Wednesday, March 25, 2015

Jilid 2



Akan tetapi Indrayana tidak mau mendengar ancaman ini dan melanjutkan perjalanannya. Ia mengusap pipi patung itu dan berkata perlahan,

“Manisku Pramodawardani, jangankan baru orang-orang kasar itu saja hendak merampasmu, biar Dewa sekalipun takkan dapat mengambil engkau dariku semudah itu.“

Dalam pandangannya, bibir patung itu seakan-akan tersenyum manis, maka dengan mesra Indrayana lalu menciumnya. Baru sadarlah ia ketika hidung dan bibirnya bertemu dengan batu yang dingin dan kasar. Ia menarik napas panjang lalu berlari cepat menuju ke Gunung Muria.

Ia telah memasuki wilayah Mataram ketika seorang pertapa tua menghadang di tengah perjalanannya. Tadinya Indrayana tidak memperhatikan, akan tetapi ketika kakek yang berdiri di tengah jalan itu mengangkat tangan kanannya, ia memandang dan alangkah herannya bahwa kakek itu bukan lain adalah Panembahan Bayumurti pertapa yang mengganggu pembukaan Candi Lokesywara dengan persembahannya patung Dewi Tara yang kini dipondong oleh Indrayana, lalu berkata tersenyum,

“Ha, hendak kau bawa kemanakah patung Dewi Tara itu?“

Merahlah muka Indrayana kalau pertapa yang sakti ini tahu akan semua pengalamannya, tentu ia tahu pula bahwa ia telah gandrung-gandrung dan tergila-gila kepada patung yang dianggapnya Sang Ayu Pramodawardani itu.

“Ini bukan patung Dewi Tara…… patung…… patung…… “ dengan ucapan gagap ini Indrayana lalu mengangkat patung itu dan memandangnya.

Tiba-tiba matanya terbelalak dan tak terasa patung itu terhempas dari tangannya, jatuh ke atas tanah dan patah lehernya, ternyata muka patung itu tidak menyerupai wajah Pramodadawardani lagi, akan tetapi menyerupai wajah Dewi Tara sebagaimana yang sering dibuatkan patungnya oleh para ahli seni pahat.

“Ha, ha !“ Panebahan Bayumurti tertawa.
“Pandangan mata memang hanya tipuan dan palsu belaka, Indrayana. Engkau hendak pergi ke tempat pertapaan enyangmu, Begawan Ekalaya, bukan ? Cepat, mari engkau ikut aku ke pondokku. Lekas, betulkan di sana. Tidak ada waktu lagi anak muda, cepat !“

Ajakan ini sedemikian berpengaruh sehingga Indraana tak kuat menahan kehendak sendiri. Ia membungkuk, mengambil patung yang telah patah lehernya itu, lalu berjalan mengiringkan pendeta yang sakti itu menuju ke sebuah hutan kecil.

Kedatangan mereka disambut oleh sepasang anak muda elok sekali. Yang seorang adalah seorang pemuda sebaya dengan Indrayana, cakap, tampan, dan gagah sekali. Sepasang matanya amat berpengaruh dan tajam dan dari bentuk mukanya dapat diduga bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan, melainkan keturunan bagsawan tinggi. Pakaiannya berbeda dengan pakaian pemuda biasa, bahkan pada tangannya tampak gelang ukiran dari pada emas. Begitu bertemu pandang, Indrayana menjadi kagum dan juga timbul rasa hormat dan sukanya kepada pemuda itu, dan diam-diam ada juga sedikit perasaan iri, karena dalam hal kecakapan dan kegagahan, pemuda ini benar-benar merupakan saingan berat.

Ketika ia melirik kepada orang kedua, kembali ia tertegun. Orang kedua adalah seorang dara yang usianya paling banyak enam belas tahun. Berbeda dengan pemuda itu, dara ini pakaiannya sederhana sekali, akan tetapi justru kesederhanaan pakaiannya ini makin menonjolkan kecantikannya yang asli dan murni. Seorang juwita yang jarang ada duanya, terutama mulut yang selalu tersenyum manis dan sepasang mata yang bening kocak itu.

Bagaimana di dalam hutan kecil, di pondok reyot dari panembahan ini terdapat dua orang manusia yang cakap seperti Dewa Komajaya dan cantik seperti Dewi Komaratih ini?

Panembahan Bayumurti memperkenalkan kedua orang muda itu kepada Indrayana dengan amat terburu-buru dan sederhana.

“Ini adalah muridku bernama Raden Pancapana, dan ini adalah anak tunggalku bernama Candra Dewi. Duduklah, Indrayana, duduklah. Dan kalian juga, Raden dan Dewi. Kalian bertiga dengarlah pesanku terakhir.“

Sungguhpun Indrayana dapat melihat kekejutan yang tiba-tiba menyerang dara itu dan juga Raden Pancapana, namun keduanya dapat menenangkan perasaan dan duduk dengan tenang. Hal ini amat mengagumkan hatinya, karena ternyata bahwa kedua orang muda itu telah mempunyai cukup tenaga batin untuk menekan segala perasaan hatinya.

“Indrayana, dengarlah. Ayahmu dan aku adalah sahabat karib ketika ayahmu belum menyeberang ke Syailendra dulu. Kami berdua sefaham, senasib sependeritaan, bahkan bertapapun di dalam satu gua. Akhirnya ayahmu mendapat kurnia dari Hyang Agung sehingga pandai membuat senajata, sedangkan aku hanya mendapat kurnia sebagai seorang pembuat patung saja. Seperti kau lihat sendiri, maksud baikku untuk mempersembahkan sebuah patung ternyata diterima dengan salah pengertian oleh Maha Raja Samaratungga. Hal itu tidak apa, karena Sang Prabu itu masih mempunyai alasan yang mengandung kebijaksanaan. Akan tetapi Maha Wiku Dharmamulya telah mempergunakan kesempatan itu untuk memperlihatkan dendam dan bencinya kepada kami orang-orang Mataram dan kepada kepercayaan dan agama kami. Ayahmu telah membuktikan kebijaksanaannya dan berusaha menolongku, maka sekarang, akupun harus membalas budinya itu. Ia berada dalam bahaya.“

Indrayana terkejut sekali,

“Dalam bahaya? Siapakah yang mengganggu ayah?” tanyanya kurang percaya.
“Siapa lagi kalau bukan Maha Wiku Dharmamulya yang meminjam kekuasaan Maha Raja Samaratungga. Bahkan kau sendiripun dan aku juga takkan mudah melepaskan diri dari jangkauan tangan Maha Wiku yang panjang dan penuh dendam, Indrayana.“

Pada saat Indrayana hendak bertanya, tiba-tiba terdengar suara orang dan derap kaki banyak sekali kuda menuju ke dalam hutan itu dan Panembahan Bayumurti berkata,

“Indrayana, kalau kau mau belajar seni pahat dan ukir pada murid dan puteriku, kau akan dapat membuat patung orang yang kau kasihi, akan tetapi kau harus berjanji mau mengajak murid dan puteriku menuju ke Gunung Muria dan menghadapkan mereka kepada eyangmu agar mendapatkan bimbingan. Yang datang itu adalah orang-orang Syailendra, biarlah aku yang menghadapi mereka. Kalian bertiga berangkatlah sekarang juga ke Muria!“
“Rama panembahan…… “ dara jelita itu berseru sambil memandang kepada ayahnya.

Jidatnya yang bagus itu berkerut dan matanya memandang ragu. Panembahan Bayumurti menghampiri putrinya dan mengelus-elus rambut anaknya yang hitam, halus dan panjang itu.

“Dewi, bocah ayu jangan gelisah. Kau pergilah dan ikut kedua orang pemuda ini. Pasti akan selamat“
“Rama panembahan, aku lebih suka mati disampingmu daripada hidup jauh dari padamu, rama…..“

Derap kaki kuda telah tiba di luar pondok dan di antara suara pikuk itu terdengar suara ketawa Panembahan Bayumurti yang nyaring ketika ia mendengar ucapan puterinya itu.

“Anakku yang manis, anakku yang denaok! Siapa mau kau mati di sampingku? Kita takkan mati nak, sebelum Hyang Yamadipati mengulurkan tangannya. Jangan rewel, engkau pergilah! Raden Pancapana, tolonglah kau jaga adikmu Si Dewi yang nakal. Nah, kalian bertiga, berangkatlah dari pintu belakang. Tidak ada waktu lagi!“

Setengah ditarik lengannya oleh Raden Pancapana, Candra Dewi berjalan ke luar dari pintu belakang, sebentar-sebentar menengok memandang ayahnya, diikuti Indrayana dari belakang. Patung yang patah lehernya itu ditinggalkan di dalam pondok. Setelah sekarang tidak menyerupai Pramodawardani, tak perlu ia bawa-bawa sepanjang jalan.

“Bayumurti dan Indrayana, menyerahlah sebelum kami menggunakan kekerasan!“ terdengar Maha Wiku Dharmamulya di luar pondok.

Ternyata bahwa Maha Wiku itu datang sendiri memimpin pengejaran dan bersama dia ikut pula seorang pertapa berjubah kuning yang berkepala gundul dan bertubuh tinggi besar bagaikan seorang raksasa. Memang dia ini bukanlah seorang Jawa, akan tetapi adalah seorang pendeta Buddha yang datang dari tanah Hindu dan bernama Wisananda. Pendeta Wisananda ini baru beberapa bulan berada di Kerajaan Syailendra dan ternyata bahwa selain dia pandai sekali dalam hal pelajaran Agama Buddha, juga memiliki kesaktian yang tinggi dan memiliki pula ilnmu sihir dan gaib yang mengagumkan orang. Maha Wiku Dharmamulya segera menghubungi dan mendekatinya, sehingga sebelum pendeta dari tanah Hindu itu kenal dengan orang lain, telah menjadi sahabat dan pembantunya yang amat setia.

