Pangeran Pancana tersenyum.
“Memang sudah menjadi cita-cita setiap orang gagah untuk mendapatkan haknya, terutama sekali kalau kulihat betapa Kerajaan Mataram makin lama
makin lemah dan mengecil, menjadi kerajaan
boneka yang mudah dipermainkan oleh
kerajaan-kerajaan lain. Aku maklum
bahwa Kerajaan Mataram yang dulu menjadi sebuah kerajaan yang
terbesar, terpandang tinggi, kaya raya dan mempunyai rakyat yang hidup makmur, setelah
Rama Prabu meninggal, sekarang menjadi
sebuah kerajaan yang amat
lemah, dipandang rendah, miskin dan rakyatnya pada sengsara. Hatiku perih kalau melihat keadaan ini dan di dalam lubuk hatiku, aku tentu akan bertindak untuk memulihkan kembali kejayaan Mataram. Namun, menurut petunjuk
dari Paman Panembahan Bayumurti, aku harus bersabar dan sekarang belum
tiba waktunya. Aku amat patuh atas
nasihat ini, karena Paman
Panembahan, selain menjadi guruku
yang amat mulia, juga kuanggap sebagai pengganti orang tuaku yang harus kutaati.“
Indrayana makin kagum mendengar ucapan
pangeran itu. Baginya seperti
juga watak ayahnya, agama
adalah soal kedua, yang penting adalah
sikap dan watak orangnya. Maka
melihat kegagahan dan kebaikan serta kesetiaan yang
sedemikian besarnya, ia merasa terharu sekali. Ia memegang lengan Pangeran Pancapana dan
berkata dengan suara menggetar,
“Kakangmas Pancapana, aku merasa
berbahagia sekali dapat menjadi saudara
angkatmu. Kau adalah seorang ksatria
utama yang patut dijadikan kawan
dan saudara. Kau adalah seorang
Pangeran Pati calon raja yang
berjiwa besar, terutama sekali mendengar bahwa keinginanmu menduduki tahta Kerajaan Mataram adalah
dorongan oleh keharuanmu melihat keadaan rakyat jelata yang miskin dan papa. Engkau patut sekali dibela
dan dihormati. Maka kakangmas Pancapana, aku akan selalu berada di sampingmu, dan akulah yang akan membuatmu dalam usahamu menduduki kembali singgasana Kerajaan Mataram!“
Pangeran Pancapana tidak
menjawab dan tidak dapat
berkata-kata, hanya memeluk Indrayana dengan kedua mata basah. Ketika
Indrayana menengok ke arah Candra Dewi, ia heran melihat gadis itu memandangnya dengan mata basah pula, dan betapa mesra
pandang mata itu kepadanya.
Setengah dikatupkan, dengan
bulu mata gemetar, manik mata
berkaca-kaca dan menatapnya dari
balik bulu mata itu, ujung hidungnya yang
bangir itu mengembang dan bibirnya
terbuka sedikit hingga terdengar perlahan napasnya yang memburu. Akan tetapi hanya sebentar saja,
karena dara jelita itu segera membuang pandang matanya
ke bawah ke atas tanah dan sambil menundukkan muka, kini kedua ibu jari kakinya bergerak-gerak menggores-gores
tanah. Indrayana berdiri terkesima, kagum dan takjub menyaksikan saat
yang luar biasa sekali ketika gadis itu memandang dadanya berdebar tak menentu, dan matanya terbelalak bagaikan terkena
pesona.
Tiba-tiba suara ketawa Pangeran Pancapana memecahkan suasana hikmat itu,
“Eh, dimas Indrayana Engkau tadi bicara tentang perut lapar, bukan? Baru sekarang akupun merasa betapa laparnya perutku!“
“O ya! Sejak tadi akupun telah
mendengar bunyi cacing
menggeliat-geliat, di perut siapakah gerangan
?“ katanya sambil tersenyum girang.
“Cacing
di perutku adalah cacing sopan,“
kata Pancapana sambil tertawa dan mengerling ke arah Candra Dewi,
“tadi
kudengar berkeruyuknya datang dari jurusan diajeng Candra!“
Candra Dewi yang tadinya duduk sambil menundukkan mukanya,
kini tiba-tiba mengangkat
muka dan memandang kepada Pancapana dengan mata melerok dan cemberut.
“Sesopan-sopannya cacing,
kalau tak diberi makan tentu akan mengeliat-geliat juga ! Di dalam perutku sih tidak ada cacingnya! Perutku bersih
dan sehat, mana cacing dapat menjadi penghuninya ?“
Indrayana tertawa terbahak-bahak. Ia merasa gembira sekali karena sekarang ternyata
olehnya bahwa Pancapana dan Candra Dewi keduanya adalah orang-orang muda yang gembira dan suka pula berkelakar.
“Ha, kalau begitu, tentu cacingkulah tadi yang berkeruyuk!” katanya.
“Akan tetapi, jeng Dewi, tak mungkin kalau perutmu tidak bercacing!
Menurut pendapat ayahku, di dalam tubuh tiap manusia terdapat
mahluk hidup yang lain, seperti cacing
dan lain-lain. Tanpa ada mahluk hidup
yang lain, manusia tak dapat hidup!“
“Akupun pernah mendengar tentang
hal itu,“ kata Pancapana,
“bahkan Candra sendiri juga sudah
mengetahuinya, bukan?“
“Tidak. Tidak ! Di dalam perutku tidak ada cacingnya!“ Candra Dewi berseru dan berkeras.
“Mungkin ada mahluk hidup lain, akan tetapi bukan cacing ! Aku tidak
sudi dijadikan tempat tinggal binatang
menjijikan itu!“
Kembali Indrayana tertawa gembira.
Melihat dara itu mau bicara
dan berkelakar, bahkan keliatan seperti
marah-marah, baru ia mendapat kenyataan betapa manis dan cantiknya Candra Dewi. Betapa sehat kulitnya yang halus dan masak oleh sunar matahari itu. Pipinya yang segar kemerah-merahan mengingatkan ia akan kulit mangga golek yang telah
masak.
Kerling matanya tajam
menyambar hati, senyumnya manis menyinggung jantung. Madu akan
terasa pahit bila dibandingkan dengan
kemanisan bibir dara ini. Ia tahu
bahwa Candra Dewi masih malu-malu dan
jarang sekali mau bertemu pandang dengan dia. Semua kata-kata yang
diucapkan oleh gadis itu ditunjukkan kepada Pancapana, yang telah bertahun-tahun semenjak mereka masih kecil, telah menjadi kawan bermain dan
telah dianggap sebagai kakak kandung sendiri.
Akan tetapi, justruh kerling
yang hanya sekali-sekali menyambar
ke arahnya secara “sambil lalu“
itulah yang membuat Indrayana merasa dadanya berdebar-debar. Ia sama sekali tidak ingat bahwa bayangan wajah Puteri Mahkota Pramodawardani yang tadinya tak pernah meninggalkan pelupuk matanya,
kini tidak kelihatan lagi
bahkan ia telah lupa sama sekali akan puteri Syailendra itu.
Dan ketika Indrayana mencari
buah-buah ia memilih yang paling masak dan paling baik untuk
Candra Dewi. Melihat hal ini, Candra
Dewi yang masih hijau dan bodoh serta belum dapat menyelami hati pria, bertanya dengan sungguh-sungguh,
“Raden Indrayana, mengapa
buah yang terbesar dan
terbaik diberikan kepadaku
seorang? Marilah kita bagi
rata, untuk engkau dan jaga untuk Raden dan Pancapana…… “ Dara itu menghentikan ucapannya ketia ia melihat betapa wajah Indrayana menjadi merah dan pemuda ini menundukkan mukanya
ia mendengar suara tawa
tertahan, ia segera menengok dan melihat betapa Pancapana menahan-nahan ketawanya
sambil memandang kepada
Indrayana dengan mata menggoda.
“Makanlah, jeng Dewi. Indrayana sengaja memetik
yang terbaik untukmu, mengapa
engkau tidak dapat menghargai kasih
sayang orang?“ berkata Pancapana dengan suara menggoda.
Kini perasaan wanita di dalam hati Candra Dewi
membisikkan susuatu kepadanya yang membuat pipinya yang sudah merah makin menjadi merah lagi.
“Sudahlah, jeng Dewi, jangan hiraukan orang
yang suka menggoda, anggaplah saja ucapannya seperti suara…… “ Indrayana tidak melanjutkannya.
“ ……. Seperti suara cacing perut tidak berteriak-teriak lagi”
Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Muria. Akan tetapi baru saja
mereka keluar daru hutan itu, tiba- tiba dari sebelah kanan nampak debu mengebul tinggi
dan terdengarlah derap kaku kuda yang
menuju ke arah mereka. Pancapana dan
Indrayana bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka berdiri berjejer di tepi
jalan, sedangkan Candra Dewi berdiri di belakang mereka. Tak lama kemudian, nampaklah tiga belas
ekor kuda yang ditunggangi oleh
orang- orang tinggi besar dan buas pandang matanya.
Melihat orang-orang yang berpakaian serba hitam itu, Pancapana merasa
heran dan tidak mengenal mereka, akan tetapi ketika melihat seorang
di antara dua orang pemimpin pasukan
berkuda itu, terkejutlah Indrayana.
Orang itu adalah Reksasura, kepala pasukan Srigala Hitam yang
dulu pernah mencoba hendak merampas patungnya.
“Kakangmas Pancapana,“ bisiknya perlahan,
“awas, mereka itu adalah pasukan Serigala Hitam, penyembah Batari Durga yang terkenal buas !“
Pancapana juga terkejut. Ia
pernah mendengar nama pasukan ini, maka ia merasa khawatir karena ia
maklum bahwa pasukan ini terkenal amat buas dan cabul, terkenal akan perbuatan mereka yang suka merampas dan
mencuri wanita-wanita cantik.
“Ha-ha-ha! Dicari di seluruh lorong langit tidak bertemu, tidak tahunya sekarang berjumpa di
sini bersama seorang perawan
denok! Ha-ha, Indrayana. Bagus
sekali, dengan tebusan perawan
itu kuserahkan kepada kami,
barulah kami dapat mengampuni dosa-dosamu!“
Indrayana adalah seorang pemuda
yang cerdik. Melihat sikap Reksasura yang pernah dipukulnya kocar
kacir itu kini nampak garang dan tabah, tentu orang kasar ini mempunyai andalan
yang kuat. Ia lalu melirik dan
memperhatikan orang yang berkuda di sebelah kanan Reksasura. Orang
ini terang sekali bukan seorang Jawa,
karena kulit mukanya berwarna hitam gelap. Keningnya tinggi, membuat sepasang matanya yang sudah dalam itu makin mendelong ke dalam kepalanya, dipayungi oleh sepasang alis yang panjang dan
tebal. Hidungnya seperti hidung burung betet, melengkung dan melingkar ke bawah, agaknya amat
berat sehingga kulit di bawah
sedikit. Misalnya kecil panjang, berjuntai ke bawah di kanan kiri mulutnya yang tipis merupakan garis melintang panjang. Karena
bentuk mulut inilah maka ia nampak selalu seperti orang bersedihan seperti orang mau mewek.
