, kalau tidak mengingat akan perhubungan kita yang sudah lama sehingga
seakan-akan aku menjadi adikmu sendiri, sudah sepatutnya kalau
aku …… sebagai adikmu …… mengagumi kecantikan …… calon isterimu!“
Makin binggunglah Indrayana
ketika melihat bahwa gadis
itu benar-benar marah. Ia menghela napas berkali-kali, kemudia
sambil menundukkan muka dan
melepaskan kedua tangannya di kanan dan kiri tubuhnya, ia berkata lemah,
“Kau yang memaksa, diajeng
…… apa boleh buat, nah …… kaulihatlah,
kemudia terserah kepadamu apa yang akan kau perbuat atas diriku yan bodoh ini …… “
Sambil berkata demikian, Indrayana memutar patungnya, dihadapkan kepada
Candra Dewi. Gadis itu cepat memandang dan
…… sukarlah memilih mana mana orang mana patung pada saat itu
karena Candra Dewi berdiri diam tak
bergerak, tak berkedip, bahkan napasnya seakan-akan terhenti, serupa
benar dengan patung di depan itu! Di depan Indrayana, seakan-akan kini berdiri dua buah patung kembar indah. Lambat
laun, sebuah dari pada patung itu bergerak,
dadanya naik turun dan
bibirnya bergerak, Candra Dewi
berkata tanpa memalingkan mukanya
dari patung itu.
“Mengapa …… bukan …… Puteri Pramodawardani ……?“
Tadinya Indrayana merasa
takut kalau-kalau gadis itu akan
marah, akan tetapi mendengar suaranya yang
lemah lembut dan sama sekali tidak marah itu, hatinya menjadi lega dan
tabah kembali, sungguhpun rasa jengah masih membuat ia menundukkan maka tanpa berani memandang gadis
itu.
“Jeng Dewi, kau sendiri yang memberi petunjuk agar aku
mengukir patung ini menurut contoh
wajah seorang yang paling mudah
kuingat, seorang yang paling mudah di hatiku …… yang ku
kasihi dengan sepenuh jiwaku. Telah kucoba membuat patung Pramodawardani, namun gagal, karena …… sesungguhnya …… bukan dialah yang selama ini memenuhi hati dan pikiranku. Aku hanya melakukan cara-cara yang telah
kauajarkan kepadaku dan …… inilah hasilnya, diajeng.
Aku membuat patung orang yang
kukasihi, kusayangi, orang yang paling kucinta …… “
Tidak menanti sampai habisnya ucapan Indrayana itu,
tiba-tiba Candra Dewi menengok
menatap wajahnya dan ketika dua pasang mata itu bertemu, terdengar isak tertahan dan
Candra Dewi lalu berlari pergi dari
situ sambil terisak-isak menangis.
Indrayana mengangkat muka
terkejut, lalu dengan lompatan jauh ia mengejar, memegang lengan kanan Candra Dewi dan berkata dengan suara penuh perasaan duka dan pernyataan maaf.
“Aduh, diajeng ……. Maafkanlah aku tidak bermaksud menyinggung hatimu,
aku tidak bermaksud menghinamu, diajeng.
Sungguh, demi kehormatanku sebagai
seorang ksatriya, demi semua
Dewata Yang Maha Agung, aku bersumpah bahwa
semua kelakuan dan ucapanku keluar
dari hati yang suci murni, sama sekali tidak maksud hati untuk merendahkanmu. Aku
tahu bahwa amat lancang, jeng Dewi,
Orang seperti aku tidak patut dan
tidak berharga untuk menyatakan perasaan
hatiku terhadap kau yang
agung dan mulia …… akan tetapi, apa
dayaku, diajeng …… Kau sudi memaafkan aku, bukan? Kalau kau kehendaki, aku bersumpah takkan berani berlaku seperti tadi lagi!“
Candra Dewi memandang muka pemuda itu dengan air mata masih
membasahi pipinya, akan tetapi amat heranlah hati Indrayana ketika melihat bahwa
biarpun mata gadis itu menangis, namun bibirnya senyum. Tersenyum manis
seperti patung itu.
“Bodoh ……“ bisik dara itu,
“aku menangis karena bahagia, masih belum terbukakah matamu ……?“
Kini Indrayana yang melenggong dan berdiri bagaikan patung batu, menatap wajah Candra Dewi seakan-akan berada di dalam mimpi. Melihat pandang
mata seperti itu, Candra Dewi
melengoskan mukanya dan menarik tangannya.