Mendengar seruan Maha Wiku Dharmamulya, Panembahan Bayumurti lalu keluar dari pondoknya sambil membawa arca Dewi Tara yang patah lehernyanya itu. Ia tersenyum menghadapi Maha Wiku Dharmamulya lalu berkata,

“Dharmamulya, engkau datang mau apakah? Apakah engkau hendak mengambil patung ini? Akan tetapi harus kubikin betul dulu, karena lehernya patah!“

Sambil berkata demikian, kedua tanagn pendeta ini bergerak memasang kepala patung yang patah itu pada lehernya, memencet-mencet dan mengelus-elus sebentar dan…… patung itu telah menjadi lebih baik kembali. Panembahan Bayumurti lalu meletakkan patung itu di atas tanah dan berkata,

“Nah, sekarang sudah baik kembali, kalau hendak kau bawa, bawalah!“

Terdengar seruan kagum,

“Ahli patung yang luar biasa!“

Biarpun seruan itu di ucapkan dalam Bahasa Hindu, namun Panembahan Bayumurti yang sudah kenyang mempelajari kitab-kitab Weda, tentu saja dapat mengerti, maka ia tersenyum sambil memandang kepada orang yang mengeluarkan seruan memuji itu. Ternyata bahwa yang memuji itu adalah Wisananda, pendeta Buddha dari Hindu itu yang merangkap kedua tangan memberi penghormatan kepada Bayumurti. Di negerinya, ahli pembuat patung amat dihormati, baik oleh pendeta pemeluk Agama Hindu kuno maupun oleh pendeta-pendeta Budha dan dianggap sebagai seorang ayang amat tinggi kedudukannya, sejajar dengan para pendeta tinggi dan amat dihormati.

Akan tetapi pada saat itu, Maha Wiku Dharmamulya melihat berkelebatnya tiga bayangan orang-orang muda melarikan diri dari pintu pondok sebelah belakang.

“Nah, itu dia si pemberontak Indarayana! tangkap!“

Beberapa orang perwira segera menyerbu dan berusaha menangkap Indrayana, akan tetapi belum sempat mereka menjatuhkan tangan, Indrayana telah mendahului mereka dengan gerakan kaki tangannya sehingga tiga orang perwira yang menyerang di muka bergulingan mengaduh-aduh. Para perwira dan tamtama segera mengepung dan menyerang bagaikan semut, akan tetapi kini bukan hanya Indrayana yang menyambut mereka, juga Raden Pancapana membantu Indrayana menghadapi para pengeroyok itu. Melihat sepak terjang Raden Pancapana yang sekali bergerak saja sudah menjatuhkan lima orang pengeroyok, terkejut dan kagumlah Indrayana. Tidak saja dalam ketampanan dan kegagahan, juga dalam ilmu kepandaian dan kedigdayaan. Ksatria ini ternyata tidak berada di sebelah bawah tingkahnya. Ia makin gembira dan bersama Raden Pancapana lalu mengamuk. Para pengeroyok dianggap tumpukan rumput kering saja. Sekali dorong roboh bergulingan, sekali tendang cerai berai dan simpang siur. Candra Dewi hanya berdiri menonton dan sepasang matanya yang indah itu bersinar gembira memandang kagum kepada Indrayana tanpa diketahui oleh yang dipandangnya.

Melihat sepak terjang kedua orang yang dahsyat itu, Maha Wiku Dharmamulya maklum bahwa orang-orangnya takkan dapat berhasil untuk menangkap Indrayana, maka ia lalu berkata kepada Pendeta Wisananda.

“Saudara Wisananda, harap kau suka mengulurkan tangan membantu kami dan menangkap pemuda itu!“ Ia menuding ke arah Indrayana.
“Dia adalah seorang pemuda yang telah menghina Sang Prabu dan berani menghina Candi Lokesywara yang kita bangun.“

Panembahan Bayumurti memandang tajam dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat tubuh pendeta Hindu itu berkelebat dan tahu-tahu Pendeta Wisananda telah berdiri menghadang perjalanan Indrayana, Raden Pancapana, dan Candra dewi. Di tangannya terdapat sebatang tongkat panjang yang entah dari mana diambilnya.

Melihat gerakan pendeta asing ini, Indrayana dan Raden Pancapana terkejut dan maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang pendeta berilmu tinggi, maka kedua orang muda itu lalu mencabut keris pusaka masing-masing dan menyerbu ke depan. Akan tetapi, sambil tertawa Wisananda mengerakkan tongkatnya menangkis dan sekaligus kedua keris pemuda- pemuda itu beradu dengan tongkatnya yang ampuh. Indrayana dan kawannya terkejut sekali ketika merasa betapa telapak tangan mereka perih dan panas sekali. Sebelum mereka hilang kagetnya, tiba-tiba tangan kiri Wisananda menyambar dan sehelai tambang berwarna biru meluncur dari tangan kiri itu ke arah Indrayana. Pemuda ini mencoba untuk menangkis, akan tetapi begitu lengan kanannya bertemu dengan tambang, tahu-tahu tambang itu terus melibat bagaikan ekor ular dan sebentar luar biasa itu. Indrayana mengerahkan tenaga dan kesaktiannya, akan tetapi ia tak berdaya. Tambang itu terlalu kuat dan mempunyai daya yang mujizat sehingga makin keras ia memberontak. Makin erat pula ikatan pada tubuhnya.

Raden Pancapana hendak menolongnya, akan tetapi tongkat Wisananda terputar cepat dan mencegahnya mendekati tubuh Indrayana yang telah terikat erat dan tidak berdaya itu sehingga Pancapana terpaksa mundur lagi sambil menangkis dan mengelak dari serangan tongkat yang amat cepat dan berbahaya itu.

Tiba-tiba nampak bayangan yang amat cepat berkelebat dan terdengar bentakan.

“Wisananda! Jangan engkau menghina anak muda. Kalau engkau mempunyai kepandaian, lawanlah, aku, sama tua!“

Ternyata bahwa Panembahan Bayumurti telah melompat dan kini dengan sekali renggut saja ia telah melepaskan tambang yang mengikat tubuh Indrayana.

“Pergilah!“ katanya kepada Indrayana.
“Pergi dan bawalah murid dan anakku serta! Biarlah aku menghadapi orang-orang mabok angkara ini!“

Indrayana tidak berani membantah dan ia lalu melanjutkan perjalanannya bersama Raden Pancapana dan dara jelita Candra Dewi. Tak ada seorangpun rombongan dari Syailendra ini yang berani mencegah mereka, karena di situ terdapat panembahan Bayumurti yang berdiri dengan tenang dan tersenyum. Melihat cara penembahan Bayumurti melepaskan ikatan Indrayana, maklumlah ia bahwa pendeta ini memiliki kesaktian yang tak boleh dipandang ringan.

“Wisananda!“ Bayumurti menantang lagi.
“Mengapa engkau tidak bergerak? Apakah engkau hanya berani menjatuhkan tangan kepada orang-orang muda saja?“

Pendeta Bangsa Hindu itu menggelengkan kepala,

“Aku segan untuk bertempur melawan seorang ahli seni yang kukagumi.“

Maha Wiku Dharmamulya sudah sampai di situ pula. Dengan marah ia menuding kepada Bayumurti dan berkata,

“Bayumurti! Engkau seorang Mataram mengapa tidak tahu malu dan mencampuri urusan orang-orang Syailendra? Indrayana adalah orang Syailendra dan sudah menjadi hak kami untuk menangkapnya atas perintah Maha Raja kami, mengapa engkau berani mencampurinya?“
“Mataram dan Syailendra hanyalah sebutan orang belaka,“ jawab panembahan Bayumurti dengan tenang,
“akan tetapi Indrayana, engkau atau aku juga manusia biasa yang sama-sama berkulit daging. Melihat seorang manusia dikejar-kejar dan hendak dikuasai oleh orang-orang lain yang terdorong oleh nafsu angkara murka, tentu saja sudah menjadi kewajibanku untuk menolongnya.“
“Bayumurti, engkau ternyata sombong dan mengandalkan kepandaianmu. Penangkapan atas diri Indrayana adalah perintah Maha Raja Samaratungga karena Indrayana telah melakukan pelanggaran dan kekurang ajaran di hadapan raja. Sekarang engkau menghalangi kami menangkapnya, itu berarti engkau telah menghina titah raja. Apakah engkau berani mempertanggungjawabkannya dan menghadap kepada Sang Prabu?“
“Mengapa tidak berani? Aku memang hendak pergi ke sana, hendak membebaskan Wiku Dutaprayoga yang telah kena fitnah oleh ketajaman lidahmu! Akulah yang bertanggungjawab untuk semua perkara ini, baik urusan mengenai diri Wiku Dutaprayoga maupun mengenai urusan puteranya, Indrayana!“

Demikianlah, rombongan pasukan Syailendra yang dikepalai oleh Maha Wiku Dharmamulya itu kembali ke Kerajaan Syailandra sambil membawa Panembahan Bayumurti di tengah-tengah mereka.

Rakyat yang telah mendengar tentang ditangkapnya Wiku Dutaprayoga dan dikejarnya Indrayana putera Wiku itu, menyambut kedatangan rombongan itu dengan heran, karena mereka tidak melihat Indrayana tertangkap, sebaliknya rombongan itu membawa seorang pendeta Mataram yang nampak tenang dan tersenyum-senyum saja.

Akan tetapi banyak orang, terutama para dara, merasa lega karena Indrayana yang mereka sayang itu tidak tertangkap. Ketika mereka mendengar bahwa pendeta ini adalah pendeta yang telah mengacaukan pembukaan Candi Lokesywara dan telah menyumbangkan sebuah patung Dewi Tara yang kemudian dirobahnya menjadi patung Puteri mahkota, orang-orang lalu berduyun-duyun datang untuk menyaksikan pendeta yang aneh dan pandai itu.

Maha Wiku Dharmamulya lalu membawa sendiri pendeta Mataram itu menghadap kepada Sang Prabu Samaratungga. Maha Raja inipun agak tercengang ketika melihat bahwa yang dihadapannya bukan Indrayana pemuda yang berani dan kurang ajar itu, melainkan pendeta yang telah menggegerkan pembukaan candi. Hati Sang Prabu kurang enak melihat wajah Panembahan Bayumurti yang memandangnya dengan tajam, karena Sang Prabu maklum bahwa pendeta ini adalah seorang yang sakti dan tidak enaklah untuk berurusan atau lebih-lebih bermusuhan dengan orang yang berwajah tenang, bermata tajam dan bibir selalu tersenyum itu.

