Pernah satu kali Candra Dewi
bertanya tentang sesuatu
hal yang belum dijelaskan, dan
dara itu mendapat teguran dari Panembahan Ekalaya.
"Berlakulah tenang dan sabar serta terimalah segala peristiwa yang terjadi dengan
waspada, jangan sekali-kali kau ingin mengetahui lebih dalam tentang peristiwa yang belum
terjadi. Memandang peristiwa yang terjadi kemarin sebagai
sebuah pelajaran, menghadapi peristiwa hari ini dengan penuh kewaspadaan, dan menanti datangnya peristiwa esok hari dengan penuh
ketenangan dan kesabaran. Itulah sifat seorang ksatria
utama! Menjenguk peristiwa yang belum terjadi, selain dapat melemahkan iman, juga merupakan perbuatan yang curang dan pengecut. Curang terhadap kekuasaan nasib dan
karenanya kesiku (melanggar pantangan) Dewata Agung, dan pengecut terhadap
diri pribadi, tanda bahwa dia
takut, khawatir akan datangnya kepahitan dalam kehidupannya."
Semenjak pertapa itu
menyatakan demikian, maka ketiga orang muridnya tak pernah lagi berani bertanya tentang
epristiwa yang akan datang. Mereka
maklum akan kesaktian gurunya, bahwa pertapa yang menjadi gurunya itu waspada dan tahu akan hal-hal yang belum terjadi. Maka, mereka juga tidak bertanya tentang pernyataan bahwa hari itu adalah hari terakhir bagi mereka berada di tempat itu. Dengan tenang dan sabar
mereka hanya mendengarkan wejangan-wejangan gurunya
dan menanti sampai pertapa itu memberi penjelasan.
Dan penjelasan itu datang ketika matahari telah mulai muncul di balik puncak, bersama dengan datangnya dua orang laki-laki tua yang mendaki gunung itu dengan gerakan cepat.
Setelah tiba di situ, keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut dan
menyembah kepada Panembahan Ekalaya.
"Hm, sukurlah kalian telah datang. Sudah lama kutunggu-tunggu kedatangan kalian," kata
pendeta itu dengan suaranya yang halus.
Bukan main heran, terkejut dan juga girang hati ketiga orang muda itu,
karena yang datang itu bukan lain adalah Panembahan Bayumurti dan Wiku
Dutaprayoga. Candra Dewi segera
menghampiri dan memeluk ayahnya
dengan sikap manja, dua titik air mata membasahi pipi dara itu.
"Aku girang sekali melihat kau sehat dan segar, Candra!" kata Bayumurti sambil mengelus-elus rambut
putrinya.
Sementara itu, Indrayana lalu
maju dan berlutut di depan ayahnya.
"Ramanda, anakmu yang bodoh menerima segala hukuman yang hendak ayah jatuhkan kepadaku."
Tidak ada yang dipersalahkan, Indrayana. Yang sudah terjadi merupakan pengalaman dan pelajaran bagi
kita. Aku girang kau telah dapat menerima ajaran-ajaran dari eyangmu."
Seperti telah dituturkan di
bagian depan, Panembahan Bayumurti dengan cara yang amat mengagumkan dan gagah, menggantikan Sang Wiku Dutaprayoga untuk menjalani hukuman mati,
kemudian dengan "pertolongan" Pangeran
Balaputra Dewa sendiri beserta
kawan-kawannya atas suruhan
Pramodawardani, Panembahan Bayumurti
keluar dari dalam lobang kuburan di
mana ia dipendam hidup hidup. Ketika
Panembahan Bayumurti keluar dari ibukota Kerajaan
Syailendra, di luar pintu
gerbang telah menanti Wiku Dutaprayoga dan mereka lalu melakukan perjalanan merantau
bersama. Kedua orang pertapa ini sesungguhnya memang merupakan dua
orang sahabat karib di masa dahulu, yaitu sebelum Wiku Dutaprayoga menjadi Wiku
di Syailendra. Keduanya pernah melakukan tapa brata di atas puncak gunung-gunung dan melakukan lelanabrata bersama-sama di waktu
mereka masih muda. Keduanya memiliki kesaktian yang tinggi, dan kalau Wiku Dutaprayoga memiliki keahlian
dalam pembuatan senjata tajam, adalah Panembahan Bayumurti
menjadi ahli dalam pembuatan
patung.
Kedua orang tua ini melakukan perjalanan bukan untuk berpesiar atau
menghibur hati, melainkan untuk meredakan ketegangan antara
penganut Agama Hindu dan pemeluk Agama Buddha yang ditimbulkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab
atau oleh mereka yang sengaja mengadakan kerusuhan
dengan maksud mengeduk keuntungan bagi diri sendiri dari keadaan yang
kacau itu.
Di mana terjadi keributan, datanglah Wiku Dutaprayoga bersama
Panembahan Bayumurti. Keduanya amat terkenal di antara penganut agama
dan tentu saja nasehat-nasehat kedua
orang pendeta itu mendatangkan hasil baik sekali. Kedua orang pertapa itu
memberi nasehat bahwa tidak seharusnya Agama Hindu dan Agama Buddha dijadikan dasar pertentangan dan pertempuran.
"Agama diturunkan kemuka bumi oleh Hyang Agung agar manusia dapat mempelajari kebaikan, mempertebal perikemanusiaan dan menjauhi iblis yang mendatangkan kekacauan dan permusuhan di dunia. Kalau kalian ini penganut-penganut Agama Hindu dan Agama Buddha, saling
bermusuhan dan saling bunuh, maka
berarti bahwa kalian kedua-duanya telah menyeleweng dari pada ajaran agamamu masing-masing! Kamu yang memeluk Agama Buddha akan dikutuk oleh
Yang Mulia Buddha sedangkan yang
memeluk Agama Hindu akan mendapat murak para dewata!" demikian
Bayumurti memberi nasehat.
“Lihatlah kami berdua ini," kata Wiku Dtaprayoga,
"Aku adalah seroang wiku, seorang pendeta Agama Buddha. Sahabatku ini adalah
seorang panembahan yang dalam ilmu pengetahuannya tentang
Agama Hindu. Akan tetapi kami merasa bersaudara dan bersahabat, merasa bahwa kami adalah sama-sama manusia
yang harus saling tolong-menolong. Sebaik-baiknya agama yang dianut, sesuci-sucinya orang itu
menjalankan ibadah, ia tetap seorang manusia dan bukan
dewa. Sebaliknya, betapapun jahat dan buruknya, orang lain itupun seorang manusia
pula dan bukan setan. Orang yang merasa diri sendiri paling bersih dan menganggap orang-orang lain kotor sesungguhnya adalah
orang yang sekotor- kotornya! Orang
yang mengangkat tinju lebih dahulu
dalam sebuah perkelahian, sesungguhnya adalah
orang yang bersalah dalam keributan itu."
Banyak sekali orang-orang yang menjadi insaf karena datangnya dua
orang pertapa ini menghadapi tentangan-tentangan dari mereka yang sengaja mendatangkan keributan, akan tetapi berkat kesaktian
Bayumurti dan Wiku
Dutaprayoga, anasir-anasir itu dapat ditundukkan dan dikalahkan.
Setahun lebih kedua orang pendeta ini
merantau, jauh sampai di dusun-dusun, baik yang termasuk wilayah Kerajaan Syailendra maupun yang termasuk wilayah Kerajaan
Mataram. Sesungguhnya kedua
agama itu telah bercampur aduk
memasuki seluruh dusun dan kampung dari kedua kerajaan itu.
Sementara itu dalam setahun ini
telah terjadi banyak sekali
perobahan dalam kedua kerajaan itu, terutama sekali Kerajaan Mataram. Selama setahun lebih ini, Kerajaan Mataran
mengalami kemunduran hebat sekali. Sang Prabu Panamkaran kurang pandai memegang kendali
kerajaan, lebih mementingkan
kesenangan untuk diri pribadi. Tanda-tanda akan keruntuhan Kerajaan Mataran
yang tadinya jaya itu, nampak
nyata.
Seperti biasa dan telah lazim terjadi,
apabila rajanya tenggelam dalam kesenangan dan
tidak memperhatikan keadaan kerajaannya, dan pembesar-pembesar tidak
menjalankan tugasnya dengan baik
bahkan mencari segala macam daya
upaya dan jalan yang tidak halal untuk mengeduk keuntungan sebesar mungkin,
kalau para cerdik pandai dan pendeta-pendeta bijaksana mengundurkan diri meninggalkan raja
dan menteri-menterinya yang korup,
maka ketika itulah tanda bahwa kerajaan itu
menuju kepada keruntuhannya. Raja
merupakan payon rumah tangga negara, sedangkan para menteri dan
petugas lain merupakan tiang-tiang, rusuk-rusuk balok-balok
sesuai dengan besar kecil dan payon itu tidak sehat, bocor di sana-sini air hujan akan membuat kayu-kayu penahan payon
menjadi lapuk dan membusuk, dan kalau sudah begitu, alamat akan celakalah seisi rumah negara.
Wilayah Mataram makin lama
makin mengecil, dicaplok oleh kerajaan-kerajaan lain tanpa berhenti menentang sama sekali, karena
maklum akan kelemahan sendiri. Juga Sang Prabu Panamkaran tidak memperdulikan hal ini, baginya asalkan ia dapat hidup makmur dan mewah,
cukuplah! Tidak heran apabila Kerajaan
Mataran makin terdesak dan terhimpit antara kerajaan-kerajaan lain, bahkan sebagian besar wilayahnya secara terang-terangan dan kurang ajar sekali telah dikangkangi oleh pasukan-pasukan Serigala
Hitam di bawah pimpinan Pendeta Siddha Kalagana. Akhirnya Mataran terjepit
dan hanya tinggal menjadi
sebuah kerajaan kecil tak berarti di Gunung Dieng dan sekitarnya. Sebaliknya, berkat kebijaksanaan Sang Maha Raja Samaratungga dan kesetiaan para pamong praja. Kerajaan
Syailendra makin kuat dan
makmur.
Agama Buddha amat maju, pertanian subur, perdagangan ramai dan perahu-perahu layar
dari Pulau Jawa datang dan pergi, membawa barang-barang kebutuhan
rakyat dan mengangkut hasil bumi sebagai gantinya. Hubungan dengan
kerajaan-kerajaan lain amat baik
terutama dengan Kerajaan Sriwijaya di seberang lautan. Raja-raja kecil menyatakan hormatnya dengan
pengiriman barang-barang berharga. Semua hal ini diceritakan oleh Panembahan Bayumurti dan Wiku
Dutaprayoga kepada Sang Bagawan Ekalaya,
didengarkan juga oleh
Indrayana, Pancapana dan Candra Dewi dengan penuh perhatian.
