Wednesday, March 25, 2015

Jilid 3



Pangeran Pancana tersenyum.

“Memang sudah menjadi cita-cita setiap orang gagah untuk mendapatkan haknya, terutama sekali kalau kulihat betapa Kerajaan Mataram makin lama makin lemah dan mengecil, menjadi kerajaan boneka yang mudah dipermainkan oleh kerajaan-kerajaan lain. Aku maklum bahwa Kerajaan Mataram yang dulu menjadi sebuah kerajaan yang terbesar, terpandang tinggi, kaya raya dan mempunyai rakyat yang hidup makmur, setelah Rama Prabu meninggal, sekarang menjadi sebuah kerajaan yang amat lemah, dipandang rendah, miskin dan rakyatnya pada sengsara. Hatiku perih kalau melihat keadaan ini dan di dalam lubuk hatiku, aku tentu akan bertindak untuk memulihkan kembali kejayaan Mataram. Namun, menurut petunjuk dari Paman Panembahan Bayumurti, aku harus bersabar dan sekarang belum tiba waktunya. Aku amat patuh atas nasihat ini, karena Paman Panembahan, selain menjadi guruku yang amat mulia, juga kuanggap sebagai pengganti orang tuaku yang harus kutaati.“

Indrayana makin kagum mendengar ucapan pangeran itu. Baginya seperti juga watak ayahnya, agama adalah soal kedua, yang penting adalah sikap dan watak orangnya. Maka melihat kegagahan dan kebaikan serta kesetiaan yang sedemikian besarnya, ia merasa terharu sekali. Ia memegang lengan Pangeran Pancapana dan berkata dengan suara menggetar,

“Kakangmas Pancapana, aku merasa berbahagia sekali dapat menjadi saudara angkatmu. Kau adalah seorang ksatria utama yang patut dijadikan kawan dan saudara. Kau adalah seorang Pangeran Pati calon raja yang berjiwa besar, terutama sekali mendengar bahwa keinginanmu menduduki tahta Kerajaan Mataram adalah dorongan oleh keharuanmu melihat keadaan rakyat jelata yang miskin dan papa. Engkau patut sekali dibela dan dihormati. Maka kakangmas Pancapana, aku akan selalu berada di sampingmu, dan akulah yang akan membuatmu dalam usahamu menduduki kembali singgasana Kerajaan Mataram!“

Pangeran Pancapana tidak menjawab dan tidak dapat berkata-kata, hanya memeluk Indrayana dengan kedua mata basah. Ketika Indrayana menengok ke arah Candra Dewi, ia heran melihat gadis itu memandangnya dengan mata basah pula, dan betapa mesra pandang mata itu kepadanya.

Setengah dikatupkan, dengan bulu mata gemetar, manik mata berkaca-kaca dan menatapnya dari balik bulu mata itu, ujung hidungnya yang bangir itu mengembang dan bibirnya terbuka sedikit hingga terdengar perlahan napasnya yang memburu. Akan tetapi hanya sebentar saja, karena dara jelita itu segera membuang pandang matanya ke bawah ke atas tanah dan sambil menundukkan muka, kini kedua ibu jari kakinya bergerak-gerak menggores-gores tanah. Indrayana berdiri terkesima, kagum dan takjub menyaksikan saat yang luar biasa sekali ketika gadis itu memandang dadanya berdebar tak menentu, dan matanya terbelalak bagaikan terkena pesona.

Tiba-tiba suara ketawa Pangeran Pancapana memecahkan suasana hikmat itu,
“Eh, dimas Indrayana Engkau tadi bicara tentang perut lapar, bukan? Baru sekarang akupun merasa betapa laparnya perutku!“
“O ya! Sejak tadi akupun telah mendengar bunyi cacing menggeliat-geliat, di perut siapakah gerangan ?“ katanya sambil tersenyum girang.
“Cacing di perutku adalah cacing sopan,“ kata Pancapana sambil tertawa dan mengerling ke arah Candra Dewi,
“tadi kudengar berkeruyuknya datang dari jurusan diajeng Candra!“

Candra Dewi yang tadinya duduk sambil menundukkan mukanya, kini tiba-tiba mengangkat muka dan memandang kepada Pancapana dengan mata melerok dan cemberut.

“Sesopan-sopannya cacing, kalau tak diberi makan tentu akan mengeliat-geliat juga ! Di dalam perutku sih tidak ada cacingnya! Perutku bersih dan sehat, mana cacing dapat menjadi penghuninya ?“

Indrayana tertawa terbahak-bahak. Ia merasa gembira sekali karena sekarang ternyata olehnya bahwa Pancapana dan Candra Dewi keduanya adalah orang-orang muda yang gembira dan suka pula berkelakar.

“Ha, kalau begitu, tentu cacingkulah tadi yang berkeruyuk!” katanya.
“Akan tetapi, jeng Dewi, tak mungkin kalau perutmu tidak bercacing!
Menurut pendapat ayahku, di dalam tubuh tiap manusia terdapat mahluk hidup yang lain, seperti cacing dan lain-lain. Tanpa ada mahluk hidup yang lain, manusia tak dapat hidup!“
“Akupun pernah mendengar tentang hal itu,“ kata Pancapana,
“bahkan Candra sendiri juga sudah mengetahuinya, bukan?“
“Tidak. Tidak ! Di dalam perutku tidak ada cacingnya!“ Candra Dewi berseru dan berkeras.
“Mungkin ada mahluk hidup lain, akan tetapi bukan cacing ! Aku tidak sudi dijadikan tempat tinggal binatang menjijikan itu!“

Kembali Indrayana tertawa gembira. Melihat dara itu mau bicara dan berkelakar, bahkan keliatan seperti marah-marah, baru ia mendapat kenyataan betapa manis dan cantiknya Candra Dewi. Betapa sehat kulitnya yang halus dan masak oleh sunar matahari itu. Pipinya yang segar kemerah-merahan mengingatkan ia akan kulit mangga golek yang telah masak.

Kerling matanya tajam menyambar hati, senyumnya manis menyinggung jantung. Madu akan terasa pahit bila dibandingkan dengan kemanisan bibir dara ini. Ia tahu bahwa Candra Dewi masih malu-malu dan jarang sekali mau bertemu pandang dengan dia. Semua kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu ditunjukkan kepada Pancapana, yang telah bertahun-tahun semenjak mereka masih kecil, telah menjadi kawan bermain dan telah dianggap sebagai kakak kandung sendiri. Akan tetapi, justruh kerling yang hanya sekali-sekali menyambar ke arahnya secara “sambil lalu“ itulah yang membuat Indrayana merasa dadanya berdebar-debar. Ia sama sekali tidak ingat bahwa bayangan wajah Puteri Mahkota Pramodawardani yang tadinya tak pernah meninggalkan pelupuk matanya, kini tidak kelihatan lagi bahkan ia telah lupa sama sekali akan puteri Syailendra itu.

Dan ketika Indrayana mencari buah-buah ia memilih yang paling masak dan paling baik untuk Candra Dewi. Melihat hal ini, Candra Dewi yang masih hijau dan bodoh serta belum dapat menyelami hati pria, bertanya dengan sungguh-sungguh,

“Raden Indrayana, mengapa buah yang terbesar dan terbaik diberikan kepadaku seorang? Marilah kita bagi rata, untuk engkau dan jaga untuk Raden dan Pancapana…… “ Dara itu menghentikan ucapannya ketia ia melihat betapa wajah Indrayana menjadi merah dan pemuda ini menundukkan mukanya ia mendengar suara tawa tertahan, ia segera menengok dan melihat betapa Pancapana menahan-nahan ketawanya sambil memandang kepada Indrayana dengan mata menggoda.

“Makanlah, jeng Dewi. Indrayana sengaja memetik yang terbaik untukmu, mengapa engkau tidak dapat menghargai kasih sayang orang?“ berkata Pancapana dengan suara menggoda.

Kini perasaan wanita di dalam hati Candra Dewi membisikkan susuatu kepadanya yang membuat pipinya yang sudah merah makin menjadi merah lagi.

“Sudahlah, jeng Dewi, jangan hiraukan orang yang suka menggoda, anggaplah saja ucapannya seperti suara…… “ Indrayana tidak melanjutkannya.
“ ……. Seperti suara cacing perut tidak berteriak-teriak lagi”

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Muria. Akan tetapi baru saja mereka keluar daru hutan itu, tiba- tiba dari sebelah kanan nampak debu mengebul tinggi dan terdengarlah derap kaku kuda yang menuju ke arah mereka. Pancapana dan Indrayana bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka berdiri berjejer di tepi jalan, sedangkan Candra Dewi berdiri di belakang mereka. Tak lama kemudian, nampaklah tiga belas ekor kuda yang ditunggangi oleh orang- orang tinggi besar dan buas pandang matanya. Melihat orang-orang yang berpakaian serba hitam itu, Pancapana merasa heran dan tidak mengenal mereka, akan tetapi ketika melihat seorang di antara dua orang pemimpin pasukan berkuda itu, terkejutlah Indrayana.

Orang itu adalah Reksasura, kepala pasukan Srigala Hitam yang dulu pernah mencoba hendak merampas patungnya.

“Kakangmas Pancapana,“ bisiknya perlahan,
“awas, mereka itu adalah pasukan Serigala Hitam, penyembah Batari Durga yang terkenal buas !“

Pancapana juga terkejut. Ia pernah mendengar nama pasukan ini, maka ia merasa khawatir karena ia maklum bahwa pasukan ini terkenal amat buas dan cabul, terkenal akan perbuatan mereka yang suka merampas dan mencuri wanita-wanita cantik.

“Ha-ha-ha! Dicari di seluruh lorong langit tidak bertemu, tidak tahunya sekarang berjumpa di sini bersama seorang perawan denok! Ha-ha, Indrayana. Bagus sekali, dengan tebusan perawan itu kuserahkan kepada kami, barulah kami dapat mengampuni dosa-dosamu!“

Indrayana adalah seorang pemuda yang cerdik. Melihat sikap Reksasura yang pernah dipukulnya kocar kacir itu kini nampak garang dan tabah, tentu orang kasar ini mempunyai andalan yang kuat. Ia lalu melirik dan memperhatikan orang yang berkuda di sebelah kanan Reksasura. Orang ini terang sekali bukan seorang Jawa, karena kulit mukanya berwarna hitam gelap. Keningnya tinggi, membuat sepasang matanya yang sudah dalam itu makin mendelong ke dalam kepalanya, dipayungi oleh sepasang alis yang panjang dan tebal. Hidungnya seperti hidung burung betet, melengkung dan melingkar ke bawah, agaknya amat berat sehingga kulit di bawah sedikit. Misalnya kecil panjang, berjuntai ke bawah di kanan kiri mulutnya yang tipis merupakan garis melintang panjang. Karena bentuk mulut inilah maka ia nampak selalu seperti orang bersedihan seperti orang mau mewek.

