Akan tetapi Indrayana tidak mau mendengar ancaman
ini dan melanjutkan perjalanannya.
Ia mengusap pipi patung itu dan
berkata perlahan,
“Manisku Pramodawardani, jangankan
baru orang-orang kasar itu saja
hendak merampasmu, biar Dewa
sekalipun takkan dapat mengambil engkau dariku semudah itu.“
Dalam pandangannya, bibir patung itu seakan-akan tersenyum
manis, maka dengan mesra Indrayana lalu
menciumnya. Baru sadarlah ia ketika hidung dan bibirnya bertemu
dengan batu yang dingin dan kasar. Ia menarik napas panjang lalu
berlari cepat menuju ke Gunung
Muria.
Ia telah memasuki wilayah
Mataram ketika seorang pertapa tua menghadang di tengah perjalanannya. Tadinya
Indrayana tidak memperhatikan, akan tetapi ketika kakek yang berdiri di tengah jalan itu mengangkat tangan kanannya, ia memandang dan
alangkah herannya bahwa kakek itu
bukan lain adalah Panembahan Bayumurti pertapa
yang mengganggu pembukaan Candi
Lokesywara dengan persembahannya patung Dewi Tara yang kini dipondong oleh Indrayana, lalu berkata tersenyum,
“Ha, hendak kau bawa kemanakah patung Dewi Tara itu?“
Merahlah muka Indrayana kalau
pertapa yang sakti ini tahu akan
semua pengalamannya, tentu ia tahu pula bahwa ia telah gandrung-gandrung dan tergila-gila kepada patung yang dianggapnya
Sang Ayu Pramodawardani itu.
“Ini bukan patung Dewi Tara……
patung…… patung…… “ dengan ucapan gagap ini Indrayana lalu
mengangkat patung itu dan
memandangnya.
Tiba-tiba matanya terbelalak dan tak terasa patung itu terhempas dari tangannya, jatuh ke atas tanah dan patah lehernya, ternyata muka patung itu tidak menyerupai wajah Pramodadawardani lagi, akan tetapi menyerupai wajah Dewi Tara sebagaimana yang sering dibuatkan patungnya oleh para ahli seni pahat.
“Ha, ha !“ Panebahan Bayumurti
tertawa.
“Pandangan mata memang hanya tipuan dan palsu belaka, Indrayana. Engkau hendak pergi ke tempat pertapaan enyangmu, Begawan
Ekalaya, bukan ? Cepat, mari engkau
ikut aku ke pondokku. Lekas,
betulkan di sana. Tidak ada waktu
lagi anak muda, cepat !“
Ajakan ini sedemikian berpengaruh sehingga Indraana tak kuat menahan kehendak sendiri. Ia
membungkuk, mengambil patung yang telah patah lehernya itu, lalu berjalan mengiringkan pendeta
yang sakti itu menuju ke sebuah hutan kecil.
Kedatangan mereka disambut oleh
sepasang anak muda elok sekali. Yang seorang adalah seorang pemuda
sebaya dengan Indrayana, cakap,
tampan, dan gagah sekali. Sepasang
matanya amat berpengaruh dan tajam dan dari bentuk mukanya dapat
diduga bahwa pemuda ini bukanlah orang
sembarangan, melainkan keturunan bagsawan tinggi. Pakaiannya berbeda
dengan pakaian pemuda biasa,
bahkan pada tangannya tampak gelang
ukiran dari pada emas. Begitu bertemu pandang, Indrayana menjadi kagum dan
juga timbul rasa hormat dan sukanya kepada
pemuda itu, dan diam-diam ada juga
sedikit perasaan iri, karena dalam
hal kecakapan dan kegagahan, pemuda ini benar-benar merupakan saingan
berat.
Ketika ia melirik kepada orang kedua, kembali ia tertegun. Orang kedua adalah seorang dara yang usianya paling banyak enam belas tahun. Berbeda dengan pemuda itu, dara ini pakaiannya sederhana
sekali, akan tetapi justru kesederhanaan pakaiannya ini makin
menonjolkan kecantikannya yang asli dan murni. Seorang juwita yang jarang ada duanya, terutama mulut yang selalu tersenyum manis dan sepasang mata yang bening kocak itu.
Bagaimana di dalam hutan kecil, di pondok reyot dari panembahan ini terdapat dua orang manusia yang
cakap seperti Dewa Komajaya dan cantik seperti Dewi Komaratih ini?
Panembahan Bayumurti memperkenalkan kedua orang muda itu kepada Indrayana dengan amat terburu-buru dan sederhana.
“Ini adalah muridku bernama
Raden Pancapana, dan ini
adalah anak tunggalku bernama Candra Dewi. Duduklah, Indrayana, duduklah. Dan kalian
juga, Raden dan Dewi. Kalian bertiga dengarlah pesanku
terakhir.“
Sungguhpun Indrayana dapat
melihat kekejutan yang tiba-tiba
menyerang dara itu dan juga
Raden Pancapana, namun keduanya dapat menenangkan perasaan dan duduk
dengan tenang. Hal ini amat
mengagumkan hatinya, karena ternyata bahwa kedua orang muda itu telah mempunyai cukup tenaga batin untuk menekan segala perasaan hatinya.
“Indrayana, dengarlah. Ayahmu dan aku adalah sahabat
karib ketika ayahmu belum menyeberang
ke Syailendra dulu. Kami
berdua sefaham, senasib sependeritaan, bahkan bertapapun di dalam
satu gua. Akhirnya ayahmu
mendapat kurnia dari Hyang Agung
sehingga pandai membuat senajata, sedangkan aku hanya
mendapat kurnia sebagai seorang pembuat patung saja. Seperti kau
lihat sendiri, maksud baikku untuk
mempersembahkan sebuah patung ternyata diterima dengan salah pengertian oleh Maha Raja Samaratungga. Hal itu tidak
apa, karena Sang Prabu itu masih mempunyai alasan
yang mengandung kebijaksanaan. Akan
tetapi Maha Wiku Dharmamulya telah
mempergunakan kesempatan itu untuk memperlihatkan dendam dan bencinya kepada kami orang-orang Mataram dan kepada kepercayaan dan agama kami. Ayahmu telah membuktikan kebijaksanaannya dan berusaha menolongku, maka sekarang, akupun harus membalas budinya
itu. Ia berada dalam bahaya.“
Indrayana terkejut sekali,
“Dalam bahaya? Siapakah yang mengganggu ayah?” tanyanya kurang percaya.
“Siapa lagi kalau bukan Maha Wiku
Dharmamulya yang meminjam kekuasaan Maha Raja Samaratungga. Bahkan
kau sendiripun dan aku juga takkan
mudah melepaskan diri dari jangkauan tangan Maha Wiku yang panjang dan penuh dendam, Indrayana.“
Pada saat Indrayana hendak bertanya, tiba-tiba terdengar suara orang dan derap kaki banyak sekali
kuda menuju ke dalam hutan itu dan Panembahan
Bayumurti berkata,
“Indrayana, kalau kau mau belajar seni pahat dan ukir pada murid dan
puteriku, kau akan dapat membuat patung orang yang kau kasihi, akan tetapi kau harus berjanji mau mengajak murid dan puteriku menuju
ke Gunung Muria dan menghadapkan mereka
kepada eyangmu agar mendapatkan bimbingan. Yang datang itu adalah orang-orang Syailendra, biarlah aku yang menghadapi mereka. Kalian bertiga berangkatlah sekarang juga ke
Muria!“
“Rama panembahan…… “ dara jelita itu berseru sambil memandang kepada ayahnya.
Jidatnya yang bagus itu berkerut dan
matanya memandang ragu. Panembahan Bayumurti menghampiri putrinya
dan mengelus-elus rambut
anaknya yang hitam, halus dan
panjang itu.
“Dewi, bocah ayu jangan gelisah. Kau pergilah dan ikut kedua orang pemuda ini. Pasti akan selamat“
“Rama panembahan, aku lebih suka mati disampingmu daripada
hidup jauh dari padamu, rama…..“
Derap kaki kuda telah tiba di
luar pondok dan di antara suara pikuk itu terdengar suara ketawa Panembahan Bayumurti yang nyaring ketika ia mendengar ucapan
puterinya itu.
“Anakku yang manis, anakku yang
denaok! Siapa mau kau mati di sampingku? Kita takkan mati nak, sebelum Hyang Yamadipati mengulurkan tangannya. Jangan rewel, engkau pergilah! Raden
Pancapana, tolonglah kau jaga adikmu Si Dewi yang nakal. Nah,
kalian bertiga, berangkatlah dari
pintu belakang. Tidak ada waktu
lagi!“
Setengah ditarik lengannya oleh Raden Pancapana, Candra Dewi berjalan ke luar dari pintu belakang, sebentar-sebentar menengok memandang ayahnya,
diikuti Indrayana dari belakang. Patung yang patah lehernya itu
ditinggalkan di dalam pondok. Setelah
sekarang tidak menyerupai Pramodawardani, tak perlu ia bawa-bawa sepanjang jalan.
“Bayumurti dan Indrayana, menyerahlah sebelum
kami menggunakan kekerasan!“
terdengar Maha Wiku Dharmamulya di
luar pondok.
Ternyata bahwa Maha Wiku itu datang sendiri memimpin pengejaran dan bersama dia ikut
pula seorang pertapa berjubah
kuning yang berkepala gundul
dan bertubuh tinggi besar bagaikan seorang
raksasa. Memang dia ini
bukanlah seorang Jawa, akan tetapi adalah seorang pendeta
Buddha yang datang dari tanah Hindu dan bernama Wisananda. Pendeta Wisananda ini baru beberapa bulan
berada di Kerajaan Syailendra dan ternyata bahwa selain dia pandai sekali dalam hal pelajaran Agama
Buddha, juga memiliki kesaktian yang tinggi dan memiliki pula
ilnmu sihir dan gaib yang mengagumkan orang.
Maha Wiku Dharmamulya segera
menghubungi dan mendekatinya, sehingga sebelum
pendeta dari tanah Hindu itu
kenal dengan orang lain, telah menjadi sahabat
dan pembantunya yang amat
setia.
Mendengar seruan Maha Wiku Dharmamulya, Panembahan Bayumurti lalu keluar
dari pondoknya sambil membawa arca
Dewi Tara yang patah lehernyanya itu.