"Mataran perlu sekali ditolong daripada
keruntuhannya, perlu sekali
dibangun kembali. Dan hanya satu
oranglah yang patut dan wajib
melakukan hal itu dan menggantikan
kedudukan Sang Prabu Panamkaran. Orang itu bukan lain adalah keturunan Sang Prabu Sanjaya, paman Bagawan dan oleh karena itu, hamba mohon perkenan paman Bagawan untuk memberi tugas
kepada Pangeran Pancapana."
Sang Begawan ekalaya
mengangguk-angguk perlahan dan tersenyum.
"Lakukanlah kehendak
kalian, anak-anak. Memang kalian bertiga ini sudah waktunya turun gunung. Lakukanlah apa yang kalian rasa baik,"
Ketika kedua orang pertapa itu
dan tiga orang muda itu menyembah dan
meminta restu untuk mengundurkan diri, Sang Bagawan Ekalaya hanya
berkata singkat dan perlahan.
"Pergilah...tugas-tugas suci telah menanti kalian. Di bawah
bimbingan Bayunurti dan Dutaprayoga, kalian takkan menyeleweng daripada kebenaran. Aku sebagai orang tua
hanya memberi bekal doa restu."
Setelah memberi hormat
kepada kakek sakti itu, mereka meninggalkan tempat
itu, meninggalkan Bagawan Ekalaya
yang masih duduk bersila tak
bergerak bagaikan patung, karena kakek ini telah tenggelam kembali
ke dalam alam samadhi.
Setelah berada di kaki gunung dan tiba di tepi laut yang memisahkan gunung itu dengan pantai Pulau Jawa,
mereka berhenti dan Panembahan Bayumurti
memberi tahu kepada Pancapana apa yang harus dikerjakan oleh pangeran itu.
“Raden Pancapana, ketahuilah bahwa keadaan pamanmu, Sang Prabu Panamkara kini sedang terancam bahaya besar. Bupati Yudasena dari pesisir telah berkali-kali berusaha
menggulingkan kedudukan pamanmu
itu dan karena para panglima sepuh
dari Mataran enggan membantu pamanmu,
maka keadaan Mataran benar-benar amat berbahaya. Aku
telah menghubungi para panglima tua dan cerdik pandai di Mataram yang kini mengasingkan diri dan ketika beritahukan tentang
keadaanmu, mereka menyambut dengan gembira sekali. Kau sekarang pergilah
ke ibu kota Mataram, dan
usahakanlah agar serangan Yudasena
dapat dipecahkan. Kali ini
pamanmu tentu takkan ragu-ragu lagi
untuk menyerahkan kedudukannya kepadamu."
"Baik, paman
Panembahan," jawab Pancapana sambil menyembah.
Tiba-tiba Indrayana berkata kepada ayahnya,
"Rama, izinkanlah hamba ikut dan membantu uasha kakangmas Pancapana."
Wiku Dutaprayoga tersenyum.
"Seandainya kau tidak minta aku tentu akan menyuruh kau pergi juga mengawani Pangeran
Pancapana, puteraku. Sudah
menjadi tugasmu untuk membantu perjuangan Pangeran Pancapana, menegakkan kembali Mataram dan menolong keadaan rakyat
Mataram daripada bencana
besar."
"Bagus," kata panembahan Bayumurti,
“dengan adanya Indrayana mengawanimu, hatiku lebih tentram dan yakin lagi akan berhasilnya usahamu,
Raden Pancapana."
Pancapana juga merasa girang sekali. Ia
memeluk pundak Indrayana dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar.
"Rama Panembahan, akupun ingin ikut membantu Raden Pancapana," tiba-tiba
Candra Dewa berkata kepada
ayahnya.
"Kau hendak membantuku atau membantu dimas Indrayana, diajeng Candra?" Pancapana menggoda sambil
tersenyum.
Candra Dewi cemberut lalu berkata,
"Tentu saja membantu keduanya, bukannya kalian
berdua adalah saudara-saudara seperguruan dan sudah menjadi kewajibanku untuk
membantu pula?"
Bayumurti dan Dutaprayoga saling
pandang dan diam-diam mereka tersenyum girang.
"Candra, anakku," kata Panembahan Bayumurti kepadanya,
"kali ini kau tak boleh ikut
kerena pekerjaan yang mereka hadapi
adalah pekerjaan laki-laki. Sebagai
seorang wanita, tugasmu hanya menunggu dan berdoa agar supaya usaha mereka berhasil baik."
Muramlah wajah Candra Dewi mendengar
kata-kata ayahnya ini, akan tetapi ia tidak berani
membantah. Indrayana memandang kepada kekasihnya ini
dan berkata perlahan.
“Jeng Dewi, kalau tugas kami
sudah selesai, kita pasti akan
bertemu kembali." Senyumnya yang ramah dan menghibur dapat juga mengusir kemuraman yang membayang di
wajah gadis itu.
"Berangkatlah kalian dan jangan membuang banyak waktu lagi." Kata Panembahan Bayumurti kepada kedua pemuda itu yang
segera melanjutkan perjalanannya.
Candra Dewi berdiri memandang bayangan kedua orang
muda itu sampai lenyap pada sebuah tikungan.
Hatinya terasa sunyi dan tak
sedap ditinggalkan oleh mereka, terutama
sekali oleh Indrayana.
"Sudahlah, Candra,
sekarang belum tiba waktunya kau ikut menunjukkan baktimu
terhadap Kerajaan Mataram. Kita telah terlampau lama meninggalkan tempat tinggal kita,
marilah kita pulang dan menanti perkembangan yang akan terjadi selanjutnya." Kemudian
Panembahan Bayumurti berpaling kepada Wiku Dutaprayoga dan
berkata.
"Kakang wiku, baiklah kita berpisah di
sini dan sampai bertemu kembali pada saat yang tepat."
"Baiklah, adi Panembahan, kalau sudah rampung tugas
kita, kita lanjutkan perjalan yang kita setujui kemarin dulu
itu."
"Baik, kakang Wiku, selamat berpisah!"
Pancapana dan Indarayana melakukan perjalanan dengan cepat sekali. Dari
pulau Gunung Muria, mereka menggunakan sampan
untuk menyeberang ke pantai Pulau
Jawa, kemudian mereka menggunakan kepandaian berlari cepat menuju
ke Mataram. Perjalanan mereka menuju ke selatan melalui
hutan-hutan dan bukit-bukit. Setelah tiba di Pegunungan Ungaran mereka lalu
membelok ke barat untuk menuju ke
Pegunungan Dieng yang pada waktu itu
menjadi pusat Kerajaan Mataram
yang telah hampir runtuh dan lenyap itu.
Akan tetapi, ketika mereka masuk dalam sebuah hutan
liar di Pegunungan Ungaran, tiba-tiba terdengar sorakan
riuh dan dari belakang pohon-pohon dan alang-alang, berlompatan keluar perampok-perampok yang jumlahnya tidak
kurang dari empat puluh orang!
Seorang yang tinggi besar dengan brengos sekepal sebuah, mata lebar bundar yang seperti mau
melompat ke luar dari ruang mata,
melangkah maju dengan klewang di tangan. Baik melihat sikapnya maupun keadaan pakaiannya yang lebih
lengkap daripada yang lain, mudah diduga bahwa si brengos tebal ini tentulah kepalanya.
"Hai, pemuda-pemuda bagus! Tinggalkanlah dulu semua barang dan pakaianmu sebelum
kalian melanjutkan perjalanan melalui
hutan ini!" seru si brengos itu
dengan suaranya yang parau.
Pancapana melirik kepada para
pengurungnya dan melihat bahwa puluhan orang perampok itu
kesemuanya bertubuh tegap dan gagah hanya pakaian mereka saja yang tidak karuan dan
compang-camping.
"Hm, manusia-manusia macam inilah agaknya yang mendatangkan kekacauan melemahkan
keadaan Mataram!" katanya
marah, kemudian sambil
memandang kepada di brengos dengan mata tajam Pancapana membentak,
"Kalian ini orang-orang tak tahu malu, tidak patut menjadi kawula Mataram! Pantas saja Mataram menjadi semakin lemah tidak tahunya terdapat
telur-telur busuknya macam kau
dan anak buahmu ini!"
Bukan main marahnya di brengos mendengar ucapan
ini. Sepasang matanya yang besar itu terputar-putar dengan dasyatnya, brengosnya yang
sekepal sebelah itu bergerak-gerak dan berdiri mengerikan.
"Bocah gunung, alangkah
sombongmu! Kau tidak tahu
dengan siapa kau berhadapan. Aku adalah
Surarudira dan seluruh daerah Ungaran tahu siapa aku! Berani kau mengangkat dada terhadap Surarudira? Hayo kau berlutut dan menyerahkan semua
barang dan pakaian, baru aku memberi ampun!"
"Surarudira, nama yang terlampau gagah untuk seorang pengecut dan jahat seperti kau!" kata Pancapana mengejek.
"Jangankan kau seorang diri maju menghadapiku, keroyoklah
dengan semua kawan-kawanmu, aku
takkan mundur setapak!"
"Babo, babo! Sumbarmu seperti
berkepala tiga berlengan enam saja! Agaknya kau sudah bosan hidup!"
teriak Surarudira sambil
membacok dengan klewangnya ke arah leher Pancapana.
Akan tetapi pemuda ini dengan
mudah mengelak ke kiri sehingga
klewang itu mendesing di pinggir kepalanya. Begitu
klewang itu lewat menyambar, tiba-tiba senjata itu telah menyambar kembali dari kanan dan sekarang membabat
kedua kaki Pancapana. Kaget
juga pemuda ini melihat kecepatan gerakan
lawan dan diam-diam ia memuji
bahwa si brengos ini tentu telah
mempelajari ilmu permainan golok yang cukup baik. Cepat Pancapana melompat
ke atas membiarkan klewang itu menyambar lewat dan sebelum kedua
kakinya ia turunkan, ia telah melakukan gerakan menendang di udara dan dengan jitu sekali tungkak kaki kanannya mencium dada
Surarudira yang bidang.
“Blek!” Surarudira merasa seakan-akan dadanya remuk dan
diseruduk oleh seekor banteng.