Telinganya yang panjang dan lebar itu masih nampak bagian bawahnya, karena bagian atasnya tertutup oleh kain pengikat kepala berwarna putih yang menutupi seluruh kepalanya sampai beberapa kali libatan. Jenggotnya pendek dan kasar.

Biarpun wajah orang Hindu ini tidak aneh akan tetapi dari sinar matanya yang amat berpengaruh dan tajam, dapatlah Indrayana menduga bahwa orang ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, dan orang inipulalah agaknya yang diandalkan oleh Reksasura sehingga si kasar itu berani berlaku garang dan berlagak di hadapannya.

“Reksasura,“ kata Indrayana sambil tersenyum,
“dulu ketika engkau berlaku lancang dan mengganggu perjalananku, aku masih berlaku murah dan tidak mencabut nyawamu yang kotor karena perbuatanmu yang penuh dosa. Sekarang kembali kau mengulangi perbuatanmu, apakah benar-benar kau sudah rindu akan panasnya api neraka? Apakah kau sudah membuat kelewang baru ? Nah, cabutlah, akan tetapi kali ini jangan kau berkata bahwa aku Indrayana berlaku keterlaluan kalau aku bukanhanya akan mematahkan kelewangmu, akan tetapi juga mematahkan lehermu!“
“Indrayana, kau selalu berwatak sombong dan kau terlalu mengandalkan kepandaianmu sendiri ! Sekarang kau berhadapan dengan guruku, Bagawan Siddha Kalagana, pemimpin kami yang sakti mandraguna! Kau tidak lekas berlutut minta ampun?“

Diam-diam Indrayana terkejut dan ia memandang dengan penuh perhatian kepada Pendeta Hindu yang tinggi kurus itu. Juga Pangeran Pancapana terkejut sekali ketika mendengar bahwa orang Hindu itu adalah Begawan Siddha Kalagana yang telah didengar namanya sebagai seorang pertapa dan pendeta yang benar-benar sakti sekali.

Indrayana adalah sorang putera pendeta, dan telah menjadi wataknya tidak mau menghina kepercayaan dan agama lain orang. Maka mendengar bahwa ia berhadapan dengan Begawan Siddha Kalagana, ia lalu merangkapkan telapak tangannya menyembah memberi hormat, lalu berkata.

“Ah, tidak tahunya kami berhadapan dengan Sang Begawan Siddha Kalagana yang terkenal. Harap suka menerima pemberian hotmat kami orang-orang muda. Aku, Indrayana dari Syailendra, selalu menghormat para ahli tapa yang suci dan yang bijaksana, tahu akan rahasia hidup, maka aku tidak merasa takut berhadapan dengan Sang Begawan. Seperti biasa, kedatangan seorang ahli tapa tentu akan membawa bahagia dan penambahan pengetahuan. Sesungguhnya, ada keperluan apakah Sang Begawan datang menghadang perjalanan kami orang-orang muda?“

Diam-diam Pangeran Pancapana tertegun dan kagum melihat sikap Indrayana yang amat tabah dan tenang itu. Juga Begawan Siddha Kalagana sendiri merasa tertarik dan kagum melihat Indrayana. Begawan ini sesungguhnya adalah seorang Hindu yang sudah amat tinggi usianya, akan tetapi, berkat ilmu kepandaiannya yang tinggi, ia masih nampak muda dan rambutnya masih hitam. Pendeta ini datang dari Hindu, membawa agamanya sendiri, yaitu pemuja Batari Durga. Ia telah merasa tidak aman di negerinya sendiri, oleh karena di dalam kepercayaannya, pertapa ini menjalankan perbuatan-perbuatan yanga amat terkutuk dan keji.

Pertapa ini memiliki ilmu-ilmu hitam atau ilmu sihir yang hibat dan aneh,
juga memiliki kebiasaan yang amat menyeramkan. Untuk mencapai hasil dalam ilmu-ilmu hitamnya yang dikuasai setan dan iblis, ia tidak segan-segan untuk menculik perawan dan anak-anak kecil untuk dijadikan kurban.

Sesungguhnya, di lubuk hatinya terdapat nafsu cabul yang hanya dikemudikan oleh iblis jahat, akan tetapi berkat ilmunya yang tinggi, ia dapat menipu para pengikutnya yang sebaliknya menggangapnya sebagai seorang pertapa yang sakti, suci dan mempunyai ilmu kepandaian tinggi.

Kini, melihat Indrayana dan Pancapana yang elok dan cakap bagaikan Sang Palguna da Sang Palgunadi, dua tokoh pewayangan yang terkenal tampan, juga melihat Candra Dewi yang cantik jelita bagaikan Dewi Shinta, bukan main senang hatinya. Ia telah merasa bosan dan muak melihat para murid dan anak buah serta pengikut-pengikutnya yang kesemuanya merupakan orang-orang lelaki kasar dan buruk rupa, sehingga timbul keinginannya untuk mengambil dua orang pemuda ini menjadi murid dan pengikutnya.
Sedangkan kemolekan wajah dan bentuk tubuh Candra dewi semenjak tadi telah membangkitkan nafsunya yang kotor.

“Anak muda yang elok!“ katanya kepada Indrayana dengan suaranya yang mengandung kejanggalan suara orang asing.
“Sungguh jarang terdapat orang-orang muda seperti engkau dan kawan-kawanmu ini! Alangkah akan senang hatiku apabila kalian bertiga mau ikut aku ke tempat tinggalku untuk menjadi murid-muridku!“
“Terima kasih banyak atas kemurahan hati dan penawaran Sang Begawan,“ jawab Indrayana
“Akan tetapi ketahuilah, kami bertiga adalah murid-murid dari Eyang
Begawan Ekalaya di Muria!“

Kalau orang-orang lain tidak dapat melihat perobahan pada air muka pertapa Hindu itu, adalah Indrayana dan Pancapana dapat melihat getaran pada manik mata yang tajam dan berpengaruh itu, Begawan Siddha Kalagana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Pantas, pantas! Pantas saja kalian begini elok, gagah perkasa, dan menarik. Diseluruh tanah Jawa ini hanya Begawan Ekalaya saja satu-satunya petapa yang kedudukannya setingkat dengan kedudukanku! “
“Alangkah sombongnya! “ tiba-tiba terdengar suara halus dan dengan heran dan terkejut Indrayana dan Pancapana melihat bahwa yang mencela ini bukan lain adalah Candra Dewi, dara ini adalah puteri Panembahan Bayumurti yang amat bangga akan kesaktian ayahnya, maka kini mendengar kesombongan pendeta asing ini, ia diam-diam merasa mendongkol sekali dan tak terasa pula mengeluarkan perasaan mendongkolnya itu dengan ucapan tadi.

Kini sepasang mata Begawan Siddha Kalagana tertuju kepada dara itu dan mulutnya makin menipis,

“Ah, engkau patut sekali menjadi pengiring utama dari Sang Batari Mulia!“ katanya dan sambil memandang Indrayana, ia berkata,
“Anak muda, sebagai murid-murid Ekalaya, kalian boleh dibilang masih menjadi murid-murid keponakanku sendiri! Dan sebagai murid-murid keponakan, sudah sepatutnya kalau kalian berbuat sesuatu yang sifatnya berbakti kepadaku! Aku melihat dara jelita ini berjodoh untuk menjadi muridku dan untuk menjadi pengiring Sang Batari Yang Maha Mulia, maka relakanlah puteri ini kubawa serta. Jangan khawatir, kalau gurumu bertanya, katakan saja bahwa akulah yang membawanya, tentu ia tak akan marah!“

Sebelum Indrayana dan Pancapana dapat melampiaskan amarah mereka ketika mendengar ucapan ini, tiba-tiba pertapa Hindu itu mengulurkan tangannya dan entah bagaimana, tubuh Candra Dewi seakan-akan terpegang oleh tangan yang kuat dan dilontarkan ke atas ke arah pendeta itu ! Candra Dewi bagaikan seorang yang sedang tidur, matanya meram dan tubuhnya lemas ketika tahu-tahu ia telah berada di dalam pelukan tangan Begawan Siddha Kalagana di atas kuda.

“Pendeta keparat! Lepaskan adikku!“ Pancapana berseru dan menubruk maju dengan tangan kanan diulur. Akan tetapi, terdengar seruan keras dan ketika pendeta Hindu itu mengebutkan ujung lengan jubahnya yang panjang, maka ujung lengan baju itu memukul ke arah dada Pancapana yang tiba-tiba terlempar ke belakang dan jatuh di atas tanah. Ia merasa kepalanya pening, akan tetapi pemuda ini telah mendapat gemblengan yang hebat dari penambahan Bayumurti, sehingga kebutan yang mengandung tenaga mujijat itu hanya membuatnya pening sesaat saja. Ia telah berdiri lagi, akan tetapi ia telah di dahului oleh Indrayana yang tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia mencabut keris pusakanya yang dibuat sendiri oleh ayahnya, yaitu keris baja putih yang bernama Brajadenta (Kilat Putih).
Dengan gerakan bagaikan seekor burung elang menyambar, tubuhnya berkelebat ke depan menyerang begawan Siddha Kalagana sambil berseru,

“Pertapa iblis! Kau lepaskan jeng Dewi!“

Serangan yang dilakukan Indrayana ini hebat sekali dan kalau saja yang diserangnya bukan seorang pendeta yang amat sakti tentu serangannya ini takkan meleset dan takkan dapat dielakkan pula. Akan tetapi, pendeta Hindu itu benar-benar sakti dan hebat kepandaiannya. Begitu melihat sinar senjata itu dan melihat gerakan yang sedemikian cepatnya, ia maklum bahwa pemuda ini memiliki pula ilmu kepandaian dan kedigdayaan yang tak boleh dipandang ringan, maka cepat sekali tubuhnya bergerak dan tahu-tahu ia telah melompat turun dari atas kudanya !