“Lepaskan aku ……! “ bisikinya dan
hendak lari.
Akan tetapi kedua lengan tangan
Indrayana lebih cepat lagi,
pinggangnya yang ramping itu tertangkap dan sesaat kemudian ia
telah berada dalam pelukan Indrayana . Sambil memejamkan kedua matanya, Candra Dewi menyandarkan kepalanya di atas dada kekasihnya, mendengarkan bisikan cumburayu dari bibir Indrayana, bagai sepasang kekasih yang sedang
berbisik-bisik memadu kasih. Waktu
berlalu amat cepatnya tanpa terasa sedikitpun juga. Demikian pula dengan Indrayana dan
Candra Dewi. Serasa baru beberapa patah
kata saja keluar dari bibir masing-masing dan
seakan-akan baru saja mereka duduk bersanding
di atas akar pohon, akan tetapi tahu-tahu malam telah tiba dan bulan mulai muncul. Namun belum juga mereka sadar dan masih tenggelam dalam buaian ombak samodera asmara yang memabokkan. Memang aneh kalau orang sedang dimabok
asmara. Bulan purnama serasa suram dan tidak bercahaya apabila
segala bunyi-bunyian dan
gamelan, seakan-akan lagu dari surga. Memang luar biasa sakti
Dewa Asmara, dan bukan main ampuhnya anak panah dan gendewanya. Tidak ada seorangpun manusia
di dunia ini, bahkan tiada dewata sekalipun manusia di dunia
ini, bahkan tiada dewa sekalipun, yang kebal menghadapi senjatanya. Akan tiba saatnya setiap orang manusia atau dewata terkena hikmatnya dan terpaksa mengakui kekuasaan dan keunggulan Sang Dewa Asmara.
Indrayana dan Candra Dewi baru sadar ketika tiba-tiba mereka mendengar suara ombak bertembang.
“Kakangmas Pancapana ……“ bisik
Indrayana sambil melepaskan tangan Candra Dewi yang dari dipegangnya.
“Ah, lebih baik aku pergi dulu,
tentu kita akan di ejek habis-habisan dan
diperoloknya kalau ia melihat kita
disini.“
Setelah berkata demikian, Canda Dewi bangkit dan segera melarikan diri
dari situ dengan lagkah ringan. Indrayana memandang bayangan kekasihnya
dengan hati bungah. Ia tadi telah
mendengar dari Candra Dewi bahwa
Pancapana yang menjadi biang keladi dari semua ini. Pangeran itu telah melihat ia membuat patung
Candra Dewi dan sengaja membohongi gadis itu agar gadis itu melihat sendiri
betapa Indrayana membuat patungnya. Nakal, akan tetapi juga amat baik hati.
Indrayana tidak tahu apakah ia harus
menegur ataukah menyatakan terima kasih, atas perbuatan
Pancapana tadi.
Ketika Indrayana keluar dari balik pohon dan menjumpai Pancapana yang sedang berjalan seorang
diri sambil itu, Pancapana menghentikan tindakan
kaki dan tembangnya.
“Eh, eh, dimas Indrayana!“
katanya sambil senyum dan
membelalakkan matanya.
“Jelas bersinar indah melingkungi tubuhmu, tanda bahwa
engkau telah bertemu dengan
kebahagiaan dan mendapat berkah Dewata Yang Agung! Kebahagiaan
apakah gerangan, dimas? Bagilah sedikit
kepadaku.“
“Kakangmas Pancapana, kau memang
pandai menggoda orang,“ jawab
Indrayana.
“Tetapi tidak berbahaya, dimas godaanku tidak berbahaya, tidak
seperti godaanmu! Hampir saja
membuat Candra Dewi adikku itu patah
hati! Jangan menggodanya sampai
keterlaluan, dimas, ingat, dia adikku. Kalau sampai patah hati dan berduka, aku bisa marah kepadamu!“
Merahlah muka Indrayana dan
sambil tersenyum malu ia berkata.
“Terima kasih, kangmas. Berkat campur tanganmu, sekarang
semua telah menjadi baik.“
Pancapana mengangguk-angguk sambil tersenyum
“Bagus, bagus!! Hatiku sudah
gelisah melihat Candra Dewi menagis di ladang tadi, menangis dengan hati penuh cemburu kepada Puteri Mahkota dari Syailendra. EH, dimas, sesungguhnya bagaimanakah rupanya
Puteri Pramodawardani? Benar-benar cantik
jelita seperti yang disohorkan orangkah?“
“Cantik jelita!“ kata Indrayana dengan bangga.