Dengan sabar Maha Raja Samaratungga mendengarkan laporan Maha Wiku Dharmamulya tentang penangkapan atas diri Indrayana yang digagalkan oleh Bayumurti yang kini datang mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.

“Panembahan Bayumurti.“ berkata Sang Prabu dengan muka muram.
“Kau adalah seorang panembahan, seorang ahli kebatinan yang seharusnya mengutamakan perbuatan baik dan ketentraman. Akan tetapi mengapa engkau sengaja mendatangkan kekacauan dan sengaja menghalangi kehendakku menangkap Indrayana, seorang hambaku sendiri? Panembahan Bayumurti, bukankah ini berarti bahwa kau telah berlaku keterlaluan dan kau terlalu mengunggulkan kesaktianmu?“ Maha Raja Samaratungga menahan napas untuk menekan gelora kemarahannya.
“Atau kau sengaja melakukan hal ini untuk menghinaku? Ketahuilah, hai panembahan sesat, raja junjunganmu sendiri di Mataram tidak berani berlaku kurang hormat seperti ini terhadapku!“

Panembahan Bayumurti yang tadinya tersenyum-senyum, kini menahan senyumannya dan memandang dengan sungguh-sungguh, lalu memberi hormat kepada raja besar itu.

“Sang Parabu yang bijaksana dan budiman,“ katanya tenang,
“hamba cukup menghargai paduka, bahkan persembahan patung itupun hamba maksudkan sebagai tanda penghargaan hamba. Paduka adalah seorang raja besar, berbeda dengan raja di Mataram yang makin kehilangan pamornya, karena kurang bijaksana dan tidak dapat mengatur pemerintahan seperti paduka. Hamba sekali-kali tidak berniat hendak mengacaukan Negara Syailendra.“
“Kalau memang demikian pendirianmu, mengapa kau selalu menghalangi tugas Maha Wiku yang bertindak atas perintahku? Mengapa pula kau menolong Indrayana dan sesungguhnya, apakah maksudmu datang di Syailendra? Apakah karena kau terbawa oleh arus pertikaian antara agamamu dan Agama Buddha ? Ketahuilah, bahwa kami sendiri menganggap segala pertikaian itu sebagai kebodohan anak-anak kurang mengerti akan keadaan yang sebenarnya. Aku sendiri tidak suka menyaksikan segala macam permusuhan itu terjadi. Apakah kau sengaja datang menghina para penganut Buddha di kerajaanku ini?“
“Dijauhkan oleh dewata pikiran macam itu dari kepala hamba!“ jawab Panembahan Bayumurti.
“Sesungguhnya, Sang Prabu yang mulia, tak hendak mendahului kehendak Dewata, akan tetapi waktunya akan segera tiba di mana Tanah Jawa akan tentram bahagia, tidak ada pertikaian dan perbedaan faham antara Syailendra dan Mataram. Kedua agama akan hidup rukun dan penuh pengertian, saling mengalah. Bahkan bukan tidak mungkin kedua agama akan di junjung tinggi bersama oleh kerajaan di Jawa! hamba datang hanya sebagai pelopor, hendak memperlebar jalan terlaksananya hal yang amat baik dan sempurna itu, Sang Prabu! Hendaknya diingat bahwa segala macam kebahagiaan itu tidak dapat datang begitu saja, tanpa mengalami kepahitan dan kesukaran terlebih dahulu. Banyak rintangan nampak di depan, banyak…… ah, banyak sekali, Sang Prabu, akan tetapi, dewi kemurahan semua Dewata, juga kemurahan Sang Buddha yang paduka puja, akan tibalah saat yang baik itu!“

“Tutup mulutmu yang mengoceh tidak karuan!” Tiba-tiba Maha Wiku Dharmamulya yang duduk di dekatnya membentak.

Akan tetapi sebelum Maha Wiku ini melanjutkan bentakannya, Maha Raja Samaratungga memberi tanda dengan tangannya agar pendeta kepala itu berdiam diri, kemudian ia tersenyum dan berkata kepada Panembahan Bayumurti,

“Segala harapanmu itu baik-baik saja, Bayumurti. Akan tetapi engkau telah menyimpang daripada percakapan semula. Yang hendak kuketahui hanya mengapa engkau menghalangi kehendakku menangkap Indrayana!“
“Gusti Prabu yang bijaksana! Paduka tentu tidak khilaf lagi tentang hukum sebab dan akibat. Segala tindakan Wiku Dutaprayoga yang kini ditangkap, dan juga tindakan Indrayana yang melarikan patung, itu semua hanyalah akibat. Mengejar dan menyalahkan akibat tanpa menengok lagi sebab-sebabnya adalah perbuatan yang sesat dan bodoh, sama halnya dengan menyiramkan minyak wangi pada sebuah kamar yang berbau busuk karena ada bangkai tikus di bawah balai-balai, tanpa mencari bangkai itu dan membuangkannya! Dalam hal ini, yang menjadi sebab adalah hamba sendiri dan perbuatan hamba! Kalau hamba tidak datang mempersembahan patung kepada paduka, tentu Maha Wiku Dhamamulya tidak marah dan hendak menikam hamba dan Wiku Dutaprayoga tidak membela hamba serta menghalangi maksud dan kehendak Sang Maha Wiku. Kalau hamba tidak merobah patung itu seperti Puteri Paduka, tidak nanti Indrayana akan mencuri patung itu dan menjadi orang buruan! Dengan demikian, pokok pangkalnya semua peristiwa ini adalah perbuatan hamba dan hambalah yang harus menerima amarah paduka! Hamba yang akan mempertanggung jawabkan perbuatan Wiku Dutaprayoga dan puteranya itu dan kalau paduka hendak menjatuhkan hukuman, jatuhkanlah kepada hamba! Hamba menuntut kebebasan Wiku Dutaprayoga dan Indrayana!“

Maha Raja Samaratungga tertegun mendengar ucapan ini. Ia merasa terheran mengapa Kerajaan Mataram makin mengecil dan menyuram, pada hal negara itu mempunyai banyak orang-orang pandai dan waspada seperti pendeta ini! Semenjak Sang Prabu Sanjaya meninggal dunia dan singgasana Mataram diduduki oleh Raja Panamkaran, mulai nampaklah kemunduran besar pada kerajaan itu.

“Panembahan Bayumurti, engkau benar-benar aneh.“

“Gusti Prabu, memang manusia ini makhluk yang paling aneh di atas dunia!“

Belum pernah Maha Raja Samaratungga melihat seorang pendeta yang pandai, ramah-tamah dan berani seperti pendeta ini, maka timbullah rasa suka dalam hatinya.

“Biarlah, kubebaskan Wiku Dutaprayoga dan kuampunkan kekurangajaran Indrayana. Juga engkau boleh pergi dengan bebas, asal saja jangan kauulangi perbuatanmu yang dapat menimbulkan salah faham kepada hamba sahaya di kerajaanku. Tentang harapan dan cita-cita yang baik iti,“ sampai disini Maha Raja Samaratungga tersenyum dan matanya berseri,
“biarlah kau serahkan kepada kebijaksanaan para Dewata, karena itu bukanlah tugas kita manusia!“
“Sang Prabu!“ tiba-tiba Maha Wiku Djarmamulya menyembah,
“hamba tidak setuju kalau pendeta ini dilepaskan begitu saja! Ini berarti merendahkan derajat Kerajaan Syailendra sendiri, Gusti!“

Maha Raja Samaratungga berkata dengan sabar,

“Maha Wiku, aku tidak bisa mengangkat dan mengagungkan derajat sendiri.”
“Akan tetapi, selain itu, pendeta inipun telah menghina Agama Biddha!
Sepak terjangnya jelas meremehkan agama kita dan hal ini kalau didiamkan saja amat berbahaya, Sang Prabu! Kalau pendeta yang menghina agama kita ini dibebaskan begitu saja, hamba khawatir kalau-kalau sebentar lagi pendeta Trimurti dan semua penganutnya akan berlaku kurang ajar dan sewenang-wenang terhadap kita!“
“Akan tetapi, aku telah memberi kebebasan kepadanya, Maha Wiku, dan sabda seorang Ratu tak dapat disangkal pula.“
“Memang demikianlah hendaknya, Sang Prabu, akan tetapi, pendeta ini masih harus berurusan dengan hamba. Sebagai pendeta kepala, hamba berhak pula mengadilinya, berdasarkan kesalahan kedosaannya terhadap agama kita. Perkenankanlah hamba bicara dengan pendeta sesat ini, Gusti.“

Terpaksa Maha Raja Samaratungga memberi perkenan, karena iapun tidak merasa enak hati kalau sampai mengecewakan hati Maha Wiku yang berpengaruh itu.

“Bayumurti!“ kata Dharmamulya dengan muka keren.
“Sebagai seorang pendeta, apakah kau begitu tak tahu malu untuk menarik kembali kesanggupanmu yang telah keluar dari mulutmu yang palsu? Kau telah mengatakan bahwa kau akan mempertanggungjawabkan kesalahan Dutaprayoga dan Indrayana. Kau sanggup untuk menerima hukuman yang dijatuhkan kepada mereka bukan?“
“Aku mengerti maksudmu, Maha Wiku Dharmamulya, teruskanlah!“
“Sesungguhpun Sang Prabu telah mengampuni kedua orang ayah dan anak itu, namun sebagai pendeta kepala, akupun berhak mengadilinya. Menurut hukum, orang yang berani menghina pendeta kepala, dapat dihukum kubur hidup-hidup, orang yang berani mencuri patung dari candi, dapat dihukum penggal kepala. Apakah kau masih berani menerima hukuman yang hendak kujatuhkan kepada mereka ?“
“Tentu saja berani, Dharmamulya. Teruskanlah!“
“Ucapan dan kesanggupan seorang pendeta takkan diingkari lagi!“

Dharmamulya memperingatkan

“Tentu, tentu, hukuman apakah yang henak dijatuhkan?“
“Penggal kepala atau kubur hidup-hidup! Nah, engkau pilihlah!“
“Maha Wiku, mengapa sekeras itu?“ tiba-tiba Sang Prabu Samaratungga berkata mencela.