Tubuhnya terlempar ke belakang dan berguling bagaikan sebuah kelapa dilempar dari atas. Akan tetapi si brengos ini benar-benar kuat tubuhnya dan
besar pula semangatnya! Cepat dan
beringas ia melompat bangun lagi, menggoyang-goyang kepalanya dan memberi tanda
kepada kawan-kawannya,
"Serbu.....!" Komandonya ini seakan-akan komando seorang panglima perang kepada pasukannya!
Sedangkan ia sendiri dengan
klewang diputar-putar di atas kepalanya lalu menyerang Pancapana lagi.
"Dimas Indrayana, mari kita hajar rombongan tikus sawah ini!" seru Pancapana.
Indrayana tadinya hanya
berdiri diam saja menikmati kegembiraan hatinya melihat pangeran itu memberi hajaran kepada
rakyatnya sendiri yang menyeleweng daripada jalan
kebenaran. Kini melihat empat puluh lebih orang itu maju
menerjang bagaikan ombak Segara Kidul, tentu saja ia tidak
tinggal diam. Cepat dan trengginas seperti
seekor bajing melompat, tubuhnya berkelebat menerjang maju. Kedua
kaki dan tangannya bekerja cepat
merupakan empat baling-baling kitiran
besar yang membagi-bagi pukulan dan tendangan. Sekali tangannya bergerak, terdengar teriakan mengaduh dan seroang lawan jatuh terjengkang dengan
kepala benjol, dan sekali kakinya terayun,
terlemparlah tubuh lain
pengeroyok sehingga jatuh berdebuk sambil peringisan karena
pantatnya menimpa batu.
Surarudira mengamuk hebat dan
menyerang Pancapana dengan gerakan klewang yang cukup
dasyat, Pancapana dengan tenaga menyambut serangan
si brewos ini dengan tangan kosong. Pangeran ini memperlihatkan kegesitannya, bagaikan
seekor burung serikatan ia
bergerak mengikuti sinar klewang yang menyambar-nyambar sehingga
Surarudira merasa terheran-
heran. Beberapa kali klewangnya seakan-akan sudah pasti mengenai tubuh
lawan akan tetapi tubuh lawan itu melesat dan
dapat mengelak dengan cepatnya. Berdirilah bulu tengkuknya, karena
ia seperti melawan dan berkelahi dengan sebuah bayangan setan!
Akan tetapi Surarudira adalah seorang kasar dan gagah yang belum pernah
mengenal arti kata takut. Ia
mengamuk semakin hebat. Sengaja ia berdiri sejenak
untuk memandang kepada lawannya dengan tajam. Ketika ia melihat pemuda itu juga berhenti berdiri
di depannya sambil senyum
mengejek, seperti kilat klewangnya menusuk dada Pancapana.
“Mampus kau!" serunya.
"Heeiit!" Pancapana tidak mengelak, hanya
miringkan sedikit tubuhnya
dan membuka lengan kanannya sehingga
klewang itu masuk di bawah
lengan kanannya. Pancapana menggunakan kesempatan itu untuk majukan tubuhnya dan ketika
lengan kanannya diturunkan dan mengepit, maka tangan Surarudira yang
memegang klewang itu telah terjepit di bawah pangkal lengan
kanannya. Surarudira berusaha
membelot tangannya akan tetapi sama sekali tak berhasil. Kempitan
itu luar biasa erat dan kuatnya.
"Lepaskan!" teriaknya
sambil meronta, akan tetapi
Pancapana hanya menggeleng kepala sambil tersenyum.
Surarudira marah sekali dan kini tangan kirinya yang dikepal sebesar
buah kelapa itu menyambar hidung
Pancapana. Pemuda itu menggerakkan kepalanya
ke belakangan dan dari belakang menangkap tangan kiri itu sehingga kini
Surarudira tertangkap dengan kedua
tangan di belakang tubuh. Tangan
kanan masih dikempit, sedangkan tangan
kiri diuntir ke belakang.
"Menyerahkah kau?" kata Pancapana sambil menarik tangan kiri si brewok itu ke atas. Peluh berkumpul di kening Surarudira karena ia menahan sakit, akan tetapi dengan bandel ia menggeleng kepala dan membentak.
"Siapa sudi menyerah? Aku masih belum kalah!"
Gemas juga hati Pancapana melihat
kebandelan ini. Ia merasa suka
kepada orang kasar ini karena ternyata gagah
berani dan juga ilmunya berkelahi tidak lemah, akan tetapi kalau orang ini
tidak diberi hajaran keras, sukarlah menundukkannya. Ia lalu melepaskan pegangannya,
mendorong tubuh lawan itu ke
depan dan memberi sebuah tendangan pada pantat Surarudira dengan keras.
"Aduh...!" baru kali ini semenjak perkelahian tadi, Surarudira terdengar mengaduh, karena sesungguhnya tendangan
itu amat keras dan mendatangkan rasa
nyeri yang luar biasa. Tubuhnya terhuyung-huyung dan betapapun ia mengerahkan tenaga
untuk menahan agar jangan sampai
roboh namun akhirnya ia terjungkal juga.
Surarudira benar-benar harus
dikagumi karena keberanian dan kebandelannya. Ia merasa amat sakit pada tulang belakangnya akan tetapi ia masih juga bangun kembali dengan sinar mata bernyala-nyala, tanda belum mau takluk. Ketika ia berjalan menghampiri lawannya lagi,
ia merasa pantat dan punggungnya demikian sakit sehingga jalannya jadi egang.
Namun, biarpun jalannya sudah egang dan mekeh-mekeh, masih tetap ia menyerang lagi dengan klewangnya dan serangannya masih berbahaya.
Kalau bukan Pancapana yang diserang, tentu serangan ini
masih akan dapat mengorbankan nyawa lawannya. Pancapana sendiri merasa heran
dan kagum. Tendangannya tadi bukanlah tendangan biasa, akan tetapi ia mengarah
urat lawan yang penting sehingga tendangannya telah membuat tulang dan urat lawannya bagian belakang menjadi terkelecoh. Bagaimana si brengos ini masih sanggup menyerang lagi?
Melihat kekerasan hati ini, Pancapana lalu menerjang dan sebuah tempilingan tangan
kirinya yang disertai aji kesaktian mampir di kepara Surarudira sehingga tanpa dapat berteriak lagi
tubuh yang tinggi besar itu berputar beberapa kali dan jatuh menjerembab di atas tanah.
Pancapana memandang tubuh
lawannya dengan senyum di bibir,
akan tetapi tiba-tiba senyumnya menghilang, ketika ia melihat Surarudira bergerak, dan merayap lalu bangun kembali. Bukan
main! Pukulannya tadi disertai Aji Wesi Kuning, bagaimana si brengos ini masih sanggup bangkit kembali?
Ajinya itu kalau dipukulkan, biar lawannya memiliki ilmu
kekebalan, masih takkan mampu menahannya. Dengan mata terbelalak kagum Pancapana melihat tubuh tinggi
besar itu bangkit kembali.
Surarudira memang kuat tubuhnya. Ketika
pukulan tadi mampir dikepalanya, ia merasa seakan-akan tujuh petir menyambar kepalanya dan untuk sesaat dunia menjadi
gelap gulita di depan matanya. Akan
tetapi, ia masih dapat mengeraskan hatinya
dan bangkit kembali. Namun,
ketika ia sudah dapat berdiri, tiba-tiba bumi yang dipijaknya terasa berputar-putar, di depan matanya nampak seribu satu bintang besar kecil berjoget dan telinganya mendengar bunyi lengking dan hiruk pikuk. Karena ini, kepalanya terasa pening sekali dan berat, seakan-akan kepalanya
telah berobah menjadi besi yang amat berat dan akan jatuh saja.
Kedua kakinya masih mencoba untuk menahan akan tetapi tetap saja tidak kuat. Ia berputaran beberapa
kali dengan kedua manik mata mendekati
hidung, kemudian jatuh lagi
terlentang tanpa dapat berkutik kembali!
Ketika beberapa lama kemudian Surarudira siuman
kembali dari pingsannya dan membuka mata, ia terkejut melihat
betapa kedua orang pemuda yang tampan itu mengamuk bagaikan dua ekor garuda sakti
menyambar-nyambar dikeroyok oleh puluhan burung pipit yang sama sekali tidak berdaya. Jangan kata terkena patukan
atau cengkeraman burung-burung garuda itu, baru terdorong oleh sambaran angin kibasan sayapnya saja, burung-burung pipit itu telah terpental jauh! Di sana-sini tubuh para anggota perampok itu malang melintang, tumpang tindih dan mengaduh-aduh. Ada yang benjol kepalanya terkena
tempiling, patah tulang lengan
ketika mencoba menangkis pukulan
kedua anak muda itu, mulas perutnya karena
sambaran ujung kaki, ada pula yang sesak nafasnya terkena sodokan jari tangan!
Melihat keadaan ini dan
betapa sisa anak buahnya yang juga
nekad-nekad dan berani- berani
seperti pemimpinnya, Surarudira lalu berseru keras.
"Anak-anak...! Tahan...!
Menyerahlah kepada ksatria gagah perkasa ini!"
Mendengar komando ini semua
anggota perampok yang tadi masih melakukan perlawanan dengan nekad, tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan menyatakan takluk.
“Surarudira!" berkata
Pancapana dengan suara keren.
"Melihat kau dan anak buahmu, agaknya kalian bukan perampok-perampok biasa dan pernah pula menerima pendidikan dalam ilmu perang. Mengapakah kalian tidak mempergunakan kepandaian itu membela Kerajaan
Mataram, bahkan menimbulkan kekacauan
dan menjadi pengganggu serta pengrusak keamanan?"
Surarudira yang kini telah berdiri kembali dengan tubuh masih terasa sakit-sakit
menjawab dengan angkuh.
"Untuk apa aku harus membela Kerajaan
Mataram yang dipegang oleh raja lalim? Biarlah, biar Mataram runtuh daripada dikuasai oleh
seorang raja yang tidak tahu
kewajiban! Dahulu, ketika Sang Prabu
Sanjaya masih memegang pemerintahan, kami adalah sepasukan pengawal
yang setia. Kami berani mengorbankan nyawa
kami untuk membela Mataram yang jaya.
Ah...kalau saja Mataram dipegang oleh keturunan Sang Prabu Sanjaya..."
Berdebarlah jantung
Pancapana mendengar ini akan tetapi tiba-tiba Indrayana mendahului dan bertanya kepada
Surarudira.