“Keparat, jangan lari!“ teriak Indrayana yang menyerang lagi dengan nekad dan marah.
“Eh, eh, anak muda, engkau benar-benar berani melawan aku?“ kata pendeta itu yang memeluk tubuh Candra Dewi dengan tangan kiri, dan sekali tangan kanannya bergerak, maka ia telah mencabut keluar sebatang tongkat yang ternyata adalah seekor ular Cobra yang telah kering. Ular itu besar sekali, lebih besar dari lengan tangannya dan panjangnya kurang lebih sedepa. Tubuh ular yang telah kering itu bengkak-bengkok dan kepalanya amat mengerikan, karena mulutnya terbuka lebar. Pendeta Siddha Kalagana memegang senjata aneh akan tetapi cepat sekali ia memutar-mutar senjata itu yang menyambar-nyambar ke arah Indrayana.

Pemuda yang gagah perkasa ini sama sekali tidak merasa gentar atau jerih menghadapi senjata lawannya ini, akan tetapi ketika dari senjata aneh itu keluar bau yang amat amis menimbulkan muak, ia terkejut sekali. Ia maklum bahwa ular kering di tangan Bagaman Siddha Kalagana itu mengandung racun yang amat hebat dan berbahaya. Tak perlu terluka parah oleh senjata itu, baru kena digores sedikit saja oleh senjata itu, Indrayana lalu mengerahkan kepandaian dan kegesitannya, menggerakkan keris pusakanya untuk menjaga diri dan membalas dengan serangan-serangan hebat

“Dimas Indrayana, jangan takut, aku membantu!“ tiba-tiba Pangeran Pancapana berseru dan pedangnya di putar cepat menyarbu Bagawan Siddha Kalagana.

Tadi, dalam keadaan marah, Pancapana telah berlaku kurang hati-hati sehingga ia terkena kebutan ujung lengan jubah pendeta itu. Untung pemuda ini memiliki kesaktian tinggi, kalau tidak, tentu kepalanya akan pecah terkena pukulan yang ampuh itu. Setelah kepalanya tidak pening lagi. Pancapana melompat berdiri. Melihat betapa Indrayana didesak oleh senjata ular yang hebat itu, ia cepat mencabut sebatang pedangnya lalu menyerbu.

Serangan pedang di tangan kanan Pancapana ini kembali mengejutkan Begawan Siddha Kalagana. Ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian Pancapana tidak lebih rendah daripada kepandaian Indrayana ! gerakan kedua orang muda itu gesit, cepat dan kuat sekali. Permainan mereka dalam gerakan senjata amat sempurna sehingga mereka merupakan lawan yang tangguh dan sukar dilawan. Diam-diam Bagawan Siddha Kalagana mengeluh di dalam hatinya. Kalau dia tidak sedang memondong tubuh Candra Dewi, belum tentu ia akan kalah menghadapi dua orang ksatria ini, akan tetapi kini gerakannya amat terbatas dan terhalang oleh tubuh dara itu. Ia tidak dapat mempergunakan ilmu sihir atau kesaktian yang timbul dari pada ilmu hitam, karena segala ilmu ini hanya bisa dilakukan apabaila telah dipersiapkan semula. Ilmu hitam hanya hanya memiliki daya sementara saja, dan untuk ini ia belum mangadakan persiapan sebelumnya.

Ia maklum bahwa untuk menjatuhkan kedua orang muda ini, tak mungkin dipergunakan ilmu-ilmu sihir yang rendah saja, karena dari cahaya muka dan sinar mata keduanya, ia maklum bahwa mereka memiliki tenaga yang cukup kuat.

Akan tetapi, Begawan Siddha Kalagana adalah seorang yang amat cerdik dan memiliki banyak sekali akal-akal dan tipu muslihat yang curang. Melihat desakan kedua orang ia berseru,

“Tahan senjata!“

Suara ini berpengaruh dan mengandung ancaman hebat, maka Indrayana dan Pancapana cepat melompat mundur dan memandang tajam.

“Mundur kalian!“ Bagawan Siddha Kalagana berseru.
“Kalau kalian masih berlaku nekad, terpaksa aku harus membunuh gadis ini lebih dulu, baru akan kutewaskan kalian!“ Sambil berkata demikian, pendeta itu menggangkat senjata ularnya dan mendekatkan kepala ular itu ke dekat leher Candra dewi yang masih pingsan.
“Jangan……. !“ Tiba-tiba Indrayana berseru dengan suara gemetar.
“Jangan bunuh dia!“

Bagawan Siddha Kalagana tertawa terbahak-bahak.

“Ha-ha-ha! Siapa mau membunuh dara jelita ini? Sayang kalau dibunuh! Tidak, aku akan membawanya ke Candi Sang Batari Yang Maha Mulia dan ia akan dipuja-puja di tempat itu!“ Bagawan Siddha Kalagana lalu memberi tanda kepada anak buahnya yang tadi pada turun dari kuda akan tetapi tak berani membantu pemimpin mereka karena mereka maklum bahwa kepandaian mereka masih jauh untuk dapat melawan kedua orang muda yang gagah itu.

Kini semua pasukan Serigala hitam melompat ke atas kuda, juga Bagawan Siddha Kalagana melompat sengan sigapnya ke atas kuda putih yang telah disediakan oleh anak buahnya, kemudian ia berpaling kepada Indrayana dan Pancapana.

“Sekali lagi, jangan kau halangi aku pergi membawa si denok ini, karena
sekali saja engkau bergerak, si denok ini akan kulemparkan kepada kalian sebagai mayat!“ Ia tersenyum dan sepasang matanya bergerak liar.
“Akan tetapi, aku tidak melarang kalau kalian memang memiliki kepandaian dan kegagahan, cobalah, kami siap menanti untuk menyambutmu!“

Setelah berkata demikian, Bagawan Siddha Kalegana menendang perut kuda dengan tumit kakinya dan binatang itu meringkik keras lalu melompat ke depan, terus berlari cepat menyusul pasukan Serigala Hitam yang telah berangkat lebih dulu ! Pancapana menggerakkan tangannya dan ia telah menurunkan gendewa dan anak panahnya, akan tetapi Indrayana cepat memegang lengannya.

“Jangan, kakangmas Pancapana! Apakah engkau ingin melihat jeng dewi dibunuh? Orang macam pendeta iti berhati kejam dan keji, ia tak akan ragu-ragu untuk membuktikan ancamannya.“
“Habis bagaimana, dimas Indrayana?“ tanya Pancapana dengan cemas dan binggung.
“Apakah engkau akan membiarkan saja Candra Dewi diculik dan diganggu olehnya?“

Indrayana menggertakkan giginya dan mengepal tinjunya.
“Tidak! Aku tak akan membiarkan dia diganggu oleh siapapun juga! Biar kupertaruhkan jiwaku untuk menolongnya! Akan tetapi, kita harus dapat melihat gelagat dan berlaku hati-hati, kangmas. Bukankah tadi pendeta jahanam itu menantang kita untuk datang ke tempat tinggalnya? Nah, mari kita mengejar mereka dan berusaha menolong jeng Dewi. Kalau pendeta durhaka ini mengetahui bahwa kita mengejarnya, tentu ia tak akan sempat mengganggu jeng Dewi!“

Karena tidak berdaya dan dikalahkan oleh tipu daya licin dan curang dari Begawan Siddha Kalagana, maka Pancapana terpaksa membenarkan pendapat Indrayana. Tidak ada jalan untuk menolong Candra Dewi dari bahaya.

Kedua pemuda yang gagah perkasa itu lalu mengerahkan kesaktian mereka dan mempergunakan Ilmu Lari Cepat Maruta marga (Jalan Angin). Tubuh mereka merupakan bayangan yang cepat sekali bergerak maju, seakan-akan kedua kaki mereka tidak menginjak bumi.

Pedukuhan yang terjadi sarang oleh gerombolan Srigala Hitam terletak di sebelah barat pantai kali Serang. Serang itu merupakan sebuah perkampungan yang cukup besar dan ramai. Seluruh penduduk di situ telah menjadi pemeluk agama baru yang dibawa oleh Bagawan Siddha Kalagana, yaitu Agama Batari Durga. Kehidupan Bagawan itu beserta semua anak buahnya, yaitu yang merupakan pasukan Srigala Hitam, semuanya dijamin oleh para penduduk yang hidup sebagai petani dan nelayan.

Penganut agama baru ini telah berkembang biak dan kini kampung itu menjadi makin besar karena orang-orang dari lain pedukuhan banyak pula yang datang menjadi pengikut Bagawan Siddha Kalagana. Karena pengaruh sihir dan tenung yang disebarkan oleh pendeta itu kepada penduduk yang bodoh dan tahyul, maka mereka itu tidak merasa betapa miskin keadaan mereka. Hampir sebagian besar penghasilan mereka diberikan kepada pendeta itu belaka. Mereka menganggap Bagawan Siddha Kalagana sebagai seorang Dewa Kalon yaitu seorang dewata yang menjelma menjadi manusia.

Mereka percaya penuh ketika pendeta itu menyatakan bahwa Begawan Siddha Kalagana sesungguhnya adalah Sang Hyang Syiwa sendiri. Dan sebagaimana telah diketahui oleh umum pada waktu itu, batari Durga adalah syakti (isteri) daripada Sag Hyang Syiwa.
Di tengah-tengah perkampungan itu, dekat sekali dengan pantai Kali Serang di bagian menikung, oleh Begawan Siddha Kalagana dibangun sebuah candi yang amat luas. Sebetulnya bukan merupakan bangunan candi yang utuh, akan tetapi tepat disebut kelompok tempat pemujaan yang dijadikan pula tempat tinggalnya. Tempat ini dikelilingi oleh pagar bata yang tinggi, merupakan tempat tertutup. Tidak saja pagar batu itu tinggi, akan tetapi juga pada tiap sudut dipasangi tempat penjagaan, sehingga hampir merupakan sebuah benteng.