“Sungguhpun bagiku diajeng Candra Dewi lebih cantik, akan
tetapi mencari seorang puteri di kolong langit ini yang
cantiknya dapat menandingi Puteri Pramodawardani, agaknya
tak mungkin dapat!“
Pancapana lalu duduk di atas sebuah batu, memberi isyarat kepada Indrayana untuk
duduk pula.
“Dimas, kau tadi mengucapkan terima kasih kepadaku, adakah ucapan itu tulus iklas dan keluar
dari hati sanubarimu?“
“Tentu saja, kangmas. Tanpa reka dayamu itu, agaknya diajeng
Candra Dewi akan selalu marah dan benci kepadaku.“
“Kalau kau benar-benar berterima
kasih, sekarang kau harus
membalas jasaku itu dengan cerita
tentang diri Puteri Pramodawardani!
Ceritakanlah tentang keadaan kerajaannya, tentang keluarganya, tentang puteri itu sendiri, bagaimana cantiknya, betapa manisnya kalau tersenyum, bagaimana lagaknya kalau berkata-kata.“
Demikian, kedua orang pemuda itu bercakap-cakap di bawah sinar bulan.
Indrayana menceritakan keadaan Syailendra, dan terutama sekali ketika menceritakan dan
memuji-muji kecantikan Pramodawardani diceritakannya dengan
cara yang menarik, dengan sejelasnya sehingga
Pancapana yang mendengar merasa seakan-akan Puteri Pramodawardani itu telah berdiri di hadapannya. Sudah tentu saja Indrayana banyak membohong dan hanya mengira-ngira saja
dalam hal ini, oleh karena iapun baru satu kali saja bertemu muka dengan puteri itu !
Pada keesokan harinya,
pagi-pagi sekali di kala ayam
hutan masih belum berhenti berkokok saling
sahut-sahutan, seperti biasa Sang Panembahan Ekalaya
telah duduk bersila di atas
batu hitam yang bentuknya bulat dan
ketiga orang muridnya duduk pula
bersila di atas tanah di hadapannya.
Kebiasaannya ini telah dilakukan semenjak mereka naik
ke Muria. Pada waktu fajar itulah mereka menerima pelajaran-pelajaran ilmu-ilmu kebatinan yang tinggi dari pertapa sakti
itu. Ada kalanya Sang Panembahan memanggil
seorang di antara mereka pada
siang atau senja hari untuk memberi pelajaran
khusus. Akan tetapi, setiap pagi mereka bertiga tentu menghadap dan mendengar wejangan-wejangan dari guru mereka ini.
Hampir setiap pagi, Sang
Panembahan Ekalaya menutup
wejangan-wejangannya dengan
kata-kata,
“Sekarang pergilah bekerja, anak-anak! Bekerjalah dengan hati riang dan laksanakanlah segala pitutur yang kaudengar dan
pelajari didalam perbuatan, karena pokok pangkal yang segala ilmu di dunia ini terletak pada perbuatan yang nyata. Pengetahuan memerlukan pengertian, pengertian membutuhkan kesadaran, dan kesemuannya itu masih membutuhkan pula
kenyataan. Apakah artinya tahu kalau tidak mengerti, mengerti
tidak sadar? Dan apa pula artinya kesemuannya itu apabila ilmu yang
dipelajarinya itu hanya merupakan pengetahuan kosong tanpa dilaksanakan dalam
perbuatan? Ingatlah selalu bahwa
ilmu barulah sapat disebut sempurna apabila
di alam pelaksanaannya dapat
mendatangkan manfaat bagi kemanusiaan.“
Akan tetapi, pada hari itu, ucapan yang selalu
ditekankan ke dalam hati murid-muridnya setiap pagi ini masih ditambah lagi dengan ucapan yang mendatangkan debar pada jantung ketiga orang muda itu.
“Indrayana, Candra Dewi, dan kau
juga Pangeran Pancapana!“ Sang
Panembahan selalu menyebut Pancapana dengan Pangeran,
“hari ini adalah hari terakhir dari kediamanmu sekalian di atas puncak gunung ini. Oleh karena
itu, tak usah kalian melakukan pekerjaan seperti biasa dan duduklah saja di sini bersamaku. Masih
ada beberapa pelajaran yang perlu
kalian ketahui dan pelajari dengan baik.“
No comments:
Post a Comment