Telinganya yang panjang dan
lebar itu masih nampak bagian bawahnya, karena
bagian atasnya tertutup oleh kain pengikat kepala berwarna putih
yang menutupi seluruh kepalanya sampai beberapa kali libatan. Jenggotnya pendek dan kasar.
Biarpun wajah orang Hindu ini tidak aneh akan tetapi dari sinar matanya yang amat berpengaruh dan tajam, dapatlah Indrayana menduga bahwa orang ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, dan
orang inipulalah agaknya yang diandalkan oleh Reksasura sehingga si
kasar itu berani berlaku garang dan
berlagak di hadapannya.
“Reksasura,“ kata Indrayana sambil tersenyum,
“dulu ketika engkau berlaku lancang dan mengganggu perjalananku, aku masih berlaku murah
dan tidak mencabut nyawamu yang kotor karena perbuatanmu yang penuh dosa. Sekarang kembali
kau mengulangi perbuatanmu,
apakah benar-benar kau sudah rindu
akan panasnya api neraka? Apakah kau
sudah membuat kelewang baru ? Nah,
cabutlah, akan tetapi kali ini jangan
kau berkata bahwa aku Indrayana berlaku
keterlaluan kalau aku
bukanhanya akan mematahkan kelewangmu, akan tetapi juga mematahkan lehermu!“
“Indrayana, kau selalu berwatak sombong dan kau
terlalu mengandalkan kepandaianmu sendiri ! Sekarang kau berhadapan dengan
guruku, Bagawan Siddha Kalagana, pemimpin kami yang
sakti mandraguna! Kau tidak lekas berlutut minta
ampun?“
Diam-diam Indrayana terkejut dan ia memandang dengan penuh perhatian kepada
Pendeta Hindu yang tinggi kurus itu. Juga Pangeran Pancapana terkejut sekali ketika mendengar bahwa orang Hindu
itu adalah Begawan Siddha Kalagana yang telah didengar namanya sebagai seorang pertapa dan pendeta yang benar-benar sakti
sekali.
Indrayana adalah sorang putera pendeta,
dan telah menjadi wataknya tidak mau menghina kepercayaan dan agama lain orang. Maka mendengar bahwa ia berhadapan dengan Begawan Siddha Kalagana, ia lalu merangkapkan telapak
tangannya menyembah memberi
hormat, lalu berkata.
“Ah, tidak tahunya kami berhadapan dengan Sang Begawan Siddha
Kalagana yang terkenal. Harap suka
menerima pemberian hotmat kami orang-orang muda. Aku, Indrayana dari Syailendra, selalu menghormat para
ahli tapa yang suci dan yang bijaksana, tahu
akan rahasia hidup, maka aku tidak
merasa takut berhadapan dengan Sang Begawan. Seperti biasa, kedatangan seorang
ahli tapa tentu akan membawa bahagia dan penambahan pengetahuan. Sesungguhnya, ada keperluan apakah
Sang Begawan datang menghadang
perjalanan kami orang-orang muda?“
Diam-diam Pangeran Pancapana tertegun
dan kagum melihat sikap
Indrayana yang amat tabah dan tenang
itu. Juga Begawan Siddha Kalagana sendiri
merasa tertarik dan kagum
melihat Indrayana. Begawan ini sesungguhnya adalah seorang Hindu
yang sudah amat tinggi usianya, akan
tetapi, berkat ilmu kepandaiannya yang tinggi, ia masih nampak muda dan rambutnya masih hitam. Pendeta ini
datang dari Hindu, membawa agamanya sendiri,
yaitu pemuja Batari Durga. Ia telah merasa tidak aman di negerinya sendiri,
oleh karena di dalam kepercayaannya, pertapa ini menjalankan perbuatan-perbuatan yanga
amat terkutuk dan keji.
Pertapa ini memiliki ilmu-ilmu hitam atau ilmu sihir yang hibat dan
aneh,
juga memiliki kebiasaan yang amat menyeramkan. Untuk
mencapai hasil dalam ilmu-ilmu
hitamnya yang dikuasai setan dan iblis, ia tidak segan-segan untuk menculik perawan dan
anak-anak kecil untuk dijadikan kurban.
Sesungguhnya, di lubuk hatinya terdapat nafsu cabul
yang hanya dikemudikan oleh iblis
jahat, akan tetapi berkat ilmunya yang
tinggi, ia dapat menipu para
pengikutnya yang sebaliknya menggangapnya sebagai seorang pertapa
yang sakti, suci dan mempunyai ilmu
kepandaian tinggi.
Kini, melihat Indrayana dan Pancapana yang
elok dan cakap bagaikan Sang Palguna da Sang Palgunadi, dua tokoh pewayangan yang
terkenal tampan, juga melihat Candra Dewi yang cantik jelita bagaikan Dewi Shinta, bukan
main senang hatinya. Ia telah merasa
bosan dan muak melihat para murid
dan anak buah serta pengikut-pengikutnya yang
kesemuanya merupakan orang-orang lelaki kasar dan buruk rupa, sehingga timbul keinginannya untuk mengambil dua orang pemuda ini menjadi
murid dan pengikutnya.
Sedangkan kemolekan wajah dan
bentuk tubuh Candra dewi semenjak tadi
telah membangkitkan nafsunya yang kotor.
“Anak muda yang elok!“ katanya kepada Indrayana dengan suaranya yang
mengandung kejanggalan suara orang
asing.
“Sungguh jarang terdapat orang-orang muda seperti engkau dan kawan-kawanmu ini! Alangkah akan senang hatiku apabila kalian
bertiga mau ikut aku ke tempat
tinggalku untuk menjadi murid-muridku!“
“Terima kasih banyak atas
kemurahan hati dan penawaran Sang Begawan,“ jawab Indrayana
“Akan tetapi ketahuilah, kami bertiga adalah murid-murid dari
Eyang
Begawan Ekalaya di Muria!“
Kalau orang-orang lain tidak dapat melihat perobahan pada air muka pertapa Hindu
itu, adalah Indrayana dan Pancapana dapat melihat getaran pada manik
mata yang tajam dan berpengaruh itu,
Begawan Siddha Kalagana mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Pantas, pantas! Pantas saja
kalian begini elok, gagah perkasa, dan
menarik. Diseluruh tanah Jawa ini hanya Begawan Ekalaya
saja satu-satunya petapa yang
kedudukannya setingkat dengan kedudukanku! “
“Alangkah sombongnya! “ tiba-tiba terdengar suara halus dan dengan heran dan terkejut
Indrayana dan Pancapana melihat
bahwa yang mencela ini bukan
lain adalah Candra Dewi, dara ini adalah puteri Panembahan Bayumurti
yang amat bangga akan kesaktian ayahnya,
maka kini mendengar kesombongan pendeta
asing ini, ia diam-diam merasa
mendongkol sekali dan tak terasa pula mengeluarkan perasaan mendongkolnya itu dengan ucapan tadi.
Kini sepasang mata Begawan Siddha Kalagana tertuju kepada dara itu dan mulutnya makin menipis,
“Ah, engkau patut sekali menjadi pengiring utama dari Sang Batari Mulia!“ katanya dan sambil memandang Indrayana, ia berkata,
“Anak muda, sebagai murid-murid Ekalaya, kalian boleh dibilang masih menjadi murid-murid keponakanku sendiri! Dan sebagai murid-murid keponakan, sudah
sepatutnya kalau kalian berbuat sesuatu
yang sifatnya berbakti kepadaku! Aku melihat dara jelita ini berjodoh untuk menjadi muridku dan untuk menjadi pengiring Sang Batari Yang Maha Mulia, maka
relakanlah puteri ini kubawa serta.
Jangan khawatir, kalau gurumu
bertanya, katakan saja bahwa akulah yang membawanya, tentu ia tak akan marah!“
Sebelum Indrayana dan
Pancapana dapat melampiaskan amarah mereka ketika mendengar ucapan ini,
tiba-tiba pertapa Hindu itu mengulurkan tangannya
dan entah bagaimana, tubuh Candra Dewi seakan-akan terpegang
oleh tangan yang kuat dan dilontarkan
ke atas ke arah pendeta itu !
Candra Dewi bagaikan seorang yang sedang tidur, matanya meram dan tubuhnya lemas ketika tahu-tahu ia
telah berada di dalam pelukan tangan
Begawan Siddha Kalagana di atas kuda.
“Pendeta keparat! Lepaskan adikku!“
Pancapana berseru dan menubruk maju dengan tangan kanan diulur. Akan tetapi, terdengar seruan keras dan ketika pendeta Hindu itu mengebutkan ujung lengan jubahnya yang panjang, maka ujung lengan baju itu memukul ke arah dada Pancapana yang
tiba-tiba terlempar ke belakang dan jatuh di atas tanah. Ia merasa kepalanya pening,
akan tetapi pemuda ini telah mendapat gemblengan yang hebat dari penambahan Bayumurti, sehingga
kebutan yang mengandung tenaga
mujijat itu hanya membuatnya pening sesaat saja. Ia telah berdiri lagi, akan tetapi ia telah di dahului oleh Indrayana yang tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia mencabut keris pusakanya yang
dibuat sendiri oleh ayahnya, yaitu keris baja putih yang bernama Brajadenta (Kilat Putih).
Dengan gerakan bagaikan
seekor burung elang menyambar, tubuhnya berkelebat ke depan menyerang begawan
Siddha Kalagana sambil
berseru,
“Pertapa iblis! Kau lepaskan jeng
Dewi!“
Serangan yang dilakukan Indrayana ini hebat sekali dan kalau saja yang
diserangnya bukan seorang pendeta yang amat sakti tentu serangannya ini takkan meleset dan takkan dapat dielakkan pula.
Akan tetapi, pendeta Hindu itu benar-benar sakti dan hebat kepandaiannya. Begitu melihat sinar senjata itu
dan melihat gerakan yang sedemikian cepatnya, ia maklum bahwa pemuda ini memiliki pula ilmu kepandaian dan kedigdayaan yang tak boleh dipandang ringan, maka cepat sekali tubuhnya bergerak
dan tahu-tahu ia telah
melompat turun dari atas kudanya !