Hanya ada dua buah pintu pada pagar batu itu, yaitu pintu gerbang besar yang berada di depan, dan sebuah pintu kecil di bagian belakang, yaitu yang menghaapi sungai. Tidak sembarang orang dapat memasuki pintu gerbang itu, kecuali pada waktu-waktu tertentu, yaitu pada waktu diadakan pemujaan di dalam candi yang terletak di tengah-tengah kelompok bangunan yang dikurung pagar bata itu. Pada waktu diumumkan saat pemujaan, maka pintu gerbang itu dibuka, dan orang-orang kampung diperkenankan masuk ke dalam untuk melakukan pemujaan secara berbareng di tempat yang telah disediakan.

Keadaan di dalam lingkungan pagar bata sungguh amat luar biasa.
Pertama-tama di sebelah dalam pagar, terdapat rumah-rumah petak kecil yang berjajar, dan di sinilah para anak buah Serigala Hitam tinggal. Mereka ini tidak saja bertugas sebagai pasukan yang melindungi Agama Sang Batari Yang Agung, akan tetapi juga sebagai penjaga benteng dan sebagai murid-murid Bagawan Siddha Kalagana. Anak buah pasukan Serigala Hitam yang kesemuanya berjumlah tiga puluh sembilan orang ini, hidup membujang dan tidak beristri, karena “beristri“ merupakan pantangan besar bagi seorang murid Sang Begawan.

Ditengah-tengah lingkungan rumah-rumah para muridnya itu, terdapatlah apa yang disebut candi yang sebenarnya merupakan istana tempat tinggal Bagawan Siddha Kalagana itu. Sebuah bangaunan yang amat besar dan megah, yang dihias dengan patung-patung wanita telanjang yang amat indah buatannya. Bangunan ini mempunyai bagian-bagian terpisah. Ada bagian yang disebut ruang pemujaan, di mana terdapat sebuah patung Sang Batari Durga yang disembah-sembah. Ada pula bagian kesenian, di mana seringkali diadakan tari-tarian yang katanya untuk menghibur hati Sang Batari dan suaminya (yaitu Pendeta itu). Ada ruangan tempat pembuatan patung-patung di mana bekerja ahli-ahli pahat yang amat pandai. Ahli-ahli sebagian besar adalah hasil penculikan dari daerah Mataram dan Syailendra. Yang paling hebat adalah kamar tempat Sang Bagawan Siddha Kalagana, sebuah kamar besar dan penuh dengan patung-patung indah sekali. Kecuali pada waktu-waktu tertentu, semua bagian di dalam bangunan besar ini, terutama sekali kamar dari sang Batari dan Suaminya, amat dirahasiakan dan tak seorangpun, termasuk para anggota Srigala Hitam, diperbolehkan memasukinya.

Kalau ada orang luar masuk ke dalam perkampungan di pinggir Kali Serang itu, ia akan merasa amat terheran-heran karena tidak melihat adanya gadis-gadis muda yang cantik. Yang ada hanya beberapa orang gadis saja, akan tetapi mereka ini bermuka buruk atau bercacad ! Akan tetapi, kalau sudah diberi tahu, mengertilah dia bahwa semua perawan yang berwajah lumayan dan bersih, diharuskan menjadi pelayan dari Sang Maha Batari.

Akan terheranlah orang apabila ia masuk ke dalam bangunan besar itu, karena di situlah semua perawan itu berada. Tidak kurang dari empat puluh orang gadis-gadis muda mendiami bangunan itu, melakukan pekerjaan sebagai pelayan dan tempat itu merupakan sebuah penampungan anak-anak dara atau semacam harem dari seorang Pangeran atau Raja. Orang luar, termasuk juga para anggota Serigala Hitam, tidak boleh mengadakan hubungan dengan para “pelayan“ Sang Batari ini. Hanya pada saat sang Batari mengadakan pesta, di mana diadakan tari-tarian diiringi oleh gamelan, barulah orang luar dapat melihat dan berhubungan dengan mereka itu.

Dengan demikian, maka penghuni bangunan besar yang penuh dengan patung-patung indah itu, hanyalah Bagawan Siddha Kalagana sendiri bersama empat puluh orang dara jelita itu.

Ketika Bagawan Siddha Kalagana dan rombongannya memasuki kampung halamannya, membawa Candra dewi yang cantik jelita, mereka di sambut dengan girang oleh penduduk. Tentu saja mereka tidak mengira bahwa Candra Dewi dibawa dengan paksa atau diculik, dan mengira bahwa Sang Maha Batari telah memilih seorang pelayan baru, dan ini berarti bahwa malam nanti akan diadakan pesta keramaian. Pesta inilah yang merupakan daya penarik bagi para pemeluk agama baru ini, karena di dalam pesta ini, Begawan Siddha Kalagana sengaja membuka kesempatan kepada semua orang untuk mengumbar hawa napsu, membiarkan iblis merajalela dan menguasai perasaan dan iman, sehingga di dalam pesta pora ini terjadilah hal-hal yang amat mengerikan. Hal-hal yang amat cabul dan yang kesemuanya dilakukan oleh orang-orang itu tanpa disadarinya, karena mereka berada dalam pengaruh mujizat, pengaruh setan dan iblis yang di “dalangi“ oleh Begawan Siddha Kalagana.

Malam itu Sang Purnama menyinari permukaan bumi sepenuhnya. Kalau di lain tempat bulan mendatangkan cahaya indah dan mengusir semua kengerian malam gelap, adalah di tepi Sungai Serang itu bahkan mendatangkan hawa dingin yang menyeramkan. Cahaya bulan yang keemasan itu seakan-akan menambah daya hidup dari para demit, setan, dan iblis di daerah itu, menimbulkan suara-suara yang aneh dan menyeramkan, dan tiap bayangan disinari bulan merupakan bentuk raksasa yang dahsyat.

Keadaan sunyi sepi, kecuali dari arah benteng di pedusunan itu, di mana Sang Begawan Siddha Kalagana sedang mengadakan pesta dan dari sanalah datangnya bunyi-bunyian gamelan yang ganjil pula. Memang Bagawan Siddha Kalagana, selain membawa agamanya dan tari-tarian dan gamelan dari negerinya, gamelan dan tari-tarian yang biasanya di Tanah Hindu diadakan untuk memuja dewa Ular. Gamelan itu terdiri daripada bunyi-bunyian yang
melengking, ke luar dari tiga batang suling berbentuk ular, diiringi oleh suara gendang yang dari jauh terdengar seperti suara air dipukul. Dusun itu nampak sunyi, karena semua penghuninya tidak melewatkan kesempatan itu untuk datang mengunjungi pesta Sang Batari Durga yang diadakan semeriah-meriahnya di ruang seni sebelah kiri bangunan besar itu.

Air kali Serang mengalir perlahan, tidak memperdulikan semua peristiwa itu, mengalir terus menuju ke utara dengan tenangnya. Sebuah getek, yakni perahu terbuat daripada bambu yang diikat berjajar, bergerak perlahan terbawa oleh aliran air sungai, menuju ke dusun itu. Dua orang muda berdiri di atas getek sambil menggerakkan dayung dari bambu pula.

Mereka ini bukan lain adalah Indrayana dan Pancapana yang mengikuti perjalanan rombongan Bagawan Siddha Kalagana yang membawa lari Candra Dewi. Setelah dekat dengan pedusunan itu mereka lalu mempergunakan jalan air karena lebih aman dan mudah memasuki dusun dari sungai daripada mengambil jalan darat. Mereka bermaksud memasuki dusun itu secara diam-diam agar dapat menyergap dan menolong kawan mereka dengan tiba-tiba dari dalam dusun.

Ketika mereka telah tiba di dekat dusun, Indrayana melihat banda-benda terapung di atas air yang amat menarik hatinya. Sinar bulan tidak begitu terang, akan tetapi cukup manyinari banda-banda itu nampak seperti bertangan dan berkaki.

“Kakangmas Pancapana, lihat! Apakah yang terapung-apung itu?“ Pancapana memandang dengan penuh perhatian.
“Seperti tubuh manusia !“ serunya.
“Mari kita dayung getek ke sana!“

Kedua orang itu meluncur cepat ke tempat benda-benda terapung-apung. Setelah dekat mereka memandang penuh perhatian.

“Ya Jagad Dewa Batara!“ tiba-tiba Pancapana menyebut nama dewata dan mukanya berubah pucat.

Juga Indrayana berdiri kesima bagaikan berubah menjadi patung. Ternyata bahwa benda-benda terapung itu benar-benar adalah tubuh tiga orang anak kecil yang telah menjadi mayat. Indrayana dapat menguasai perasaannya lebih dulu dan ia lalu mengulur tangan menjangkau sebuah daripada tiga mayat itu dan mengangkatnya ke atas getek. Meremang bulu tengkuk mereka ketika menyaksikan keadaan mayat anak kecil itu. Ternyata bahwa mayat itu terluka pada bagian dadanya. Bulukan luka sembarangan, akan tetapi agaknya dada itu memang dibuka dengan sebuah pisau tajam dan ternyata bahwa isi dada anak itu telah dikosongkan orang. Agaknya jantung anak itu telah dicabut dari dalam.

“Gusti Yang Maha Agung!“ seru Indrayana.
“Iblis manakah yang sanggup melakukan kekejaman seperti ini!“

Pancapana dan Indrayana saling pandang dan menduga-duga, akan tetapi tidak dapat menemukan jawabannya.

“Mari kita angkat dan mengubur ketiganya dengan baik-baik,“ kata Pancapana.

Indrayana setuju dan mereka lalu berusaha mengambil dua mayat lain yang masih mengambang di atas air. Akan tetapi pada saat itu, air kali tergoncang hebat dan busa air memercik keras. Kepala seekor buaya besar tersembul di permukaan air dan menyambar ke arah mayat kecil itu.

“Kurang ajar!“ seru Pancapana marah dan secepat kilat pemuda perkasa ini telah mengambil gendewanya menjebret, dua batang anak panah meluncur cepat dan dengan tepat sekali menancap pada kedua mata buaya itu.
“Bagus sekali. Kakangmas Pancapana!“ Indrayana memuji sambil tersenyum memandang binatang yang kini berenang dengan liar di dalam air, memukul-mukulkan ekornya dan menggeliat-geliat.