Akan tetapi dengan masih tersenyum, Panembahan Bayumurti berkata lantang,

“Dharmamulya, aku tahu bahwa hatimu penuh nafsu dan dendam. Aku tidak mengakui bahwa Indrayana mencuri patung, akan tetapi aku akui bahwa
Dutaprayoga telah berani melawanmu untuk tak membelamu. Maka biarlah kupilih kubur hidup-hidup untuk menebus dosa Dutaprayoga!“

Maha Raja Samaratungga terkejut sekali dan hendak mencegah hal ini, akan tetapi baru saja ia hendak bicara, ia melihat betapa Panembahan Bayumurti memandangnya dengan mata bersinar dan bibir tersenyum seakan-akan memberi tanda agar Sang Prabu jangan merasa gelisah dan khawatir.

“Maha Wiku Dharmamulya, sebelum aku menjalani hukuman yang hendak kaujatuhkan, aku minta agar supaya Dutaprayoga dibebaskan dulu dan dapat bertemu muka dengan aku.“

Setelah Maha Wiku Dharmamulya minta perkenan Maha Raja Samaratungga, maka pendeta Maratam yang berani dan aneh itu digiring ke luar. Panembahan Bayumurti benar-benar kelihatan tenang dan gembira dan ketika Wiku Dutaprayoga dikeluarkan dari tahanan dan memandangnya dengan heran, ia lalu menghampiri bekas sahabatnya itu, dan setelah mereka berada berdua saja, ia berbisik.

“Dutaprayoga, engkau tentu maklum pula bahwa yang kulakukan ini semata-mata untuk kebaikanmu. Puteramu selamat, dan engkau menghendaki agar kesemuanya ini berjalan lancar dan beres, engkau pergilah ke tempat pertapaan kita di Gunung Kidul dan kelak aku akan menyusulmu ke sana.“

Dutaprayoga maklum akan kesaktian bekas sahabatnya ini dan maklum pula bahwa biarpun Bayumurti usianya masih lebih muda daripadanya, namun dalam segala hal, Bayumurti memperlihatkan kelebihannya. Bahkan ayahnya sendiri, Sang Panembahan Ekalaya, selalu memuji keberaniannya, kesaktiannya, dan kegagahan pertapa Bayumurti.

Setelah Dutaprayoga pergi meninggalkan Kerajaan Syailendra, Panembahan Bayumurti lalu dimasukkan ke dalam tahanan, menanti upacara perjalanan hukuman baginya yang akan dilakukan pada malam bulan purnama, dua hari kemudian.

Hukuman yang amat mengerikan, yaitu dikubur hidup-hidup hukuman yang merupakan hukuman adat dan yang sesungguhnya sudah lama tak pernah dilakukan oleh maha Raja Syailendra, akan tetapi kini akan dilakukan oleh Maha Wiku Dharmamulya, seorang pendeta kepala yang diracuni batinnya oleh dengki, iri, dan angkara murka.

Taman Listyaloka yang berada di belakang istana Maha Raja Simaratungga adalah sebuah taman yang luar biasa indahnya. Ratusan macam bunga yang indah-indah mekar berseri di dalam taman. Harum semerbak bunga mawar yang bermacam-macam bentuk dan warnanya itu, ditambah pula dengan sedapnya bunga-bunga melati dan menur, bunga cempaka, kenanga, kaca piring, dan kantil. Segala keindahan dan keharuman yang dikumpulkan menjadi satu
di dalam Taman Listyaloka yang menakjubkan itu selain menarik perhatian kumbang-kumbang dan kupu-kupu serta burung-burung kecil yang berterbangan dari pohon ke pohon.

Memang indah sekali Taman Listyaloka, bahkan tamansari yang terkenal sekali di Kerajaan Mataram, takkan dapat melebihi keindahan Taman Listyaloka dari istana Syailendra ini. Apalagi kalau pemilik taman itu berada di dalam taman, maka akan bertambahlah kecantikan dan keindahan taman itu. Apabila Sang Puteri Pramodawardani berada di dalamnya, maka taman itu akan berubah seperti Taman Indraloka di Khayangan Batara
Indra, karena puteri jelita itu tidak kalah elok dan cantiknya oleh puteri atau bidadari Khayangan yang manapun juga.
Akan tetapi, pada senja hari itu, keadaan di Taman Listyaloka tidak seperti biasa. Tidak gembira dan tidak bersinar, seakan-akan muram dan sunyi. Ke manakah perginya burung-burung, kumbang dan kupu-kupu yang biasanya meramaikan taman bunga itu? mereka masih ada, akan tetapi burung-burung itu bersembunyi di dalam pohon, mendekan di atas cabang tak bergerak bagaikan sedang tidur, kumbang-kumbang bersembunyi di dalam kelompok bunga sedangkan kupu-kupu yang biasanya menari-nari itu kini menempel pada daun-daun bunag tanpa bergerak sedikitpun. Semua tampak berduka seakan-akan berkabung. Mengapa demikian? Kalau kita menengok ke tengah taman, di dekat empang bunga teratai di dekat pancuran air, maka akan melihat sebab kesunyian dan kemuraman itu. Di atas bangku terbuat dari batu hitam yang terbentuk indah dan mengkilat, duduklah Kusumaning Ayu Pramodawardani sambil menyangga dagu dengan tangannya. Keningnya yang indah itu berkerut, wajahnya muram dan berkali-kali terdengar tarikan napas halus. Banyak orang berkata bahwa kalau sang puteri ini tersenyum, maka dunia kan ikut tersenyum dengan dia, akan tetapi kalau dia bermuram durja, maka dunia akan menjadi gelap dan suram pula. Memang, siapakah orangnya dan mahluk manakah yang takkan menjadi kecil hati dan ikut berduka melihat keadaan sang jelita yang bermuram durja itu?

Semenjak peristiwa di depan Candi Lokesywara itu, sang puteri merasa tersinggung hatinya. Ia merasa amat kagum melihat keberanian dan kegagahan Indrayana, akan tetapi juga merasa kecewa terhadap pemuda yang menjadi kembang bibir para dara itu sedemikian kurang ajar kepadanya. Pramodawardani adalah seorang puteri yang tinggi hati dan ia sekali-kali tidak merasa puas bahwa ada seorang putera wiku berani berlaku sedemikian lancang terhadapnya. Pramodawardani selalu di manja dan merasa dirinya putera mahkota, ia menghendaki penghormatan sebesarnya dari siapapun juga.
Diam-diam ia merasa bangga kepada diri sendiri bahwa ternyata pemuda yang sudah terkenal menggoncangkan iman di dada para jelita itu, tidak berhasil menggoncangkan imannya yang teguh kuat. Ia memang amat tertarik dan kagum melihat wajah elok dan tampan itu, akan tetapi sama sekali keliru kalau orang mengira bahwa dia “jatuh hati“! Kusumaning Ayu Pramodawardani bukanlah seorang dara biasa yang mudah jatuh cinta dan mudah terluka oleh panah asmara.

Betapapun juga, terharu juga hatinya menyaksikan sepak terjang Indrayana yang jelas sekali menyatakan betapa besar cinta kasih dan kekaguman pemuda itu terhadap dia. Patung yang menyerupai wajahnya itu sampai dicuri dengan nekad oleh pemuda itu ! Merah wajah Pramodawardani apabila ia terkenang akan hal ini. Kemudian ia mendengar betapa ayah pemuda itu, Sang Wiku Dutaprayoga, ditangkap, dan betapa ayahnya mengeluarkan perintah penangkapan atas diri Indrayana. Betapa muak dan kecewanya. Ia maklum bahwa gara-gara ini pada hakekatnya berdasar atas kelemahan hati pemuda itu yang jatuh cinta kepadanya. Dan kalau sampai terjadi malapetaka dan hukuman menimpa diri pemuda itu dan Wiku Dutaprayoga, maka karena dialah itu, dia merasa berdosa, seakan-akan dialah yang menyebabkan kemalangan menimpa keluarga itu.

Kemudian ia mendengar pula tentang kembalinya rombongan Maha Wiku yang tidak berhasil menangkap Indrayana akan tetapi bahkan membawa pendeta yang membuat patung itu. Ia mendengar betapa pendeta Mataram yang aneh itu telah mengorbankan diri sendiri dan menyanggupi untuk memikul semua hukuman yang hendak dijatuhkan atas diri Indrayana dan Wiku Dutaprayoga, dan bahwa kemudian pendeta yang bernama Panembahan Bayumurti itu hendak dihukum kubur hidup-hidup oleh maha Wiku Dharmamulya.

“Alangkah kejamnya! alangkah ngerinya!“ berkali-kali Sang Puteri mengeluh seorang diri.

Terbayanglah pada wajahnya pendeta yang aneh itu, yang dengan usapan tangan pada patung Dewi Tara telah dapat membuat muka patung itu menjadi seperti mukanya sendiri ! Terbayanglah ia betapa pendeta itu selalu tersenyum ramah, sepasang matanya bersinar-sinar penuh seri gembira.

“Alangkah ngerinya! Mengapa Rama Prabu membiarkan saja hukuman yang keji ini berlaku atas diri pertapa itu?“

Hati Pramodawardani menjerit-jerit ketika ia duduk melamun dengan bunga teratai merah dan putih itu.
“Biarpun pertapa itu orang Mataram, akan tetapi iapun seorang manusia. Mengapa Rama Prabu tidak melarang dilangsungkannya hukuman yang melanggar perikemanusiaan ini?“

Dengan hati sedih dan penuh kasian kepada sang pertapa, Pramodawardani tak terasa lagi turun dari batu tempat duduknya, berlutut dan berdoa ke arah empang. Disitu terdapat bunga-bunga teratai dan daun-daun teratai yang lebar dan indah mengambang di atas air. Siapa tahu, kalau pada saat itu, terdapat Dewata yang sedang duduk bertapa di atas daun-daun teratai itu, karena daun-daun teratai memang tempat bertapa para Dewata yang berhati mulia. Bibir pramodawardani yang merah dan indah bentuknya itu berbisik-bisik,

“Semoga Sang Buddha dan Para Dewata melindungi Panembahan Bayumurti daripada hukuman yang keji ini!“

Pada saat itu, terdengar tindakan kaki perlahan di belakang Sang Puteri, kemudian terdengar suara riang.