“Keparat, jangan lari!“ teriak Indrayana
yang menyerang lagi dengan
nekad dan marah.
“Eh, eh, anak muda, engkau
benar-benar berani melawan aku?“ kata pendeta itu yang memeluk tubuh
Candra Dewi dengan tangan kiri, dan sekali tangan kanannya bergerak, maka ia telah mencabut keluar
sebatang tongkat yang ternyata adalah seekor ular Cobra yang telah kering. Ular itu besar sekali, lebih besar dari lengan tangannya dan panjangnya kurang lebih sedepa. Tubuh ular yang telah kering itu
bengkak-bengkok dan kepalanya amat mengerikan, karena mulutnya terbuka lebar. Pendeta Siddha Kalagana memegang senjata aneh akan tetapi cepat sekali ia
memutar-mutar senjata itu yang menyambar-nyambar ke arah Indrayana.
Pemuda yang gagah perkasa ini sama sekali tidak merasa gentar atau
jerih menghadapi senjata lawannya ini, akan tetapi ketika dari senjata aneh itu keluar bau yang amat amis
menimbulkan muak, ia terkejut sekali.
Ia maklum bahwa ular kering di tangan Bagaman Siddha Kalagana itu
mengandung racun yang amat hebat dan
berbahaya. Tak perlu terluka parah oleh senjata itu, baru kena digores sedikit saja oleh senjata itu, Indrayana lalu
mengerahkan kepandaian dan kegesitannya, menggerakkan keris
pusakanya untuk menjaga diri dan
membalas dengan serangan-serangan hebat
“Dimas Indrayana, jangan takut, aku membantu!“ tiba-tiba Pangeran
Pancapana berseru dan
pedangnya di putar cepat menyarbu Bagawan
Siddha Kalagana.
Tadi, dalam keadaan marah,
Pancapana telah berlaku kurang hati-hati sehingga ia terkena kebutan
ujung lengan jubah pendeta itu.
Untung pemuda ini memiliki kesaktian tinggi,
kalau tidak, tentu kepalanya akan
pecah terkena pukulan yang ampuh itu. Setelah kepalanya tidak pening lagi. Pancapana
melompat berdiri. Melihat
betapa Indrayana didesak oleh senjata ular yang hebat itu, ia
cepat mencabut sebatang pedangnya lalu menyerbu.
Serangan pedang di tangan kanan Pancapana ini kembali mengejutkan Begawan
Siddha Kalagana. Ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian Pancapana tidak lebih rendah daripada kepandaian Indrayana
! gerakan kedua orang muda
itu gesit, cepat dan kuat sekali. Permainan
mereka dalam gerakan senjata amat sempurna sehingga mereka
merupakan lawan yang tangguh dan sukar dilawan. Diam-diam Bagawan Siddha Kalagana mengeluh di dalam
hatinya. Kalau dia tidak sedang
memondong tubuh Candra Dewi, belum
tentu ia akan kalah menghadapi dua
orang ksatria ini, akan tetapi kini
gerakannya amat terbatas dan terhalang oleh tubuh dara itu. Ia tidak dapat mempergunakan ilmu sihir atau kesaktian yang timbul dari
pada ilmu hitam, karena segala ilmu ini hanya bisa dilakukan apabaila telah dipersiapkan semula.
Ilmu hitam hanya hanya memiliki daya
sementara saja, dan untuk ini ia
belum mangadakan persiapan sebelumnya.
Ia maklum bahwa untuk menjatuhkan kedua orang muda ini, tak mungkin dipergunakan ilmu-ilmu sihir yang rendah saja, karena dari cahaya muka dan
sinar mata keduanya, ia maklum bahwa
mereka memiliki tenaga yang cukup kuat.
Akan tetapi, Begawan
Siddha Kalagana adalah
seorang yang amat cerdik dan
memiliki banyak sekali akal-akal dan
tipu muslihat yang curang. Melihat
desakan kedua orang ia
berseru,
“Tahan senjata!“
Suara ini berpengaruh dan mengandung ancaman hebat, maka
Indrayana dan Pancapana cepat melompat mundur dan memandang tajam.
“Mundur kalian!“ Bagawan Siddha Kalagana berseru.
“Kalau kalian masih berlaku
nekad, terpaksa aku harus membunuh gadis ini lebih dulu, baru akan
kutewaskan kalian!“ Sambil berkata demikian, pendeta itu
menggangkat senjata ularnya
dan mendekatkan kepala ular itu ke dekat leher Candra dewi yang masih
pingsan.
“Jangan……. !“ Tiba-tiba Indrayana berseru
dengan suara gemetar.
“Jangan bunuh dia!“
Bagawan Siddha Kalagana tertawa terbahak-bahak.
“Ha-ha-ha! Siapa mau membunuh dara jelita ini? Sayang kalau dibunuh!
Tidak, aku akan membawanya ke Candi
Sang Batari Yang Maha Mulia dan ia akan dipuja-puja di tempat itu!“ Bagawan Siddha
Kalagana lalu memberi tanda kepada anak buahnya yang tadi pada turun dari kuda akan
tetapi tak berani membantu pemimpin mereka karena mereka maklum bahwa
kepandaian mereka masih jauh untuk
dapat melawan kedua orang muda yang
gagah itu.
Kini semua pasukan Serigala
hitam melompat ke atas kuda,
juga Bagawan Siddha Kalagana melompat
sengan sigapnya ke atas kuda
putih yang telah disediakan oleh anak
buahnya, kemudian ia berpaling kepada Indrayana dan
Pancapana.
“Sekali lagi, jangan kau halangi aku pergi membawa si denok ini, karena
sekali saja engkau bergerak, si denok ini akan kulemparkan kepada kalian sebagai mayat!“ Ia tersenyum dan sepasang matanya bergerak liar.
“Akan tetapi, aku tidak melarang kalau kalian memang memiliki
kepandaian dan kegagahan,
cobalah, kami siap menanti untuk menyambutmu!“
Setelah berkata demikian, Bagawan
Siddha Kalegana menendang perut kuda dengan tumit kakinya dan binatang itu meringkik keras
lalu melompat ke depan, terus
berlari cepat menyusul pasukan
Serigala Hitam yang telah
berangkat lebih dulu ! Pancapana
menggerakkan tangannya dan ia telah menurunkan gendewa
dan anak panahnya, akan
tetapi Indrayana cepat memegang lengannya.
“Jangan, kakangmas Pancapana!
Apakah engkau ingin melihat jeng
dewi dibunuh? Orang macam pendeta iti
berhati kejam dan keji, ia tak akan
ragu-ragu untuk membuktikan
ancamannya.“
“Habis bagaimana, dimas Indrayana?“ tanya Pancapana dengan cemas dan binggung.
“Apakah engkau akan membiarkan saja Candra Dewi diculik dan diganggu olehnya?“
Indrayana menggertakkan giginya dan mengepal tinjunya.
“Tidak! Aku tak akan membiarkan
dia diganggu oleh siapapun juga! Biar kupertaruhkan jiwaku untuk menolongnya! Akan tetapi, kita harus dapat melihat gelagat
dan berlaku hati-hati, kangmas.
Bukankah tadi pendeta jahanam
itu menantang kita untuk
datang ke tempat tinggalnya? Nah, mari kita mengejar mereka dan berusaha menolong jeng Dewi. Kalau pendeta durhaka
ini mengetahui bahwa kita mengejarnya,
tentu ia tak akan sempat mengganggu jeng
Dewi!“
Karena tidak berdaya dan dikalahkan oleh tipu daya licin dan curang dari Begawan Siddha Kalagana, maka Pancapana terpaksa membenarkan pendapat Indrayana. Tidak ada jalan untuk menolong Candra Dewi dari bahaya.
Kedua
pemuda yang gagah perkasa itu lalu
mengerahkan kesaktian mereka dan mempergunakan Ilmu Lari Cepat
Maruta marga (Jalan Angin). Tubuh mereka merupakan bayangan yang cepat
sekali bergerak maju, seakan-akan kedua kaki mereka tidak menginjak bumi.
Pedukuhan yang terjadi sarang
oleh gerombolan Srigala Hitam terletak di sebelah barat
pantai kali Serang. Serang itu
merupakan sebuah perkampungan yang cukup besar dan ramai. Seluruh penduduk
di situ telah menjadi pemeluk agama baru yang dibawa oleh Bagawan Siddha Kalagana, yaitu Agama Batari Durga. Kehidupan Bagawan itu beserta semua anak buahnya, yaitu yang merupakan pasukan
Srigala Hitam, semuanya dijamin
oleh para penduduk yang hidup
sebagai petani dan nelayan.
Penganut agama baru ini telah berkembang biak dan kini kampung itu
menjadi makin besar karena
orang-orang dari lain pedukuhan banyak pula yang datang menjadi pengikut
Bagawan Siddha Kalagana. Karena
pengaruh sihir dan tenung yang
disebarkan oleh pendeta itu kepada penduduk yang bodoh dan tahyul, maka mereka itu tidak merasa betapa
miskin keadaan mereka. Hampir sebagian besar penghasilan mereka
diberikan kepada pendeta itu belaka. Mereka menganggap Bagawan Siddha Kalagana sebagai seorang Dewa Kalon yaitu seorang dewata yang menjelma menjadi
manusia.
Mereka percaya penuh ketika pendeta itu menyatakan bahwa Begawan Siddha
Kalagana sesungguhnya adalah Sang
Hyang Syiwa sendiri. Dan sebagaimana telah diketahui oleh umum pada waktu itu, batari Durga adalah syakti (isteri)
daripada Sag Hyang Syiwa.
Di tengah-tengah perkampungan itu, dekat sekali dengan pantai Kali Serang di bagian menikung, oleh Begawan Siddha Kalagana dibangun sebuah candi yang amat luas. Sebetulnya
bukan merupakan bangunan candi yang utuh, akan tetapi tepat
disebut kelompok tempat pemujaan yang dijadikan pula
tempat tinggalnya. Tempat ini
dikelilingi oleh pagar bata yang
tinggi, merupakan tempat tertutup. Tidak saja pagar batu itu tinggi, akan tetapi juga pada tiap sudut
dipasangi tempat penjagaan, sehingga
hampir merupakan sebuah
benteng.
Hanya ada dua buah pintu pada
pagar batu itu, yaitu pintu gerbang besar
yang berada di depan, dan sebuah pintu kecil di bagian belakang, yaitu yang menghaapi sungai.