Air sungai menjadi hitam di bawah sinar bulan, tanda bahwa air itu telah bercampur dengan darah yang keluar dari sepasang mata buaya itu. Tak lama kemudian, tampaklah tubuh buaya yang besar itu mengambang dengan perutnya ke atas. Perut itu keputihputihan berbeda dengan punggungnya yang hitam dan kasar. Indrayana dan Pancapana lalu mengangkat dua mayat anak kecil tadi ke atas getek. Tiba-tiba air bergelombang makin besar dan kini tersembullah kepala belasan ekor buaya yang besar-besar. Bukan main kagetnya Indrayana melihat hal ini. Menghadapi seekor dua ekor saja masih terkawan oleh mereka, akan tetapi belasan ekor binatang buas ini benar-benar merupakan bahaya maut. Sekali saja ekor mereka yang kuat itu memukul getek, mereka akan terguling di dalam air dan akan tewas.

“Dimas Indrayana, cepat dayung getek ke tepi!“ deru Pancapana.

Mereka lalu mengerahkan tenaga dan mendayung getek itu ke pinggir, dikejar oleh barisan buaya itu. Setelah berada dekat tepi, Indrayana dan Pancapana melompat ke darat sambil memondong tiga mayat anak-anak itu. Mereka berdiri memandang ke air sambil mengeleng-gelengkan kepala.

“Berbahaya sekali!“ kata Indrayana, melihat betapa dengan buasnya buaya-buaya itu menyambar getek.

Terjadi pergulatan sebentar ketika binatang-binatang itu memperebutkan getek yang sudah kosong dan tak lama kemudian getek itu menjadi hancur lebur.! Pecahan- pecahan bambu terapung dan terbawa oleh air. Setelah melampiaskan amarah mereka kepada getek kosong itu, buaya-buaya itu lalu menyelam kembali dan lenyap dari pandangan mata. Juga buaya yang telah tewas karena dua batang anak panah Pancapana tadi tak nampak
lagi, agaknya diseret ke dasar sungai oleh kawan-kawannya.

“Sungguh ajaib!“ kata Pancapana.
“Selama kita naik getek, tak pernah kelihatan seekorpun buaya. Akan tetapi, mengapa di tempat ini terdapat begitu banyak buaya?“

Indrayana menengok ke belakang, ke arah suara gamelan terdengar.

“tidak aneh, kangmas, karena disini termasuk daerah yang dikuasai oleh pengaruh Bagawan Siddha Kalagana. Siapa tahu kalau-kalau buaya-buaya tadi adalah anak buahnya pula?“

Mereka lalu menggali tanah di tepai sengai dan mengubur tiga mayat anak kecil tadi. Ternyata bahwa ketiganya telah lenyap isi dadanya dan melihat betapa kulit dada yang dibelek itu masih ada tanda-tanda darah, maka mereka dapat menduga bahwa peristiwa keji itu terjadi belum lama.

Setelah mengubur ketiga mayat anak kecil itu baik-baik, kedua pemuda gagah perkasa itu lalu berjalan mengendap-endap menuju ke dalam dusun itu. Ternyata semua rumah di dalam dusun telah kosong dan tak seorangpun nampak berada di situ. Indrayana mengeleng-geleng kepala melihat keadaan rumah-rumah yang lebih patut disebut gubuk-gubuk miskin sekali itu, tak lebih baik dari pada gubuk-gubuk yang berada di tengah sawah dalam dusun-dusun di Kerajaan Syailendra.

Kemudian mereka menuju ke bangunan besar di tengah kampung itu.

Begitu tiba di dekat pagar bata. Indrayana dan Pancapana merasa heran, karena sesungguhnya bangunan yang dikelilingi pagar kuat ini merupakan sebuah keraton kerajaan kecil. Apapula ketika melihat adanya penjaga-penjaga di sudut tembok.

“Mari kita serbu penjaga-penjaga itu!“ bisik Indrayana.
“Jangan,“ jawab Pancapana,
“sebelum mengetahui bagaimana keadaan Candra Dewi, lebih baik kita menghindarkan setiap pertempuran. Mari kita masuk dari lain bagian yang tak terjaga!“

Mereka lalu mengambil jalan memutar dan tiba di sebelah kanan bangunan. Pancapana lalu mengunakan pedangnya untuk memotong sebatang cabang pohon yang panjang yang ada cawangnya, lalu mengaitkan cabang itu pada tembok di atas. Dengan mudah saja lalu ia lalu naik melalui cabang itu itu ke atas tembok dan memberi isyarat kepada Indrayana untuk naik pula.

Demikianlah, tanpa diketahui oleh penjaga yang kurang memperhatikan karena mereka mencurahkan perhatian mereka kepada pesta yang sedang berlangsung di dalam dan menyesali nasib karena kebetulan sedang bertugas menjaga sehingga tidak dapat segera ikut menikmati pesta itu, kedua teruna itu dapat masuk dengan mudah.

Sambil bersembunyi di bawah bayangan gedung itu, mereka mendekati bangunan dan diam-diam mereka amat kagum melihat ukiran-ukiran indah dan patung-patung yang dipasang di sekitar bangunan. Patung-patung itu kesemuanya telanjang dan amat indah buatannya. Terutama bentuk patung-patung itu, benar-benar dikerjakan oleh seorang ahli yang pandai.

Akan tetapi perasaan kagum karena keindahan ukiran itu tercampur oleh perasaan segan, sungkan dan mual karena jelas sekali tampak bahwa si pembuat patung ingin menonjolkan sifat ketelanjangan patung itu sehingga mengarah kepada kecabulan. Agaknya pembuat patung itu sengaja mencurahkan keahliannya untuk membuat bagian-bagian tubuh yang biasanya tertutup menjadi bagian yang paling menarik.

Tiba-tiba terdengar Pancapana mengutuk perlahan. Indrayana menengok dan melihat kawannya itu sedang berdiri di depan sebuah patung yang juga bertelanjang bulat. Dan patung itu adalah patung Dewi Sri isteri daripada Sang Hyang Wisnu ! Setelah menyembah patung Dewi Sri itu, Pancapana lalu menarik tangan Indrayana untuk meninggalkan tempat itu dan ia menyumpah-nyumpah,

“Ini penghinaan besar kepada para dewata! Bagawan Siddha Kalagana itu agaknya gila!“
“Sssst…..“ kata Indrayana sambil mendekatkan telunjuk pada bibirnya.
“Dengar, kangmas, ada suara……

Ketika mereka mendengarkan dengan teliti benar saja, di antara suara gamelan yang dipukul di ruang sebelah kiri bangunan besar itu, terdengar suara lain, suara “tok, tok, tok, !“ seperti orang memukul-mukulkan sesuatu di atas batu.

“Pemahat patung!“ bisik Pancapana.

Dia sendiri adalah seorang yang telah mempelajari ilmu kesenian ini, maka suara itu cukup jelas baginya.

“Semua orang berpesta pora, mengapa pemahat patung itu bekerja seorang diri? Mari kita lihat!“ ajak Pancapana.
“Akan tetapi, kita perlu mencari diajeng Dewi ……“

“Lebih baik mencari dari sebelah sini, kurasa Candra Dewi dikurung dalam bangunan ini. Marilah!“

Mereka lalu memasuki pintu bangunan itu dari sebelah kanan dan menuju ke arah suara orang memahat patung tadi. Lorong-lorong di dalam bangunan itu semua diukir indah dan diterangi dengan lampu-lampu minyak yang cukup terang. Pada dinding di kanan-kiri terdapat ukiran yang menggambarkan pada Dewa di Khayangan, akan tetapi semua dewata itu bersujud dan menyembah seorang dewi yang cantik jelita dan telanjang bulat yaitu Dewi Durga ! Alangkah ganjilnya gambar-gambar ini bagi Indrayana dan terutama bagi Pancapana yang memuliakan Dewa-dewa itu. Suara orang memahat batu itu makin keras dan akhirnya kedua pemuda itu mengintai ke dalam sebuah rungan yang terang-benderang dan luas. Mereka menahan napas ketika menyaksikan rungan yang luar biasa itu. Di situ penuh dengan patung-patung yang amat indah. Patung-patung wanita telanjang dalam berbagai kedudukan, dan mereka tidak kenal siapakah patung-patung itu, karena nampaknya seperti muka orang biasa, seperti wajah perawan-perawan kampung yang cukup manis.

Sebagian besar daripada patung-patung itu masih belum selesai dan dapat diduga bahwa di situ biasanya bekerja banyak sekali ahli patung, karena masih nampak bekas-bekas tempat mereka bekerja. Akan tetapi, pada saat itu, yang bekerja di dalam ruangan besar itu hanya seorang saja, seorang laki-laki tua yang kurus kering dan berambut panjang.
Dengan asiknya, pemahat tua itu sedang menyelesaikan sebuah patung yang lain daripada yang lain, karena patung ini bukan patung seorang wanita telanjang, melainkan patung Bagawan Siddha Kalagana sendiri.

Kepala dan bagian tubuh atas telah selesai dan pemahat itu sedang berlutut, mengerjakan bagian bawah, Indrayana dan Pancapana saling pandang, karena takjub melihat keindahan patung itu. Mereka merasa seakan-akan berhadapan dengan Begawan itu sendiri. Demikian hidupnya patung itu sehingga mata patung itu seolah-olah bergerak dan hidup. Akan tetapi tiba-tiba Pancapana memegang lengan Indrayana dan berbisik dengan suara gemetar.

“Dia adalah Panjipurna ahli patung Mataram!“

Sebelum Indrayana dapat bertanya, pangeran itu lalu menarik tangannya dan menyerbu ke dalam rungan itu. Akan tetapi, aneh sekali, ahli patung itu seakan-akan tidak memperdulikan mereka, dan tetap bekerja dengan tekunnya.

“Paman Panjipurna!“ seru Pancapana sambil mendekati orang itu.

Barulah kakek itu menegok dan melihat Pancapana, ia memandang dengan bengong dan pucat. Kemudian tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan menangis.

“gusti Prabu, ampunkan hamba…… Sudah tibakah saatnya paduka datang menjemput nyawa hamba?“

Pancapana tertegun. Orang itu tentu telah berubah ingatannya, dan menganggap bahwa dia adalah mendiang Sang Prabu Sanjaya, ayahnya. Ia maju mendekat dan kembali ia tertegun ketika ia menyaksikan betapa kedua kaki kakek itu terikat oleh belenggu besi yang panjang sehingga tak mungkin kakek itu dapat melarikan diri.