“Ayunda yang baik, engkau sedang berbuat apakah di situ?“

Pramodawardani sadar daripada sama dirinya kemudian ia berpaling. Wajah yang tadinya muram itu menjadi terang bagaikan wajah bulan purnama terbebas daripada selimutan mendung, bibirnya tersenyum kembali dan seakan-akan mekarlah semua bunga di dalam taman pada saat Sang Puteri tersenyum amat manisnya itu.

“Adikku yang manis, kau mengejutkan hatiku, akan tetapi berbareng juga menggembirakan perasaanku.“
“Ayunda Wardani,“ kata anak laki-laki yang masih kecil itu,
“tadi kulihat kau bermuram durja dan bersamadi seakan-akan ada yang mengganggu hatimu. Apakah gerangan yang mengesalkan hatimu, ayunda?“

Pramodawardani memandang kepada adiknya dengan penuh kasih sayang. Adindanya ini, yang bernama Balaputeradewa atau biasa disebut Balaputera saja, memang seorang anak yang amat cerdik. Kepada adiknya ini sukarlah untuk membohong dan sukar sekali untuk menyembunyikan sesuatu dari pandangan matanya yang tajam. Pramodawardani tidak ingin menceritakan hal-hal yang memusingkan pikirannya itu kepada Balaputera, karena dianggapnya bahwa Balaputera masih terlampau kecil untuk mengetahui akan hal-hal itu, maka ia lalu memeluk adiknya dan membelai-belai rambutnya sambil berkata denagn penuh kasih sayang,

“Balaputera, adinda sayang. Aku tidak menyusahkan sesuatu, hanya sebelum kau datang, aku merasa kesunyian seorang diri di dalam taman.“
“Mengapa tidak kaulihat seorangpun emban dan pelayan? Ke manakah mereka, ayunda?“ tanya Balaputera sambil memandang ke kanan-kiri.
“Aku sudah bosan mendengar kelakar mereka yang tiada henti-hentinya, adikku, maka kusuruh mereka mengundurkan diri dan mengaso. Kasihan juga mereka telah bekerja sepanjang hari, bukankah mereka itu manusia juga seperti kita yang dapat lelah dan capai?“
“Kau memang berbudi dan berhati mulia, ayunda.“
“jangan memuji, adikku. Ayundamu hanya seorang manusia biasa saja, dan sebagai manusia, kita harus menanam budi sebanyak-banyaknya di hati sanubari kita, karena jangankan kita yang disebut manusia, makhluk terkasih dari para Dewata, sedangkan binatang pun tahu akan budi kemuliaan. Kau belum mendegar cerita tentang Burung Platuk dan Singa?“

Balaputera berseri wajahnya. Kakaknya ini memang pandai sekali bercerita, maka melihat kesempatan ini, ia tidak mau menyia-nyiakannya. Sambil memegang tangan ayundanya yang halus dan lebih besar daripada tangannya sendiri itu, ia berkata mendesak manja,

“Belum, ayunda. Kau berceritalah, aku senang sekali mendengar ceritamu yang indah-indah!“

Pramodawardani tersenyum dan setelah mencium kening adiknya dengan mesra, ia berkata,

“Dalam sebuah hutan yang amat besar hidup seekor singa yang amat liar dan buas. Hampair setiap hari terdengar singa itu mengaum dan menggereng keras menggetarkan seluruh hutan. Itulah tanda bahwa singa itu sedang menagkap seekor binatang lain menjadi kurban dan mangsanya, yaitu kelinci, kancil, rusa, dan binatang-binatang lemah sebangsa itu. Gerengan singa buas itu selalu didiringi pekik ketakutan dan kesakitan dari kuraban yang diterkamnya.”
“Alangkah kejamnya singa itu!“ Balaputera mencela,
“Memang, adikku, singa memang seekor binatang yang amat kejam dan ganas. Oleh karenanya ia disebut raja hutan, sungguhpun bukan merupakan raja yang bijaksana, melainkan seekor raja hutan yang amat kejam dan ganas. Akan tetapi, telah beberapa hari tidak terdengar geraman dan auman kemenangan dari singa itu, yang terdeganr hanyalah gerengan-gerengan perlahan tanda kesakitan dan kelaparan dari raja hutan itu, diselingi sorak sorai yang gembira ria dari para binatang kecil. Hal ini memang mengherankan dan tidak sewajarnya. Maka seekor burung platuk yang berbulu indah dan berpatuk kuat terbang berpitar-putar di atas pohon-pohon untuk mencari tahu apakah gerangan yang terjadi dengan di raja hutan. Akhirnya dapat juga ia menemukan singa itu Kiranya singa itu tengah bergulingan di bawah pohon dalam keadaan hampir mati. Perutnya kempis tanda kelaparan, rahangnya terbuka lebar-lebar tak dapat ditutupkan kembali, ternganga bagaikan sebuah goa merah yang mengerikan.“
“Mengapakah gerangan dia?“ tanya Balaputera dengan penuh perhatian.

Ayundanya demikian pandai bercerita, suaranya halus lembut dan merdu sedangkan wajahnya bergerak membayangkan keadaan ceritanya sehingga pangeran kecil itu seakan-akan melihat di depan matanya sendiri peristiwa yang sedang terjadi di dalam cerita ayundanya.

“Demikian pula pertanyaan yang diajukan oleh di burung pelatuk.“ jawab Pramodawardani kepada adiknya,
“Ia bertanya kepada singa itu setelah terbang turun dan berdiri di atas cabang pohon di dekat si raja hutan. Singa merasa malu untuk menerangkan, akan tetapi akhirnya ia menjawab bahwa ketika ia sedang makan tubuh seekor kancil yang menjadi mangsanya tiga hari lalu, tulang punggung kancil yang nakal itu telah melintang dan terselit di tenggorokannya, sehingga tulang itu berhenti di tengah-tengah, tak dapat ditelan tak dapat pula dimuntahkan keluar, membuat mulutnya terbuka dan terganjal tak dapat ditutupkannya kembali.“
“Nah, itulah upah si rakus!“ kata Balaputera.

Kakaknya tersenyum memandangnya.

“Demikian pula yang dikatakan oleh burung platuk itu, adikku. Ia juga menegur singa dan mencelanya terlalu rakus. Orang makan tak boleh terburu-buru, tak boleh terlalu lahap dan rakus, harus memilih dengan hati-hati benda yang hendak dimasukkan ke mulut dan perut, demikian burung pelatuk yang bijaksana itu memberi nasihat. Singa merasa menyesal sekali dan baru insyaf akan segala kesalahannya, akan segala kekejamannya, kemudian sambil menangis sedih dia mohon pertolongan burung pelatuk itu untuk mengambilkan tulang yang mengganjal kerongkaongannya. Tulang itu melintang di dalam tenggorokan, sedangkan mulut singa itu terbuka lebar-lebar mengerikan, terlihat giginya yang runcing dan tajam manakutkan, sedangkan tulang itu berada jauh di belakang gigi-gigi itu. Untuk dapat mengeluarkan tulang itu, burung platuk harus memasukkan kepalanya di dalam mulut itu sampai dalam, dan apabila tulang itu telah dilepaskan, maka sekali saja singa itu menutupkan mulut, akan putuslah leher burung platuk.“
“Jangan biarkan ia memasukkan kepalanya di dalam mulut singa, ayunda!“
seru Balaputera gelisah.

Ayunda tersenyum,

“Adikku, burung pelatuk itu penjelmaan Sang Bodisattwa yang bersifat suci dan mulia. Untuk memberi pertolongan kepada sesama hidup, dia takkan pernah merasa ragu-ragu, jangankan baru menghadapi bahaya, sungguhpun dia harus berkorban apa saja nyawanya sekalipun, dia takkan mundur! Demikianlan, burung pelatuk yang bijaksana itu tanpa ragu-ragu lagi lalu memasukkan kepalanya ke dalam gua merah yang mengerikan itu, menggunakan paruh yang kuat untuk mematuk tulang kacil yang melintang di tenggorokan singa dan berusaha mengeluarkannya. Akhirnya berhasillah dia menolong nyawa singa itu dari bahaya maut.“
“Alangkah mulia hati burung platuk itu!“ Balaputera memuji,
“Akan tetapi, kalau aku menjadi burung pelatuk, aku tak sudi menolong singa jahat itu. Hanya burung pelatuk yang demikian bodohnya, menolong si jahat dengan bahaya maut mengancam nyawa sendiri. Seorang bijaksana tak dapat berlaku sebodoh itu!“

Pramodawardani mengerutkan keningnya yang berkulit halus kemerahan itu. Kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata halus,

“kau keliru Balaputera. Budi luhur lebih berharga daripada keselamatan tubuh sendiri, karena budi itu ada hubungannya dengan jiwa. Budi tak dapat sirna, sedangkan tubuh pasti akan musnah. Budi dan jiwa selalu ada dan takkan sirna slamanya, adikku, karena itulah maka Sang Bijaksana Buddha telah memebri banyak sekali contoh-contoh pelajaran. Jangan kau kira bahwa hanya binatang seperti burung platuk saja yang mau mengorbankan nyawa untuk menolong sesama hidup. Pernahkan kau mendengar cerita tentang Raja kaum Syibi?“

Balaputera menggelengkan kepala dan kembali timbul kegembiraannya karena ayunda akan bercerita lagi.