Tidak sembarang orang dapat
memasuki pintu gerbang itu, kecuali pada waktu-waktu tertentu,
yaitu pada waktu diadakan pemujaan di dalam candi yang terletak di tengah-tengah kelompok bangunan
yang dikurung pagar bata itu.
Pada waktu diumumkan saat pemujaan,
maka pintu gerbang itu dibuka, dan orang-orang kampung diperkenankan masuk ke dalam untuk melakukan pemujaan
secara berbareng di tempat
yang telah disediakan.
Keadaan di dalam lingkungan pagar
bata sungguh amat luar biasa.
Pertama-tama di sebelah dalam pagar, terdapat rumah-rumah petak kecil yang berjajar, dan di sinilah para anak buah Serigala Hitam tinggal. Mereka ini tidak saja
bertugas sebagai pasukan
yang melindungi Agama Sang
Batari Yang Agung, akan tetapi juga sebagai
penjaga benteng dan sebagai murid-murid Bagawan Siddha Kalagana. Anak buah pasukan Serigala Hitam yang kesemuanya berjumlah
tiga puluh sembilan orang
ini, hidup membujang dan tidak
beristri, karena “beristri“
merupakan pantangan besar bagi
seorang murid Sang Begawan.
Ditengah-tengah lingkungan rumah-rumah para
muridnya itu, terdapatlah apa yang disebut candi yang sebenarnya merupakan
istana tempat tinggal Bagawan Siddha Kalagana itu. Sebuah bangaunan yang
amat besar dan megah, yang dihias dengan patung-patung wanita telanjang yang
amat indah buatannya. Bangunan ini mempunyai bagian-bagian terpisah. Ada bagian yang disebut ruang pemujaan, di mana terdapat sebuah
patung Sang Batari Durga yang disembah-sembah.
Ada pula bagian kesenian, di
mana seringkali diadakan tari-tarian yang katanya untuk menghibur hati Sang Batari dan suaminya
(yaitu Pendeta itu). Ada
ruangan tempat pembuatan patung-patung di mana bekerja ahli-ahli pahat yang amat pandai. Ahli-ahli sebagian besar
adalah hasil penculikan dari daerah
Mataram dan Syailendra. Yang paling hebat adalah kamar tempat Sang
Bagawan Siddha Kalagana, sebuah kamar besar dan penuh dengan
patung-patung indah sekali. Kecuali
pada waktu-waktu tertentu, semua bagian di dalam bangunan besar ini, terutama sekali kamar dari sang Batari dan
Suaminya, amat dirahasiakan dan tak seorangpun, termasuk para anggota Srigala
Hitam, diperbolehkan memasukinya.
Kalau ada orang luar masuk ke
dalam perkampungan di pinggir Kali Serang itu, ia akan merasa amat
terheran-heran karena tidak melihat adanya gadis-gadis muda yang cantik. Yang ada hanya beberapa orang gadis saja, akan tetapi mereka ini bermuka buruk atau bercacad ! Akan tetapi, kalau sudah diberi tahu, mengertilah dia bahwa semua perawan yang berwajah lumayan dan bersih, diharuskan menjadi pelayan dari Sang Maha Batari.
Akan terheranlah orang apabila ia masuk ke dalam bangunan besar
itu, karena di situlah semua perawan itu
berada. Tidak kurang dari empat
puluh orang gadis-gadis muda mendiami
bangunan itu, melakukan pekerjaan sebagai pelayan dan tempat itu merupakan sebuah penampungan anak-anak dara atau
semacam harem dari seorang Pangeran
atau Raja. Orang luar, termasuk juga
para anggota Serigala Hitam, tidak boleh mengadakan hubungan
dengan para “pelayan“ Sang Batari ini. Hanya pada saat sang Batari
mengadakan pesta, di mana diadakan tari-tarian diiringi oleh
gamelan, barulah orang luar dapat melihat dan berhubungan dengan mereka itu.
Dengan demikian, maka penghuni bangunan besar yang
penuh dengan patung-patung indah itu,
hanyalah Bagawan Siddha Kalagana sendiri bersama empat puluh orang dara jelita itu.
Ketika Bagawan Siddha Kalagana dan rombongannya memasuki kampung
halamannya, membawa Candra
dewi yang cantik jelita, mereka di
sambut dengan girang oleh penduduk. Tentu
saja mereka tidak mengira bahwa
Candra Dewi dibawa dengan paksa atau diculik,
dan mengira bahwa Sang Maha
Batari telah memilih seorang pelayan
baru, dan ini berarti bahwa malam nanti akan diadakan pesta keramaian. Pesta inilah yang merupakan daya
penarik bagi para pemeluk agama baru ini, karena di dalam pesta
ini, Begawan Siddha Kalagana sengaja membuka
kesempatan kepada semua orang
untuk mengumbar hawa napsu,
membiarkan iblis merajalela dan menguasai perasaan dan iman,
sehingga di dalam pesta pora ini
terjadilah hal-hal yang amat mengerikan. Hal-hal
yang amat cabul dan yang kesemuanya dilakukan oleh orang-orang itu tanpa disadarinya, karena
mereka berada dalam pengaruh mujizat, pengaruh
setan dan iblis yang di “dalangi“ oleh Begawan Siddha Kalagana.
Malam itu Sang Purnama menyinari permukaan bumi
sepenuhnya. Kalau di lain tempat
bulan mendatangkan cahaya indah dan
mengusir semua kengerian malam gelap, adalah di tepi Sungai Serang
itu bahkan mendatangkan hawa dingin
yang menyeramkan. Cahaya bulan yang
keemasan itu seakan-akan menambah
daya hidup dari para demit, setan, dan iblis di daerah itu, menimbulkan suara-suara yang aneh dan menyeramkan, dan
tiap bayangan disinari bulan
merupakan bentuk raksasa yang dahsyat.
Keadaan sunyi sepi, kecuali dari
arah benteng di pedusunan itu, di mana Sang Begawan Siddha Kalagana sedang mengadakan pesta dan dari sanalah datangnya bunyi-bunyian gamelan yang ganjil pula. Memang Bagawan Siddha Kalagana, selain membawa agamanya dan tari-tarian dan gamelan dari
negerinya, gamelan dan tari-tarian yang biasanya di
Tanah Hindu diadakan untuk memuja
dewa Ular. Gamelan itu terdiri daripada
bunyi-bunyian yang
melengking, ke luar dari tiga batang suling berbentuk ular, diiringi oleh suara gendang yang dari jauh terdengar seperti
suara air dipukul. Dusun itu
nampak sunyi, karena semua penghuninya tidak
melewatkan kesempatan itu untuk datang mengunjungi pesta Sang Batari Durga yang diadakan semeriah-meriahnya di ruang seni sebelah kiri
bangunan besar itu.
Air kali Serang mengalir perlahan, tidak memperdulikan semua
peristiwa itu, mengalir terus menuju
ke utara dengan tenangnya. Sebuah
getek, yakni perahu terbuat daripada
bambu yang diikat berjajar, bergerak perlahan
terbawa oleh aliran air
sungai, menuju ke dusun itu. Dua
orang muda berdiri di atas getek sambil
menggerakkan dayung dari bambu pula.
Mereka ini bukan lain adalah
Indrayana dan Pancapana yang mengikuti perjalanan rombongan Bagawan Siddha Kalagana yang membawa lari
Candra Dewi. Setelah dekat dengan
pedusunan itu mereka lalu
mempergunakan jalan air karena lebih
aman dan mudah memasuki dusun dari sungai daripada mengambil jalan
darat. Mereka bermaksud memasuki dusun itu secara diam-diam agar dapat menyergap dan menolong kawan mereka dengan tiba-tiba
dari dalam dusun.
Ketika mereka telah tiba di dekat
dusun, Indrayana melihat banda-benda terapung di atas air
yang amat menarik hatinya. Sinar bulan tidak begitu terang, akan tetapi cukup manyinari banda-banda itu nampak seperti bertangan dan berkaki.
“Kakangmas Pancapana, lihat!
Apakah yang terapung-apung itu?“
Pancapana memandang dengan penuh perhatian.
“Seperti tubuh manusia !“
serunya.
“Mari kita dayung getek ke sana!“
Kedua orang itu meluncur cepat ke tempat benda-benda terapung-apung. Setelah dekat mereka memandang penuh perhatian.
“Ya Jagad Dewa Batara!“ tiba-tiba Pancapana menyebut nama dewata
dan mukanya berubah pucat.
Juga Indrayana berdiri
kesima bagaikan berubah menjadi
patung. Ternyata bahwa benda-benda terapung itu
benar-benar adalah tubuh tiga orang
anak kecil yang telah menjadi mayat.
Indrayana dapat menguasai perasaannya lebih dulu dan ia lalu mengulur
tangan menjangkau sebuah daripada tiga
mayat itu dan mengangkatnya ke atas
getek. Meremang bulu tengkuk mereka ketika menyaksikan keadaan
mayat anak kecil itu. Ternyata bahwa
mayat itu terluka pada bagian
dadanya. Bulukan luka sembarangan, akan tetapi agaknya dada itu memang dibuka dengan sebuah
pisau tajam dan ternyata bahwa isi
dada anak itu telah dikosongkan orang.
Agaknya jantung anak itu telah dicabut dari dalam.
“Gusti Yang Maha Agung!“ seru
Indrayana.
“Iblis manakah yang sanggup melakukan kekejaman seperti ini!“
Pancapana dan Indrayana saling
pandang dan menduga-duga, akan tetapi tidak dapat menemukan jawabannya.
“Mari kita angkat dan mengubur ketiganya dengan baik-baik,“ kata Pancapana.
Indrayana setuju dan mereka lalu
berusaha mengambil dua mayat lain yang masih mengambang di atas air. Akan tetapi pada saat itu,
air kali tergoncang hebat dan busa
air memercik keras. Kepala seekor
buaya besar tersembul di permukaan air dan menyambar ke arah mayat kecil itu.
“Kurang ajar!“ seru Pancapana marah dan secepat kilat pemuda perkasa ini
telah mengambil gendewanya menjebret, dua batang anak panah meluncur
cepat dan dengan tepat sekali menancap
pada kedua mata buaya itu.
“Bagus sekali. Kakangmas Pancapana!“ Indrayana memuji
sambil tersenyum memandang binatang yang kini berenang dengan liar di dalam air, memukul-mukulkan ekornya
dan menggeliat-geliat.
Air sungai menjadi hitam di bawah sinar bulan, tanda bahwa
air itu telah bercampur dengan darah
yang keluar dari sepasang mata buaya
itu. Tak lama kemudian, tampaklah tubuh buaya yang besar itu mengambang dengan perutnya ke atas. Perut itu keputihputihan berbeda dengan
punggungnya yang hitam dan kasar.