Ia tersenyum menghadapi Maha Wiku Dharmamulya lalu berkata,
“Dharmamulya, engkau datang mau apakah? Apakah engkau hendak mengambil patung ini? Akan tetapi harus kubikin betul dulu, karena lehernya patah!“
Sambil berkata demikian, kedua tanagn pendeta ini bergerak memasang kepala
patung yang patah itu pada lehernya, memencet-mencet dan mengelus-elus sebentar dan…… patung
itu telah menjadi lebih baik kembali. Panembahan Bayumurti
lalu meletakkan patung itu di
atas tanah dan berkata,
“Nah, sekarang sudah baik kembali, kalau hendak kau bawa, bawalah!“
Terdengar seruan kagum,
“Ahli patung yang luar biasa!“
Biarpun seruan itu di ucapkan dalam Bahasa Hindu, namun Panembahan Bayumurti
yang sudah kenyang mempelajari kitab-kitab Weda, tentu saja dapat
mengerti, maka ia tersenyum sambil memandang kepada orang yang mengeluarkan
seruan memuji itu. Ternyata bahwa
yang memuji itu adalah Wisananda, pendeta Buddha
dari Hindu itu yang merangkap kedua
tangan memberi penghormatan kepada Bayumurti. Di negerinya, ahli
pembuat patung amat dihormati, baik oleh pendeta pemeluk Agama Hindu
kuno maupun oleh pendeta-pendeta Budha
dan dianggap sebagai seorang
ayang amat tinggi kedudukannya, sejajar dengan para pendeta tinggi dan amat dihormati.
Akan tetapi pada saat itu, Maha
Wiku Dharmamulya melihat berkelebatnya tiga bayangan orang-orang muda
melarikan diri dari pintu pondok
sebelah belakang.
“Nah, itu dia si pemberontak Indarayana! tangkap!“
Beberapa orang perwira segera
menyerbu dan berusaha menangkap Indrayana, akan
tetapi belum sempat mereka menjatuhkan tangan, Indrayana telah mendahului mereka
dengan gerakan kaki tangannya sehingga
tiga orang perwira yang
menyerang di muka bergulingan
mengaduh-aduh. Para perwira dan tamtama segera mengepung dan
menyerang bagaikan semut, akan tetapi kini bukan hanya
Indrayana yang menyambut mereka,
juga Raden Pancapana membantu Indrayana menghadapi para pengeroyok itu.
Melihat sepak terjang Raden Pancapana yang sekali bergerak saja
sudah menjatuhkan lima orang
pengeroyok, terkejut dan kagumlah Indrayana. Tidak saja dalam ketampanan dan
kegagahan, juga dalam ilmu kepandaian dan kedigdayaan. Ksatria ini ternyata tidak berada di sebelah bawah tingkahnya. Ia makin gembira dan
bersama Raden Pancapana lalu mengamuk. Para pengeroyok dianggap tumpukan rumput kering saja. Sekali dorong roboh
bergulingan, sekali tendang cerai
berai dan simpang siur. Candra Dewi
hanya berdiri menonton dan sepasang matanya yang indah itu bersinar gembira memandang kagum kepada Indrayana tanpa
diketahui oleh yang dipandangnya.
Melihat sepak terjang kedua
orang yang dahsyat itu, Maha Wiku
Dharmamulya maklum bahwa
orang-orangnya takkan dapat berhasil untuk menangkap Indrayana, maka ia
lalu berkata kepada Pendeta Wisananda.
“Saudara Wisananda, harap kau
suka mengulurkan tangan membantu kami dan menangkap pemuda itu!“ Ia menuding ke arah Indrayana.
“Dia adalah seorang pemuda yang telah menghina Sang Prabu dan berani menghina Candi Lokesywara yang kita bangun.“
Panembahan Bayumurti memandang tajam dan alangkah terkejutnya ketika ia
melihat tubuh pendeta Hindu itu berkelebat dan tahu-tahu Pendeta Wisananda telah berdiri menghadang perjalanan Indrayana, Raden Pancapana, dan Candra dewi. Di tangannya
terdapat sebatang tongkat panjang
yang entah dari mana diambilnya.
Melihat gerakan pendeta asing ini, Indrayana dan Raden Pancapana terkejut
dan maklum bahwa mereka berhadapan dengan
seorang pendeta berilmu
tinggi, maka kedua orang muda
itu lalu mencabut keris pusaka
masing-masing dan menyerbu ke depan. Akan tetapi, sambil tertawa Wisananda mengerakkan tongkatnya menangkis dan sekaligus kedua keris pemuda- pemuda itu beradu
dengan tongkatnya yang ampuh.
Indrayana dan kawannya terkejut
sekali ketika merasa betapa telapak tangan
mereka perih dan panas sekali. Sebelum mereka hilang kagetnya, tiba-tiba tangan kiri Wisananda menyambar dan sehelai tambang berwarna
biru meluncur dari tangan kiri itu
ke arah Indrayana. Pemuda ini mencoba untuk menangkis, akan tetapi begitu lengan kanannya bertemu dengan
tambang, tahu-tahu tambang itu terus melibat bagaikan
ekor ular dan sebentar luar
biasa itu. Indrayana mengerahkan tenaga
dan kesaktiannya, akan tetapi ia tak
berdaya. Tambang itu terlalu kuat dan mempunyai daya yang mujizat sehingga makin keras
ia memberontak. Makin erat pula
ikatan pada tubuhnya.
Raden Pancapana hendak menolongnya, akan tetapi tongkat Wisananda terputar cepat dan mencegahnya mendekati
tubuh Indrayana yang telah
terikat erat dan tidak berdaya itu sehingga Pancapana terpaksa mundur lagi sambil menangkis dan mengelak dari serangan tongkat yang
amat cepat dan berbahaya itu.
Tiba-tiba nampak bayangan yang
amat cepat berkelebat dan terdengar bentakan.
“Wisananda! Jangan engkau
menghina anak muda. Kalau engkau
mempunyai kepandaian, lawanlah, aku, sama tua!“
Ternyata bahwa Panembahan Bayumurti telah melompat dan kini dengan sekali renggut
saja ia telah melepaskan tambang yang mengikat tubuh Indrayana.
“Pergilah!“ katanya kepada Indrayana.
“Pergi dan bawalah murid dan anakku serta! Biarlah aku menghadapi orang-orang mabok
angkara ini!“
Indrayana tidak berani membantah dan
ia lalu melanjutkan perjalanannya bersama
Raden Pancapana dan dara
jelita Candra Dewi. Tak ada seorangpun rombongan dari Syailendra ini yang berani mencegah mereka, karena di situ terdapat panembahan Bayumurti yang
berdiri dengan tenang dan tersenyum. Melihat cara penembahan Bayumurti melepaskan ikatan Indrayana, maklumlah ia bahwa
pendeta ini memiliki kesaktian yang tak boleh dipandang ringan.
“Wisananda!“ Bayumurti menantang lagi.
“Mengapa engkau tidak bergerak? Apakah engkau hanya berani menjatuhkan tangan kepada orang-orang muda saja?“
Pendeta Bangsa Hindu itu menggelengkan
kepala,
“Aku segan untuk bertempur melawan seorang ahli seni yang kukagumi.“
Maha Wiku Dharmamulya sudah sampai di situ pula. Dengan marah ia
menuding kepada Bayumurti dan berkata,
“Bayumurti! Engkau seorang Mataram
mengapa tidak tahu malu dan mencampuri
urusan orang-orang Syailendra?
Indrayana adalah orang Syailendra dan sudah menjadi hak kami untuk menangkapnya atas
perintah Maha Raja kami, mengapa engkau berani mencampurinya?“
“Mataram dan Syailendra hanyalah sebutan
orang belaka,“ jawab panembahan Bayumurti
dengan tenang,
“akan tetapi Indrayana, engkau
atau aku juga manusia biasa
yang sama-sama berkulit daging. Melihat
seorang manusia dikejar-kejar dan hendak dikuasai oleh
orang-orang lain yang terdorong oleh nafsu angkara murka, tentu saja sudah menjadi kewajibanku untuk menolongnya.“
“Bayumurti, engkau ternyata sombong dan
mengandalkan kepandaianmu. Penangkapan atas diri Indrayana adalah perintah Maha
Raja Samaratungga karena Indrayana
telah melakukan pelanggaran dan kekurang ajaran di hadapan raja.
Sekarang engkau menghalangi kami menangkapnya, itu berarti engkau
telah menghina titah raja. Apakah
engkau berani mempertanggungjawabkannya dan
menghadap kepada Sang Prabu?“
“Mengapa tidak berani? Aku memang hendak pergi ke sana, hendak
membebaskan Wiku Dutaprayoga yang telah kena fitnah oleh ketajaman lidahmu! Akulah yang bertanggungjawab
untuk semua perkara ini, baik urusan
mengenai diri Wiku Dutaprayoga maupun mengenai urusan puteranya, Indrayana!“
Demikianlah, rombongan
pasukan Syailendra yang dikepalai oleh Maha Wiku Dharmamulya itu
kembali ke Kerajaan Syailandra sambil membawa Panembahan Bayumurti
di tengah-tengah mereka.
Rakyat yang telah mendengar tentang
ditangkapnya Wiku Dutaprayoga dan dikejarnya Indrayana putera Wiku itu, menyambut kedatangan rombongan itu dengan
heran, karena mereka tidak melihat Indrayana tertangkap, sebaliknya rombongan itu membawa seorang pendeta Mataram yang nampak tenang dan tersenyum-senyum saja.
Akan tetapi banyak orang,
terutama para dara, merasa lega
karena Indrayana yang mereka sayang
itu tidak tertangkap. Ketika mereka
mendengar bahwa pendeta ini adalah pendeta yang telah mengacaukan pembukaan
Candi Lokesywara dan telah
menyumbangkan sebuah patung Dewi Tara
yang kemudian dirobahnya menjadi
patung Puteri mahkota, orang-orang lalu berduyun-duyun datang untuk menyaksikan pendeta yang aneh dan pandai itu.
Maha Wiku Dharmamulya lalu membawa sendiri pendeta Mataram
itu menghadap kepada Sang Prabu
Samaratungga. Maha Raja inipun agak
tercengang ketika melihat bahwa yang dihadapannya bukan Indrayana pemuda yang berani dan kurang ajar itu, melainkan pendeta yang telah menggegerkan pembukaan
candi. Hati Sang Prabu kurang enak melihat wajah Panembahan Bayumurti yang memandangnya dengan tajam, karena Sang Prabu maklum bahwa pendeta ini adalah seorang yang sakti dan tidak enaklah
untuk berurusan atau lebih-lebih
bermusuhan dengan orang yang berwajah tenang,
bermata tajam dan bibir
selalu tersenyum itu.