“Aduh, paman Panjipurna, bagaimana kau sampai menjadi begini?“

Setelah berkata demikian, tanpa membuang waktu lagi, Pancapana dan Indrayana lalu membuka rantai belenggu kaki orang tua itu. Baru saja pekerjaan ini selesai dan kaki orang tua itu telah bebas, tiba-tiba dua orang penjaga masuk ke dalam ruang itu. Mereka ini adalah anggota-anggota Serigala Hitam yang bertugas meronda tempat-tempat yang kosong itu, dan mereka memegang sebatang tombak yang runcing.

“Eh, siapakah kalian ini?“ bentak mereka ketika melihat Pancapana dan Indrayana berada di tempat itu. Akan tetapi, sebagai jawaban, kedua pemuda digdaya itu menyerbu. Dengan dua kali tonjokan saja kedua orang peronda itu roboh pingsan dan tak berdaya sama sekali ketika Indrayana dan Pancapana menggunakan rantai pengikat kaki Panjipurna tadi untuk membelenggu mereka berdua dan melempar tubuh mereka berdua di sudut ruang itu.

“Raden, engkau siapakah?“ Panjipurna yang seakan-akan baru sadar dari
mimpi itu bertanya sambil memandang kepada Pancapana dengan takjub.

Pancapana tersenyum.

“Tentu engkau tidak mengenal lagi kepadaku, paman Panjipurna. Dahulu ketika engkau masih bekerja di istana Rama Prabu, aku masih kecil. Aku adalah Pangeran Pancapana!“

“Aduh, Gusti Pangeran ……!“ kakek itu lalu menjatuhkan dari menyembah sambil menangis karena terharu.

Kemudian atas pertanyaan Pancapana, ia menceritakan pengalamannya yang mengerikan. Ia diculik oleh Bagawan Siddha Kalagana dan dibawa ke tempat itu. Telah banyak ahli-ahli ukir dan pahat berada di situ, akan tetapi mereka ini semua berada di bawah pengaruh dan tenung dari Bagawan yang sakti itu, bahkan telah memeluk agama yang disiarkan oleh Bagawan Siddha Kalagana. Hanya Panjipurna seoranglah yang masih kuat dan teguh imannya sehingga ia tidak sampai terbujuk. Hal ini hanya mungkin karena kakek seniman ini juga seorang ahli tapa yang telah memiliki batin sekali sehingga tak dapat terkena guna-guna dan tenung Sang Bagawan Siddha Kalagana.

“Inilah sebabnya, maka bertahun-tahun hamba dibelenggu dan dipaksa bekerja di sini. Hamba tidak sudi mengerjakan patung-patung cabul itu, maka bagian hamba hanya membuat patung-patung lelaki, dan yang terakhir ini hamba dipaksa membuat patung Sang Begawan.“
“Di manakah adanya lain-lain ahli patung yang bekerja?“ tanya Pancapana.
“Seperti biasa, Gusti Pangeran. Mereka itu ikut pula bersukaria dalam pesta gila itu. Karena hanya dalam pesta gila itulah mereka berkesempatan untuk bersukaria dan melampiaskan segala nafsu iblis!“
“Paman, kami berdua datang untuk mancari dan menolong seorang puteri yang diculik oleh pendeta iblis itu. Di manakah kiranya disembunyikan kawan kami itu?“

Panjipurna menarik napas panjang.

“Memang bagawan itu jahat sekali. Hamba sendiri tidak pernah keluar dari ruang ini, gusti. Akan tetapi hamba tahu bahwa bagawan itu memiliki sebuah bilik istimewa di sebelah bangunan ini. Adapun ruang pesta gila-gilaan itu berada di sebelah kiri. Kalian hati-hatilah, Bagawan Siddha Kalagana amat sakti, dan kaki tangannya banyak sekali.“
“Jangan khawatir, paman. Kalau kami berhasil menyelamatkan kawan itu, kami akan berusaha menolongmu keluar dari sini pula.“ Setelah berkata demikian, Pancapana dan Indrayana lalu keluar dari ruangan itu dan dengan hati-hati sekali mereka menuju ke dalam.

Akhirnya karena tidak berhasil mendapatkan kamar rahasia dari pendeta iblis itu, mereka lalu menuju ke sebelah kiri untuk mengintai ruang pesta yang makin ramai itu. Ketika meteka telah tiba di tempat itu dan mengintai, hampir saja keduanya berseru saking heran, terkejut, marah, dan juga seram. Ruang yang disebut ruang senitari itu ternyata amat luas, empat kali lebih lebar daripada ruang tempat pembuatan patung tadi yang sudah cukup lebar. Berbeda dengan ruang-ruang lain, di sini tidak dipasangi penerangan lampu, akan tetapi gentengnya terbuka sama sekali sehingga penerangan yang masuk di dalam ruang itu sepenuhnya didapat dari sinar bulan purnama. Oleh karena itu, maka pemandangan di situ suram- suram, menyeramkan, akan tetapi juga romantis sekali. Oleh karena sinar bulan cukup terang, Indrayana dan Pancapana dapat melihat hiasan arca-arca dan ukiran-ukiran pada dinding ruang itu dan kedua pemuda itu menahan nafas saking kagum, heran , dan juga jengah. Mereka kagum, oleh karena seni pahat yang menghasilkan hiasan-hiasan itu sungguh-sungguh amat mengagumkan karena indahnya. Apalagi Indrayana yang berada di Kerajaan Syailendra, bahkan Pancapana sendiri yang berada di Mataram di mana banyak
terdapat ahli-ahli patung yang pandai, juga takjub sekali Koleksi Kang Zusi menyaksikan patung-patung dan ukiran-ukiran yang sedemikian indahnya.
Akan tetapi, yang membuat mereka terheran-heran, jengah, dan juga seram adalah keadaan segala macam ukiran dan arca itu. Semua arca yang berada di situ telanjang bulat, bahkan cabul sekali, lebih-lebih lagi ukiran-ukiran dan gambar-gambar pada dinding rungan itu. Bukan main kotor dan cabulnya. Ukiran-ukiran dan gambar-gambar itu menggambarkan dunia Kamawacara, yakni daerah keinginan nafsu dan duniawi yang membuat manusia sama dengan binatang. Dengan cara menyolok dilukis atau diukirkan pelanggaran- pelanggaran, perzinaan-perzinaan dan pencabulan yang tiada taranya, lukisan-lukisan manusia-manusia telanjang yang melakukan kehidupan seperti binatang, dan lain lukisan lagi yang kesemuanya menggambarkan hidup yang tenggelam dalam kenikmatan nafsu-nafsu buruk.

Di tengah-tengah ruang yang amat lebar itu, berdirilah patung yang besarnya dua kali ukuran manusia biasa, dan inilah patung Batari Durga, shakti (isteri) dari Sang Hyang Syiwa. Akan tetapi bukan seperti patung Batari Durga yang dikenal oleh Pancapana dan Indrayana, melainkan patung Batari Durga yang bertelanjang bulat dan tidak mengenal malu sekali.

Di suatu sudut duduklah sekelompok orang yang menabuh gamelan. Kurang lebih seratus orang laki-laki dan wanita berjubah menjadi satu, duduk bersimpuh di ruangan itu dan semua orang menghadap kepada patung Batari Durga dengan penuh khidmat. Tujuh orang laki-laki tua yang berpakaian seperti pendeta, duduk pula bersimpuh di kaki patung itu dan kadang-kadang mereka menyanyikan lagu menurut irama gamelan itu, lalu diikuti oleh para pengunjung yang terdiri daripada orang-orang kampung di tepi Kali Serang.

Di tempat sudut rungan itu mengembul asap kayu garu dan cendana dibakar, membuat rungan ini berbau harum dan sedap, bahkan semua patung yang berada di situ, terutama sekali patung Batari Durga yang di tengah-tengah, penuh dengan kembang melati dan mawar serta kenangan, sehingga keadaan di situ penuh dengan bau kembang yang harum pula.

Hawanyapun sejuk dan segar, karena di atas terbuka sama sekali.

Ketika kedua orang muda yang mengintai dengan hati berdebar-debar itu mencari-cari dengan pandang mata mereka kalau-kalau terlihat Candra Dewi atau Bagawan Siddha Kalagana di situ, tiba-tiba semua orang yang menghadap patung Batari Durga itu meniarapkan tubuh mereka di atas lantai seakan-akan menyambut munculnya seorang Dewa atau Raja Besar.

Dan yang disujudi itu muncullah dari sebuah pintu yang tertutup kain sutera kuning, diiringi oleh nyanyian-nyanyian para pendeta yang tujuh orang jumlahnya itu. Gamelan dibunyikan perlahan sehingga keadaan benar-benar menyeramkan.

Akan tetapi Indrayana dan Pancapana hampir saja tak dapat menahan ketawa mereka karena geli dan jijik melihat keadaan Bagawan Siddha Kalagana yang muncul dari pintu. Pendeta itu sama sekali tidak berpakaian ! hanya sorban penutup kepala dan sehelai cewat sempit saja yang masih menempel pada tubuhnya. Tubuhnya kelihatan makin kurus dan makin tinggi, penuh dengan batu hitam terutama di dada, kaki dan lengan.

Seperti seekor monyet! Ia lebih pantas disebut monyet bersorban, bercawat daripada disebut manusia bertelanjang ! Akan tetapi, di samping kelucuan ini, memang benar ada sesuatu yang amat mengerikan keluar dari keadaan pendeta ini. Sepasang matanya seperti bukan mata manusia lagi, mencorong bagikan mata seekor ular, jalannya juga perlahan dan lemas bagaikan ular kobra merayap maju berlenggak-lenggok. Di samping kegelian hatinya. Indrayana dan Pancapana diam-diam mereasa betapa bulu tengkuk mereka meremang. Bukan manusia bagawan ini pikir mereka, melainkan seekor iblis jahat menjelma menjadi manusia. Bagawan Siddha Kalagana lalu menghampiri patung Batari Durga itu, menjura di hadapannya kemudian ia memeluk pinggang patung itu dengan mesra seakan-akan seorang suami memeluk isterinya yang terkasih.

Teringatlah Indrayana dan Pancapana bahwa Bagawan Siddha Kalagana menganggap diri sendiri sebagai titisan Sang Hyang Syiwa, suami dari Batari Durga ! Menggigillah pundak Pangeran Pancapana ! Benar-benar suatu pelanggaran terhadap dewata, suatu penghinaan yang hebat sekali. Hanya orang berotak miring jualah yang berani melakukan penghinaan seperti ini.