Indrayana dan Pancapana lalu mengangkat dua mayat anak kecil tadi ke atas getek. Tiba-tiba air
bergelombang makin besar dan kini
tersembullah kepala belasan ekor buaya yang besar-besar. Bukan main
kagetnya Indrayana melihat
hal ini. Menghadapi seekor dua
ekor saja masih terkawan oleh mereka, akan tetapi belasan ekor binatang buas ini benar-benar merupakan
bahaya maut. Sekali saja ekor mereka yang kuat itu memukul getek, mereka akan terguling di dalam air dan akan tewas.
“Dimas Indrayana, cepat dayung getek ke tepi!“ deru
Pancapana.
Mereka lalu mengerahkan tenaga dan mendayung getek itu ke pinggir, dikejar
oleh barisan buaya itu.
Setelah berada dekat tepi, Indrayana dan Pancapana melompat ke darat
sambil memondong tiga mayat anak-anak itu.
Mereka berdiri memandang ke air sambil mengeleng-gelengkan kepala.
“Berbahaya sekali!“ kata Indrayana, melihat betapa dengan buasnya buaya-buaya itu menyambar getek.
Terjadi pergulatan sebentar ketika binatang-binatang itu memperebutkan getek yang sudah kosong
dan tak lama kemudian getek itu
menjadi hancur lebur.! Pecahan- pecahan bambu terapung dan
terbawa oleh air. Setelah melampiaskan amarah mereka kepada getek kosong itu, buaya-buaya itu lalu menyelam kembali dan lenyap
dari pandangan mata. Juga buaya yang
telah tewas karena dua batang anak panah Pancapana tadi tak nampak
lagi, agaknya diseret
ke dasar sungai oleh kawan-kawannya.
“Sungguh ajaib!“ kata Pancapana.
“Selama kita naik getek, tak
pernah kelihatan seekorpun buaya.
Akan tetapi, mengapa di tempat ini terdapat begitu banyak buaya?“
Indrayana menengok ke
belakang, ke arah suara gamelan terdengar.
“tidak aneh, kangmas, karena disini termasuk daerah yang dikuasai oleh pengaruh Bagawan Siddha Kalagana. Siapa
tahu kalau-kalau buaya-buaya tadi adalah anak buahnya pula?“
Mereka lalu menggali tanah di tepai sengai dan mengubur tiga mayat anak kecil tadi. Ternyata bahwa ketiganya telah lenyap isi dadanya dan
melihat betapa kulit dada yang
dibelek itu masih ada tanda-tanda darah, maka mereka dapat menduga bahwa peristiwa keji itu terjadi belum
lama.
Setelah mengubur ketiga
mayat anak kecil itu baik-baik, kedua
pemuda gagah perkasa itu lalu
berjalan mengendap-endap menuju ke dalam dusun itu. Ternyata semua rumah di dalam dusun telah kosong
dan tak seorangpun nampak berada di
situ. Indrayana mengeleng-geleng
kepala melihat keadaan rumah-rumah yang lebih patut disebut gubuk-gubuk miskin sekali itu, tak lebih baik dari
pada gubuk-gubuk yang berada di
tengah sawah dalam dusun-dusun di Kerajaan Syailendra.
Kemudian mereka menuju ke bangunan besar
di tengah kampung itu.
Begitu tiba di dekat pagar bata.
Indrayana dan Pancapana merasa heran, karena sesungguhnya bangunan
yang dikelilingi pagar kuat
ini merupakan sebuah keraton kerajaan kecil. Apapula ketika melihat adanya penjaga-penjaga di
sudut tembok.
“Mari kita serbu penjaga-penjaga itu!“ bisik Indrayana.
“Jangan,“ jawab Pancapana,
“sebelum mengetahui bagaimana keadaan
Candra Dewi, lebih baik kita menghindarkan setiap pertempuran. Mari
kita masuk dari lain bagian yang tak terjaga!“
Mereka lalu mengambil jalan memutar dan tiba di sebelah kanan
bangunan. Pancapana lalu mengunakan pedangnya
untuk memotong sebatang cabang pohon yang panjang yang ada
cawangnya, lalu mengaitkan cabang itu pada tembok di atas. Dengan
mudah saja lalu ia lalu naik melalui cabang
itu itu ke atas tembok dan memberi isyarat kepada Indrayana untuk naik pula.
Demikianlah, tanpa diketahui oleh penjaga yang
kurang memperhatikan karena mereka
mencurahkan perhatian mereka kepada pesta yang sedang
berlangsung di dalam dan menyesali nasib karena kebetulan sedang bertugas menjaga sehingga tidak dapat segera ikut menikmati pesta itu, kedua teruna itu dapat masuk
dengan mudah.
Sambil bersembunyi di bawah bayangan gedung itu, mereka mendekati
bangunan dan diam-diam mereka
amat kagum melihat ukiran-ukiran indah dan patung-patung yang dipasang di sekitar bangunan. Patung-patung itu kesemuanya telanjang dan amat indah buatannya. Terutama bentuk patung-patung itu, benar-benar dikerjakan oleh
seorang ahli yang pandai.
Akan tetapi perasaan kagum karena keindahan ukiran itu tercampur oleh perasaan segan, sungkan dan
mual karena jelas sekali tampak bahwa si pembuat patung ingin menonjolkan sifat ketelanjangan patung itu sehingga mengarah kepada
kecabulan. Agaknya pembuat patung itu sengaja mencurahkan keahliannya untuk
membuat bagian-bagian tubuh yang biasanya tertutup menjadi bagian yang paling menarik.
Tiba-tiba terdengar Pancapana mengutuk
perlahan. Indrayana menengok
dan melihat kawannya itu
sedang berdiri di depan sebuah
patung yang juga bertelanjang bulat.
Dan patung itu adalah patung Dewi Sri isteri daripada Sang Hyang Wisnu ! Setelah menyembah patung Dewi Sri itu, Pancapana lalu menarik tangan Indrayana untuk meninggalkan tempat itu dan ia menyumpah-nyumpah,
“Ini penghinaan besar kepada para dewata! Bagawan Siddha Kalagana itu agaknya gila!“
“Sssst…..“ kata Indrayana sambil mendekatkan telunjuk pada
bibirnya.
“Dengar, kangmas, ada suara…… “
Ketika mereka mendengarkan dengan teliti benar saja, di antara suara
gamelan yang dipukul di ruang sebelah kiri bangunan besar
itu, terdengar suara lain, suara
“tok, tok, tok, !“ seperti orang
memukul-mukulkan sesuatu di atas batu.
“Pemahat patung!“ bisik Pancapana.
Dia sendiri adalah seorang yang telah mempelajari ilmu kesenian ini, maka suara itu cukup jelas baginya.
“Semua orang berpesta pora, mengapa
pemahat patung itu bekerja seorang
diri? Mari kita lihat!“ ajak Pancapana.
“Akan tetapi, kita perlu mencari diajeng Dewi ……“
“Lebih baik mencari dari sebelah sini, kurasa Candra Dewi dikurung dalam bangunan ini.
Marilah!“
Mereka lalu memasuki pintu bangunan itu dari sebelah kanan
dan menuju ke arah suara orang memahat patung
tadi. Lorong-lorong di dalam bangunan itu semua diukir indah dan diterangi dengan lampu-lampu minyak yang cukup
terang. Pada dinding di kanan-kiri terdapat ukiran yang
menggambarkan pada Dewa di Khayangan, akan
tetapi semua dewata itu bersujud dan
menyembah seorang dewi yang cantik
jelita dan telanjang bulat yaitu
Dewi Durga ! Alangkah ganjilnya
gambar-gambar ini bagi Indrayana dan terutama bagi Pancapana yang
memuliakan Dewa-dewa itu. Suara orang
memahat batu itu makin keras dan
akhirnya kedua pemuda itu mengintai
ke dalam sebuah rungan yang terang-benderang
dan luas. Mereka menahan napas
ketika menyaksikan rungan yang luar
biasa itu. Di situ penuh dengan patung-patung
yang amat indah. Patung-patung wanita
telanjang dalam berbagai kedudukan, dan mereka tidak kenal siapakah
patung-patung itu, karena
nampaknya seperti muka orang biasa, seperti wajah perawan-perawan kampung
yang cukup manis.
Sebagian besar daripada patung-patung itu masih belum selesai dan dapat diduga bahwa di situ biasanya bekerja
banyak sekali ahli patung, karena
masih nampak bekas-bekas tempat
mereka bekerja. Akan tetapi, pada saat itu, yang bekerja di dalam ruangan besar itu hanya seorang saja,
seorang laki-laki tua yang kurus kering dan berambut panjang.
Dengan asiknya, pemahat
tua itu sedang menyelesaikan sebuah
patung yang lain daripada yang lain, karena patung ini bukan patung seorang wanita telanjang, melainkan patung
Bagawan Siddha Kalagana sendiri.
Kepala dan bagian tubuh atas
telah selesai dan pemahat itu sedang berlutut, mengerjakan bagian bawah, Indrayana dan Pancapana saling pandang, karena
takjub melihat keindahan patung itu.
Mereka merasa seakan-akan berhadapan dengan Begawan itu sendiri. Demikian
hidupnya patung itu sehingga mata patung itu seolah-olah bergerak
dan hidup. Akan tetapi tiba-tiba Pancapana memegang
lengan Indrayana dan berbisik dengan suara gemetar.
“Dia adalah Panjipurna ahli patung Mataram!“
Sebelum Indrayana dapat
bertanya, pangeran itu lalu menarik tangannya dan menyerbu ke dalam rungan itu. Akan tetapi, aneh sekali, ahli
patung itu seakan-akan tidak
memperdulikan mereka, dan tetap bekerja dengan tekunnya.
“Paman Panjipurna!“ seru Pancapana sambil mendekati orang itu.
Barulah kakek itu menegok dan
melihat Pancapana, ia memandang dengan bengong dan
pucat. Kemudian tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan
menangis.
“gusti Prabu, ampunkan hamba……
Sudah tibakah saatnya paduka datang menjemput nyawa hamba?“
Pancapana tertegun. Orang itu
tentu telah berubah ingatannya, dan menganggap bahwa dia adalah mendiang Sang
Prabu Sanjaya, ayahnya. Ia maju
mendekat dan kembali ia tertegun ketika ia menyaksikan betapa kedua kaki kakek itu terikat oleh belenggu besi yang panjang sehingga tak mungkin kakek itu dapat melarikan diri.