Dengan sabar Maha Raja
Samaratungga mendengarkan laporan
Maha Wiku Dharmamulya tentang
penangkapan atas diri Indrayana yang digagalkan oleh Bayumurti yang
kini datang mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.
“Panembahan Bayumurti.“ berkata Sang Prabu dengan muka muram.
“Kau adalah seorang panembahan, seorang
ahli kebatinan yang
seharusnya mengutamakan perbuatan
baik dan ketentraman. Akan
tetapi mengapa engkau sengaja mendatangkan kekacauan dan sengaja
menghalangi kehendakku menangkap
Indrayana, seorang hambaku
sendiri? Panembahan Bayumurti, bukankah ini berarti bahwa kau telah berlaku keterlaluan dan kau terlalu mengunggulkan kesaktianmu?“
Maha Raja Samaratungga menahan napas untuk menekan gelora kemarahannya.
“Atau kau sengaja melakukan hal ini untuk menghinaku? Ketahuilah, hai panembahan sesat,
raja junjunganmu sendiri di Mataram tidak berani berlaku kurang
hormat seperti ini terhadapku!“
Panembahan Bayumurti yang
tadinya tersenyum-senyum, kini menahan senyumannya dan
memandang dengan sungguh-sungguh, lalu memberi hormat kepada raja besar itu.
“Sang Parabu yang bijaksana dan budiman,“ katanya tenang,
“hamba cukup menghargai paduka, bahkan persembahan patung itupun hamba maksudkan
sebagai tanda penghargaan
hamba. Paduka adalah seorang raja
besar, berbeda dengan raja di
Mataram yang makin kehilangan pamornya,
karena kurang bijaksana dan
tidak dapat mengatur pemerintahan
seperti paduka. Hamba sekali-kali tidak berniat hendak
mengacaukan Negara Syailendra.“
“Kalau memang demikian pendirianmu, mengapa kau selalu
menghalangi tugas Maha Wiku yang
bertindak atas perintahku? Mengapa pula kau menolong Indrayana dan
sesungguhnya, apakah maksudmu datang
di Syailendra? Apakah karena kau terbawa oleh
arus pertikaian antara agamamu dan
Agama Buddha ? Ketahuilah, bahwa kami
sendiri menganggap segala pertikaian itu sebagai kebodohan anak-anak kurang mengerti akan
keadaan yang sebenarnya. Aku sendiri tidak suka menyaksikan segala
macam permusuhan itu terjadi. Apakah
kau sengaja datang menghina para penganut Buddha di kerajaanku ini?“
“Dijauhkan oleh dewata pikiran macam
itu dari kepala hamba!“ jawab Panembahan Bayumurti.
“Sesungguhnya, Sang Prabu yang mulia, tak hendak
mendahului kehendak Dewata, akan tetapi waktunya akan segera tiba di mana Tanah Jawa akan
tentram bahagia, tidak ada
pertikaian dan perbedaan faham antara Syailendra dan Mataram. Kedua agama akan hidup rukun dan penuh pengertian, saling mengalah. Bahkan bukan tidak mungkin kedua
agama akan di junjung tinggi bersama oleh kerajaan di Jawa! hamba datang hanya sebagai pelopor, hendak memperlebar jalan terlaksananya hal
yang amat baik dan sempurna itu, Sang
Prabu! Hendaknya diingat bahwa segala macam kebahagiaan itu tidak dapat datang begitu saja, tanpa
mengalami kepahitan dan kesukaran terlebih dahulu. Banyak rintangan nampak di depan,
banyak…… ah, banyak sekali, Sang Prabu, akan tetapi, dewi kemurahan semua Dewata, juga kemurahan Sang Buddha yang paduka puja, akan tibalah saat yang baik itu!“
“Tutup mulutmu yang mengoceh tidak karuan!” Tiba-tiba Maha
Wiku Dharmamulya yang duduk di
dekatnya membentak.
Akan tetapi sebelum Maha Wiku ini melanjutkan bentakannya, Maha Raja Samaratungga memberi
tanda dengan tangannya agar
pendeta kepala itu berdiam diri, kemudian ia tersenyum dan
berkata kepada Panembahan Bayumurti,
“Segala harapanmu itu baik-baik saja, Bayumurti. Akan
tetapi engkau telah menyimpang daripada percakapan semula.
Yang hendak kuketahui hanya
mengapa engkau menghalangi
kehendakku menangkap Indrayana!“
“Gusti Prabu yang bijaksana!
Paduka tentu tidak khilaf lagi tentang hukum
sebab dan akibat. Segala tindakan Wiku Dutaprayoga yang kini ditangkap, dan
juga tindakan Indrayana yang
melarikan patung, itu semua hanyalah akibat. Mengejar dan menyalahkan akibat tanpa menengok lagi sebab-sebabnya adalah perbuatan yang sesat dan bodoh, sama halnya dengan menyiramkan minyak wangi pada sebuah kamar yang berbau
busuk karena ada bangkai tikus di
bawah balai-balai, tanpa mencari bangkai
itu dan membuangkannya! Dalam hal ini, yang menjadi sebab adalah hamba sendiri dan perbuatan hamba! Kalau hamba tidak datang mempersembahan patung kepada paduka, tentu Maha Wiku Dhamamulya tidak marah
dan hendak menikam hamba dan Wiku
Dutaprayoga tidak membela hamba serta menghalangi maksud dan kehendak Sang Maha Wiku. Kalau hamba tidak merobah patung itu seperti Puteri Paduka, tidak
nanti Indrayana akan mencuri patung itu dan menjadi orang buruan! Dengan demikian, pokok pangkalnya semua peristiwa ini
adalah perbuatan hamba dan hambalah yang harus menerima amarah paduka! Hamba yang akan
mempertanggung jawabkan perbuatan Wiku Dutaprayoga dan puteranya itu dan
kalau paduka hendak menjatuhkan hukuman, jatuhkanlah kepada hamba! Hamba menuntut kebebasan Wiku Dutaprayoga dan
Indrayana!“
Maha Raja Samaratungga tertegun
mendengar ucapan ini. Ia
merasa terheran mengapa Kerajaan Mataram
makin mengecil dan menyuram, pada hal negara itu mempunyai banyak orang-orang pandai dan waspada seperti pendeta
ini! Semenjak Sang Prabu
Sanjaya meninggal dunia dan
singgasana Mataram diduduki
oleh Raja Panamkaran, mulai
nampaklah kemunduran besar pada
kerajaan itu.
“Panembahan Bayumurti, engkau benar-benar aneh.“
“Gusti Prabu, memang manusia ini makhluk yang paling aneh di atas dunia!“
Belum pernah Maha Raja
Samaratungga melihat seorang
pendeta yang pandai, ramah-tamah dan berani seperti pendeta
ini, maka timbullah rasa suka
dalam hatinya.
“Biarlah, kubebaskan Wiku
Dutaprayoga dan kuampunkan kekurangajaran Indrayana. Juga engkau
boleh pergi dengan bebas, asal saja jangan kauulangi perbuatanmu yang
dapat menimbulkan salah faham kepada
hamba sahaya di kerajaanku. Tentang harapan dan cita-cita yang baik iti,“ sampai disini Maha Raja Samaratungga tersenyum
dan matanya berseri,
“biarlah kau serahkan kepada
kebijaksanaan para Dewata, karena
itu bukanlah tugas kita manusia!“
“Sang Prabu!“ tiba-tiba Maha Wiku Djarmamulya menyembah,
“hamba tidak setuju kalau pendeta ini dilepaskan begitu saja! Ini berarti merendahkan derajat
Kerajaan Syailendra sendiri, Gusti!“
Maha Raja Samaratungga berkata
dengan sabar,
“Maha Wiku, aku tidak bisa
mengangkat dan mengagungkan derajat
sendiri.”
“Akan tetapi, selain itu, pendeta inipun telah menghina Agama Biddha!
Sepak terjangnya jelas meremehkan agama kita dan hal ini kalau didiamkan saja amat berbahaya, Sang
Prabu! Kalau pendeta yang menghina agama kita ini dibebaskan begitu saja, hamba khawatir kalau-kalau sebentar lagi pendeta Trimurti
dan semua penganutnya akan berlaku kurang
ajar dan sewenang-wenang terhadap kita!“
“Akan tetapi, aku telah memberi kebebasan kepadanya, Maha Wiku, dan sabda seorang Ratu tak dapat disangkal pula.“
“Memang demikianlah hendaknya, Sang Prabu, akan tetapi, pendeta ini masih harus berurusan dengan hamba. Sebagai pendeta
kepala, hamba berhak pula
mengadilinya, berdasarkan kesalahan kedosaannya terhadap agama kita.
Perkenankanlah hamba bicara dengan
pendeta sesat ini, Gusti.“
Terpaksa Maha Raja Samaratungga memberi perkenan, karena iapun tidak merasa enak hati kalau sampai mengecewakan hati Maha Wiku yang berpengaruh itu.
“Bayumurti!“ kata Dharmamulya dengan muka keren.
“Sebagai seorang pendeta, apakah kau begitu tak tahu malu untuk
menarik kembali kesanggupanmu yang telah keluar dari mulutmu
yang palsu? Kau telah mengatakan bahwa
kau akan mempertanggungjawabkan kesalahan Dutaprayoga dan Indrayana. Kau sanggup untuk
menerima hukuman yang dijatuhkan kepada mereka bukan?“
“Aku mengerti maksudmu, Maha Wiku Dharmamulya, teruskanlah!“
“Sesungguhpun Sang Prabu telah mengampuni kedua orang ayah dan anak itu, namun
sebagai pendeta kepala, akupun berhak mengadilinya. Menurut
hukum, orang yang berani menghina pendeta kepala, dapat
dihukum kubur hidup-hidup, orang yang berani mencuri patung dari candi, dapat dihukum penggal
kepala. Apakah kau masih
berani menerima hukuman yang hendak kujatuhkan kepada mereka ?“
“Tentu saja berani, Dharmamulya. Teruskanlah!“
“Ucapan dan kesanggupan seorang
pendeta takkan diingkari lagi!“
Dharmamulya memperingatkan
“Tentu, tentu, hukuman apakah yang henak dijatuhkan?“
“Penggal kepala atau kubur hidup-hidup! Nah, engkau pilihlah!“
“Maha Wiku, mengapa sekeras
itu?“ tiba-tiba Sang Prabu
Samaratungga berkata mencela.