Bagawan Siddha Kalagana lalu duduk di atas sebuah kursi berukir gambar sepasang naga. Kursi itu tinggi dan terletak di sebelah kanan patung Batari Durga yang telanjang bulat itu. Alangkah lucunya pasangan itu dalam pandangan mata Pancapana dan Indrayana. Selain patung Batari Durga itu jauh lebih tinggi dan besar, juga keduanya merupakan lambang dari keindahan dan keburukan. Kalau patung Batari Durga itu merupakan tubuh seorang manusia wanita yang serba elok dan sempurna lekuk lengkungnya, adalah tubuh bagawan yang duduk di atas kursi itu merupakan potongan tubuh manusia yang gagal, setengah manusia setengah monyet ! Akan tetapi, alangkah ganjilnya, semua orang yang berada di situ bertiarap menghormat kepada manusia monyet yang menjijikan itu dengan penuh khidmat. Pendeta Hindu itu lalu menggerakkan kedua tangannya, dilonjotkan ke depan seakan-akan hendak memberi berkah kepada semua orang, akan tetapi suaranya mengandung perintah ketika ia berkata,

“Kawula (hamba sahaya) Sang Batari yang terberkah! Sang Batari telah memilih seorang pelayan baru, oleh karena itu pada malam hari ini kami berkenan mangadakan pesta untuk merayakan peristiwa yang bahagia ini!
Akan tetapi ketahuilah bahwa pelayan baru kali ini bukanlah sembarangan pelayan, karena masih terhitung keluarga sendiri. Dia adalah puteri Batara Candra, namanya Candra Dewi. Batara Candra sendiri telah memberi ijin persetujuannya untuk memberikan puterinya kepadaku, untuk menjadi pelayan dan selir dari aku, Sang Hyang Syiwa. Semua ini telah dikehendaki oleh Sang Batari Yang Maha mulia!“

Setelah berkata demikian, ia menengok kepada tujuh orang pendeta menjadi pembantunya.

“Panggil keempat puluh bidadari untuk mengadakan tari-tarian di sini dan
menghibur setiap hati yang rindu dan sunyi, menyerahkan semua kepandaian dan kecantikan mereka. Jangan lupa, bawa ke sini pula tiga buah jantung murni yang akan menambah masa penjelmaanku dengan tiga windu lagi.“

Tujuh orang pendeta itu lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian, dari dalam keluarlah empat puluh orang gadis yang daang berlari-lari kecil bagaikan terbang melayang, diiringi suara gamelan yang menyambut kedatangan mereka. Indrayana dan Pancapana merasa kagum sekali.

Keempat puluh orang gadis itu masih amat muda dan rata-rata memiliki kecantikan muka yang cukup menarik. Mereka mengenakan pakaian yang amat tipis berwarna putih bening sehingga ketika mereka datang berlari kecil itu, tubuh mereka nampak membayang di balik pakaian yang amat tipis itu. Gerakan mereka lincah dan lemas, dan dalam keadaan yang suram-suram itu, dalam pakaian yang amat tipis, diiringi pula oleh gamelan yang ganjil bunyinya, mereka itu tiada ubahnya seperti keempat puluh Bidadari turun dari Khayangan. Dengan gerakan yang lemah gemulai mereka lalu menjatuhkan siri berlutut di depan Bagawan Siddha Kalagana.

Indrayana dan Pancapana melihat betapa semua mata memandang kepada empat puluh orang gadis cantik itu, dan mata orang-orang lelaki yang hadir di situ memancarkan cahaya penuh nafsu. Sementara itu gamelan berbunyi terus, akan tetapi keempat puluh penari itu tidak bergerak dan masih berlutut menyembah seakan-akan telah berobah menjadi patung. Seorang di antara ketujuh orang pendeta tadi maju menyerahkan sebuah cawan terukir berisi tiga potong benda kecil berwarna kehitaman.

Bagawan Siddha Kalagana menerima cawan ini dengan muka berseri, kemudian sepotong demi sepotong ia mengambil dan menelan benda merah tersebut sambil memejamkan matanya. Tak terasa lagi Indrayana dan Pancapana saling pandang denagn mata terbelalak membayangkan kengerian hebat. Dengan mudah mereka dapat menduga bahwa benda-benda kecil merah yang ditelan oleh pendeta aneh itu tentulah jantung anakanak kecil yang mayatnya terapung di sungai tadi. Bagawan Siddha Kalagana mengambil dan menelan jantung anak-anak kecil
untuk digunakan sebagai obat panjang umur.

“Bawa anggur Sang Batari ke sini!“ seru Bagawan Siddha Kalagana setelah menelan habis tiga buah jantung anak-anak itu.

Pendeta yang duduk di atas lantai lalu mengambil sebuah gemntong terisi penuh anggur merah. Untuk mengangkat gentong ini, diperlukan tenaga empat orang pendeta yang bertubuh kuat, akan tetapi setelah gentong diberikan kepada pendeta itu, dengan tangan kiri Bagawan Siddha Kalagana mengangkat gentong dan menuangkan isinya ke dalam mulutnya begitu saja.

Tentu saja pertunjukan ini mendatangkan rasa kagum, takjub dan percaya akan kesaktian dalam hati para penonton, sungguhpun hal ini bukan merupakan hal aneh bagi Indrayana maupun Pancapana. Setelah puasa minum anggur itu, Bagawan Siddha Kalagana lalu menurunkan gentong anggurnya dan berkata sambil tertawa,

“Sekarang, sebelum pesta dimulai, semua orang supaya minum anggur pemberian Sang Batari lebih dulu seperti biasa!“

Seakan-akan orang yang sudah ketagihan sekali, orang-orang itu berebut merangkak-rangkak maju mendekati pendeta-pendeta yang membagi-bagi minuman itu. Seorang mendapat anggur secawan kecil dan akhirnya, setelah para penari yang empat puluh orang jumlahnya itu diberi kesempatan minum terlebih dahulu, semua orang mendapat bagian dan gentong
itu menjadi kosong dan dibawa keluar.

“Bunyikan gamelan, menarilah untuk menghormati Sang batari,“ kini Bagawan Siddha Kalagana berseru gembira sambil menepuk-nepuk tangannya.

Maka berbunyilah kembali segala gamelan tadi dan kini terdengar irama yang amat ganas dan gembira, seakan-akan para penabuh telah menjadi panas darahnya karena minuman anggur merah tadi. Empat puluh orang pelayan atau pengiring Sang Betari, yang pada hakekatnya adalah selir-selir Sang Begawan Siddha Kalagana itu, kini bangkit berdiri dan menarilah mereka dengan gerakan-gerakan yang indah dan menggairahkan. Pada permulaannya, tarian mereka itu lemas dan halus dan benar-benar mengandung seni tari yang amat indah, akan tetapi makin lama, gerakan mereka menjadi makin cepat dan bunyi gamelan makin dahsyat. Penari- penari itu seperti mabok dan tak peduli lagi betapa karena gerakan mereka yang cepat, pakaian mereka kadang-kadanag terbuka sehingga memperlihatkan pemandangan yang tidak sopan. Para penonton juga kehilangan keseimbangan lagi. Kalau tadinya mereka bersikap sopan dan hormat, kini mereka mulai tertawa-tawa, bersorak-sorak, bahkan tubuh mereka tidak mau diam, berlenggang lenggok mengikuti irama gamelan.

Indrayana dan Pancapana tertegun. Belum pernah selama hidup mereka melihat atau bermimpi melihat pemandangan seperti itu. Sudah gilakah semua orang itu, demikian pikir mereka. Lebih hebat ketika gamelan ditabuh makin hebat sehingga tak lama kemudian, pakaian-pakaian tipis yang yang hanya dilibatkan pada tubuh-tubuh dara-dara ayu itu, berterbangan terlepas dari pundak dan memenuhi lantai, membuat mereka sama seperti patung-patung wanita yang berada di situ. Makin menggila pulalah sikap para penonton, terutama para mudanya. Dengan pandangan mata mereka, seakan-akan mereka hendak menelan bulat-bulat para penari yang bergerak-gerak di depan mereka itu. Tiba-tiba Bagawan Siddha Kalagana berseru sambil bertepuk tangan,

“Bagus, sekarang semua menari! Semua menari untuk menghibur Sang Maha Batari!“

Karena mereka semua itu sudah maklum bahwa hal ini akan terjadi, maka tadi para penonton sudah merupakan air bah yang tertahan oleh bendungan. Isyarat dan perkenan dari Begawan Siddha Kalagana ini bagaikan memecahkan bendungan itu sehingga air bah yang kuat itu membanjir keluar. Bagaikan kemasukan iblis, orang-orang itu melompat berdiri, menari-nari, tertawa-tawa berteriak-teriak mengelilingi empat puluh orang penari yang membangkitkan gairah itu. Penonton-penonton perempuan tidak ketinggalan,
merekapun lalu menari-nari dan di dalam keributan itu, laki-laki dan perempuan bertukar pasangan, suami menari dengan perempuan lain dan isteri menari dengan laki-laki lain.

Indrayana dan Pancapana saling pandang dengan penuh pengertian. Inilah yang menjadi sebuah daripada alat-alat pemikat dan penarik dari Begawan Siddha Kalagana. Dengan amat pandainya pendeta itu menggunakan kekuatan sihirnya, membuat orang-orang itu menjadi lemah imannya dan kehilangan semangat, kemudian memabokkan mereka dengan minuman merah itu dan yang terakhir sekali, memberi kebebasan kepada mereka menari serta bersentuhan dengan empat puluh orang dara ayu, selir-selirnya itu.

Beberapa orang penari yang sudah mabok betul-betul dengan mata sayu dan penuh nafsu menghampiri Bagawan Siddha Kalagana, menari-nari dengan pinggang berlenggang-lenggok seperti ular di depan dan mnegitarinya, bahkan mulai menarik-narik tangannya diajak menari bersama. Akan tetapi, dengan pandang mata bosan, Bagawan Siddha Kalagana mengebaskan tangannya, bahkan lalu berkata kepada mereka.