"Benar-benarkah kau dulu mengabdi kepada Sang Prabu Sanjaya?"
"Mengapa aku harus membohong?"
"Tahukah kau bahwa Sang Prabu Sanjaya mempunyai seorang putera?"
"Tentu saja, namanya adalah Pangeran Pancapana, akan tetapi
semenjak kecil telah lenyap mungkin terbunuh
oleh Sang Prabu Panamkaran..."
"Bodoh!” bentak Indrayana,
"Surarudira, dan kalian semua! Bukalah matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik. Siapa
yang berdiri di hadapanmu ini?" Ia menunjuk dengan ibu jarinya
ke arah Pancapana.
"Perhatikanlah baik-baik, tidak adakah persamaan antara
wajahnya dan wajah mendiang Sang rabu Sanjaya?"
Semua mata memandang kepada Pancapana dan terdengarlah seruan-seruan heran kaget.
"Serupa benar dengan mendiang Sang Prabu Sanjaya!"
"Dia Sang Prabu sendiri ketika masih muda!"
Demikian terdengar seruan-seruan, sedangkan
Surarudira sendiripun memandang
dengan wajah pucat.
"Ya jagat Dewa
Batara...!" serunya.
"Raden katakan terus terang, siapakah sebenarnya
kau ini?"
Pancapana tersenyum,
"Adindaku Indrayana telah mengatakan tadi.
Mendiang Sang Prabu Sanjaya adalah ramandaku."
Untuk sekejap suasana
menjadi hening dan semua
orang menahan nafas ketika
Surarudira bertanya gagap,
"Jadi... jadi paduka... ini....Gusti Pangeran...."
"Aduh, Gusti
Pangeran....!" Surarudira lalu menjatuhkan diri berlutut dan
menyembah, diturut oleh semua anak
buahnya.
Dari kedua mata kepala perampok yang kasar dan gagah itu keluarlah dua titik air mata karena sangat
terharunya. Terharu pula hati Pancapana melihat
hal ini. Ternyata ucapan
gurunya, Panembahan Bayumurti benar. Masih banyak orang-orang yang tetap setia kepada Mataram, terutama kepada mendiang ayahnya
yang berarti juga kepadanya. Bahkan perampok-perampok kasar inipun masih setia. Hal ini menggugah semangatnya dan Pancapana lalu
berkata keras.
"Sudahlah, tak perlu segala kelemahan hati ini! Sekarang bukan waktunya untuk
bertangis-tangisan! Mataram berada di ambang pintu nereka, di pinggir jurang kehancuran! Siapa
lagi kalau bukan kita anak-anak Mataram yang membangunya kembali? Mataram sedang
berada dalam bahaya, siapa lagi
kalau bukan kita yang harus menolongnya? Siapa diantara kalian yang mau ikut dengan aku, Pangeran Pancapana, Putera Mahkota Mataram?"
Serentak semua mulut orang-orang di
situ berseru hampir berbareng.
"Hamba ikut....!"
Pancapana girang sekali melihat hal
ini dan ia lalu turun tangan bersama Indrayana
memberi pertolongan kepada mereka yang menderita luka memulihkan kembali otot-otot yang keseleo, menyambung kembali tulang-tulang patah dan membebaskan pengaruh keampuhan bekas pukulan mereka. Setelah menolong mereka
semua dan juga memulihkan kesehatan Surarudira, si brengos ini lalu
menceritakan keadaan Mataram
yang masih terkurung oleh
musuh yang kuat, yakni Bupati Yudasena.
"Memang Bupati Yudasena amat tangguh dan
sakti Gusti Pangeran Pancapana. akan tetapi hamba belum pernah mencoba tenaganya. Jangan khawatir Gusti,
kalau Gusti kehendaki hamba akan sanggup menghadapi Yudasena!” Kata Surarudira yang
tabah itu.
"Berapa banyakkah pasukan Yudasena yang mengepung Mataram?"
"Menurut berita yang hamba dengar, sedikitnya ada selaksa orang!"
“Kalau begitu, marilah
kita cepat-cepat pergi ke
Mataram mengumpulkan tenaga-tenaga bantuan dari Rama Prabu dahulu, kemudian
baru kita membantu Paman
Prabu Panamkaran!” kata Pancapana.
Semua bekas perampok itu menyatakan setuju.
"Akan tetapi, paman Surarudira, apakah benar-benar engkau
dan kawan-kawanmu sudah tetap hendak
mengikut dan membantu? Dengan hati setia?"
"Hamba bersumpah, Gusti..."
"Ssst, tak perlu bersumpah. Hanya, harus kau ketahui bahwa aku dan dimas Indrayana adalah
orang-orang miskin. Bahkan sekarangpun kami merasa lapar karena semenjak pagi belum makan. Apakah kalian sanggup menderita sengsara dalam mengikuti perjalanan kami ke
Mataram?"
Tiba-tiba Surarudira tertawa gelak-gelak.
"Ha, ha, ha, ampun Gusti
Pangeran. Mengapa paduka berkata demikian? Jangankan baru haus
dan lapar, biarpun harus berkorban nyawa, hamba Surarudira dan kawan hamba yang empat puluh orang
jumlahnya ini akan bersedia
mengikuti dan membela paduka,
sesembahan semua kawula
Mataram!”
"Bagus, paman Sura, kau benar-benar seorang
panglima sejati. Hayo, kita berangkat!"
"Siap, Gusti!"
Maka berangkatlah Pancapana
dan Indrayana diiringi oleh Surarudira dan pasukannya, ketika mereka melewati dusun-dusun, Surarudira memperkenalkan Pangeran Pancapana kepada penduduk dusun sehingga ramai
orang menyambut Pangeran Pati ini, menyambut dengan penuh penghormatan, penuh harapan bahwa pengeran akan
mendatangkan bahagia pada Mataram dan rakyatnya. Hidangan-hidangan dikeluarkan orang tanpa diminta lagi.
Makin dekat dengan Mataram, makin
banyaklah pengikut Pancapana.Bahkan para panglima tua yang dahulu mengabdi kepada Sang Prabu Sanjaya lalu datang membawa pasukan-pasukan mereka menggabungkan diri
sehingga kini Pangeran Pancapana mempunyai sebuah pasukan besar yang amat kuat, terdiri
tidak kurang dari setengah laksa
orang. Barisan besar ini masih
berkembang lagi ketika dengan cepat
bergerak ke ibu kota Mataram yang masih terkepung oleh pasukan-pasukan Yudasena.
Sudah sembilan bulan lebih barisan-barisan Yudasena
mengepung Dieng di mana
terletak pusat Kerajaan ataram. Mataram
telah kehabisan senapati-senapatinya karena semua orang yang maju menghadapi Yudasena
terpukul kalah oleh Bupati
yang digdaya ini. Akan tetapi
Yudasena masih ragu-ragu untuk menyerang naik ke atas, karena kedudukan
benteng Mataram masih amat
kuat terjaga oleh sisa-sisa barisan
Mataram. Pernah Yudasena mencoba
untuk menyerang naik, akan
tetapi ia dan barisannya disambut dengan anak-anak panah dan batu- batu yang datang melayang dari atas bagaikan hujan lebat sehingga terpaksa mereka turun kembali, mendirikan pesanggrahan di kaki
bukit dan mengepung benteng Mataram.
“Biarkan mereka mati kelaparan, akhirnya tentu menyerah kalah tanpa kita bersusah payah.
Ha ha ha!” kata Yudasena kepada para
senapatinya.
Seluruh penduduk dan kawula
Mataram yang terkepung merasa gelisah. Akan tetapi Sang Prabu
Panamkaran sendiri masih saja enak-enak menghibur diri dengan para selirnya, seakan-akan pengurungan itu tidak mengganggunya sedikitpun juga. Padahal, sebetulnya di dalam
hatinya, ia merasa amat gelisah dan khawatir. akan tetapi, ia merasa yakin bahwa betapapun juga Yudasena takkan membunuhnya, hanya
akan merampas kedudukannya yang sudah
tak diperdulikannya lagi itu. Oleh
karena itu, dalam saat terakhir dari
kejayaaanya, mengapa bersusah
hati? Lebih baik bersenang-senang selagi
masih bisa.
Sang Prabu Panamkara belum tua benar, akan tetapi tubuhnya sangat ringkih dan lemah. Dalam kekuatan penjagaan kerajaan, ia hanya mengandalkan dua
senapati tua yakni Senapati Bandudarma dan Bandupati, dua
orang kakak beradik yang semenjak pemerintah Prabu Sanjaya dahulu telah menjadi senapati
di Mataram. Dua orang
senapati inilah yang dulu membantu Panamkaran untuk menduduki tahta
kerajaan dan mengejar-ngejar Pangeran Pati Pancapana. Bahkan mereka berdua telah menyerahkan puteri-puteri mereka untuk menjadi selir
dari raja itu agar mereka bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi. Memang benar, keduanya kini
telah menjadi panglima tertinggi, juga merangkap patih
dalam.
Berkat pengalaman dan kepandaian kedua orang senapati tua
inilah, maka sampai sedemikian jauh Mataram masih dapat dipertahankan, oleh
Senapati Bandudarma serta adiknya, Bandupati yang juga
mempertahankan benteng daripada
serbuan Yudasena.
Sungguhpun Prabu Panamkara sama
sekali tidak memusingkan pengepungan yang diadakan oleh Yudasena itu,
namun kedua senapatinya ini merasa
amat gelisah. Mereka mengandalkan
kedudukan dan kemuliaan mereka kepada Sang Prabu Panamkara saja. Kalau Mataram dikuasai oleh lain raja, tak mungkin mereka berdua akan dapat mempertahankan kedudukan
dan kemuliaannya. Maka mereka
berlaku nekad dan hendak membela Mataram
dengan mati-matian. Bukan Mataram, bukan
rakyatnya ataupun kedudukan rajanya yang
penting, akan tetapi kedudukan dan pangkat serta kemuliaan mereka
sendirilah yang mereka pertahankan mati-matian! Banyak di antara para prajurit
Mataram yang telah melarikan diri, dan hanya berkat penghamburan uang dan hadiah belaka yang membuat sebagian
besar masih bertahan dan menjaga benteng itu.
Hampir setiap hari terdengar suara seruan-seruan dan tantangan-tantangan dari Yudasena, tantangan-tantangan yang disertai makian-makian pedas.