Akan tetapi dengan masih
tersenyum, Panembahan Bayumurti
berkata lantang,
“Dharmamulya, aku tahu bahwa hatimu penuh nafsu dan
dendam. Aku tidak mengakui bahwa
Indrayana mencuri patung,
akan tetapi aku akui bahwa
Dutaprayoga telah berani melawanmu untuk tak membelamu. Maka biarlah kupilih
kubur hidup-hidup untuk
menebus dosa Dutaprayoga!“
Maha Raja Samaratungga terkejut
sekali dan hendak mencegah hal
ini, akan tetapi baru saja ia hendak bicara,
ia melihat betapa Panembahan Bayumurti
memandangnya dengan mata
bersinar dan bibir tersenyum seakan-akan memberi tanda agar
Sang Prabu jangan merasa gelisah dan
khawatir.
“Maha Wiku Dharmamulya, sebelum
aku menjalani hukuman yang hendak kaujatuhkan, aku minta agar supaya Dutaprayoga dibebaskan dulu dan dapat bertemu muka
dengan aku.“
Setelah Maha Wiku Dharmamulya minta
perkenan Maha Raja Samaratungga, maka pendeta Maratam yang berani dan aneh itu digiring ke luar. Panembahan Bayumurti
benar-benar kelihatan tenang
dan gembira dan ketika Wiku
Dutaprayoga dikeluarkan dari tahanan dan memandangnya dengan
heran, ia lalu menghampiri bekas
sahabatnya itu, dan setelah mereka berada berdua saja, ia berbisik.
“Dutaprayoga, engkau tentu maklum pula bahwa yang
kulakukan ini semata-mata untuk kebaikanmu. Puteramu selamat, dan engkau menghendaki agar kesemuanya ini berjalan lancar
dan beres, engkau pergilah ke tempat
pertapaan kita di Gunung Kidul dan kelak
aku akan menyusulmu ke sana.“
Dutaprayoga maklum akan kesaktian bekas sahabatnya ini dan maklum pula bahwa biarpun Bayumurti usianya
masih lebih muda daripadanya, namun
dalam segala hal, Bayumurti memperlihatkan kelebihannya. Bahkan ayahnya sendiri, Sang
Panembahan Ekalaya, selalu memuji keberaniannya, kesaktiannya, dan kegagahan pertapa Bayumurti.
Setelah Dutaprayoga pergi
meninggalkan Kerajaan Syailendra, Panembahan Bayumurti lalu dimasukkan ke dalam tahanan, menanti upacara
perjalanan hukuman baginya
yang akan dilakukan pada
malam bulan purnama, dua hari
kemudian.
Hukuman yang amat mengerikan, yaitu
dikubur hidup-hidup hukuman
yang merupakan hukuman adat
dan yang sesungguhnya sudah lama tak
pernah dilakukan oleh maha Raja
Syailendra, akan tetapi kini akan dilakukan
oleh Maha Wiku Dharmamulya, seorang pendeta
kepala yang diracuni batinnya oleh dengki, iri, dan angkara murka.
Taman Listyaloka yang berada di belakang istana Maha Raja Simaratungga adalah sebuah taman yang luar biasa
indahnya. Ratusan macam bunga yang indah-indah mekar berseri di dalam taman. Harum semerbak
bunga mawar yang bermacam-macam bentuk
dan warnanya itu, ditambah pula dengan sedapnya bunga-bunga melati dan menur, bunga cempaka, kenanga, kaca piring, dan
kantil. Segala keindahan dan keharuman yang dikumpulkan menjadi satu
di dalam Taman Listyaloka yang menakjubkan itu selain menarik perhatian kumbang-kumbang dan kupu-kupu serta burung-burung kecil yang berterbangan dari pohon ke pohon.
Memang indah sekali Taman
Listyaloka, bahkan tamansari yang terkenal sekali di Kerajaan Mataram,
takkan dapat melebihi keindahan Taman Listyaloka dari istana Syailendra ini.
Apalagi kalau pemilik taman itu berada di dalam taman, maka
akan bertambahlah kecantikan dan
keindahan taman itu. Apabila Sang Puteri Pramodawardani berada di dalamnya, maka taman itu akan berubah
seperti Taman Indraloka di Khayangan Batara
Indra, karena puteri jelita itu
tidak kalah elok dan cantiknya oleh
puteri atau bidadari Khayangan yang
manapun juga.
Akan tetapi, pada senja hari itu, keadaan di Taman Listyaloka tidak seperti biasa. Tidak gembira dan
tidak bersinar, seakan-akan muram dan sunyi. Ke manakah perginya burung-burung, kumbang
dan kupu-kupu yang biasanya meramaikan taman bunga itu? mereka masih ada, akan tetapi burung-burung itu bersembunyi di dalam pohon, mendekan di
atas cabang tak bergerak bagaikan sedang tidur, kumbang-kumbang bersembunyi di dalam kelompok bunga
sedangkan kupu-kupu yang biasanya menari-nari itu kini
menempel pada daun-daun bunag tanpa bergerak sedikitpun. Semua tampak berduka seakan-akan berkabung. Mengapa demikian? Kalau kita menengok
ke tengah taman, di dekat
empang bunga teratai di dekat
pancuran air, maka akan melihat sebab kesunyian dan kemuraman itu.
Di atas bangku terbuat dari batu
hitam yang terbentuk indah dan
mengkilat, duduklah Kusumaning Ayu Pramodawardani sambil
menyangga dagu dengan tangannya. Keningnya
yang indah itu berkerut, wajahnya muram dan berkali-kali terdengar
tarikan napas halus. Banyak
orang berkata bahwa kalau sang
puteri ini tersenyum, maka dunia kan
ikut tersenyum dengan dia, akan
tetapi kalau dia bermuram durja,
maka dunia akan menjadi gelap dan
suram pula. Memang, siapakah orangnya
dan mahluk manakah yang
takkan menjadi kecil hati dan ikut
berduka melihat keadaan
sang jelita yang bermuram durja
itu?
Semenjak peristiwa di depan
Candi Lokesywara itu, sang puteri
merasa tersinggung hatinya. Ia
merasa amat kagum melihat keberanian dan kegagahan Indrayana, akan
tetapi juga merasa kecewa terhadap pemuda
yang menjadi kembang bibir para dara itu sedemikian kurang
ajar kepadanya. Pramodawardani adalah seorang puteri yang tinggi hati dan ia sekali-kali tidak merasa puas bahwa ada seorang putera wiku berani berlaku sedemikian lancang terhadapnya. Pramodawardani selalu di manja dan merasa dirinya putera mahkota, ia menghendaki penghormatan sebesarnya dari siapapun juga.
Diam-diam ia merasa bangga kepada diri sendiri bahwa ternyata pemuda
yang sudah terkenal menggoncangkan iman di dada para jelita itu, tidak
berhasil menggoncangkan imannya yang teguh kuat. Ia memang amat tertarik dan kagum melihat wajah elok dan tampan itu, akan tetapi sama sekali keliru kalau
orang mengira bahwa dia “jatuh
hati“! Kusumaning Ayu Pramodawardani bukanlah
seorang dara biasa yang mudah
jatuh cinta dan mudah terluka oleh
panah asmara.
Betapapun juga, terharu juga
hatinya menyaksikan sepak terjang Indrayana yang jelas
sekali menyatakan betapa besar cinta
kasih dan kekaguman pemuda itu
terhadap dia. Patung yang menyerupai wajahnya
itu sampai dicuri dengan nekad oleh pemuda itu ! Merah wajah
Pramodawardani apabila ia terkenang akan hal ini. Kemudian ia
mendengar betapa ayah pemuda itu,
Sang Wiku Dutaprayoga, ditangkap, dan betapa ayahnya mengeluarkan perintah penangkapan atas diri Indrayana. Betapa muak dan
kecewanya. Ia maklum bahwa gara-gara ini pada hakekatnya berdasar
atas kelemahan hati pemuda
itu yang jatuh cinta kepadanya. Dan kalau sampai terjadi malapetaka dan
hukuman menimpa diri pemuda itu dan Wiku Dutaprayoga, maka karena dialah itu, dia merasa
berdosa, seakan-akan dialah yang menyebabkan kemalangan menimpa keluarga itu.
Kemudian ia mendengar pula
tentang kembalinya rombongan
Maha Wiku yang tidak berhasil menangkap
Indrayana akan tetapi bahkan
membawa pendeta yang membuat patung itu. Ia mendengar betapa pendeta Mataram yang aneh
itu telah mengorbankan diri sendiri dan menyanggupi untuk memikul semua
hukuman yang hendak dijatuhkan atas diri Indrayana dan Wiku Dutaprayoga, dan
bahwa kemudian pendeta yang bernama Panembahan Bayumurti itu hendak dihukum kubur hidup-hidup oleh
maha Wiku Dharmamulya.
“Alangkah kejamnya! alangkah ngerinya!“
berkali-kali Sang Puteri mengeluh seorang diri.
Terbayanglah pada wajahnya pendeta yang aneh
itu, yang dengan usapan tangan pada patung Dewi Tara telah dapat membuat muka patung itu menjadi seperti
mukanya sendiri ! Terbayanglah ia betapa pendeta itu
selalu tersenyum ramah, sepasang matanya
bersinar-sinar penuh seri
gembira.
“Alangkah ngerinya! Mengapa Rama
Prabu membiarkan saja hukuman yang keji ini berlaku atas diri pertapa itu?“
Hati Pramodawardani menjerit-jerit ketika ia duduk melamun dengan bunga teratai merah dan putih itu.
“Biarpun pertapa itu orang Mataram, akan tetapi iapun seorang manusia.
Mengapa Rama Prabu tidak
melarang dilangsungkannya hukuman yang melanggar perikemanusiaan ini?“
Dengan hati sedih dan penuh
kasian kepada sang pertapa, Pramodawardani tak terasa lagi turun dari batu tempat
duduknya, berlutut dan berdoa ke
arah empang. Disitu terdapat bunga-bunga teratai dan daun-daun
teratai yang lebar dan indah
mengambang di atas air. Siapa tahu,
kalau pada saat itu, terdapat Dewata
yang sedang duduk bertapa di atas
daun-daun teratai itu, karena daun-daun teratai memang tempat bertapa para Dewata yang berhati mulia. Bibir pramodawardani yang merah dan indah bentuknya itu berbisik-bisik,
“Semoga Sang Buddha dan Para
Dewata melindungi Panembahan Bayumurti
daripada hukuman yang keji
ini!“
Pada saat itu, terdengar tindakan
kaki perlahan di belakang Sang Puteri, kemudian terdengar suara
riang.