“Pada suatu hari, seekor burung dara putih yang dikejar-kejar oelh seekor burung rajawali, terbang dan mencari perlindungan di atas pangkuan Raja Kaum Syibi. Dara putih itu dengan suara pilu dan ketakutan minta pertolongan Raja dari pengejaran burung rajawali yang sedang kelaparan dan hendak menjadikan burung dara itu sebagai mangsanya. Maka datanglah burung rajawali itu terbang dengan gagah dan dasyatnya, turun di depan Raja dan menuntut dikembalikannya burung dara yang mendekam dengan tubuh gemetar di atas pangkuan raja.“
“Mengapa Raja itu tidak mengambil gendewa dan menahan saja burung Rajawali yang jahat itu?“ Balaputera mencela.
“Tidak, adikku, Raja itu maat bijaksana da ia tahu memang burung rajawali itu hanya makan daging dari burung-burung lainnya yang kecil-kecil seperti halnya singa tadi. Raja hendak mengganti ketagihan rajawali dengan daging yang lebih banyak dan lebih besar, akan tetapi rajawali tetap menolak. Bahkan ia lalu menuduh, kepada Raja itu berlaku tidak adil dan berat sebelah. Katanya bahwa raja hendak menolong burung dara dari bahaya maut akan tetapi sebaliknya hendak membuat si rajawali mati kelaparan dan hendak mengingkari apa yang telah menjadi dari hak si rajawali itu. Raja menyatakan bahwa ia telah berjanji hendak menolong burung dara itu dari bahaya maut dan bahwa sebagai seorang yang menjunjung tinggi janji sendiri, Raja itu akan suka berkorban apa saja untuk menepati janjinya. Burung rajawali lalu minta agar supaya Raja mengganti burung dara itu dengan daging Raja itu sendiri, sebanyak dan seberat burung dara itu.“
“Permintaan yang bukan-bukan dan gila !“ seru Balaputera.
“Tidak, adikku. Burung Rajawali itu adalah penjelmaan Dewata yang hendak menguji kesucian hati Raja kaum Syibi itu. Ketika Raja mendengar permintaan ini, tanpa ragu-ragu sedikitpun ia lalu mencabut pedangnya dan mengiris dagingnya sendiri pada betisnya sebanyak dan seberat burung dara itu dan memberikannya kepada burung Rajawali!“

Mendengar ini, Balaputera sampai melongo saking kagumnya terhadap kemuliaan hari Raja kaum Syibi itu,

“Demikianlah, Balaputera. Agama kita telah memberi contoh-contoh dan pelajaran yang jelas tentang sifat welas asih. Kalau engkau melihat seorang berada dalam bahaya maut dan terancam keselamatannya, apakah yang harus kau lakukan sesuai dengan ajaran kita?“

Karena semangatnya telah dibakar oleh dua buah cerita tadi, anak kecil itu menjawab dengan gagah,

“Aku akan menolongnya!“
“Betulkah? Sungguhpun engkau sendiri akan terancam bahaya usahamu menolong itu?“
“Tentu saja aku berani menghadapi segala macam bahaya, seperti burung pelatuk itu dan aku berani berkorban seperti Raja Kaum Syibi itu!“ kata pula Balaputera dengan gagahnya.

Pramodawardani memeluk adiknya dan menciuminya.

“Adikku sayang, tidak perlu engkau mengorbankan sesuatu dan tak perlu engkau menghadapi bahaya. Akan tetapi kalau engkau memang mau dan sanggup, sekarang juga engkau akan dapat menolong nyawa dan keselamatan seorang yang terancam hebat.“

Balaputera memandang kepada kakaknya dengan matanya yang bening dan lebar, mata seorang anak-anak yang masih bersih batinnya.

“Apakah maksudmu ayunda?“
“Balaputera, engkau tentu sudah mendengar bahwa seorang pendeta Mataram hendak diberi hukuman kubur hidup-hidup? Alangkah ngerinya! Apakah engkau tidak kasihan mengenangkan nasibnya? Sungguh lebih menyedihkan dari pada nasib singa buas dan burung dara itu. Engkau akan menjadi seorang anak yang baik kalau dapat dan mau menolongnya.“
“Akan tetapi, ayunda. Bukankah dia itu musuh kita? Dia seorang pendeta Mataram, seorang kapir……“
“sst, jangan berkata demikian, Balaputera, adikku. Betapapun juga, dia seorang manusia seperti kita. Apa lagi dia seorang pendeta dan ahli pembuat patung, kita harus menolongnya.“
“Akan tetapi, dia sudah dijatuhi hukuman.“
“Bukan ayah yang menghukumnya, akan tetapi Maha Wiku Dharmamulya! Bayangkan, adikku yang budiman, pendeta tua yang lemah dan ramah tamah itu, pendeta pandai yang bertangan halus, yang dapat membuat patung yang indah-indah, ia akan dikubur hidup-hidup. Bayangkan betapa sengsaranya, dimasukkan lobang di dalam tanah, lalu ditimbuni tanah, tak dapat bernapas, gelap, pengap…… ah, alagkah ngeri dan sengsaranya……
“Aku mau menolong dia!“ tiba-tiba Balaputera berkata gagah dan cepat.
“Akan tetapi, bagaimana caranya, ayunda?“

Pramodawardani memeluk adiknya dengan hati girang.

“Ah, kau memang seorang yang berhati mulia, kau calon manusia besar! Dengarlah, adikku sayang, kalau aku bukan seorang wanita, tentu aku akan bertindak sendiri, takkan menyusahkan engkau yang kecil. Aku takkan dapat leluasa bergerak diluar keraton. Akan tetapi kau bisa, kau mudah saja bermain-main di luar keraton. Dan mempunyai banyak kawan-kawan, anak-anak lelaki kecil yang suka kau ajak bermain-main di lapangan. Kau lebih bebas. Dengarlah baik-baik. Malam nanti tepat pada tengah malam, di kala bulan
purnama telah berada di atas kepala kita. Panembahan Bayumurti akan dikubur hidup-hidup di sebelah barat alun-alun. Kau dan kawan-kawanmu setelah semua orang yang melakukan hukuman keji itu pergi, pergilah ke tempat pendeta itu dikubur, kau suruhlah kawan-kawanmu menggali kuburan itu dan kau bebaskan pertapa yang malang itu. Dengan demikian kau akan menolong nyawa seorang suci, adikku!“
“Bagaimana kalau ayah mengetahui hal ini?“
“Jangan takut ayah takkan marah. Kalau seandainya ayah marah akulah yang akan bertanggungjawab. Aku akan mengakui bahwa kau hanya bertindak atas suruhan dan bujukanku. Biarlah ayah marah kepadaku.
“Ayah tak pernah marah kepadamu, ayunda. Ayah amat sayang kepadamu.“
“Karena itu, jangan kau takut kalau seandainya ayah mengetahui perbuatanmu ini. Betapapun juga usaha kita ini adalah usaha baik yang keluar dari hati nurani kita. Usaha menolong nyawa seseorang.“
“Kalau sampai Maha Wiku Dharmamulya mengetahuinya?“
“Biarkan saja! Ia akan berani berbuat apakah terhadap kita?“
“Baiklah, ayunda Pramodawardani. Akan tetapi……. Bagaimanakah dengan Indrayana itu?“

Pramodawardani memandang kepada adiknya dengan mata terbelalak lebar.

“Apa maksudmu?“

Balaputera tersenyum mengoda.

“Ayunda, aku telah mendengar bahwa pemuda elok itu…… bahwa ia mencintaimu dan mencuri patungmu, bukan?“
“Bedebah benar orang yang menceritakan hal itu kepadamu!“ Sang Puteri mamaki marah,
“Ssst, ayunda. Tak baik memaki dan menyumpah orang!“ merahlah wajah Pramodawardani.
“Orang itu…… Indrayana itu, Orang kurang ajar yang tidak ada hubungannya dengan persoalan ini.“
“Sayang, aku selalu suka kepada Indrayana. Semua kawanku menyatakan bahwa Indrayana amat gagah perkasa. Pernah dengan tangan kosong ia menangkap dan merobohkan seekor kerbau yang gila dan mengamuk! Sayang sekali, ayunda, aku suka kepadanya. Sayang engkau tidak suka kepada orang gagah perkasa itu.“
“Siapa bilang tidak suka …….!“
“Jadi engkau suka kepadanya?“ Balaputera berseri.
“Kalau aku berkata bahwa aku bukannya tidak suka kepadanya, ini bukan berarti pula bahwa aku suka!“
“bukan tidak suka, dan juga bukan suka! Aneh sekali, habis apakah perasaanmu terhadapnya, ayunda yang manis? Apa engkau tidak senang melihat Indrayana yang tampan dan gagah itu?“
“Memang ia tampan dan gagah,“ kata Pramodawardani terus terang
“Apakah engkau tidak kagum melihat keberanian dan ketangkaannya?“
“Mungkin ia berani dan tangkas.“
“Nah, mengapa tidak suka dan juga bukan membenci?“
“Sudahlah, cukup engkau ketahui bahwa dia adalah seorang yang kuang ajar! Aku tidak senang melihat orang berlaku kurang ajar! Cukuplah tentang Indrayana, sekarang baik engkau bersiap dan mengumpulkan kawan-kawanmu. Hari telah mulai gelap.“

Demikian, pada malam hari itu, menjelang tengah malam, di waktu bulan sedang bulat-bulatnya, terjadilah pelaksanaan hukuman yang amat kejam, itu Panembahan Bayumurti dikubur hidup-hidup di sebuah lobang yang dalam, kemudian ditimbuni tanah. Yang melaksanakan hukuman ini adalah algojo-algojo yang memang bertugas melaksanakan hukuman-hukuman mati.

Upacara hukuman dikepalai oleh Maha Wiku Dharmamulya sendiri, bersama beberapa orang wiku pembantunya. Sesunggunya, hal ini tidak disetujui oleh pendeta Hindu Wisananda, pembantu Maha Wiku Dharmamulya, akan tetapi Maha Wiku itu tidak perduli, hanya berkata,

“Sahabat Wisananda, mungkin hal ini agak ganjil bagimu. Akan tetapi ingat, kebiasaan di negerimu tidak sama dengan kebiasaaan di negeriku! Hukuman ini penting sekali, untuk menyatakan kepada semua orang Mataram bahwa kita tak boleh dipermainkan begitu saja.“

Maka dikuburlah Panembahan Bayumurti dan anehnya, selama dilakukan upacara, pendeta itu hanya tersenyum-senyum dan wajahnya berseri-seri, sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang sedang menjalankan hukuman mati, bahkan seakan-akan seorang mempelai laki- laki yang sedang bersiap untuk menyambut mempelai wanita tak lama lagi.
Pemandangan pada malam hari itu amat menyeramkan. Bayangan Maha Wiku Dharmamulya yang berkepala gundul itu bagaikan bayangan seorang iblis sendiri tengah tersenyum-senyum menikmati kemenangannya. Hati para wiku lain merasa tidak enak dan di dalam lubuk hatinya, setiap orang wiku tidak menyetujui hukuman ini. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang berani membantah pendeta kepala itu. Tentu saja Maha Wiku Dharmamulya yang sedang kemasukan bisikan setan-setan nafsu angkara murka dan dendam itu tidak merasai kesalahan sendiri. Jangankan seorang manusia, seorang dewapun agaknya sukar untuk dapat menginsyafi kesalahan diri sendiri. Diam-diam ia bahkan merasa bahwa sebagai pendeta kepala ia telah bertindak benar, telah dapat meninggikan agamanya, dapat membasmi seorang musuh agamannya, seorang kapir yang menghina Agama Buddha di dalam dirinya. Maha Wiku Dharmamulya merasa bahwa ia telah berjasa besar.