Akan tetapi pihak Mataram yang
mengakui kelemahan sendiri
dan hanya mengandalkan kedudukan benteng
yang amat kuat, tidak mau dan tidak berani melayani tantangan-tantangan itu. Setelah Senapati Bandudarma roboh
dan digotong dalam keadaan luka-luka, kalah oleh Yudasena yang
digdaya, siapa lagikah yang berani menghadapi bupati itu?
Pada suatu malam gelap gulita, seorang
muda yang bertubuh tegap dan
berwajah tampan bergerak bagaikan
seekor ular, menyelinap di
antara pohon-pohon dan tetumbuhan, berhasil melampaui penjagaan para
barisan pengepung dan kemudian bagaikan seekor
kijang ia berlari cepat sekali
mendaki bukit.
Beberapa orang penjaga di
benteng Mataram ketika melihat berkelabatnya bayangan hitam, lalu menyerang dengan anak panah, akan tetapi dengan
mudah saja pemuda itu menerkam anak panah tadi dengan tangannya sambil berseru
"Perajurit-perajurit Mataram,
jangan salah sangka! Aku
bukanlah musuh dan kedatanganku
membawa berita baik! Bawalah aku menghadap Sang Prabu!"
Pemuda ini bukan lain adalah
Indrayana sendiri. Sebagaimana diketahui, Pancapana
berhasil mengumpulkan perajurit-perajurit yang dibantu oleh
panglima-panglima tua dan akhirnya pangeran
ini sampai di perbatasan Mataram. Ia sengaja berhenti di tempat
yang agak jauh dari pesanggrahan Yudasena dan bala tentaranya, karena sebelum menyerang dan
membebaskan Mataram dari kepungan mereka, para
panglima tua hendak menyampaikan syarat dan tuntutan kepada Sang Prabu Panamkaran
lebih dahulu. Maka ditulislah surat oleh para panglima itu, ditandatangani oleh sebelas orang panglima-panglima tua
dari Mataram. Kemudian, mereka
menemui kesukaran dalam memilih siapa orangnya yang
dapat mengantarkan surat itu kepada Sang Prabu Panamkaran.
Bukit dimana kerajaan itu terletak telah dikurung oleh
barisan musuh, maka bukanlah sebuah
pekerjaan yang mudah untuk menerobos penjagaan rumah itu dan naik ke bukit. Tak seorangpun diantara
mereka, sungguhpun banyak yang
mengajukan diri, dapat dipercaya akan berhasil melakukan tugas
berat ini. Bahkan Surarudira sendiri yang memaksa untuk membawa surat
itu, tidak di perkenankan oleh
Pacapana. Akhirnya Indrayana maju dan tentu saja Pancapana
setuju sekali, karena ia
yakin bahwa adik seperguruannya ini
pasti akan sanggup melakukan pekerjaan itu.
Demikian, dengan gerakan-gerakannya yang
amat gesit, Indrayana bergerak di malam gelap itu akhirnya dapat juga mencapai puncak bukit dan berada di luar benteng. Para penjaga setelah melihat
dengan jelas bahwa pendatang itu
hanya seorang pemuda yang tiada
berkawan, lalu membuka pintu benteng dan memperkenankan Indrayana masuk ke dalam benteng.
Begitu ia melangkah masuk, setengah losin prajurit penjaga meyergapnya.
Empat menangkap kaki tangannya, seorang memeluk pinggangnya dan seorang lagi
memiting lehernya
“Menyerahlah sebagai
tawanan sebelum putus lehermu!“ seorang di antara mereka mengancam.
Bukan main mendongkolnya hati Indrayana menghadapi penyambutan yang tak disangka-sangkanya ini. Ia mengerahkan tenaganya
dan sekali ia menggoyang tubuh
dengan gerakan melempar, enam orang
peyergapnya itu terpelanting ke kanan kiri lalu jatuh bergulingan.
“Kurang ajar!“ bentak Indrayana.
“Aku datang membawa berita pertolongan, akan tetapi kalian menyambut dengan serangan! Butakah mata kalian menyambut dengan serangan? Butakah mata kalian memaksakan dan menganggap aku sebagai musuh,
hayo majulah! Jangan maju seorang dua
orang, kerahkan seluruh barisanmu. Aku, Raden Indrayana takkan
mundur selagkahpun!“
Pada
penjaga terkejut menyaksikan kehebatan sepak
terjang pemuda tampan ini, apalagi
ketika mendengar ucapannya yang gagah, mereka menjadi gentar.
Seorang kepala pasukan yang
telah agak tua usianya lalu
bertanya.
“Anak muda, kau datang pada malam
gelap, tentu saja mencurigakan hati
kami. Sesungguhnya, engkau diutus
oleh siapakah dan ada keperluan apa?“
“Nah, sedikitnya kalian harus bertanya dahulu sebelum turun tangan secara sembrono
dan serampangan!“ Indrayana menegur dengan gemas.
“Maafkan kami, anak muda,“ kata penjaga
kepala itu.
Musuh telah berlalu mendesak, sehingga anak buahku merasa kurang sabar dan gelisah. Sekali lagi,
“siapakah yang mengutusmu naik
ke sini?“
“Buka telinga kalian baik-baik! Aku adalah Raden
Indrayana, utusan dari Pangeran Pancapana!“
Semua prajurit yang mendengar nama ini menjadi pucat
dan memandang dengan mata
terbelalak.
“tak mungkin …… Gusti Pangeran sudah meninggal dunia
ketika masih kecil……“
“Memang demikian sangkaan
orang!“ kata Indrayana.
“Akan tetapi pada saat itu Gusti
Pangeran Pancapana, telah datang bersama para panglima Mataram tua yang
gagah berani, diikuti oleh barisan kawula Mataram yang setia dan yang hampir selaksa orang jumlahnya!“
Tiba-tiba bersoraklah semua
orang mendengar ucapan ini dan
dengan meriah mereka menyambut Indrayana. Ribuan macam pertanyaan dihujankan kepada Indrayana, akan
tetapi pemuda ini berkata.
“Tidak ada gunanya semua pertanyaan itu dijawab. Kelak
kalian akan tahu sendiri. Sekarang lebih
baik bawalah aku ke hadapan Sang Prabu Panamkaran.”
Penjaga kepala yang tua itu menggeleng
kepala.
“Tidak bisa, Raden Indrayana. Tak mungkin menghadap Sang Prabu
pada saat seperti ini. Tak
seorangpun berani mengganggu Gusti
Prabu dari pada tidurnya.“
“Menghadapi keadaan
seperti ini, siapakah orangnya
yang masih mementingkan urusan
tidur?“ Indrayana berseru marah, akan tetapi penjaga itu dengan isyarat tangannya minta agar
supaya pemuda ini bersabar.
“Orang lain boleh bingung dan gelisah sehingga lupa makan
lupa tidur, akan tetapi Sang Prabu tak boleh diganggu kalau sedang berada di kamar beserta semua selir-selirnya!“ Sambil berkata demikian sebelah mata penjaga itu dikejapkan kepada
Indrayana.
Pemuda ini mengigit bibirnya
dengan gemas sekali.
“Pantas saja Mataram menjadi
lemah dan menghadapi keruntuhannya!“
Ia menggumam, kemudian
ia berkata kepada penjaga kepala itu.
“Kalau demikian, biarlah besok pagi-pagi aku menghadap dan sekarang akupun
hendak mengaso dan jangan menggangu
tidurku!“
Penjaga itu lalu membawanya ke
sebuah bilik di tempat penjagaan. Setelah merebahkan dirinya di atas bale-bale, sebentar saja pulaslah Indrayana.
“Apa?“ seru Patih Bandudarma dengan mata melotot memandang wajah
Indrayana penuh kecurigaan.
“Pangeran Pancapana masih
hidup? Tidak bohongkah kau, anak
muda?“
Indrayana menantang pandang mata Bandudarma dengan sinar marah.
“Untuk apa aku membohong kepadamu? Aku datang sebagai utusan Pangeran Pancapana, Putera Mahkota Mataram, juga utusan para senopati sepuh dari Mataram untuk menyampaikan surat kehadapan Sang Prabu Panamkaran. Mengapa aku harus membohong? Untuk apa? Lekas
bawa kau menghadap Sang Prabu!“
Indrayana sudah kehilangan sabarnya karena semenjak ia datang di Mataram, orang selalu mencurigakannya dan menyambut tidak sebagaimana mestinya.
“Serahkan saja surat itu kepada kami. Sebagai patih dalam dan senapati Mataram, kami hendak menerima surat itu mewakili Sang Prabu.“
“Tidak!“ jawab Indrayana tegas.
“Harus tanganku sendiri
yang menyerahkan surat ini
kepada Sang Prabu Panamkaran. Itu
adalah tugasku. Mengapakah kalian
agaknya tidak rela membiarkan aku menghadap Sang Prabu?“
Bandudarma menyeringai.
“Kami masih belum percaya penuh kepadamu, Indrayana. Siapa tahu
kalau-kalau kau adalah seorang pesuruh
dari Yudasena yang datang
untuk membunuh Sang Prabu“
Merahkan muka Indrayana mendengar ini.
“kalau aku benar seorang pesuruh
Yudasena, yang kubunuh bukannya
Sang Prabu, melainkan kalian
berdualah yang semenjak tadi tentu sudah menjadi makanan
kerisku!“
“Bangsat kurang ajar!“ seru Bandupati
marah sekali.
Tanpa memberi peringatan terlebih dahulu, kepalan tangannya melayang ke arah
kepala, Indrayana menangkap lengan lawan yang memukul itu,
membetot, mengayun dan melepaskan dan …… melayanglah tubuh
Bandupati keluar dari pendapat kepatihan itu, jatuh berdebuk di atas tanah.
Indrayana berdiri dengan kedua
kaki terpentang lebar dan kedua
tangan bertolak pinggang.
“Patih Bandudarma!“ bentaknya dengan muka merah dan mata berapai,
“Bukan aku yang kurang ajar, akan
tetapi kau dan adikmu itulah! Kalian sebagai
patih yang sudah tua tentu maklum akan tata susila, maklum bagaimana harus menyambut seorang
utusan raja! Kalian tidak menyambut aku
sebagai mana mestinya, bahkan berani menghina. Hayo, sekarang kau mau membawa aku menghadap Sang
Prabu, ataukah aku akan menghadap
dengan kekerasan?“
Melihat kedigdayaan pemuda
ini, Bandudarma menjadi gentar juga dan cepat ia menghantarkan Indrayana
menghadap Sang Prabu
Panamkaran.