“Ayunda yang baik, engkau sedang
berbuat apakah di situ?“
Pramodawardani sadar daripada sama dirinya kemudian ia
berpaling. Wajah yang tadinya muram
itu menjadi terang bagaikan wajah bulan purnama terbebas
daripada selimutan mendung, bibirnya
tersenyum kembali dan seakan-akan mekarlah semua bunga
di dalam taman pada saat Sang Puteri tersenyum
amat manisnya itu.
“Adikku yang manis, kau
mengejutkan hatiku, akan tetapi berbareng juga menggembirakan perasaanku.“
“Ayunda Wardani,“ kata anak
laki-laki yang masih kecil itu,
“tadi kulihat kau bermuram durja dan bersamadi seakan-akan ada yang mengganggu hatimu. Apakah
gerangan yang mengesalkan hatimu, ayunda?“
Pramodawardani memandang
kepada adiknya dengan penuh
kasih sayang. Adindanya ini, yang
bernama Balaputeradewa atau biasa disebut Balaputera saja,
memang seorang anak yang amat
cerdik. Kepada adiknya ini sukarlah untuk membohong dan sukar sekali untuk menyembunyikan sesuatu dari pandangan matanya yang tajam. Pramodawardani tidak ingin menceritakan hal-hal
yang memusingkan pikirannya itu kepada Balaputera, karena dianggapnya bahwa Balaputera masih
terlampau kecil untuk mengetahui
akan hal-hal itu, maka ia lalu
memeluk adiknya dan membelai-belai rambutnya sambil
berkata denagn penuh kasih sayang,
“Balaputera, adinda sayang. Aku tidak menyusahkan sesuatu, hanya sebelum kau datang, aku merasa kesunyian seorang diri di
dalam taman.“
“Mengapa tidak kaulihat seorangpun emban dan pelayan? Ke manakah mereka,
ayunda?“ tanya Balaputera sambil
memandang ke kanan-kiri.
“Aku sudah bosan mendengar kelakar
mereka yang tiada henti-hentinya, adikku, maka kusuruh mereka mengundurkan diri
dan mengaso. Kasihan juga mereka
telah bekerja sepanjang hari,
bukankah mereka itu manusia juga seperti kita yang dapat lelah dan capai?“
“Kau memang berbudi dan berhati mulia, ayunda.“
“jangan memuji, adikku.
Ayundamu hanya seorang manusia
biasa saja, dan sebagai manusia, kita
harus menanam budi
sebanyak-banyaknya di hati sanubari kita, karena jangankan kita yang disebut manusia, makhluk
terkasih dari para Dewata, sedangkan binatang pun tahu akan budi kemuliaan. Kau belum mendegar cerita tentang Burung
Platuk dan Singa?“
Balaputera berseri wajahnya. Kakaknya
ini memang pandai sekali bercerita, maka
melihat kesempatan ini, ia tidak mau
menyia-nyiakannya. Sambil memegang tangan
ayundanya yang halus dan lebih besar
daripada tangannya sendiri itu, ia berkata mendesak
manja,
“Belum, ayunda. Kau berceritalah, aku senang sekali mendengar ceritamu yang indah-indah!“
Pramodawardani tersenyum
dan setelah mencium kening adiknya dengan mesra, ia berkata,
“Dalam sebuah hutan yang amat
besar hidup seekor singa yang amat liar dan buas. Hampair setiap hari terdengar singa itu mengaum dan menggereng keras
menggetarkan seluruh hutan. Itulah
tanda bahwa singa itu sedang menagkap seekor
binatang lain menjadi kurban dan mangsanya, yaitu kelinci, kancil, rusa, dan
binatang-binatang lemah sebangsa itu. Gerengan singa buas itu selalu didiringi pekik ketakutan dan
kesakitan dari kuraban yang
diterkamnya.”
“Alangkah kejamnya singa itu!“
Balaputera mencela,
“Memang, adikku, singa memang
seekor binatang yang amat kejam dan
ganas. Oleh karenanya ia disebut raja hutan, sungguhpun bukan merupakan raja yang bijaksana, melainkan seekor raja hutan yang amat kejam dan
ganas. Akan tetapi, telah beberapa hari tidak terdengar geraman dan auman kemenangan dari singa itu, yang terdeganr hanyalah
gerengan-gerengan perlahan tanda
kesakitan dan kelaparan dari raja hutan itu, diselingi sorak sorai yang gembira ria dari para binatang kecil. Hal ini memang mengherankan dan tidak sewajarnya. Maka seekor burung platuk yang berbulu indah dan berpatuk kuat terbang berpitar-putar di atas pohon-pohon untuk mencari tahu
apakah gerangan yang terjadi dengan di raja hutan. Akhirnya dapat juga ia menemukan singa itu Kiranya singa itu tengah bergulingan
di bawah pohon dalam keadaan hampir mati. Perutnya kempis tanda kelaparan, rahangnya
terbuka lebar-lebar tak dapat ditutupkan kembali, ternganga bagaikan sebuah goa
merah yang mengerikan.“
“Mengapakah gerangan
dia?“ tanya Balaputera dengan
penuh perhatian.
Ayundanya demikian
pandai bercerita, suaranya halus lembut dan merdu sedangkan wajahnya bergerak membayangkan keadaan ceritanya sehingga pangeran kecil itu seakan-akan melihat di depan matanya sendiri
peristiwa yang sedang terjadi di dalam cerita ayundanya.
“Demikian pula pertanyaan yang
diajukan oleh di burung pelatuk.“
jawab Pramodawardani kepada adiknya,
“Ia bertanya kepada singa itu setelah terbang
turun dan berdiri di atas
cabang pohon di dekat si raja hutan. Singa merasa malu untuk menerangkan, akan tetapi akhirnya ia menjawab bahwa ketika ia sedang makan tubuh seekor kancil yang menjadi mangsanya tiga hari lalu, tulang punggung kancil yang nakal itu telah
melintang dan terselit di tenggorokannya, sehingga tulang itu
berhenti di tengah-tengah, tak dapat ditelan tak dapat pula dimuntahkan keluar,
membuat mulutnya terbuka
dan terganjal tak dapat
ditutupkannya kembali.“
“Nah, itulah upah si rakus!“ kata
Balaputera.
Kakaknya tersenyum memandangnya.
“Demikian pula yang dikatakan oleh
burung platuk itu, adikku. Ia juga
menegur singa dan mencelanya terlalu
rakus. Orang makan tak boleh terburu-buru, tak boleh terlalu lahap
dan rakus, harus memilih dengan hati-hati benda yang hendak dimasukkan ke mulut dan perut, demikian burung pelatuk yang bijaksana itu
memberi nasihat. Singa merasa menyesal sekali dan baru insyaf akan segala kesalahannya,
akan segala kekejamannya, kemudian sambil menangis sedih dia mohon pertolongan burung
pelatuk itu untuk mengambilkan tulang yang mengganjal kerongkaongannya. Tulang itu melintang di
dalam tenggorokan, sedangkan mulut singa itu terbuka lebar-lebar mengerikan, terlihat
giginya yang runcing dan tajam manakutkan, sedangkan
tulang itu berada jauh di belakang gigi-gigi itu. Untuk dapat mengeluarkan tulang itu, burung platuk harus memasukkan kepalanya
di dalam mulut itu sampai dalam, dan apabila tulang itu telah dilepaskan,
maka sekali saja singa itu menutupkan
mulut, akan putuslah leher
burung platuk.“
“Jangan biarkan ia memasukkan kepalanya di dalam
mulut singa, ayunda!“
seru Balaputera gelisah.
Ayunda tersenyum,
“Adikku, burung pelatuk itu
penjelmaan Sang Bodisattwa yang bersifat suci dan mulia. Untuk
memberi pertolongan kepada sesama hidup, dia takkan pernah
merasa ragu-ragu, jangankan baru menghadapi bahaya, sungguhpun dia harus berkorban apa saja nyawanya sekalipun, dia takkan mundur! Demikianlan, burung pelatuk yang bijaksana itu tanpa
ragu-ragu lagi lalu memasukkan kepalanya
ke dalam gua merah yang mengerikan itu,
menggunakan paruh yang kuat untuk
mematuk tulang kacil yang melintang di tenggorokan singa dan berusaha mengeluarkannya. Akhirnya berhasillah dia menolong nyawa
singa itu dari bahaya maut.“
“Alangkah mulia hati burung platuk itu!“ Balaputera memuji,
“Akan tetapi, kalau aku menjadi burung pelatuk, aku
tak sudi menolong singa jahat itu.
Hanya burung pelatuk yang demikian bodohnya, menolong si jahat
dengan bahaya maut mengancam nyawa
sendiri. Seorang bijaksana tak dapat berlaku sebodoh itu!“
Pramodawardani mengerutkan keningnya yang
berkulit halus kemerahan itu. Kemudian menggelengkan kepalanya
dan berkata halus,
“kau keliru Balaputera. Budi luhur lebih berharga daripada
keselamatan tubuh sendiri,
karena budi itu ada hubungannya dengan
jiwa. Budi tak dapat sirna, sedangkan tubuh
pasti akan musnah. Budi dan jiwa
selalu ada dan takkan sirna slamanya, adikku, karena itulah maka Sang Bijaksana Buddha telah memebri banyak sekali contoh-contoh pelajaran. Jangan kau kira bahwa hanya
binatang seperti burung platuk saja yang mau mengorbankan
nyawa untuk menolong sesama hidup.
Pernahkan kau mendengar cerita tentang Raja kaum Syibi?“
Balaputera menggelengkan kepala
dan kembali timbul kegembiraannya karena ayunda akan bercerita lagi.
“Pada suatu hari, seekor burung
dara putih yang dikejar-kejar oelh
seekor burung rajawali, terbang dan mencari perlindungan di atas
pangkuan Raja Kaum Syibi. Dara putih
itu dengan suara pilu dan ketakutan minta
pertolongan Raja dari pengejaran burung rajawali yang sedang kelaparan dan
hendak menjadikan burung dara itu
sebagai mangsanya. Maka datanglah burung rajawali itu terbang dengan
gagah dan dasyatnya, turun di depan
Raja dan menuntut dikembalikannya burung dara yang mendekam dengan tubuh gemetar di atas pangkuan raja.“
“Mengapa Raja itu tidak mengambil gendewa dan menahan saja burung Rajawali yang
jahat itu?“ Balaputera mencela.