Bulan purnama agaknya merasa segan menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, menyaksikan seorang dikubur hidup-hidup, maka tiba-tiba bulan bersembunyi di balik segumpal awan, membuat permukaan dunia yang tadinya terang benderang menjadi gelap. Hal ini mendatangkan perasaan lebih tak enak lalu mendesak kepada Maha Wiku Daharmamulya untuk meninggalkan tempat hukuman itu. Karena menganggap bahwa upacara itu telah beres, Maha Wiku Dharmamulya lalu memesan kepada tiga orang algojo untuk menjaga di tempat itu sampai fajar, sedangkan ia sendiri bersama semua wiku pergi meninggalkan tempat itu. Ketika orang petugas algojo itu adalah orang-orang kasar yang bodoh dan masih tebal kepercayaan mereka akan segala hal tahyul.

“Kakang Dentalaya,“ kata seorang diantara mereka kepada pemimpin mereka,
“Untuk apakah kita menjaga di sini? Dingin dan tidak enak, lagi gelap“
“Benar, pekerjaan kita kali ini sungguh tidak menyedapkan hati. Lebih senang kalau disuruh memenggal leher seorang hukuman. Sekali penggal dengan klewang beres!“ berkata orang ke dua.

Pada saat itu, karena merasa kecewa melihat bulan menyembunyikan diri, seekor burung hantu memekik nyaring sehingga ketika seorang algojo yang dapat melihat darah menyembur dari leher korban dengan senyum di bibir tiba-tiba menggigil dengan hati berdebar-debar tak tenang.

“Kalian benar.“ kata Dentalaya,
“akupun merasa tidak enak kalau teringat akan wajah pendeta Bayumurti yang ramah tamah dan tersenyum-senyum menghadapi kematiannya itu. Biasanya orang yang akan menjalani hukuman mati tidak sedemikian itu mukanya. Aku lebih suka kalau melihat dia melolong-lolong minta ampun. Mari kita pergi saja dari sini, siapa tahu kalau-kalau pendeta ini adalah murid seorang iblis yang akan datang mengamuk dan membalas dendam kepada kita!“

Ucapan kepala mereka ini mendatangkan dorongan yang membuat ketiganya lalu pergi dari situ dengan langkah ringan dan cepat seakan-akan di belakang mereka telah mengejar seorang iblis yang menakutkan. Kalau saja algojo-algojo yang berhati kejam akan tetapi penakut itu berani menengok lagi, tentu lari mereka akan lebih cepat lagi oleh karena seperti dugaan mereka, benar- benar telah muncul banyangan-bayangan pendek kecil dari belakang pohon-pohon. Bayangan- bayangan kecil initanpa banyak cakap lalu mengerjakan pacul yang mereka bawa untuk mengali kembali kuburan yang memendam tubuh Panembahan Bayumurti. Tentu para algojo itu akan menyangka bahwa bayangan-bayangan ini adalah setan-setan cebol atau bujang-bujang keplek yang menakutkan. Padahal sesungguhnya, mereka ini adalah anak-anak kecil yang dipimpim oleh Pangeran Balaputera dewa yang mentaati permintaan ayundanya.

Tak lama kemudian, terbongkarlah tanah kuburan yang mudah dipaculi itu dan alangkah herannya anak-anak itu ketika melihat bahwa tubuh yang dipendam itu sama sekali tidak mati, bahkan ketika kuburan telah terbongkar, mereka melihat tubuh Panembahan Bayumurti sedang enak duduk bersila dan kini memandang kepada mereka dengan mulut tersenyum. Kalau saja anak-anak itu tidak membongkar kuburan, agaknya pendeta inipun dapat keluar sendiri.

Memang Panembahan bayumurti adalah seorang sidik dan sakti mandraguna, yang mempunyai aji dan kepandaian luar biasa sehingga ia takkan mati kalau hanya menghentikan jalan pernapasan untuk beberapa lama saja. Kepandaiannya terlalu tinggi untuk dapat mati dikubur hidup-hidup. Oleh karena itu maka ia sengaja memilih hukuman itu.

“Anak-anak yang baik!“ kata pendeta itu setelah anak-anak itu hilang rasa kagetnya.
“Kalianlah yang akan menjadi pendeta-pendeta utama dari Agama Buddha. Di bawah pimpinan Pangeran Balaputera Dewa, kalian akan membikin jaya kerajaan yang beragama Buddha!“

Setelah berkata demikian, tubuh itu bergerak, lenyaplah pendeta itu dari pandangan Balaputera dan kawan-kawannya. Tentu saja anak-anak itu menjadi ketakutan dan segera melarikan diri cerai-berai.
Balaputera segera mendapatkan ayunda dan menceritakan pengalamannya.
Pramodawardani menghela napas panjang dan berkata perlahan,

“Sudah kuduga, adikku. Pendeta itu bukanlah orang sembarangan dan perbuatan Maha Wiku Dharmamulya sungguh memalukan kita. Jangan kau ceritakan peristiwa itu kepada orang lain, adikku yang baik!“ Sang Puteri Pramodawardani tidak tahu bahwa adiknya tidak menceritakan semuanya.

Bahkan kepadanya sendiri, Balaputera tidak menceritakan tentang kata-kata Pendeta Bayumurti tadi tentang kerajaan beragama Buddha yang kelak berada di bawah pimpinannya. Balaputera masih kanak-kanak. Usianya masih sebelas tahun, namun anak ini memang memiliki kecerdikan luar biasa. Ia maklum bahwa sebagai puteri sulung, kakaknya lebih berhak atas mahkota ayahndanya, maka tidak pada tempatnya dan kurang enaklah kalau ia menceritakan tentang ramalan Panembahan Bayumurti bahwa kelak ia yang akan membikin jaya kerajaan beragama Buddha. Tentu saja anak ini tidak sekali-kali menyangka bahwa ramalan pendeta sakti itu memang cocok, akan tetapi kerajaan beragama Buddha bukanlah Kerajaan Syailendra di Pulau Jawa, akan tetapi Kerajaan Sriwijaya di seberang.

Berkat pertolongan Panembahan Bayumurti, Indrayana dapat meloloskan diri dari cengkraman Maha Wiku Dharmamulya dan rombongannya. Raden Pancapana yang ternyata gagah perkasa itu bersama dara jelita Candra Dewi mentaati pesan Sang Panembahan, ikut pergi dengan Indrayana untuk bersama-sama menghadap Sang Pertapa Begawan Ekalaya di Muria.

Kalau saja di antara mereka tidak terdapat seorang dara seperti Candra Dewi, tentu Indrayana dan Raden Pancapana telah mengerahkan kepandaian mereka. Akan tetapi sungguhpun Candra Dewi adalah keturunan seorang ahli tapa yang sakti, tetap saja ia merupakan seorang wanita yang halus dan lemah lembut. Kulit telapak kakinya demikian tipis dan halus sehingga dara ini berjalan dengan muka tunduk, memilih tempat yang rata dan halus untuk kakinya berpijak, berjalan dengan langkah tenang dan halus tidak tergesa-gesa. Kedua taruna itu terpaksa berlaku sabar, mengiringkannya dengan perlahan dan perjalanan itu seakan-akan merupakan perjalanan tamasya belaka, sekali-kali bukan perjalanan orang-orang yang diburu musuh.

Oleh karena itu, perjalanan yang amat sukar itu makan waktu lama sekali.
Namun, betapapun sukar dan jauhnya perjalanan, Candra Dewi memperlihatkan bahwa darah pertapa yang tahan menderita mengalir di dalam tubuhnya. Tak pernah terdengar keluhan dari bibirnya berbentuk indah, tak pernah keningnya yang halus itu berkerut, bahkan jarang sekali ia mengeluarkan kata-kata kalau tidak untuk menjawab sesuatu pertanyaan.

Juga Raden Pancapana orangnya pendiam, betul-betul bersifat seorang ksatria utama, matanya bersinar-sinar tajam, bibirnya tersenyum ramah, akan tetapi jarang sekali bicara. Melihat keadaan kedua orang kawan seperjalanannya ini, Indrayana merasa kurang enak. Telah setengah hari mereka berjalan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia menjadi petunjuk jalan dan kedua orang itu hanya mengikutinya saja ke mana ia pergi. Akhirnya dia tidak dapat menahan sabar lagi, dan mengambil keputusan harus memperkenalkan diri, harus mengetahui keadaan mereka dan menceritakan keadaannya sendiri lebih dulu agar hubungan mereka tidak sedemikian tawar.
Tiba-tiba ia menunda perjalanannya dan berpaling kepada kedua orang kawan seperjalanan itu sambil tersenyum dan berkata,

“Maafkan aku, Raden Pancapana dan engkau juga, diajeng Candra Dewi. Kalau tidak berkeberatan, marilah kita beristirahat sebentar, karena diajeng Candra Dewi tentu lelah dan lapar.“

Dengan sepasang matanya yang bening memancar dari balik bulu matanya yang lentik, Candra Dewi memandang kepada Indrayana dan berkata menahan senyum,

“Aku tidak lelah dan juga tidak lapar.“

Indrayana tertegun dan merasa serba canggung. Benar-benar gadis yang kuat dan tahan uji, pikirnya. Namun ia tak mau kalah dan bahkan duduk di atas rumput di pinggir jalan, di bawah pohon yang teduh.

“Sesungguhnya, akulah yang lelah dan lapar. Dan…… menurut pendapatku yang bodoh, agaknya sudah sepatutnya kalau kita bertiga berkenalan lebih erat, karena bukankah kita telah menjadi kawan-kawan senasib sependeritaan, sahabat-sahabat seperjalanan dan kelak akan menjadi saudara seperguruan pula ?“ Ia membalas pandang mata Raden Pacapana yang tajam menatapnya, lalu berkata lagi,
“Harap maafkan aku yang kasar dan bodoh. Sesungguhnya, berdiam-diam seperti ini tak enak bagiku, aku sudah biasa bergembira. Biarlah kuceritakan keadaan diriku agar kalian dapat mengenalku lebih baik.“
“Kami sudah tahu siapa adanya dirimu, kawan,“ kata Raden Pancapana.
“Engkau adalah Raden Indrayana, putera dari Wiku Dutaprayoga yang menjadi ahli keris dari Kerajaan Syailendra.”