Bandudarma setelah sadar tadi,
lalu mengikuti dari belakang tanpa banyak cakap lagi. Seperti juga kedua orang patihnya, Sang Prabu Panamkaran merasa terkejut sekali mendengar bahwa
pemuda yang tampan itu adalah seorang utusan
dari Pangeran Pati Pancapana. Akan
tetapi ia tidak menyatakan sesuatu dan hanya menerima surat yang di bawa oleh Indrayana dan membaca surat
itu. Kedua tangannya gemetar dan jantungnya berdebar keras ketika ia membaca surat itu, yang ditulis dengan singkat oleh para panglima tua
dari Mataram. Beginilah bunyi surat itu :
Sang Prabu Panamkaran.
Kiranya tak perlu dijelskan lagi
betapa buruk dan lemah keadaan Mataram semenjak
paduka menggantikan kedudukan mendiang
Sang Prabu Sanjaya.
Pengepungan yang dilakukan oleh pemberontak Yudasena tentu akan menamatkan riwayat Mataram apabila tidak segera
dipukul hancur. Kami, sebelas orang panglima-panglima dari
Kerajaan Mataram yang pernah mengabdi dengan setia kepada mendiang
Sang Prabu Sanjaya dan telah ikut pula membauat Mataram menjadi jaya pada masa itu, telah berkumpul dan bertemu dengan Gusti Pangeran Pancapana, putera mahkota yang berhak penuh menduduki singgasana Kerajaan Mataram.
Melihat bahaya mengancam Mataram, kami berpendapat perlu sekali untuk menghancurkan musuh Mataram dengan syarat bahwa setelah pemberontak Yudasena dapat kami
hancurkan, paduka harus mengundurkan diri
dengan baik dan memberikan hak atas
singgasana kepada Gusti Pangeran Pancapana. Kalau paduka menolak, kami
akan membiarkan saja pemberontak
Yudasena merampas kedudukan paduka, kemuliaan kamilah
yang akan merampas pula
singgasana Mataram dari tangan si pemberontak Yudasena.
Semua jawaban dapat dipercayakan kepada Raden Indrayana pembawa surat ini, Tertanda :
Sebelas orang Panglima sepuh
Mataram
Setelah membaca surat itu,
untuk beberapa lama Sang Prabu
berdiam diri, tak kuasa
berkata-kata. Apakah dayanya?
Daripada kerajan jatuh ke dalam tangan Yudasena , lebih baik diserahlan secara baik kepada Pancapana yang berhak dan masih terhitung keponakan sendiri. Dari Pancapana ia
dapat mengharapkan pengampunan dan mungkin kedudukan tinggi
sebagai penasehat dan sebagainya.
Maka setelah berpikir-pikir, ia lalu berkata.
“Raden Indrayana, katakanlah kepada keponakanku, Pangeran Pancapana itu bahwa hatiku merasa amat terharu bahwa dalam keadaan terjepit ini, dia masih mau membantuku mengusir musuh. Aku sendiri tidak mempunyai putera, maka siapa
lagi kalau bukan Pancapana yang
menggantikan kedudukanku? Tentu saja
singgasana akan kuberikan kepada Pancapana, ini sudah emestinya. Nah,
katakanlah kepada para senapati sepuh dan kepada Pangeran Pancapana agar supaya segera menghancurkan Yudasena.
Aku berjanji bahwa setelah ia berhasil mengusir musuh, aku
akan mengundurkan diri dan mengangkat dia sebagai Raja Mataram.“
Giranglah hati Indrayana. Kalau
tadi ia masih bersikap angkuh
terhadap Sang Prabu Panamkaran, kini ia menyembah dengan khidmat,
“Duhai, Sang Prabu, legalah hati hamba mendengar kebijaksanaan paduka ini. Hamba percaya bahwa
tidak saja Gusti Pangeran akan
merasa lega, juga para senopati dan
prajurit Mataram tentu akan memuji keputusan paduka ini.
Sekarang hamba mohon diri untuk menyampaikan warta menggirangkan ini
kepada Gusti Pangeran, harap saja
paduka berhati-hati menjaga serangan-serangan musuh dalam selimut, karena di dalam setiap kerusuhan selalu timbul penghianat-penghianat.“
Dengan kata-kata yang merupakan sindirian bagi kedua patih itu. Indrayana mengundurkan diri dan
kembali kepada Pangeran Pancapana, melalui penjagaan musuh dengan gagah berani.
Berbeda dengan ketika berangkatnya, kini
Indrayana tidak lagi
bersembunyi-sembunyi, bahkan menjagaan pasukan Yudasena
dengan berani, dan berhasil merobohkan dan menewaskan banyak musuh sebelum ia sampai di tempat pasukan
Pangeran Pancapana berkumpul.
Sementara itu ketika kedua patih Bandudarma dan Bandupati mendengar jawaban
Sang Prabu Panamkaran kepada
Indrayana menjadi terkejut
sekali. Mereka mengundurkan diri dan berunding dengan cepat bersama para
pembantu dan perwira lain yang menjadi kaki tangan mereka. Setelah mengadakan perundingan kilat
mereka lalu mengutus seorang perwira
untuk diam-diam mendatangi kubu-kubu pertahanan musuh di bawah bukit, bertemu
dengan Bupati Yudasena. Perwira ini
berhasil bertemu dengan Yudasena dan menyerahkan sepucuk surat yang ditandatangani oleh Bandudarma dan Bandupati.
Yudasena menjadi amat
terkejut dan juga girang setelah membaca
surat itu. Di dalam surat itu, ia diberitahu bahwa sepasukan benar
balatentara yang dipimpin oelh Pangeran Pancapana telah datang hendak membantu dan menghancurkan pasukan Yudasena, dan kedua patih itu menawarkan kerjasama
yang baik. Karena pasukan-pasukan Pangeran Pancapana itu dipimpin oleh
senopati-senopati yang pandai dan
merupakan lawan berat, maka kedua
patih yang menjadi penghianat itu mengusulkan agar supaya Yudasena pura-pura kalah dan melarikan diri, menjaga sedapat mungkin agar jangan sampai pasukan-pasukannya menjadi lelah karena pertempuran itu. Jadi, dengan sengaja barisan-barisan Pangeran Pancapana
itu dibiarkan naik ke atas menduduki Kerajaan
Mataram, kalau sudah tiba di
depan benteng, perajurit yang dipimpin oleh kedua patih itu akan menyerang dari dalam benteng dan pada saat itu, barisan Yudasena
harus segera naik dan
menggempur tentara Pangeran Pancapana yang akan terjepit, digempur dari atas dan dari bawah bukit!
Sebagai penutup surat, kedua
patih itu akan membantu agar
singgasana kerajaan Mataram diserahkan kepada Yudasena, kemudian sebagai
pengganti jasa, kedua patih
itu akan diberi kedudukan tinggi dan
tidak dianggap sebagai musuh!
Yudasena tertawa bergelak denagn girangnya
“Ha, ha, paman Patih Bandudarma dan Bandupati memang benar-benar cerdik
sekali. Baiklah, akau setuju dengan usulnya, dan bawalah balasan surat ini ke
atas bukit!“
Demikianlah persekutuan gelap telah terjalin antara
kedua pengkhianat dan si pemberontak Yudasena itu.
Sementara itu,setelah mendengar penuturan Indrayana, para pengliam tua dan
Pangeran Pancapana menjadi girang sekali. Mereka lalu mengerahkan pasukan-pasukan mereka dan bergeraklah balatentara itu maju menuju ke kubu-kubu
musuh, yakni tentara Yudasena.
Sebelum tentara Pangeran Pancapana sampai di kubu-kubu pertahanannya.
Bupati Yudasena telah mengadakan perundingan dengan para pembantunya dan
semua anggota barisan telah tahu
belaka bahwa dalam menghadapi pasukan penyerbu
dari luar, mereka tidak boleh menyerang
dengan sungguh-sungguh dan
setelah ada komando untuk mundur, mereka harus segera
mengundurkan diri.
Kedua pasukan besar itu berhadapan dan Yudasena sendiri beserta belasan
orang senapatinya menyambut rombongan Pangeran Pancapana yang menunggang kuda.
“Ha-ha!“ Yudasena tertawa
bergelak.
“Aku mendengar bahwa ada orang yang berani mengaku bernama Pangeran Pancapana yang sudah
meninggal dunia. Manakah Pancapana palsu itu?“
Pangeran Panacana mengajukan kudanya
dan membentak,
“Yudasena, pemberontak rendah!
Di waktu kerajaan sedang mengalami kemunduran, kau tidak berusaha membantu dan membangun kembali, bahkan datang melakukan penyerangan. Alangkah rendah
watakmu! Kalau kau
pernah
mengabdi kepada mending rama prabu, tentu kau dapat melihat bahwa aku adalah Pangeran Pancapana yang asli. Tengoklah para
panglima sepuh bekas
senapati-senapati mendiang rama
prabu, adakah mereka ini juga palsu?
Lihat paman Senapati Cakraluyung, paman Kelabangwulung, dan
yang lain-lain. Benar-benarkah kau tidak kenal mereka?“
Diam-diam Yudasena mengakui bahwa pemuda yang tampan ini memang
serupa benar dengan mendiang Prabu
Sanjaya, dan bahwa semua senapati tua itu memang benar jago-jago mataram pada masa Sang Prabu Sanjaya masih memegang tampuk kerajaan. Akan
tetapi ia memang sengaja berpura-pura tidak kenal, untuk menjalankan siasat yang telah diatur bersama-sama
kedua patih Mataram.
Seorang pembantunya, yang
bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, adalah seorang senopati yang amat kuat. Orang ini bernama Limandaka dan bersenjata sebuah
penggada besar yang mengerikan. Limandaka melompat
maju dan berkata,
“Para perampok dari manakah berani datang menggangu kami?
Laki-laki berunding dengan kepalan dan senjata, tidak
seperti perempuan mengandalkan bibirnya. Hayo, aku
menjadi senopati pertama dari barisan Pasisir, siapakah yang berani menghadapiku?“
Melihat sikap orang yang kasar ini, Pancapana lalu memberi tanda
kepala Surarudira untuk maju menghadapi senopati musuh itu. Surarudira menjadi
girang sekali. Ia melompat
turun dari kudanya dan menghampiri si muka hitam yang juga tinggi besar
seperti dia, lalu menuding dengan telunjuknya.