“Tidak, adikku, Raja itu maat bijaksana da ia tahu memang burung rajawali itu hanya makan daging dari burung-burung lainnya
yang kecil-kecil seperti halnya singa tadi. Raja hendak mengganti ketagihan rajawali dengan
daging yang lebih banyak dan lebih besar, akan tetapi rajawali tetap menolak. Bahkan ia lalu menuduh, kepada
Raja itu berlaku tidak adil dan berat
sebelah. Katanya bahwa raja hendak menolong burung dara dari bahaya maut akan tetapi
sebaliknya hendak membuat si rajawali mati kelaparan dan
hendak mengingkari apa yang telah
menjadi dari hak si rajawali itu. Raja menyatakan bahwa ia telah
berjanji hendak menolong burung dara itu dari bahaya maut dan
bahwa sebagai seorang yang menjunjung tinggi janji sendiri, Raja
itu akan suka berkorban apa saja
untuk menepati janjinya. Burung rajawali lalu minta agar supaya Raja mengganti burung dara itu dengan
daging Raja itu sendiri, sebanyak dan seberat burung dara itu.“
“Permintaan yang bukan-bukan dan gila !“ seru Balaputera.
“Tidak, adikku. Burung Rajawali itu adalah penjelmaan Dewata
yang hendak menguji kesucian hati
Raja kaum Syibi itu. Ketika Raja mendengar permintaan ini, tanpa ragu-ragu sedikitpun ia lalu mencabut pedangnya dan
mengiris dagingnya sendiri
pada betisnya sebanyak dan
seberat burung dara itu dan
memberikannya kepada burung
Rajawali!“
Mendengar ini, Balaputera sampai
melongo saking kagumnya terhadap
kemuliaan hari Raja kaum
Syibi itu,
“Demikianlah, Balaputera. Agama kita telah memberi contoh-contoh dan pelajaran yang jelas tentang sifat
welas asih. Kalau engkau melihat seorang berada dalam bahaya maut dan terancam keselamatannya, apakah yang harus kau lakukan
sesuai dengan ajaran kita?“
Karena semangatnya telah dibakar oleh dua buah cerita tadi, anak kecil itu menjawab dengan
gagah,
“Aku akan menolongnya!“
“Betulkah? Sungguhpun engkau sendiri akan terancam bahaya
usahamu menolong itu?“
“Tentu saja aku berani menghadapi segala macam bahaya, seperti
burung pelatuk itu dan aku
berani berkorban seperti Raja Kaum
Syibi itu!“ kata pula Balaputera dengan
gagahnya.
Pramodawardani memeluk
adiknya dan menciuminya.
“Adikku sayang, tidak perlu engkau mengorbankan sesuatu
dan tak perlu engkau menghadapi bahaya. Akan tetapi kalau engkau memang mau dan
sanggup, sekarang juga engkau akan dapat menolong nyawa dan keselamatan seorang yang terancam hebat.“
Balaputera memandang kepada
kakaknya dengan matanya yang bening dan lebar, mata seorang
anak-anak yang masih bersih
batinnya.
“Apakah maksudmu ayunda?“
“Balaputera, engkau tentu sudah mendengar bahwa seorang pendeta Mataram hendak diberi hukuman kubur hidup-hidup? Alangkah ngerinya! Apakah engkau tidak kasihan
mengenangkan nasibnya? Sungguh lebih menyedihkan dari pada nasib singa buas dan burung dara itu. Engkau akan
menjadi seorang anak yang baik kalau dapat dan mau
menolongnya.“
“Akan tetapi, ayunda.
Bukankah dia itu musuh kita?
Dia seorang pendeta Mataram, seorang kapir……“
“sst, jangan berkata demikian, Balaputera, adikku. Betapapun juga, dia seorang manusia
seperti kita. Apa lagi dia seorang pendeta
dan ahli pembuat patung, kita harus menolongnya.“
“Akan tetapi, dia sudah dijatuhi hukuman.“
“Bukan ayah yang menghukumnya, akan tetapi Maha Wiku Dharmamulya! Bayangkan, adikku yang budiman, pendeta
tua yang lemah dan ramah tamah itu, pendeta pandai yang bertangan halus, yang dapat membuat patung yang indah-indah, ia akan dikubur hidup-hidup. Bayangkan betapa sengsaranya, dimasukkan lobang di dalam tanah, lalu ditimbuni tanah, tak dapat bernapas, gelap,
pengap…… ah, alagkah ngeri dan sengsaranya…… “
“Aku mau menolong dia!“ tiba-tiba Balaputera berkata gagah dan cepat.
“Akan tetapi, bagaimana caranya, ayunda?“
Pramodawardani memeluk
adiknya dengan hati girang.
“Ah, kau memang seorang yang berhati mulia, kau calon manusia besar!
Dengarlah, adikku sayang, kalau aku bukan seorang wanita,
tentu aku akan bertindak sendiri, takkan menyusahkan engkau yang kecil. Aku takkan dapat leluasa bergerak
diluar keraton. Akan tetapi
kau bisa, kau mudah saja bermain-main di
luar keraton. Dan mempunyai banyak kawan-kawan, anak-anak
lelaki kecil yang suka kau ajak bermain-main di lapangan. Kau lebih bebas. Dengarlah baik-baik. Malam nanti tepat pada tengah malam, di
kala bulan
purnama telah berada di atas kepala kita. Panembahan Bayumurti
akan dikubur hidup-hidup di
sebelah barat alun-alun. Kau dan kawan-kawanmu setelah
semua orang yang melakukan hukuman keji
itu pergi, pergilah ke tempat pendeta
itu dikubur, kau suruhlah kawan-kawanmu menggali kuburan itu dan kau bebaskan pertapa
yang malang itu. Dengan demikian kau akan menolong nyawa seorang suci, adikku!“
“Bagaimana kalau ayah mengetahui hal
ini?“
“Jangan takut ayah takkan marah.
Kalau seandainya ayah marah akulah
yang akan bertanggungjawab. Aku akan
mengakui bahwa kau hanya bertindak atas suruhan dan bujukanku. Biarlah ayah marah kepadaku. “
“Ayah tak pernah marah kepadamu, ayunda.
Ayah amat sayang kepadamu.“
“Karena itu, jangan kau takut
kalau seandainya ayah mengetahui perbuatanmu ini. Betapapun juga
usaha kita ini adalah usaha baik yang keluar dari hati nurani kita. Usaha
menolong nyawa seseorang.“
“Kalau sampai Maha Wiku
Dharmamulya mengetahuinya?“
“Biarkan saja! Ia akan berani berbuat
apakah terhadap kita?“
“Baiklah, ayunda Pramodawardani. Akan
tetapi……. Bagaimanakah dengan Indrayana itu?“
Pramodawardani memandang
kepada adiknya dengan mata
terbelalak lebar.
“Apa maksudmu?“
Balaputera tersenyum mengoda.
“Ayunda, aku telah mendengar bahwa
pemuda elok itu…… bahwa ia mencintaimu dan
mencuri patungmu, bukan?“
“Bedebah benar orang yang menceritakan
hal itu kepadamu!“ Sang Puteri mamaki marah,
“Ssst, ayunda. Tak baik memaki dan menyumpah orang!“ merahlah wajah Pramodawardani.
“Orang itu…… Indrayana itu, Orang kurang ajar yang tidak ada
hubungannya dengan persoalan ini.“
“Sayang, aku selalu suka kepada Indrayana. Semua kawanku menyatakan bahwa Indrayana amat gagah perkasa. Pernah dengan tangan kosong ia menangkap dan merobohkan seekor kerbau yang gila dan mengamuk! Sayang sekali, ayunda,
aku suka kepadanya. Sayang
engkau tidak suka kepada orang gagah perkasa
itu.“
“Siapa bilang tidak suka …….!“
“Jadi engkau suka kepadanya?“
Balaputera berseri.
“Kalau aku berkata bahwa aku bukannya tidak suka kepadanya, ini
bukan berarti pula bahwa aku suka!“
“bukan tidak suka, dan juga bukan
suka! Aneh sekali, habis apakah
perasaanmu terhadapnya, ayunda yang
manis? Apa engkau tidak senang melihat Indrayana yang tampan dan gagah itu?“
“Memang ia tampan dan gagah,“
kata Pramodawardani terus terang
“Apakah engkau tidak kagum
melihat keberanian dan ketangkaannya?“
“Mungkin ia berani dan tangkas.“
“Nah, mengapa tidak suka dan juga bukan membenci?“
“Sudahlah, cukup engkau ketahui bahwa dia adalah
seorang yang kuang ajar! Aku tidak
senang melihat orang berlaku kurang ajar! Cukuplah tentang
Indrayana, sekarang baik engkau bersiap dan mengumpulkan kawan-kawanmu. Hari
telah mulai gelap.“
Demikian, pada malam hari itu, menjelang
tengah malam, di waktu bulan sedang bulat-bulatnya, terjadilah pelaksanaan hukuman yang amat kejam, itu Panembahan Bayumurti
dikubur hidup-hidup di sebuah lobang yang dalam, kemudian
ditimbuni tanah. Yang melaksanakan hukuman
ini adalah algojo-algojo yang
memang bertugas melaksanakan hukuman-hukuman mati.
Upacara hukuman dikepalai oleh Maha Wiku Dharmamulya sendiri,
bersama beberapa orang wiku pembantunya. Sesunggunya, hal ini tidak disetujui oleh
pendeta Hindu Wisananda, pembantu Maha Wiku Dharmamulya, akan tetapi Maha Wiku itu tidak perduli, hanya berkata,
“Sahabat Wisananda, mungkin hal ini agak ganjil bagimu. Akan tetapi ingat, kebiasaan di negerimu tidak sama dengan kebiasaaan di negeriku! Hukuman ini penting sekali, untuk
menyatakan kepada semua orang Mataram bahwa kita tak boleh dipermainkan begitu saja.“
Maka dikuburlah Panembahan Bayumurti dan
anehnya, selama dilakukan upacara,
pendeta itu hanya tersenyum-senyum dan wajahnya berseri-seri, sama
sekali tidak kelihatan seperti orang
yang sedang menjalankan hukuman mati, bahkan seakan-akan seorang
mempelai laki- laki yang
sedang bersiap untuk menyambut mempelai
wanita tak lama lagi.
Pemandangan pada malam hari itu amat menyeramkan. Bayangan
Maha Wiku Dharmamulya yang
berkepala gundul itu bagaikan bayangan
seorang iblis sendiri tengah tersenyum-senyum menikmati kemenangannya. Hati para wiku lain merasa tidak enak dan di dalam lubuk
hatinya, setiap orang wiku tidak
menyetujui hukuman ini. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang berani membantah pendeta
kepala itu. Tentu saja Maha Wiku Dharmamulya yang sedang kemasukan bisikan setan-setan nafsu angkara murka
dan dendam itu tidak merasai kesalahan sendiri.