“Aduh, paman Panjipurna, bagaimana
kau sampai menjadi begini?“
Setelah berkata demikian, tanpa membuang waktu lagi, Pancapana dan
Indrayana lalu membuka rantai belenggu kaki orang tua itu. Baru saja pekerjaan ini selesai dan kaki
orang tua itu telah bebas, tiba-tiba dua
orang penjaga masuk ke dalam ruang
itu. Mereka ini adalah anggota-anggota Serigala Hitam yang bertugas meronda
tempat-tempat yang kosong itu,
dan mereka memegang sebatang tombak yang runcing.
“Eh, siapakah kalian ini?“ bentak mereka ketika melihat Pancapana dan Indrayana berada di tempat itu. Akan tetapi, sebagai
jawaban, kedua pemuda digdaya itu menyerbu. Dengan dua kali tonjokan saja kedua orang peronda itu roboh pingsan dan tak berdaya sama sekali ketika Indrayana dan Pancapana menggunakan rantai
pengikat kaki Panjipurna tadi untuk
membelenggu mereka berdua dan
melempar tubuh mereka berdua di
sudut ruang itu.
“Raden, engkau siapakah?“
Panjipurna yang seakan-akan baru sadar dari
mimpi itu bertanya sambil memandang kepada Pancapana dengan
takjub.
Pancapana tersenyum.
“Tentu engkau tidak mengenal lagi kepadaku, paman Panjipurna. Dahulu ketika engkau masih bekerja di istana Rama Prabu, aku masih kecil.
Aku adalah Pangeran Pancapana!“
“Aduh, Gusti Pangeran ……!“ kakek itu lalu menjatuhkan dari menyembah sambil menangis karena terharu.
Kemudian atas pertanyaan Pancapana, ia menceritakan pengalamannya yang
mengerikan. Ia diculik oleh Bagawan Siddha Kalagana dan
dibawa ke tempat itu. Telah banyak ahli-ahli
ukir dan pahat berada di situ, akan tetapi mereka ini semua berada di
bawah pengaruh dan tenung dari
Bagawan yang sakti itu, bahkan telah
memeluk agama yang disiarkan oleh Bagawan Siddha Kalagana. Hanya
Panjipurna seoranglah yang masih kuat dan teguh imannya sehingga
ia tidak sampai terbujuk. Hal
ini hanya mungkin karena kakek
seniman ini juga seorang ahli tapa yang telah memiliki batin sekali sehingga tak dapat terkena guna-guna dan tenung
Sang Bagawan Siddha Kalagana.
“Inilah sebabnya, maka bertahun-tahun hamba dibelenggu dan dipaksa bekerja di sini. Hamba tidak sudi mengerjakan patung-patung cabul itu, maka bagian hamba
hanya membuat patung-patung lelaki, dan yang terakhir ini hamba dipaksa membuat patung Sang Begawan.“
“Di manakah adanya lain-lain ahli patung yang bekerja?“ tanya Pancapana.
“Seperti biasa, Gusti Pangeran. Mereka
itu ikut pula bersukaria dalam pesta
gila itu. Karena hanya dalam pesta gila itulah mereka berkesempatan untuk bersukaria dan melampiaskan segala
nafsu iblis!“
“Paman, kami berdua datang untuk
mancari dan menolong seorang
puteri yang diculik oleh
pendeta iblis itu. Di manakah kiranya
disembunyikan kawan kami itu?“
Panjipurna menarik napas
panjang.
“Memang bagawan itu jahat sekali. Hamba sendiri tidak pernah keluar dari ruang ini,
gusti. Akan tetapi hamba tahu bahwa bagawan
itu memiliki sebuah bilik
istimewa di sebelah bangunan
ini. Adapun ruang pesta gila-gilaan itu
berada di sebelah kiri. Kalian
hati-hatilah, Bagawan Siddha Kalagana amat sakti, dan kaki tangannya
banyak sekali.“
“Jangan khawatir, paman. Kalau kami berhasil menyelamatkan kawan itu, kami akan berusaha
menolongmu keluar dari sini
pula.“ Setelah berkata demikian, Pancapana dan
Indrayana lalu keluar dari ruangan itu dan dengan hati-hati sekali mereka menuju ke dalam.
Akhirnya karena tidak berhasil mendapatkan kamar rahasia dari pendeta iblis
itu, mereka lalu menuju ke sebelah kiri
untuk mengintai ruang pesta yang
makin ramai itu. Ketika meteka telah tiba di tempat itu dan mengintai, hampir saja keduanya berseru saking heran, terkejut, marah, dan juga seram. Ruang yang disebut ruang senitari itu ternyata amat
luas, empat kali lebih lebar daripada ruang
tempat pembuatan patung tadi yang
sudah cukup lebar. Berbeda dengan ruang-ruang lain, di sini tidak dipasangi penerangan lampu, akan tetapi gentengnya terbuka sama sekali sehingga penerangan yang masuk di dalam ruang itu sepenuhnya
didapat dari sinar bulan purnama. Oleh karena itu, maka pemandangan di situ suram- suram, menyeramkan, akan tetapi juga romantis sekali.
Oleh karena sinar bulan cukup terang,
Indrayana dan Pancapana dapat melihat hiasan arca-arca dan
ukiran-ukiran pada dinding ruang itu dan kedua pemuda itu menahan nafas saking kagum, heran , dan juga
jengah. Mereka kagum, oleh karena
seni pahat yang menghasilkan hiasan-hiasan itu sungguh-sungguh amat mengagumkan karena
indahnya. Apalagi Indrayana yang berada di Kerajaan Syailendra, bahkan Pancapana sendiri yang berada
di Mataram di mana banyak
terdapat ahli-ahli patung
yang pandai, juga takjub sekali
Koleksi Kang Zusi menyaksikan patung-patung dan ukiran-ukiran yang
sedemikian indahnya.
Akan tetapi, yang membuat mereka terheran-heran, jengah, dan juga seram adalah keadaan segala
macam ukiran dan arca itu. Semua arca yang berada di situ telanjang bulat, bahkan cabul sekali, lebih-lebih lagi ukiran-ukiran dan
gambar-gambar pada dinding rungan
itu. Bukan main kotor dan cabulnya. Ukiran-ukiran dan gambar-gambar itu menggambarkan dunia
Kamawacara, yakni daerah keinginan nafsu dan duniawi yang membuat manusia sama
dengan binatang. Dengan cara
menyolok dilukis atau diukirkan pelanggaran- pelanggaran, perzinaan-perzinaan dan pencabulan yang tiada taranya, lukisan-lukisan
manusia-manusia telanjang yang melakukan kehidupan seperti binatang, dan lain lukisan lagi yang kesemuanya menggambarkan hidup
yang tenggelam dalam kenikmatan nafsu-nafsu buruk.
Di tengah-tengah ruang yang amat lebar itu, berdirilah patung yang besarnya dua kali ukuran manusia biasa, dan inilah patung Batari Durga,
shakti (isteri) dari Sang Hyang Syiwa. Akan tetapi bukan seperti patung Batari Durga yang dikenal oleh Pancapana dan Indrayana, melainkan patung Batari Durga yang bertelanjang bulat dan tidak mengenal malu sekali.
Di suatu sudut duduklah sekelompok orang yang menabuh gamelan. Kurang lebih seratus orang laki-laki dan wanita berjubah menjadi
satu, duduk bersimpuh di
ruangan itu dan semua orang
menghadap kepada patung Batari Durga
dengan penuh khidmat. Tujuh orang laki-laki tua yang berpakaian seperti
pendeta, duduk pula bersimpuh di kaki patung itu dan kadang-kadang mereka menyanyikan lagu menurut irama
gamelan itu, lalu diikuti oleh para pengunjung yang terdiri daripada orang-orang kampung
di tepi Kali Serang.
Di tempat sudut rungan itu
mengembul asap kayu garu dan cendana dibakar,
membuat rungan ini berbau
harum dan sedap, bahkan semua patung yang berada di situ, terutama sekali patung Batari Durga yang di
tengah-tengah, penuh dengan kembang melati dan mawar serta kenangan, sehingga
keadaan di situ penuh dengan bau kembang yang harum pula.
Hawanyapun sejuk dan segar, karena di atas terbuka sama sekali.
Ketika kedua orang muda yang
mengintai dengan hati berdebar-debar itu mencari-cari dengan pandang mata mereka kalau-kalau terlihat
Candra Dewi atau Bagawan Siddha
Kalagana di situ, tiba-tiba semua orang yang menghadap patung Batari Durga itu meniarapkan tubuh mereka di atas lantai seakan-akan menyambut
munculnya seorang Dewa atau Raja Besar.
Dan yang disujudi itu muncullah dari sebuah pintu yang tertutup kain sutera kuning, diiringi
oleh nyanyian-nyanyian para
pendeta yang tujuh orang jumlahnya itu. Gamelan dibunyikan perlahan
sehingga keadaan benar-benar menyeramkan.
Akan
tetapi Indrayana dan Pancapana hampir saja tak dapat menahan ketawa mereka karena geli dan jijik
melihat keadaan Bagawan
Siddha Kalagana yang muncul
dari pintu. Pendeta itu sama sekali tidak berpakaian ! hanya sorban penutup kepala
dan sehelai cewat sempit saja yang
masih menempel pada tubuhnya. Tubuhnya
kelihatan makin kurus dan makin
tinggi, penuh dengan batu hitam
terutama di dada, kaki dan lengan.
Seperti seekor monyet! Ia lebih pantas disebut monyet bersorban, bercawat daripada disebut manusia bertelanjang ! Akan tetapi, di samping kelucuan ini, memang benar ada sesuatu yang amat mengerikan keluar dari keadaan pendeta ini.
Sepasang matanya seperti bukan mata manusia lagi, mencorong bagikan mata seekor
ular, jalannya juga perlahan dan lemas bagaikan ular kobra merayap maju
berlenggak-lenggok. Di samping kegelian
hatinya. Indrayana dan
Pancapana diam-diam mereasa
betapa bulu tengkuk mereka
meremang. Bukan manusia bagawan
ini pikir mereka, melainkan seekor iblis jahat menjelma menjadi
manusia. Bagawan Siddha
Kalagana lalu menghampiri patung Batari Durga itu, menjura di hadapannya kemudian ia memeluk pinggang patung itu
dengan mesra seakan-akan seorang suami memeluk isterinya yang terkasih.
Teringatlah Indrayana
dan Pancapana bahwa Bagawan Siddha Kalagana menganggap diri
sendiri sebagai titisan
Sang Hyang Syiwa, suami dari Batari Durga ! Menggigillah pundak Pangeran Pancapana !