“Eh, muka hitam bermulut lebar! Akulah orangnya yang sanggup mengirim kau kembali ke tempat asalmu, di neraka!“
Marah sekali Limandaka mendengar ucapan ini
“Siapakah kau, siluman brengos bermata jengkol? Katakan dulu namamu sebelum kedua matamu yang hampir keluar itu
betul-betul melompat keluar terkena pukulan
yang keras!“
“Aku tak pernah meninggalkan nama di rumah dan tak pernah
menyembunyikan nama atau
menggantinya. Namaku Surarudira, senopati
Mataram yang tiada taranya. Kau ini prajurit baru yang masih belajar memegang
keris, siapakah namamu yang
rendah?“
“Surarudira, aku pernah mendengar bahwa orang yang bernama Surarudira hanyalah menjadi
tukang membersihkan kandang kuda di Mataram! Ha, ha ha! Dan kau maju
menjadi senopati menghadapi aku Senopati Limandaka yang
sakti? Kau benar-benar sudah rindu
kepada kuburan!“
Surarudira marah sekali. Memang, sebelum
ia menjadi seorang kepala barisan pengawal dari Sang Prabu
Sanjaya dahulu, ia bekerja sebagai pemeliharaan kuda, akan tetapi bukan kuda sembarangan kuda, melainkan kuda kelangenan (kesayangan)
Sang Prabu Sanjaya, yang tidak mau mempercayakan pemeliharaan kuda itu
ke tangan orang lain. Kini mendengar ejekan Limandaka, Sararudira menjadi mata gelap dan menubruk dengan terkam kedua tangannya yang kuat.
Limandaka tidak mau membiarkan dirinya diterkam
bagaikan seekor kelinci diterkam harimau, ia mengangkat kedua
tangannya dan menangkis pukulan
Surarudira.
“Buk!“ ketika kedua lengan orang
tinggi besar itu saling beradu, keduanya terhuyung ke belakang beberapa
tindak. Ternyata tenaga mereka sama kuatnya.
“Jahanam, rasakan tendangan mautku!“ seru Limandaka sambil mengayun kaki kanan yang sebesar kaki
gajah, menyambar ke arah wajah
Surarudira yang gendut, Surarudira
hendak mengelak, akan tetapi
tendangan itu merupakan keistimewaan dari kepandaian Limanaka, dan
bukan seperti tendangan biasa yang mudah dielakkan. Tendangan
itu dapat mengikuti gerakan yang mengelak, sehingga ketika
tubuh Surarudira mengelak ke kiri, secepat angin kaki yang besar itu ikut membelok pula, dan masih dapat menendang paha Surarudira sehingga mencelat
empat dapa lebih. Namun, Surarudira adalah
seorang yang kebal dan kulitnya lebih tebal daripada kulit seekor badak. Biarpun tendangan keras itu membuat tubuhnya mencelat
dan membuat daging pahanya merasa sakit, njarem (pegel-pegel) dan
ketika ia maju, kakinya agak
terpincang-pincang, namun tidak
mengurangi semangatnya bertempur. Ia mendengus lalu
membentak.
“Keparat, rasakan pembalasanku!“
Ia Ia menubruk dengan kedua tangan
dipentang bagaikan seekor harimau menerkam.
Limandaka menyambutnya dengan
tangan terpentang pula sehingga keduanya
lalu saling terkam dan saling piting,
akan tetapi keistmewaan Surarudira adalah
main gulat. Dengan beberapa gerakan yang amat cerdik ia berhasil memeting
leher lawannya dan membekuk tubuhnya
sehingga tubuh Limandaka ditekuk
ke belakang, lehernya berada dalam kempitan ketiak Surarudira. Ia meronta-ronta, akan
tetapi tak dapat melepaskan diri.
Sebaliknya, sungguhpun tak dapat mengirim pukulan, karena
kedua tangannya tak bebas. Sedikit saja ia mengendurkan kempitannya, lawannya yang sama
kuatnya itu tentu akan dapat
melepaskan diri. Terdengar suara, “ ah, uh, ah, uh, ! “ dan dengus
dari hidung dan mulut mereka ketika keduanya
mengerahkan tenaga, yang satu hendak mematahkan batang leher lawan, yang lain hendak
melepaskan diri. Bukan main ramainya pergulatan itu. Akhirnya, karena
payah menahan usaha Limandaka yang hendak melepaskan diri, Surarudira lalu mengangkat tubuh lawannya dan membantingnya sekuat
tenaga.
“Blek!!“ Debu mengepul tinggi ketika tubuh Limandaka yang besar itu menimpa tanah dan bergulingan sampai enam kali. Kalau tadi ketika
Surarudira kena tendang, barisan Pesisir bersorak-sorai, kini
barisan Pangeran Pancapana bertepuk tangan
dengan riang melihat Surarudira dapat membanting lawannya. Akan
tetapi, ternyata bahwa Limandaka juga kebal dan kuat
sekali tubuhnya. Bantingan yang cukup kuat itu hanya membuatnya
nanar sejenak sehingga tanah yang dipijaknya serasa terputar-putar. Akan tetapi segera ia memeramkan mata dan menenangkan pikirannya dan tak lama kemudian, ia
telah mengeluarkan senjata yang mengerikan, yakni penggada yang
besarnya bukan main itu.
Melihat lawannya mengeluarkan senjata,
Surarudira tidak mau kalah dan
dicabutnyalah klewangnya yang tajam
dan lebar berkilau terkena sinar matahari. Dan kini keduanya saling serang dengan senjata, jauh lebih hebat dan menegangkan daripada
tadi. Barisan kedua belah pihak bersorak-sorai memberi tambahan semangat
kepada jago masing-masing.
Sementara itu, beberapa orang senopati barisan Pesisir
maju pula dan disambut oleh
para senopati sepuh dari Mataram. Akan tetapi Indrayana mendahului para panglima tua itu
dan pemuda yang gagah perkasa ini
lalu mengamuk bagaikan seekor banteng terluka. Tiap lawan
yang terkena pukulannya, roboh tak dapat bengun pula.
Melihat kehebatan pemuda ini
Yudasena marah sekali dan ia sendiri maju ke medan pertempuran, setelah
memberi tanda para barisan untuk maju menyerbu. Maka menyerbulah kedua barisan itu dan perang di mulai dengan gemuruh dan hebatnya. Yudasena sendiri
yang menyergap Indrayana segera ditandingi oleh Pangeran Pancapana sendiri,
Yudasena memang hanya hendak perang secara pura-pura saja untuk kemudian melarikan diri sebagaimana yang
telah direncanakan akan tetapi sebagai
seorang panglima, hatinya
belum merasa puas kalau belum mencoba
sampai di mana kedisdayaan lawan.
Ia telah mendengar akan kedigdayaan para
senopati sepuh dari Mataram, sehingga
ia merasa gentar juga menghadapi mereka, akan tetapi melihat Pangeran
Pancapana dan Indrayana yang masih muda belia, tentu saja ia
merasa penasaran kalau harus mundur
tanpa mencoba dulu kepandaian mereka.
Yudasena, bupati yang memberontak terhadap Mataram
dan yang memimpin selaksa orang prajurit Pesisir untuk
mengepung Mataram, adalah seorang yang mempunyai aji
kesaktian di tangan kanannya yang
disebut Asta Dahana (Tangan Api).
Jarang sekali ada lawan yang sanggup menerima pukulan
tangannya ini, ampuhnya melebihi
tusukan senjata runcing atau babatan senjata
tajam.
Ketika perang tanding antara pasukan Pesisir melawan pasukan Mataram berlangsung. Yudasena ikut
menyerbu dan ia disambut oleh Pangeran sendiri, karena
Indrayana sedang sibuk mengamuk dan melayani fihak musuh.
Dengan seruan keras yang
terdengar seperti seekor macam mengaum, Yudasena
melompat dan mengirim pukulan
tangan kanannya yang ampuh
kepada Pangeran Pancapana. Melihat
betapa pukulan itu didahului dengan sinar kemerahan berkilat
dan juga terasa panas menyambar, maklumlah pemuda itu bahwa tangan lawannya ini ampuh dan mengandung hawa
sakti.
Cepat dan lincah sekali Pangeran Pancapana mengelak ke kiri dan
tangan kirinya menyambar ke arah
sambungan siku tangan lawan dengan
maksud untuk mengetok sambungan siku
itu agar terputus atau terlepas.
Akan tetapi Yudasena adalah seorang perwira yang selain
gagah perkasa, juga telah banyak
sekali pengalamannya dalam perkelahian, maka tentu saja tak mudah dirobohkan
dengan segebrakan saja. Sebelum tangan Pancapana berhasil menghantam sikunya,
lebih dulu ia telah menarik lengan
kanannya dan sebuah tendangan keras ia layangkan ke arah perut pangeran itu.
Kembali Pancapana dapat menghindarkan diri dengan sebuah tangkisan
tangan kanannya. Ramailah
mereka bertempur, kuat sama
kuat, ketangkasan di lawan dengan
kesigapan. Untuk menandingi Aji Kesaktian Asta Dahana dari lawannya, Pancapana juga mengerahkan aji kesaktian yang
disebut tangan Kilat (Asta Braja)
juga berada di tangan kanannya.
Yudasena cukup wasapada dan
tahu pula bahwa tangan kanan pemuda itu ampuh sekali dan mengandung kekuatan
yang berbahaya, maka seperti juga Pancapana, ia selalu mengelak pukulan tangan
Pancapana, tidak berani untuk mencoba menerima
pukulan itu. Keduanya
memiliki kekuatan dan kekebalan, dan pukulan tangan
kiri lawan diterimanya dengan senyum
di bibir, akan tetapi pukulan tangan
kanan selalu dielakkan atau
ditangkis.
Yudasena diam-diam terkejut juga menyaksikan kedigdayaan pemuda
yang mencalonkan diri menjadi Raja Mataram itu. Lebih-lebih kaget
dan herannya ketika ia memukul dengan tangan kananya sambil menggerakkan tenaga,
Pancapana menyambut pukulan
itu dengan pukulan tangan
pula.
“Duk!!“ Dua tangan raksasa yang didorong oleh aji kesaktian yang
amat ampuh bertumbuk melalui dua kepalan tangan itu. Tubuh keduanya tergoncang karenanya
dan terhuyun-huyun mundur lima
langkah. Yudasena benar-benar merasa kagum dan juga penasaran
mengapa lawannya yan masih muda itu sanggup menerima pukulannya dengan pukulan pula, bahkan dari pukulan pemuda itu ia maklum bahwa ilmu tenaga lawannya tidak kalah hebatnya. Menurut
rasa penasaran di hatinya, ia ingin mencabut senjatanya, akan
tetapi ia teringat akan siasat yang
telah diaturnya, maka ia berpikir bahwa belum tiba saatnya untuk mengadu jiwa.