Jangankan seorang manusia, seorang dewapun agaknya sukar untuk dapat menginsyafi kesalahan
diri sendiri. Diam-diam ia bahkan merasa bahwa sebagai pendeta
kepala ia telah bertindak benar,
telah dapat meninggikan agamanya, dapat membasmi seorang musuh agamannya, seorang kapir yang menghina Agama Buddha di dalam dirinya. Maha Wiku Dharmamulya merasa bahwa ia telah berjasa besar.
Bulan purnama agaknya
merasa segan menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, menyaksikan seorang dikubur
hidup-hidup, maka tiba-tiba bulan bersembunyi di balik segumpal awan,
membuat permukaan dunia yang tadinya terang benderang menjadi gelap. Hal ini mendatangkan perasaan
lebih tak enak lalu mendesak kepada
Maha Wiku Daharmamulya untuk meninggalkan tempat
hukuman itu. Karena menganggap bahwa upacara itu telah beres, Maha Wiku Dharmamulya lalu memesan kepada tiga orang algojo untuk menjaga di tempat itu sampai fajar, sedangkan ia sendiri bersama semua wiku pergi meninggalkan
tempat itu. Ketika orang petugas algojo
itu adalah orang-orang kasar yang
bodoh dan masih tebal kepercayaan mereka
akan segala hal tahyul.
“Kakang Dentalaya,“ kata seorang diantara
mereka kepada pemimpin mereka,
“Untuk apakah kita menjaga di sini? Dingin dan tidak enak, lagi
gelap“
“Benar, pekerjaan kita kali ini sungguh tidak menyedapkan hati. Lebih senang kalau disuruh memenggal leher
seorang hukuman. Sekali penggal dengan klewang beres!“
berkata orang ke dua.
Pada saat itu, karena merasa
kecewa melihat bulan menyembunyikan diri, seekor burung hantu memekik nyaring
sehingga ketika seorang
algojo yang dapat melihat darah
menyembur dari leher korban dengan senyum di bibir tiba-tiba menggigil dengan hati berdebar-debar tak tenang.
“Kalian benar.“ kata Dentalaya,
“akupun merasa tidak enak kalau
teringat akan wajah pendeta Bayumurti yang ramah tamah dan tersenyum-senyum menghadapi kematiannya itu. Biasanya orang yang akan menjalani hukuman mati tidak sedemikian itu mukanya. Aku lebih suka kalau melihat
dia melolong-lolong minta
ampun. Mari kita pergi saja dari sini, siapa tahu kalau-kalau pendeta
ini adalah murid seorang iblis
yang akan datang mengamuk dan membalas dendam
kepada kita!“
Ucapan kepala mereka ini
mendatangkan dorongan yang membuat ketiganya lalu pergi
dari situ dengan langkah ringan dan
cepat seakan-akan di belakang mereka telah mengejar seorang iblis yang menakutkan. Kalau saja algojo-algojo yang berhati kejam akan tetapi penakut itu
berani menengok lagi, tentu lari mereka akan lebih cepat lagi oleh karena
seperti dugaan mereka, benar- benar telah muncul
banyangan-bayangan pendek kecil dari
belakang pohon-pohon. Bayangan- bayangan kecil initanpa banyak
cakap lalu mengerjakan pacul yang
mereka bawa untuk mengali kembali kuburan
yang memendam tubuh
Panembahan Bayumurti. Tentu para algojo itu akan menyangka bahwa bayangan-bayangan ini adalah setan-setan cebol atau bujang-bujang keplek yang menakutkan. Padahal
sesungguhnya, mereka ini
adalah anak-anak kecil yang dipimpim oleh Pangeran Balaputera dewa yang
mentaati permintaan ayundanya.
Tak lama kemudian, terbongkarlah tanah kuburan yang
mudah dipaculi itu dan alangkah
herannya anak-anak itu ketika melihat bahwa tubuh yang dipendam itu
sama sekali tidak mati, bahkan ketika kuburan
telah terbongkar, mereka
melihat tubuh Panembahan Bayumurti sedang enak duduk bersila dan kini memandang kepada mereka dengan mulut tersenyum. Kalau saja anak-anak itu tidak membongkar kuburan,
agaknya pendeta inipun dapat keluar sendiri.
Memang Panembahan bayumurti
adalah seorang sidik dan
sakti mandraguna, yang mempunyai aji
dan kepandaian luar biasa sehingga ia takkan mati kalau hanya menghentikan jalan pernapasan untuk beberapa lama
saja. Kepandaiannya terlalu tinggi untuk dapat mati dikubur hidup-hidup. Oleh karena itu maka ia sengaja
memilih hukuman itu.
“Anak-anak yang baik!“ kata pendeta itu
setelah anak-anak itu hilang rasa kagetnya.
“Kalianlah yang akan menjadi pendeta-pendeta utama dari Agama Buddha. Di bawah pimpinan Pangeran Balaputera Dewa, kalian akan membikin jaya kerajaan yang
beragama Buddha!“
Setelah berkata demikian, tubuh itu bergerak, lenyaplah pendeta itu dari
pandangan Balaputera dan kawan-kawannya. Tentu saja anak-anak itu
menjadi ketakutan dan segera melarikan diri cerai-berai.
Balaputera segera mendapatkan ayunda
dan menceritakan pengalamannya.
Pramodawardani menghela
napas panjang dan berkata perlahan,
“Sudah kuduga, adikku. Pendeta itu bukanlah orang
sembarangan dan perbuatan Maha Wiku Dharmamulya sungguh memalukan kita. Jangan kau ceritakan peristiwa itu kepada orang lain, adikku yang baik!“
Sang Puteri Pramodawardani tidak tahu
bahwa adiknya tidak menceritakan semuanya.
Bahkan kepadanya sendiri,
Balaputera tidak menceritakan tentang
kata-kata Pendeta Bayumurti tadi tentang kerajaan beragama Buddha yang kelak berada di bawah pimpinannya.
Balaputera masih kanak-kanak. Usianya
masih sebelas tahun, namun
anak ini memang memiliki kecerdikan luar biasa. Ia maklum bahwa sebagai puteri sulung, kakaknya lebih
berhak atas mahkota ayahndanya, maka tidak pada tempatnya dan kurang enaklah kalau ia menceritakan tentang
ramalan Panembahan Bayumurti
bahwa kelak ia yang akan membikin jaya
kerajaan beragama Buddha.
Tentu saja anak ini tidak sekali-kali
menyangka bahwa ramalan
pendeta sakti itu memang cocok, akan
tetapi kerajaan beragama Buddha bukanlah Kerajaan Syailendra di
Pulau Jawa, akan tetapi Kerajaan Sriwijaya di seberang.
Berkat pertolongan Panembahan Bayumurti, Indrayana dapat meloloskan diri dari cengkraman Maha Wiku Dharmamulya dan rombongannya. Raden Pancapana yang
ternyata gagah perkasa itu bersama dara jelita Candra Dewi mentaati pesan Sang Panembahan, ikut
pergi dengan Indrayana untuk
bersama-sama menghadap Sang Pertapa Begawan Ekalaya di Muria.
Kalau saja di antara mereka tidak
terdapat seorang dara seperti Candra Dewi, tentu Indrayana
dan Raden Pancapana telah
mengerahkan kepandaian mereka.
Akan tetapi sungguhpun Candra
Dewi adalah keturunan seorang ahli tapa yang sakti, tetap saja ia
merupakan seorang wanita yang halus dan lemah lembut. Kulit telapak kakinya demikian tipis dan halus sehingga dara ini berjalan dengan muka tunduk, memilih tempat yang rata dan halus untuk kakinya berpijak, berjalan dengan
langkah tenang dan halus tidak
tergesa-gesa. Kedua taruna itu
terpaksa berlaku sabar, mengiringkannya dengan perlahan dan perjalanan itu seakan-akan merupakan perjalanan tamasya
belaka, sekali-kali bukan perjalanan orang-orang yang
diburu musuh.
Oleh karena itu, perjalanan yang amat sukar itu makan waktu lama
sekali.
Namun, betapapun sukar dan jauhnya perjalanan, Candra
Dewi memperlihatkan bahwa darah
pertapa yang tahan menderita mengalir
di dalam tubuhnya. Tak pernah
terdengar keluhan dari bibirnya berbentuk indah, tak pernah keningnya
yang halus itu berkerut, bahkan
jarang sekali ia mengeluarkan kata-kata kalau tidak untuk menjawab sesuatu
pertanyaan.
Juga Raden Pancapana orangnya
pendiam, betul-betul bersifat
seorang ksatria utama, matanya bersinar-sinar tajam,
bibirnya tersenyum ramah, akan tetapi jarang sekali bicara. Melihat
keadaan kedua orang kawan
seperjalanannya ini, Indrayana merasa kurang enak. Telah setengah hari mereka berjalan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia menjadi petunjuk jalan dan
kedua orang itu hanya mengikutinya saja
ke mana ia pergi. Akhirnya dia tidak
dapat menahan sabar lagi, dan
mengambil keputusan harus memperkenalkan diri, harus mengetahui keadaan
mereka dan menceritakan keadaannya
sendiri lebih dulu agar hubungan mereka tidak sedemikian tawar.
Tiba-tiba ia menunda perjalanannya dan berpaling kepada kedua orang kawan seperjalanan itu sambil tersenyum dan berkata,
“Maafkan aku, Raden Pancapana dan
engkau juga, diajeng Candra Dewi. Kalau
tidak berkeberatan, marilah kita beristirahat sebentar, karena
diajeng Candra Dewi tentu lelah dan
lapar.“
Dengan sepasang matanya
yang bening memancar dari
balik bulu matanya yang lentik,
Candra Dewi memandang kepada
Indrayana dan berkata menahan
senyum,
“Aku tidak lelah dan juga tidak
lapar.“
Indrayana tertegun dan merasa
serba canggung. Benar-benar gadis yang kuat dan tahan uji, pikirnya. Namun ia tak mau kalah dan bahkan duduk
di atas rumput di pinggir jalan, di
bawah pohon yang teduh.