Benar-benar suatu pelanggaran
terhadap dewata, suatu penghinaan yang hebat sekali. Hanya
orang berotak miring jualah yang
berani melakukan penghinaan seperti
ini.
Bagawan Siddha Kalagana lalu
duduk di atas sebuah kursi berukir gambar
sepasang naga. Kursi itu tinggi dan
terletak di sebelah kanan patung Batari Durga yang telanjang bulat itu. Alangkah lucunya
pasangan itu dalam pandangan mata Pancapana dan Indrayana. Selain
patung Batari Durga itu jauh lebih tinggi dan besar, juga keduanya merupakan lambang dari keindahan dan
keburukan. Kalau patung Batari Durga
itu merupakan tubuh seorang manusia wanita yang serba elok dan sempurna lekuk lengkungnya, adalah tubuh bagawan yang duduk di atas kursi itu merupakan potongan
tubuh manusia yang gagal,
setengah manusia setengah monyet ! Akan tetapi, alangkah
ganjilnya, semua orang yang
berada di situ bertiarap menghormat kepada manusia monyet yang menjijikan itu
dengan penuh khidmat. Pendeta Hindu
itu lalu menggerakkan kedua
tangannya, dilonjotkan ke depan seakan-akan hendak memberi berkah kepada semua orang, akan tetapi suaranya mengandung perintah ketika ia berkata,
“Kawula (hamba sahaya) Sang
Batari yang terberkah! Sang Batari telah memilih seorang pelayan baru, oleh
karena itu pada malam hari ini kami berkenan
mangadakan pesta untuk merayakan peristiwa yang bahagia ini!
Akan tetapi ketahuilah bahwa pelayan baru kali ini bukanlah sembarangan pelayan,
karena masih terhitung keluarga sendiri.
Dia adalah puteri Batara Candra, namanya Candra Dewi. Batara Candra sendiri telah memberi ijin persetujuannya untuk
memberikan puterinya kepadaku, untuk menjadi pelayan dan selir
dari aku, Sang Hyang Syiwa. Semua ini telah dikehendaki oleh Sang Batari Yang Maha mulia!“
Setelah berkata demikian, ia menengok kepada tujuh orang pendeta menjadi pembantunya.
“Panggil keempat puluh
bidadari untuk mengadakan tari-tarian di sini dan
menghibur setiap hati yang rindu dan sunyi, menyerahkan semua kepandaian dan kecantikan mereka. Jangan
lupa, bawa ke sini pula tiga buah jantung murni
yang akan menambah masa penjelmaanku dengan tiga windu lagi.“
Tujuh
orang pendeta itu lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian, dari dalam keluarlah empat puluh orang gadis yang daang
berlari-lari kecil bagaikan terbang melayang, diiringi suara
gamelan yang menyambut kedatangan mereka. Indrayana dan Pancapana merasa kagum sekali.
Keempat puluh orang gadis itu masih amat muda dan rata-rata memiliki
kecantikan muka yang cukup
menarik. Mereka mengenakan pakaian
yang amat tipis berwarna putih
bening sehingga ketika mereka datang
berlari kecil itu, tubuh mereka
nampak membayang di balik pakaian yang amat tipis itu. Gerakan mereka lincah dan lemas, dan dalam
keadaan yang suram-suram itu, dalam pakaian yang amat tipis, diiringi pula
oleh gamelan yang ganjil bunyinya, mereka itu tiada ubahnya seperti
keempat puluh Bidadari turun dari Khayangan. Dengan gerakan yang lemah gemulai mereka lalu menjatuhkan siri
berlutut di depan Bagawan Siddha Kalagana.
Indrayana dan Pancapana melihat betapa semua mata memandang kepada empat puluh orang gadis cantik
itu, dan mata orang-orang lelaki yang
hadir di situ memancarkan cahaya
penuh nafsu. Sementara itu gamelan berbunyi
terus, akan tetapi keempat puluh
penari itu tidak bergerak dan masih
berlutut menyembah seakan-akan telah berobah menjadi patung. Seorang di antara ketujuh orang
pendeta tadi maju menyerahkan sebuah cawan terukir berisi tiga potong
benda kecil berwarna kehitaman.
Bagawan Siddha Kalagana menerima cawan ini
dengan muka berseri, kemudian sepotong
demi sepotong ia mengambil dan menelan benda merah tersebut sambil
memejamkan matanya. Tak terasa lagi Indrayana dan Pancapana saling pandang denagn
mata terbelalak membayangkan
kengerian hebat. Dengan mudah mereka
dapat menduga bahwa benda-benda kecil merah yang ditelan oleh pendeta aneh itu tentulah jantung anakanak
kecil yang mayatnya terapung di sungai tadi. Bagawan Siddha Kalagana mengambil dan
menelan jantung anak-anak kecil
untuk digunakan sebagai
obat panjang umur.
“Bawa anggur Sang Batari ke
sini!“ seru Bagawan Siddha Kalagana setelah
menelan habis tiga buah jantung anak-anak itu.
Pendeta yang duduk di atas lantai lalu mengambil sebuah gemntong terisi penuh anggur merah. Untuk
mengangkat gentong ini, diperlukan tenaga empat orang
pendeta yang bertubuh kuat, akan tetapi setelah gentong
diberikan kepada pendeta itu,
dengan tangan kiri Bagawan Siddha
Kalagana mengangkat gentong
dan menuangkan isinya ke
dalam mulutnya begitu saja.
Tentu saja pertunjukan ini mendatangkan rasa kagum, takjub dan percaya
akan kesaktian dalam hati para penonton, sungguhpun hal ini
bukan merupakan hal aneh bagi
Indrayana maupun Pancapana. Setelah puasa minum anggur itu, Bagawan Siddha Kalagana lalu menurunkan gentong anggurnya dan berkata sambil tertawa,
“Sekarang, sebelum pesta
dimulai, semua orang supaya minum
anggur pemberian Sang Batari lebih
dulu seperti biasa!“
Seakan-akan orang yang sudah ketagihan sekali,
orang-orang itu berebut merangkak-rangkak maju mendekati pendeta-pendeta yang membagi-bagi minuman itu. Seorang mendapat anggur secawan kecil dan akhirnya, setelah
para penari yang empat puluh orang jumlahnya itu diberi kesempatan minum terlebih dahulu, semua orang
mendapat bagian dan gentong
itu menjadi kosong dan dibawa keluar.
“Bunyikan gamelan, menarilah untuk menghormati Sang batari,“ kini Bagawan Siddha
Kalagana berseru gembira
sambil menepuk-nepuk tangannya.
Maka berbunyilah kembali
segala gamelan tadi dan kini
terdengar irama yang amat ganas dan
gembira, seakan-akan para penabuh telah menjadi panas
darahnya karena minuman anggur merah tadi. Empat puluh orang
pelayan atau pengiring Sang Betari, yang pada hakekatnya adalah
selir-selir Sang Begawan Siddha Kalagana itu, kini bangkit berdiri dan menarilah mereka dengan gerakan-gerakan
yang indah dan menggairahkan. Pada
permulaannya, tarian mereka itu lemas
dan halus dan benar-benar mengandung seni tari yang amat indah, akan tetapi
makin lama, gerakan mereka menjadi makin cepat dan bunyi gamelan makin dahsyat. Penari- penari itu seperti mabok
dan tak peduli lagi betapa karena gerakan mereka
yang cepat, pakaian mereka
kadang-kadanag terbuka sehingga
memperlihatkan pemandangan yang tidak sopan. Para penonton juga kehilangan keseimbangan lagi.
Kalau tadinya mereka bersikap sopan
dan hormat, kini mereka mulai
tertawa-tawa, bersorak-sorak, bahkan tubuh mereka tidak mau diam,
berlenggang lenggok mengikuti irama gamelan.
Indrayana dan Pancapana tertegun. Belum pernah selama hidup mereka melihat atau bermimpi melihat pemandangan seperti
itu. Sudah gilakah semua
orang itu, demikian pikir mereka. Lebih hebat ketika gamelan ditabuh
makin hebat sehingga tak lama
kemudian, pakaian-pakaian tipis yang
yang hanya dilibatkan pada
tubuh-tubuh dara-dara ayu itu, berterbangan terlepas
dari pundak dan memenuhi lantai, membuat
mereka sama seperti patung-patung wanita
yang berada di situ. Makin menggila pulalah sikap para penonton, terutama para mudanya. Dengan pandangan mata
mereka, seakan-akan mereka hendak menelan bulat-bulat para penari yang bergerak-gerak di depan mereka itu. Tiba-tiba Bagawan
Siddha Kalagana berseru sambil bertepuk tangan,
“Bagus, sekarang semua menari! Semua menari untuk
menghibur Sang Maha Batari!“
Karena mereka semua itu sudah
maklum bahwa hal ini akan terjadi, maka
tadi para penonton sudah merupakan air bah yang tertahan oleh bendungan. Isyarat dan perkenan
dari Begawan Siddha Kalagana ini bagaikan memecahkan bendungan itu sehingga air bah yang kuat itu membanjir keluar. Bagaikan kemasukan iblis, orang-orang itu melompat berdiri, menari-nari, tertawa-tawa berteriak-teriak mengelilingi empat puluh orang penari yang
membangkitkan gairah itu.
Penonton-penonton perempuan tidak ketinggalan,
merekapun lalu menari-nari dan
di dalam keributan itu, laki-laki dan perempuan bertukar pasangan, suami
menari dengan perempuan lain dan
isteri menari dengan laki-laki lain.
Indrayana dan Pancapana saling
pandang dengan penuh pengertian. Inilah yang menjadi sebuah daripada alat-alat pemikat dan penarik dari Begawan Siddha Kalagana. Dengan
amat pandainya pendeta itu menggunakan kekuatan sihirnya, membuat
orang-orang itu menjadi lemah
imannya dan kehilangan semangat,
kemudian memabokkan mereka dengan minuman merah itu dan yang terakhir sekali,
memberi kebebasan kepada mereka menari serta bersentuhan
dengan empat puluh orang dara ayu, selir-selirnya itu.
Beberapa orang penari yang sudah mabok betul-betul dengan mata sayu dan penuh nafsu
menghampiri Bagawan Siddha Kalagana, menari-nari dengan
pinggang berlenggang-lenggok seperti ular di depan dan mnegitarinya, bahkan mulai menarik-narik tangannya
diajak menari bersama. Akan
tetapi, dengan pandang mata bosan, Bagawan Siddha Kalagana mengebaskan tangannya, bahkan lalu berkata kepada
mereka.