“Bagus, kepandaianmu tidak buruk!“ serunya sambil
melompat mundur, lalu ia memberi aba-aba kepada anak buanya untuk mengundurkan diri.
Para prajurit Pasisir
yang telah maklum bahwa telah direncanakan sejak semula untuk penarikan
mundur ini, dengan serentak meninggalkan gelanggang perang melarikan diri.
Pancapana dan Indrayana saling pandang sambil tersenyum puas.
Mereka merasa bangga dan menganggap bahwa
musuh terlampau lemah dan pengecut sehingga
belum lagi pertempuran itu
sampai di puncaknya, musuh telah
mengundurkan diri. Kalau saja di situ
tidak terdapat banyak senopati sepuh
yang telah banyak makan asam garam peperangan
dan pengalaman pertempuran, tentu
kedua orang muda ini terkena tipu
muslihat yang dijadikan siasat oleh Yudasena.
“Gusti Pangeran,“ kata senopati Cakraluyung yang sudah tua dan berpengalaman,
“gerakan Yudasena ini
benar-benar amat mencurigakan. Penarikan mundur barisannya yang belum mengalami kehancuran itu lebih menyerupai siasat peperangan daripada kekalahan yang sewajarnya. Hamba tahu sampai di mana kekuatan barisan Yudasena
dan kiranya takkan semudah ini mereka dapat dipukul mundur.“
“Habis, bagaimana baiknya,
paman Cakraluyung?“ tanya Pangeran Pancapana.
“Kita masih belum tahu siasat
apakah yang mereka jalankan,“ jawab senopati
tua itu,
“maka kita harus berlaku waspada.
Juga kita harus berlaku cerdik
dan berbuat seakan-akan kita belum
mempunyai kecurigaan terhadap
mereka. Oleh karena itu,
harap paduka membawa sebagian pasukan
menyerbu terus ke atas dan
masuk ke dalam benteng Mataram. Adapun
hamba bersama sebagian pasukan
pula bersembunyi di belakang dan melihat apakah yang sesungguhnya menjadi siasat Yudasena. Kalau kiranya hamba
menduga salah dan mereka akan membawa betul-betul kalah dan mundur, hamba
akan membawa pasukan menyusul
ke atas bukit.“
Pangeran Pancapana menyetujui rencana
ini, maka ia lalu membawa barisannya terus mendaki bukit yang kini tak terkepung
oleh musuh lagi itu.
Sebagaimana telah di rencanakan oleh Yudasena dan
kedua Patih Mataram yang berkhianat,
ketika melihat barisan Pangeran
Pancapana naik ke bukit,
kedua Patih Bandudarma dan Bandupati itu lalu mengerahkan barisan
untuk menyambut kedatangan Pangeran
itu dengan serangan tiba-tiba. Sang Prabu Panamkara terkejut
melihat persiapan ini dan ia menegur kedua orang patihnya, akan tetapi kedua orang patih yang
berkhianat itu bahkan memerintahkan kaki tangannya untuk menangkap Sang
Prabu Panamkaran dan dimasukkan ke dalam tahanan. Sementara itu, setelah barisan Pangeran Pancapana tiba di luar tembok benteng,
tiba-tiba pintu benteng itu
terbuka dan dari dalam benteng menyerbulah tentara Mataram
dibarengi dengan hujan anak panah
dari atas tembok benteng yang
menyerang pasukan-pasukan Pangeran
Pancapana. Pancapana dan
Indrayana terkejut sekali melihat sambutan ini.
“Dimas Indrayana, Bagaimana ini? Bukankah paman Prabu sudah berjanji akan
menerimaku dengan baik?“
“Entahlah, kangmas Pancapana. Aku sendiripun amat heran. Benar-benarkah seorang ratu menjilat ludah sendiri yang
sudah keluar dari mulutnya?“
Tiba-tiba terdengar sorakan hebat dan dari bawah menyerbulah barisan
Yudasena yang tadi
mengundurkan diri. Bukan main
sibuknya barisan Pancapana yang diserang dari
atas dan bawah ini.
“Kangmas Pancapana, biarlah aku masuk dulu ke dalam benteng dan mematahkan batang leher raja curang itu“
“Nanti dulu, dimas, jangan kau
binggung dan khawatir. Baiknya
siasat curang ini telah diduga oleh paman Senopati Cakraluyung, kalau tidak celakalah barisan kita. Mari kita menyerbu dan merampas benteng. Pasukan Yudasena biarkan
saja naik tentu akan diserang oleh
paman Cakraluyung dari belakang.“
Pangeran Pancapana lalu
memberi aba-aba kepada pasukannya untuk menyerbu terus
ke dalam benteng. Banyak korabn
jatuh bertumpuk di pihak pasukan
penyerbu, akan tetapi berkat kegagahan
Pancapana dan Indrayana yang memberi contoh menyerbu paling
depan, pasukan itu besar sekali
semangatnya dan terus menyerbu sehingga pintu benteng dapat dibobolkan pertahanannya.
Sementara itu, sorakan yang
tadi dikeluarkan oleh pasukan-pasukan Yudasena
ketika mengejar naik untuk
menggunting barisan Pancapana, tiba-tiba menjadi sirep
dan terganti oleh teriakan-teriakan kaget
ketika tiba-tiba dari kanan kiri dan
belakang keluar pasukan-pasukan Cakraluyung menyerbu mereka.
Yudasena terkejut sekali dan dalam kegugupannya, ia tak dapat memberi komando
yang tepat sehingga barisannya berperang secara liar. Banyak sekali
korban tewas dalam pertempuran dahsyat ini, perang campur menjadi satu sehingga sukar dibedakan mana
kawan mana lawan. Yudasena dengan
marah sekali lalu menyerbu dan
akhirnya ia bertanding melawan
Senopati Cakraluyung sendiri.
“Bangsat tua!“ Yudasena memaki.
“Rupanya kaulah yang mengalahkan siasatku!“
“Pemberontak hina dina! Dewata selalu melindungi orang yang benar mengutuk yang sesat!“ jawab Cakraluyung yang menangkis serangan tombak di
tangan Yudasena dengan perisainya, kemudian
membalas serangan lawan dengan pedangnya.
Pertempuran hebat dan mati-matian terjadi.
Sungguhpun dalam siasat perang
Cakraluyung tak usah kalah oleh
Yudasena dan juga dalam ilmu
pertempuran senopati tua ini amat pandai, namun ia telah tua sekali dan tenaganya sudah banyak berkurang. Apalagi
tombak di tangan Yudasena selain merupakan tombak pusaka yang ampuh, juga dimainkan secara luar biasa cepat dan kuatnya, setelah melawan mati-matian akhirnya, Senopati Cakraluyung roboh dengan dada terluka oleh
tombak.
“Ha-ha-ha Cakraluyung! Ternyata kau
tidak dilindungi oleh Dewata, maka
tentu kau yang sesat dan aku yang
benar!“ Yudasena mengejek, lalu mengamuk dengan tombaknya sehingga barisan
Mataram yang sudah kehilangan pemimpinnya ini sekarang menjadi kacau-balau dan kalau dilanjutkan pertempuran itu, tentu mereka akan terpukul hancur.
Akan tetapi, pada saat itu pihak barisan Yudasena
menjadi kacau dan
prajurit-prajurit barisan ini lari
ke kanan kiri, yang kurang cepat larinya terlempar ke kanan kiri bagaikan rumput kering saja. Terdegar pekik kesakitan susul menyusul. Ternyata bahwa yang datang mengamuk itu adalah Indrayana ! Para prajurit Mataram ketika
melihat pemuda yang gagah perwira ini, timbul lagi semangat mereka dan kembali peperangan dimulai
dengan lebih hebat. Yudasena ketika
mengetahui bahwa yang mengamuk itu Indrayana, segera memburu dengan tombak di tangan.
Pada saat itu, Indrayana tengah berlutut di dekat tubuh senopati Cakraluyung yang mandi darah dan sudah tak berdaya lagi. Ketika Indrayana memangkunya, senopati sepu ini
hanya bisa berbisik perlahan.
“Raden Indrayana …… sampaikan pesanku kepada Gusti
Pangeran …… pandai dan bijaksanalah ia memerintah Mataram …… melindungi dan memimpin rakyat jelata
…… semoga Mataram dapat di bangun kembali, makmur dan jaya sebagaimana dahulu …… “ Maka meninggallah pahlawan
tua ini di dalam pelukan Indrayana.
Ketika Yudasena datang menyerbu denagn tombaknya, Indrayana memandang kepada bupati ini dengan mata merah karena marahnya. Ia meletakkan tubuh Cakraluyung di
atas rumput, mencabut kerisnya dan melompat ke depan menyambut kedatangan Yudasena.
Tanpa banyak cakap Indrayana menyerang dengan kerisnya dan Yudasena pun tak
mau mengalah begitu saja. Tombaknya diputar-putar dan bagaikan seekor
ular hidup, tombak itu meluncur mendatangkan
angin dan menghujani tubuh
Indrayana dengan serangan-serangan kilat. Kalau melihat keadaan
senjata mereka, sungguh
berat sebelah, senjata di tangan Yudasena adalah sebatang tombak panjang sedangkan Indrayana adalah sebilah keris yang pendek. Akan tetapi, Indrayana memiliki kecepatan gerakan yang luar
biasa sekali sehingga Yudasena tidak mempunyai banyak kesempatan untuk
mempergunakan tombaknya. Tubuh pemuda itu berkelebat menyambar-nyambar bagaikan seekor burung serikatan, membuat
Yudasena merasa terkejut sekali dan kepalanya pening.
“Yudasena, kau harus membayar dengan
nyawamu untuk tewasnya Paman Cakraluyung!“ Indrayana membentak dan sebuah tusukan kilat
denagn kerisnya membuat Yudasena terhuyung mundur, tangan kiri
mendekap luka di dada yang tertembus keris, sedangkan tangan kananya mengangkat tombak ini cepat sekali datangnya dan Indrayana tidak
terburu mengelak lagi. Pemuda yang
gagah ini lalu mengibas dengan
tangan kirinya sehingga tombak itu
dapat tertangkis dan meluncur ke samping. Terdengar pekik
ketika tombak itu menembus punggung seorang
prajurit yang sedang
bertempur.
No comments:
Post a Comment