“Sesungguhnya, akulah yang lelah dan lapar. Dan…… menurut pendapatku yang bodoh, agaknya sudah
sepatutnya kalau kita bertiga berkenalan lebih erat, karena bukankah kita
telah menjadi kawan-kawan senasib
sependeritaan, sahabat-sahabat
seperjalanan dan kelak akan menjadi saudara
seperguruan pula ?“ Ia
membalas pandang mata Raden Pacapana yang tajam menatapnya, lalu berkata lagi,
“Harap maafkan aku yang kasar dan bodoh. Sesungguhnya, berdiam-diam seperti ini tak enak
bagiku, aku sudah biasa bergembira. Biarlah
kuceritakan keadaan diriku agar kalian dapat mengenalku lebih baik.“
“Kami sudah tahu siapa adanya
dirimu, kawan,“ kata Raden
Pancapana.
“Engkau adalah Raden Indrayana, putera dari Wiku Dutaprayoga yang menjadi ahli keris dari Kerajaan Syailendra.”
Indrayana tertawa girang, lalu berkata jenaka,
“Ah! Ini namanya tidak adil! Kalian sudah mengetahui keadaanku
sedangkan aku sama sekali
belum tahu siapakah sebenarnya kalian ini.“
Raden Pancapana lalu duduk pula di atas sebuah batu tak
jauh dari Indrayana dan dengan matanya memberi
isyarat kepada Candra Dewi
untuk duduk pula di atas rumput, lalu
berkata,
“Indrayana, engkau adalah putera seorang wiku Agama Buddha dan menjadi hamba dari Kerajaan Syailendra yang besar dan berpengaruh. Untuk apakah engkau hendak mengenal orang-orang Mataram yang kecil
seperti kami? Bukankah engkau sudah tahu bahwa aku adalah murid
dari Panembahan Bayumurti dan diajeng Candra Dewi ini adalah
puterinya?“
Dengan amat heran Indrayana menatap
wajah Pancapana dan ia
menjadi terheran sekali melihat betapa pemuda itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya tadi.
Tak terasa lagi Indrayana melompat bangun dan berkata dengan penasaran,
“Eh, eh, bagaimanakah ini? Mengapa orang macam aku disebut besar
karena hanya menjadi hamba dari Kerajaan Syailendra dan orang-orang seperti kalian
menganggap diri kecil karena menjadi hamba Kerajaan Mataram? Janganlah bersikap demikian, kawan, kita sama-sama manusia
yang hanya berbeda agama,
akan tetapi sampai di manakah perbedaan itu? Anggapan kita sendiri juga
yang membedakan, kawan. Hanya faham
yang berbeda, akan tetapi tujuannya hanya satu! Adakah agama yang mengajarkan keburukan? Adakah agama atau filsafat yang mendorong penganutnya melakukan kejahatan? Tidak ada! Semua memberi pelajaran baik, dorongan ke
arah perbuatan baik, menjunjung tinggi kegagahan, kebajikan kejujuran, dan kemanusiaan. Semua
tergantung kepada manusia sendiri,
kawan, tergantung kepada
perbuatan si penganut agama. Betapapun tinggi dan pelajaran suci
sesuatu agama, kalau yang
mempelajarinya itu seorang yang beriman bejat, takkan ada gunanya sama
sekali!!“
Indrayana bicara dengan penuh nnafsu menggelora. Ia berdiri dengan
kedua kaki terpentang lebar, dengan
dada terangkat, kepala dikedikkan dan sepasang matanya memandang tajam,
bukan kepada kedua orang itu, akan tetapi ke atas, seakan-akan kepada langit. Memang, dalam mengucapkan kata-katanya tadi,
Indrayana merasa menyesal. Semenjak peristiwa yang dialami di
Candi Lokesywara, ia merasa kecewa
sekali.
Kecewa melihat betapa pendeta kepala, yakni Maha
Wiku Dharmamulya, yang dianggap paling tinggi, paling suci dan ahli dalam Agama Buddha, melakukan perbuatan yang mengecewakan hatinya.
Sebaliknya ia merasa kagum melihat sepak
terjang Panembahan Bayumurti, ia menjadi binggung mengapa pendeta
kepala dari agamanya demikian jahat sedangkan Pendeta Mataram
demikian bijaksana. Maka terbukalah matanya dan
teringatlah ia akan petuah ayahnya yang tiba-tiba meluncur keluar dari
mulutnya ketika ia merasa penasaran melihat
sikap Pancapana dan Candra
Dewi.
Pancapana dan Candra Dewi melihat sikap
Indrayana seperti itu, memandang kagum dan seketika itu
berubahlah sikap mereka. Pandangan mata Candra Dewi mengandung kekaguman
yang amat mesra, sedangkan Pancapana lalu melangkah maju dan merangkul pundak
Indrayna.
“Indrayana, betul seperti kata paman Panembahan Bayumurti. Kau adalah seorang ksatria yang gagah perwira,
keturunan seorang pertapa
yang bijaksana. Aku girang
sekali dapat berkenalan dengan kau
yang gagah ini.
Indrayana. Mendengar ucapanmu tadi, lenyaplah segala keraguanku, Indrayana dan biarlah aku mengaku bahwa sesungguhnya aku adalah…… “
“Raden Pancapana…… !“ Tiba-tiba Candra Dewi menegur pemuda
itu sambil memandang heran.
Pancapana tersenyum dan
setelah pemuda ini tersenyum, lenyaplah
yang tadinya nampak pendiam dan bersungguh-sungguh itu. Wajahnya berubah terang dan
berseri, cakap sekali.
“Tidak apa, Candra, Indrayana, bagaimana kalau kau
dan aku mengangkat saudara? Aku lebih
tua dari padamu, maka kalau kau
setuju, mulai sekarang, kau adalah adikku, dimas Indrayana!“
Bukan main besar dan girang hati
Indrayana. Ia memegang tangan Pancapana erat-erat, lalu berkata sambil
tersenyum,
“Baiklah kakangmas Pancapana, aku bersumpah akan tetap setia dan membelamu
seperti seorang adik kandungmu sendiri!“
Kini wajah Candra Dewi memerah dan matanya berseri-seri girang.
“Kalau begitu, tentu menjadi lain persoalannya, dan
tentu saja tak perlu ada rahasia lagi yang harus disembunyikan,“ katanya dengan senyumnya yang manis bagaikan madu.
“Dengarlah baik-baik. Dimas
Indrayana,“ kata Pancapana sambil
menarik tangan Indrayana sehingga
mereka duduk kembali di atas
rumput,
“Sesungguhnya aku adalah putera dari Rama Prabu Sanjaya di Mataram yang telah almarhum.“
Terbelalak mata Indrayana memandang kepada pemuda itu.
“Kau……pangeran Pati dari Mataram?“ ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan hendak menyembah kepada Pangeran Pancapana, akan
tetapi Pangeran Pancapana memegang
kedua pundaknya dan mencegah Indrayana melakukan penghormatan ini.
“Dengar Indrayana. Tak perlu engkau melakukan banyak upacara seperti ini.
Bukankah engkau sedah menjadi adikku
sendiri? bersikaplah biasa, karena
sesungguhnya, selain Paman Panembahan Bayumurti, diajeng Candra Dewi,
dan engkau sendiri, tidak ada orang
lain di seluruh Mataram yang mengetahui hal ini!“
Pangeran Pancapana lalu
menceritakan pengalamannya dengan suara mengharukan. Sesungguhnya, ketika Kerajaan Mataram masih berada
di bawah asuhan Sang Prabu Sanjaya, kerajaan
itu menjadi kuat, makmur, dan mempunyai wilayah yang amat
luas. Bahkan Kerajaan Syailendra tadinya
mengakui kedaulatan Sang Prabu Sanjaya sehingga Kerajaan
Syailendra boleh dibilang berada dibawah kekuasaan Mataram. Akan tetapi, kebesaran Mataram itu
agaknya hanya tergantung kepada
kepribadian Sang Prabu Sanjaya, karena setelah Sang Prabu Sanjaya meninggal dunia, kejayaan Mataram mengalami kemunduran hebat.
Tahta Kerajaan dipegang
oleh Sang Prabu Panamkaran seorang pangeran
yang menjadi adik misan
mendiang Sang Prabu Sanjaya. Hal ini terjadi oleh karena putera Sang Prabu Sanjaya, yaitu Pangeran Pancapana, ketika ramandanya meninggal dunia,
masih muda sekali. Bahkan ada usaha
gelap dari para pengikut Sang Prabu
Panamkaran untuk melenyapkan dan membunuh Pangeran Pati Pancapana ini. Baiknya masih banyak hamba yang setia kepada mendiang Prabu Sanjaya, di antaranya adalah
Panembahan Bayumurti yang
segera membawa pergi Pangeran Pancapana dan
mendidiknya sebagai putera sendiri, bersama seorang puterinya, yaitu Candra Dewi. Semenjak Prabu
Panamkaran duduk di tahta
Kerajaan Mataram, makin lemahlah kedudukan kerajaan ini.
Banyak raja-raja kecil melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, sehingga
Kerajaan Mataram yang tadinya besar dan luas sekali wilayahnya itu, makin lama makin kecil dan tak berarti.
Raja-raja lain berani menentangnya, di
antaranya adalah Kerajaan Syailendra berdekatan, maka kerajaan inilah
yang akhirnya mempengaruhi Mataram
dan banyak daerah yang tadinya menjadi
daerah Mataram, perlahan-lahan menjadi
daerah Syailendra terutama sekali karena berkembangnya Agama Buddha yang berpusat di Kerajaan Syailendra.
Pancapana yang semenjak kecil
dibawa oleh Panembahan Bayumurti, mempelajari banyak ilmu kepadaian, aji
kesaktian, bahkan mempelajari seni pahat dan setelah dewasa,
pangeran ini pandai sekali
membuat patung-patung yang indah. Terhadap Panembahan Bayumurti ia
menggangap seperti seorang
ayah sendiri, dan terhadap Candra Dewi, ia menganggap sebagai adik kandung sendiri.
Baik Panembahan Bayumurti, maupun Candra Dewi dan Pancapana sendiri, menutup rapat-rapat rahasia ini sehingga pemuda yang tampan itu dianggap oleh orang lain sebagai seorang pemuda murid Panembahan Bayumurti belaka,
dan nama Pangeran Pati
Pancapana telah dilupakan orang dan
disangkanya telah terbunuh pengikut-pengikut Baginda Panamkaran.
Setelah bertemu dengan
Indrayana, barulah Pancapana membuka rahasia, karena ia merasa suka dan percaya penuh kepada Indrayana. Tentu saja Indrayana merasa terharu sekali mendengar riwayat pangeran
itu, dan untuk beberapa lama
ia hanya memandang dengan terharu. Kemudian
ia berkata,
No comments:
Post a Comment