“Bawa Sang Candra Dewi ke sini!
Malam ini kita merayakannya, maka
hanya dengan dialah aku mau menari! Sebelum
melepaskan ikatannya, lebih dulu beri dia minum secawan madu merah!“
ketiga orang dara ayu itu nampak
kecewa, akan tetapi mereka lalu
tertawa cekikikan dan berlari-lari masuk untuk menjalankan perintah itu.
Pancapana dan Indrayana saling
memberi isyarat dan bagaikan sudah berjanji terlebih
dulu, mereka lalu meninggalkan tempat
persembunyian mereka dan cepat
mengikuti tiga orang dara yang masih
telanjang bulat dan berlari-lari itu. Inilah kesempatan sebaik- baiknya bagi mereka. Ketiga
orang penari akan membawa mereka ke
tempat kurungan Candra Dewi.
Kalau Indrayana dan Pancapana tidak mengikuti perjalanan tiga orang penari yang semangatnya telah dipengaruhi oleh tenung dan sihir Bagawan,
agaknya takkan mungkin mereka
dapat mencari kamar di mana Candra
Dewi terkurung. Kamar itu adalah
kamar Bagawan Siddha Kalagana sendiri,
sebuah kamar yang besar dan indah, penuh pola ukir- ukiran cabul. Untuk
dapat memasuki kamar itu ketiga
penari tadi melalui tiga lapis pintu
rahasia yang hanya dapat dilihat dan dibuka setelah menggeser patung-patung yang berada di luar kamar.
Dengan hati-hati dan sembunyi-sembunyi kedua orang muda itu mengintai dan mengikuti tiga orang penari tadi,
berjalan melalui sebuah lorong sempit. Tiba-tiba ketiga orang penari tadi menghentikan tindakan kaki mereka
karena jalan itu buntu dan mereka menghadapi
sebuah dinding batu yang
tebal. Di sebelah kiri terdapat sebuah patung serigala batu, memutarnya ke kanan dan terdengarlah suara
bergeret dengan terbukanya dinding
batu itu. Ketiga orang penari itu melangkah masuk dan tertutuplah kembali
jalan tadi. Dilihat begitu
saja agaknya tak mungkin di situ
akan terdapat sebuah pintu tembusan.
Indrayana dan Pancapana menjadi
girang sekali dan setelah menanti
beberapa saat, mereka lalu memutar leher serigala batu itu dan terbukalah pintu.
Mereka cepat melangkah masuk dan
melanjutkan pengejaran mereka.
Kembali mereka sampai di jalan buntu dan terdapat pula sebuah patung serigala hitam yang lebih besar dan lebih dahsyat. Kedua orang pemuda itu mengira bahwa rahasianya terletak pula pada
leher serigala batu itu yang harus
diputar, akan tetapi ternyata tidak
sedemikian. Seorang penari lalu memasukkan tangan ke dalam mulut serigala batu yang lebar itu dan menarikknya maka terbukalah sebuah pintu pula pada dinding
yang tadinya rapat itu.
Seperti juta tadi, Indrayana dan
Pancapana berhasil masuk ke dalam pintu rahasia ini setelah merogoh mulut patung
serigala dan menarik lidah patung anjing serigala itu. Dengan penuh perhatian mereka melanjutkan pengintaian. Kini
mereka tiba di depan sebuah pintu, yakni pintu teakhir, akan tetapi syarat untuk membuka pintu ini bukan merupakan suatu rahasia, melainkan lebih
hebat dan berbahaya lagi. Kini yang
menjaga di depan pintu bukanlah seekor patung serigala yang mengandung rahasia, melainkan seekor
serigala hitam tulen ! Serigala ini
besar sekali dan bulunya hitam
bagaikan arang. Sepasang matanya
liar dan mengkilat, sedangkan moncongnya yang merah itu terbuka, lidahnya terjulur keluar di
antara dua baris gigi yang runcing dan
tajam melebihi pisau belati.
Setelah mengelus-elus leher
dan menepuk-nepuk kepala serigala hitam yang besarnya seperti anak sapi itu. Ketiga wanita tadi lalu
membuka daun pintu dan berjalan masuk dengan lenggang mereka yang amat menggiurkan.
Pancapana dan Indrayana saling pandang. Tak
ada lain jalan bagi mereka selain mencoba untuk menerobos jalan yang terjaga ini. Akan tetapi baru saja mereka muncul, serigala hitam itu tiba-tiba menggeram dan menyalak dengan
hebatnya, lalu menerkam ke arah dua orang pemuda yang berani
mendekatinya.
“Kakangmas, awas!“ seru Indrayana yang berjalan di belakang Pancapana.
Akan tetapi Pangeran itu adalah seorang pemuda yang cukup gagah. Di terkam sedemikian rupa oleh
serigala yang menggerikan itu, ia berlaku tenang, miringkan tubuh ke kiri dan kepalan tangan kanannya menyambar lambung serigala
itu.
“blek!“ tubuh serigala itu bagaikan dilemparkan oleh
tenaga yang dahsyat dan kuat sekali
sehingga terbanting ke dinding batu. Akan tetapi, alagkah herannya
hati Pancapanaketika melihat bahwa tubuh binatang itu tidak remuk sebagai mana yang ia kira, bahkan batu-batu dinding
itu yang berhamburan karena
benturan itu, sedangkan serigala itu sendiri hanya menguik keras satu kali, kemudian bangun
kembali dan menyeranglah lebih hebat
lagi. Bukan main kagetnya hati
Pancapana. Pukulannya tadi amat keras, jangankan baru lambung anjing serigala, biarpun lambung
seekor banteng akan terluka
hebat di bagian dalam apabila terkena pukulan
tadi.
Ia tak sempat memikirkan hal itu karena kini serigala itu telah menyerang lagi dengan mulut terbuka lebar-lebar, menerkam dan hendak
menggigit lehernya. Pancapana berlaku gesit sekali. Ia mengulur tangan kiri menangkap kaki
depan serigala itu, menyentakkan ke
bawah sehingga kepala serigala itu menunduk sambil mengerahkan tenaga
dan kesaktiannya, ia mengirim pukulan
tangan kanan ke arah kepala binatang
itu dengan ajinya Hasta Dibya (Tangan Sakti).
“Dak!!“ terdengar suara keras ketika tangannya itu beradu dengan kepala serigala, akan
tetapi kembali pancapana di bikin benggong ketika melihat betapa
serigala itu hanya terguling-guling tiga kali saja, akan tetapi sama sekali
tidak menderita luka ! dengan
pukulan Hasta Dibya ini, Pancapana pernah memukul pecah kepala seekor babi hutan yang mengamuk, akan
tetapi kali ini, dipukul kepalanya dengan demikian tepat dan jitu oleh ajinya Hasta dibya, serigala hitam itu seakan-akan hanya menertawakan
Belaka.
“Serigala siluman!“ serunya marah
dan cepat mencabut pedangnya dan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, pangeran ini mendahului serigala itu menusuk perutnya.
Akan tetapi, kali ini ia sampai menjadi pucat ketika merasa betapa ujung
pedangnya mental kembali setelah
beradu dengan kulit perut serigala itu.
“Ah, dia kebal!!“ serunya dengan heran.
Sementara itu, Indrayana yang
juga merasa penasaran sekali, mencabut
kerisnya. Ketika serigala hitam itu menubruk lagi ka arah Pancapana, Indrayana menyambar ekornya dan
dibantingnya dengan kuat tubuh
serigala itu sehingga kepala serigala menghantam lantai
batu. Seperti juga tadi, kepala
serigala yang amat kebal dan keras
itu malah menghancurkan batu yang
bertumbuk dengan kepalanya. Indrayana
menambahkan beberapa kali
tikaman keris pusakanya, akan tetapi, benar saja seperti dugaan
Pancapana, serigala itu memang kebal
dan sakti. Kalau seorang manusia, biarpun
ia sakti dan kebal, tak mungkin kuat
menerima pusaka di tangan Indrayana. Akan tetapi oleh karena yang dihadapinya adalah seekor binatang yang telah mendapat “isi“ oleh ilmu hitam Bagawan Siddha Kalagana, maka kerisnya ini
tidak berdaya.
“Ada jalan untuk membuatnya tak berdaya!“ tiba-tiba Pangeran
Pancapana berseru keras dan ia menubruk maju, merangkul leher serigala hitam
itu dari punggung dan memitingnya.
Serigala itu meronta-ronta hendak
melepaskan diri, akan tetapi pitingan Pancapana ini luar biasa sekali. Lengan
kanan pemuda ini memiting leher
sehingga leher serigala itu terpuntir ke atas, sedangkan tangan
kiri pemuda itu memegang ekornya dengan erat sekali. Maka tak berdayalah serigala
itu, hanya matanya saja yang
makin liar dan mulutnya berbuih, akan tetapi sama sekali tak dapat
bergerak lagi. Mengeluarkan suarapun ia tak mampu.
“Biarpun aku yang menolong kangmas!“
kata Indrayana setelah melihat
serigala hitam itu tak dapat
dibikin tak berdaya oleh kawannya. Ia lalu menolak daun
pintu dan melompat ke dalam kamar,
ia menjadi marah sekali ketika
melihat betapa Candra Dewi berada di
dalam kamar itu, berdiri menyandar sebuah tiang naga dan diikatkan di situ ! Dara ini menangis terisak-isak dan menggeleng-gelengkan kepala
ketika seorang di antara tiga penari itu hendak memberinya minum madu merah dari sebuah cawan,
sedangkan dua orang penari lain hendak melucuti pakaiannya.
“Keparat!“ seru Indrayana dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah emndorong tiga
orang penari itu sehingga jauh
tunggang langgang dan saling tindih, saking gemasnya. Indrayana hendak
menendang tubuh mereka. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lemah dan halus dari Candra dewi,
“jangan dibunuh mereka itu …… “
Ucapan
ini seakan-akan mempunyai tenaga raksasa yang menahan kaki
Indrayana dan pemuda itu dengan hati
penuh perasaan kasihan dan terharu, lalu merenggut putus tali-tali yang
mengikat kaki dan tangan Candra
Dewi.
Gadis ini menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya terasa
sakit sambil menerkam matanya. Ketika
ia membuka kembali matanya, maka kedua mata itu menjadi basah dan air mata mengalir turun kembali dengan derasnya. Ia
memandang kepada Indrayana bagaikan
ke dalam mimpi, tidak merasa betapa pakaiannya telah hampir membuat ia
telanjang sama sekali. Tiba-tiba ia berlari dan menjatuhkan diri
berlutut di depan Indrayana.
No comments:
Post a Comment