Indrayana tertawa girang, lalu berkata jenaka,

“Ah! Ini namanya tidak adil! Kalian sudah mengetahui keadaanku sedangkan aku sama sekali belum tahu siapakah sebenarnya kalian ini.“

Raden Pancapana lalu duduk pula di atas sebuah batu tak jauh dari Indrayana dan dengan matanya memberi isyarat kepada Candra Dewi untuk duduk pula di atas rumput, lalu berkata,

“Indrayana, engkau adalah putera seorang wiku Agama Buddha dan menjadi hamba dari Kerajaan Syailendra yang besar dan berpengaruh. Untuk apakah engkau hendak mengenal orang-orang Mataram yang kecil seperti kami? Bukankah engkau sudah tahu bahwa aku adalah murid dari Panembahan Bayumurti dan diajeng Candra Dewi ini adalah puterinya?“

Dengan amat heran Indrayana menatap wajah Pancapana dan ia menjadi terheran sekali melihat betapa pemuda itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya tadi. Tak terasa lagi Indrayana melompat bangun dan berkata dengan penasaran,

“Eh, eh, bagaimanakah ini? Mengapa orang macam aku disebut besar karena hanya menjadi hamba dari Kerajaan Syailendra dan orang-orang seperti kalian menganggap diri kecil karena menjadi hamba Kerajaan Mataram? Janganlah bersikap demikian, kawan, kita sama-sama manusia yang hanya berbeda agama, akan tetapi sampai di manakah perbedaan itu? Anggapan kita sendiri juga yang membedakan, kawan. Hanya faham yang berbeda, akan tetapi tujuannya hanya satu! Adakah agama yang mengajarkan keburukan? Adakah agama atau filsafat yang mendorong penganutnya melakukan kejahatan? Tidak ada! Semua memberi pelajaran baik, dorongan ke arah perbuatan baik, menjunjung tinggi kegagahan, kebajikan kejujuran, dan kemanusiaan. Semua tergantung kepada manusia sendiri, kawan, tergantung kepada perbuatan si penganut agama. Betapapun tinggi dan pelajaran suci sesuatu agama, kalau yang mempelajarinya itu seorang yang beriman bejat, takkan ada gunanya sama sekali!!“

Indrayana bicara dengan penuh nnafsu menggelora. Ia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, dengan dada terangkat, kepala dikedikkan dan sepasang matanya memandang tajam, bukan kepada kedua orang itu, akan tetapi ke atas, seakan-akan kepada langit. Memang, dalam mengucapkan kata-katanya tadi, Indrayana merasa menyesal. Semenjak peristiwa yang dialami di Candi Lokesywara, ia merasa kecewa sekali.

Kecewa melihat betapa pendeta kepala, yakni Maha Wiku Dharmamulya, yang dianggap paling tinggi, paling suci dan ahli dalam Agama Buddha, melakukan perbuatan yang mengecewakan hatinya.
Sebaliknya ia merasa kagum melihat sepak terjang Panembahan Bayumurti, ia menjadi binggung mengapa pendeta kepala dari agamanya demikian jahat sedangkan Pendeta Mataram demikian bijaksana. Maka terbukalah matanya dan teringatlah ia akan petuah ayahnya yang tiba-tiba meluncur keluar dari mulutnya ketika ia merasa penasaran melihat sikap Pancapana dan Candra Dewi.

Pancapana dan Candra Dewi melihat sikap Indrayana seperti itu, memandang kagum dan seketika itu berubahlah sikap mereka. Pandangan mata Candra Dewi mengandung kekaguman yang amat mesra, sedangkan Pancapana lalu melangkah maju dan merangkul pundak Indrayna.

“Indrayana, betul seperti kata paman Panembahan Bayumurti. Kau adalah seorang ksatria yang gagah perwira, keturunan seorang pertapa yang bijaksana. Aku girang sekali dapat berkenalan dengan kau yang gagah ini.
Indrayana. Mendengar ucapanmu tadi, lenyaplah segala keraguanku, Indrayana dan biarlah aku mengaku bahwa sesungguhnya aku adalah……
“Raden Pancapana…… !“ Tiba-tiba Candra Dewi menegur pemuda itu sambil memandang heran.

Pancapana tersenyum dan setelah pemuda ini tersenyum, lenyaplah yang tadinya nampak pendiam dan bersungguh-sungguh itu. Wajahnya berubah terang dan berseri, cakap sekali.

“Tidak apa, Candra, Indrayana, bagaimana kalau kau dan aku mengangkat saudara? Aku lebih tua dari padamu, maka kalau kau setuju, mulai sekarang, kau adalah adikku, dimas Indrayana!“

Bukan main besar dan girang hati Indrayana. Ia memegang tangan Pancapana erat-erat, lalu berkata sambil tersenyum,

“Baiklah kakangmas Pancapana, aku bersumpah akan tetap setia dan membelamu seperti seorang adik kandungmu sendiri!“

Kini wajah Candra Dewi memerah dan matanya berseri-seri girang.

“Kalau begitu, tentu menjadi lain persoalannya, dan tentu saja tak perlu ada rahasia lagi yang harus disembunyikan,“ katanya dengan senyumnya yang manis bagaikan madu.
“Dengarlah baik-baik. Dimas Indrayana,“ kata Pancapana sambil menarik tangan Indrayana sehingga mereka duduk kembali di atas rumput,

“Sesungguhnya aku adalah putera dari Rama Prabu Sanjaya di Mataram yang telah almarhum.“

Terbelalak mata Indrayana memandang kepada pemuda itu.

“Kau……pangeran Pati dari Mataram?“ ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan hendak menyembah kepada Pangeran Pancapana, akan tetapi Pangeran Pancapana memegang kedua pundaknya dan mencegah Indrayana melakukan penghormatan ini.
“Dengar Indrayana. Tak perlu engkau melakukan banyak upacara seperti ini. Bukankah engkau sedah menjadi adikku sendiri? bersikaplah biasa, karena sesungguhnya, selain Paman Panembahan Bayumurti, diajeng Candra Dewi, dan engkau sendiri, tidak ada orang lain di seluruh Mataram yang mengetahui hal ini!“

Pangeran Pancapana lalu menceritakan pengalamannya dengan suara mengharukan. Sesungguhnya, ketika Kerajaan Mataram masih berada di bawah asuhan Sang Prabu Sanjaya, kerajaan itu menjadi kuat, makmur, dan mempunyai wilayah yang amat luas. Bahkan Kerajaan Syailendra tadinya mengakui kedaulatan Sang Prabu Sanjaya sehingga Kerajaan Syailendra boleh dibilang berada dibawah kekuasaan Mataram. Akan tetapi, kebesaran Mataram itu agaknya hanya tergantung kepada kepribadian Sang Prabu Sanjaya, karena setelah Sang Prabu Sanjaya meninggal dunia, kejayaan Mataram mengalami kemunduran hebat.

Tahta Kerajaan dipegang oleh Sang Prabu Panamkaran seorang pangeran yang menjadi adik misan mendiang Sang Prabu Sanjaya. Hal ini terjadi oleh karena putera Sang Prabu Sanjaya, yaitu Pangeran Pancapana, ketika ramandanya meninggal dunia, masih muda sekali. Bahkan ada usaha gelap dari para pengikut Sang Prabu Panamkaran untuk melenyapkan dan membunuh Pangeran Pati Pancapana ini. Baiknya masih banyak hamba yang setia kepada mendiang Prabu Sanjaya, di antaranya adalah Panembahan Bayumurti yang
segera membawa pergi Pangeran Pancapana dan mendidiknya sebagai putera sendiri, bersama seorang puterinya, yaitu Candra Dewi. Semenjak Prabu Panamkaran duduk di tahta Kerajaan Mataram, makin lemahlah kedudukan kerajaan ini. Banyak raja-raja kecil melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, sehingga Kerajaan Mataram yang tadinya besar dan luas sekali wilayahnya itu, makin lama makin kecil dan tak berarti.

Raja-raja lain berani menentangnya, di antaranya adalah Kerajaan Syailendra berdekatan, maka kerajaan inilah yang akhirnya mempengaruhi Mataram dan banyak daerah yang tadinya menjadi daerah Mataram, perlahan-lahan menjadi daerah Syailendra terutama sekali karena berkembangnya Agama Buddha yang berpusat di Kerajaan Syailendra.

Pancapana yang semenjak kecil dibawa oleh Panembahan Bayumurti, mempelajari banyak ilmu kepadaian, aji kesaktian, bahkan mempelajari seni pahat dan setelah dewasa, pangeran ini pandai sekali membuat patung-patung yang indah. Terhadap Panembahan Bayumurti ia menggangap seperti seorang ayah sendiri, dan terhadap Candra Dewi, ia menganggap sebagai adik kandung sendiri.

Baik Panembahan Bayumurti, maupun Candra Dewi dan Pancapana sendiri, menutup rapat-rapat rahasia ini sehingga pemuda yang tampan itu dianggap oleh orang lain sebagai seorang pemuda murid Panembahan Bayumurti belaka, dan nama Pangeran Pati Pancapana telah dilupakan orang dan disangkanya telah terbunuh pengikut-pengikut Baginda Panamkaran.

Setelah bertemu dengan Indrayana, barulah Pancapana membuka rahasia, karena ia merasa suka dan percaya penuh kepada Indrayana. Tentu saja Indrayana merasa terharu sekali mendengar riwayat pangeran itu, dan untuk beberapa lama ia hanya memandang dengan terharu. Kemudian ia berkata,

“Kakangmas Pancapana, sudah terang bahwa kaulah putera mahkota dan menjadi Pangeran Pati dari Kerajaan Mataram. Mengapa kau tidak menuntut hakmu ? Kaulah yang seharusnya menjadi raja mataram, bukan raja yang sekarang ini.“

No comments:

Post a Comment