“Bawa Sang Candra Dewi ke sini! Malam ini kita merayakannya, maka hanya dengan dialah aku mau menari! Sebelum melepaskan ikatannya, lebih dulu beri dia minum secawan madu merah!“
ketiga orang dara ayu itu nampak kecewa, akan tetapi mereka lalu tertawa cekikikan dan berlari-lari masuk untuk menjalankan perintah itu.

Pancapana dan Indrayana saling memberi isyarat dan bagaikan sudah berjanji terlebih dulu, mereka lalu meninggalkan tempat persembunyian mereka dan cepat mengikuti tiga orang dara yang masih telanjang bulat dan berlari-lari itu. Inilah kesempatan sebaik- baiknya bagi mereka. Ketiga orang penari akan membawa mereka ke tempat kurungan Candra Dewi.

Kalau Indrayana dan Pancapana tidak mengikuti perjalanan tiga orang penari yang semangatnya telah dipengaruhi oleh tenung dan sihir Bagawan, agaknya takkan mungkin mereka dapat mencari kamar di mana Candra Dewi terkurung. Kamar itu adalah kamar Bagawan Siddha Kalagana sendiri, sebuah kamar yang besar dan indah, penuh pola ukir- ukiran cabul. Untuk dapat memasuki kamar itu ketiga penari tadi melalui tiga lapis pintu rahasia yang hanya dapat dilihat dan dibuka setelah menggeser patung-patung yang berada di luar kamar.

Dengan hati-hati dan sembunyi-sembunyi kedua orang muda itu mengintai dan mengikuti tiga orang penari tadi, berjalan melalui sebuah lorong sempit. Tiba-tiba ketiga orang penari tadi menghentikan tindakan kaki mereka karena jalan itu buntu dan mereka menghadapi sebuah dinding batu yang tebal. Di sebelah kiri terdapat sebuah patung serigala batu, memutarnya ke kanan dan terdengarlah suara bergeret dengan terbukanya dinding batu itu. Ketiga orang penari itu melangkah masuk dan tertutuplah kembali jalan tadi. Dilihat begitu saja agaknya tak mungkin di situ akan terdapat sebuah pintu tembusan. Indrayana dan Pancapana menjadi girang sekali dan setelah menanti beberapa saat, mereka lalu memutar leher serigala batu itu dan terbukalah pintu. Mereka cepat melangkah masuk dan melanjutkan pengejaran mereka.

Kembali mereka sampai di jalan buntu dan terdapat pula sebuah patung serigala hitam yang lebih besar dan lebih dahsyat. Kedua orang pemuda itu mengira bahwa rahasianya terletak pula pada leher serigala batu itu yang harus diputar, akan tetapi ternyata tidak sedemikian. Seorang penari lalu memasukkan tangan ke dalam mulut serigala batu yang lebar itu dan menarikknya maka terbukalah sebuah pintu pula pada dinding yang tadinya rapat itu.

Seperti juta tadi, Indrayana dan Pancapana berhasil masuk ke dalam pintu rahasia ini setelah merogoh mulut patung serigala dan menarik lidah patung anjing serigala itu. Dengan penuh perhatian mereka melanjutkan pengintaian. Kini mereka tiba di depan sebuah pintu, yakni pintu teakhir, akan tetapi syarat untuk membuka pintu ini bukan merupakan suatu rahasia, melainkan lebih hebat dan berbahaya lagi. Kini yang menjaga di depan pintu bukanlah seekor patung serigala yang mengandung rahasia, melainkan seekor
serigala hitam tulen ! Serigala ini besar sekali dan bulunya hitam bagaikan arang. Sepasang matanya liar dan mengkilat, sedangkan moncongnya yang merah itu terbuka, lidahnya terjulur keluar di antara dua baris gigi yang runcing dan tajam melebihi pisau belati.

Setelah mengelus-elus leher dan menepuk-nepuk kepala serigala hitam yang besarnya seperti anak sapi itu. Ketiga wanita tadi lalu membuka daun pintu dan berjalan masuk dengan lenggang mereka yang amat menggiurkan.

Pancapana dan Indrayana saling pandang. Tak ada lain jalan bagi mereka selain mencoba untuk menerobos jalan yang terjaga ini. Akan tetapi baru saja mereka muncul, serigala hitam itu tiba-tiba menggeram dan menyalak dengan hebatnya, lalu menerkam ke arah dua orang pemuda yang berani mendekatinya.

“Kakangmas, awas!“ seru Indrayana yang berjalan di belakang Pancapana.

Akan tetapi Pangeran itu adalah seorang pemuda yang cukup gagah. Di terkam sedemikian rupa oleh serigala yang menggerikan itu, ia berlaku tenang, miringkan tubuh ke kiri dan kepalan tangan kanannya menyambar lambung serigala itu.

“blek!“ tubuh serigala itu bagaikan dilemparkan oleh tenaga yang dahsyat dan kuat sekali sehingga terbanting ke dinding batu. Akan tetapi, alagkah herannya hati Pancapanaketika melihat bahwa tubuh binatang itu tidak remuk sebagai mana yang ia kira, bahkan batu-batu dinding itu yang berhamburan karena benturan itu, sedangkan serigala itu sendiri hanya menguik keras satu kali, kemudian bangun kembali dan menyeranglah lebih hebat lagi. Bukan main kagetnya hati Pancapana. Pukulannya tadi amat keras, jangankan baru lambung anjing serigala, biarpun lambung seekor banteng akan terluka hebat di bagian dalam apabila terkena pukulan tadi.

Ia tak sempat memikirkan hal itu karena kini serigala itu telah menyerang lagi dengan mulut terbuka lebar-lebar, menerkam dan hendak menggigit lehernya. Pancapana berlaku gesit sekali. Ia mengulur tangan kiri menangkap kaki depan serigala itu, menyentakkan ke bawah sehingga kepala serigala itu menunduk sambil mengerahkan tenaga dan kesaktiannya, ia mengirim pukulan tangan kanan ke arah kepala binatang itu dengan ajinya Hasta Dibya (Tangan Sakti).

“Dak!!“ terdengar suara keras ketika tangannya itu beradu dengan kepala serigala, akan tetapi kembali pancapana di bikin benggong ketika melihat betapa serigala itu hanya terguling-guling tiga kali saja, akan tetapi sama sekali tidak menderita luka ! dengan pukulan Hasta Dibya ini, Pancapana pernah memukul pecah kepala seekor babi hutan yang mengamuk, akan tetapi kali ini, dipukul kepalanya dengan demikian tepat dan jitu oleh ajinya Hasta dibya, serigala hitam itu seakan-akan hanya menertawakan
Belaka.

“Serigala siluman!“ serunya marah dan cepat mencabut pedangnya dan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, pangeran ini mendahului serigala itu menusuk perutnya.

Akan tetapi, kali ini ia sampai menjadi pucat ketika merasa betapa ujung pedangnya mental kembali setelah beradu dengan kulit perut serigala itu.

“Ah, dia kebal!!“ serunya dengan heran.

Sementara itu, Indrayana yang juga merasa penasaran sekali, mencabut kerisnya. Ketika serigala hitam itu menubruk lagi ka arah Pancapana, Indrayana menyambar ekornya dan dibantingnya dengan kuat tubuh serigala itu sehingga kepala serigala menghantam lantai batu. Seperti juga tadi, kepala serigala yang amat kebal dan keras itu malah menghancurkan batu yang bertumbuk dengan kepalanya. Indrayana menambahkan beberapa kali tikaman keris pusakanya, akan tetapi, benar saja seperti dugaan Pancapana, serigala itu memang kebal dan sakti. Kalau seorang manusia, biarpun ia sakti dan kebal, tak mungkin kuat menerima pusaka di tangan Indrayana. Akan tetapi oleh karena yang dihadapinya adalah seekor binatang yang telah mendapat “isi“ oleh ilmu hitam Bagawan Siddha Kalagana, maka kerisnya ini tidak berdaya.

“Ada jalan untuk membuatnya tak berdaya!“ tiba-tiba Pangeran Pancapana berseru keras dan ia menubruk maju, merangkul leher serigala hitam itu dari punggung dan memitingnya.

Serigala itu meronta-ronta hendak melepaskan diri, akan tetapi pitingan Pancapana ini luar biasa sekali. Lengan kanan pemuda ini memiting leher sehingga leher serigala itu terpuntir ke atas, sedangkan tangan kiri pemuda itu memegang ekornya dengan erat sekali. Maka tak berdayalah serigala itu, hanya matanya saja yang makin liar dan mulutnya berbuih, akan tetapi sama sekali tak dapat bergerak lagi. Mengeluarkan suarapun ia tak mampu.

“Biarpun aku yang menolong kangmas!“ kata Indrayana setelah melihat serigala hitam itu tak dapat dibikin tak berdaya oleh kawannya. Ia lalu menolak daun pintu dan melompat ke dalam kamar, ia menjadi marah sekali ketika melihat betapa Candra Dewi berada di dalam kamar itu, berdiri menyandar sebuah tiang naga dan diikatkan di situ ! Dara ini menangis terisak-isak dan menggeleng-gelengkan kepala ketika seorang di antara tiga penari itu hendak memberinya minum madu merah dari sebuah cawan, sedangkan dua orang penari lain hendak melucuti pakaiannya.

“Keparat!“ seru Indrayana dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah emndorong tiga orang penari itu sehingga jauh tunggang langgang dan saling tindih, saking gemasnya. Indrayana hendak menendang tubuh mereka. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lemah dan halus dari Candra dewi,

“jangan dibunuh mereka itu …… “

Ucapan ini seakan-akan mempunyai tenaga raksasa yang menahan kaki Indrayana dan pemuda itu dengan hati penuh perasaan kasihan dan terharu, lalu merenggut putus tali-tali yang mengikat kaki dan tangan Candra Dewi.

Gadis ini menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya terasa sakit sambil menerkam matanya. Ketika ia membuka kembali matanya, maka kedua mata itu menjadi basah dan air mata mengalir turun kembali dengan derasnya. Ia memandang kepada Indrayana bagaikan ke dalam mimpi, tidak merasa betapa pakaiannya telah hampir membuat ia telanjang sama sekali. Tiba-tiba ia berlari dan menjatuhkan diri berlutut di depan Indrayana.

“Kau …… kau telah menyelamatkan diriku dari bahaya yang lebih hebat dari maut …… Terima kasih, Raden, terima kasih …… semoga Dewata memberi berkah kepadamu …… !“

No comments:

Post a Comment