Wednesday, March 25, 2015

Jilid 6



Sang Prabu Samaratungga berdiri dari kursinya dengan wajah pucat. Ia teringat akan sabda seorang wiku sakti yang telah meninggal dunia dahulu yang menyatakan bahwa apabila gendewa pusaka Dewandanu patah, maka itu berarti bahwa Kerajaan Syailendra telah tiba masanya untuk lenyap dari tanah Jawa!

Siddha Kalagana melemparkan patahan dan gendewa itu ke tanah, tertawa bergelak dan berkata kepada Sang Prabu Samaratungga,

“ Ha, ha, ha! Tidak tahunya gendewa pusaka itu hanya terbuat dari bahan kayu yang lembek saja. Mana dia dapat menahan tenaga tanganku Sang Prabu, sekarang setelah saya dapat menempuh syarat pertama dengan baik, umumkanlah apakah syarat selanjutnya? Menurut pendengaranku, ditetapkan adanya tiga macam syarat!“

Terpaksa Sang Prabu Samaratungga lalu berdiri dan berkata dengan suara lantang.

“Telah kusaksikan bahwa yang kuat menarik gendewa pusaka Dewandana ada lima orang. Syarat-syarat sayembara ini masih ada dua macam lagi, yaitu pertama kali, peserta harus dapat melenyapkan hawa siluman yang mengotori puncak Gunung Papak. Adapun syarat terakhir ialah bahwa si peserta harus dapat mengusir semua ancaman musuh yang hendak menyerang atau mengganggu keamanan Kerajaan Syailendra ! “

Tiba-tiba Pramodawardani berbisik kepada ayahnya,

“Ramanda Prabu, hamba kira lebih baik kalau para peserta itu memperkenalkan diri masing-masing terlebih dahulu.

Diam-diam Prabu Samaratungga memuji kecerdikan puterinya ini, karena memang perlu sekali mengetahui nama-nama daripada calon suami puteri mahkota.

“Sebelum sayembara ini dilanjutkan, perlu diketahui nama-nama para peserta yang lulus dalam syarat pertama. Orang pertama dan kedua telah diketahui, yaitu utusan-utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang bernama Senopati Kalinggapati dan Kalinggajaya. Orang ke empat adalah Raden Indrayana putera Wiku Dutaprayoga seorang kawula Syailendra sendiri, dan orang kelima adalah Siddha Kalagana yang terkenal sebagai seorang pendeta dan juga kini menjadi raja. Akan tetapi, siapakah peserta ke tiga? Harap suka memperkenalkan nama dan kedudukan!“

Sang Rakai Pikatan berdiri dengan tenang dan senyum di bibirnya yang tak pernah meninggalkan wajahnya.

“Sang Maha Raja yang mulai harap maklum bahwa saya adalah Raja dari Mataram yang berjuluk Sang Rakai Pikatan.“

Berisiklah para penonton ketika mendengar nama raja muda yang amat terkenal ini. Memang, nama Rakai Pikatan sebagai raja muda di Mataram amat terkenal dan menjadi buah bibir rakyat, karena raja muda yang masih perjaka itu dikhabarkan amat tampan, sakti dan bijaksana sehingga dalam waktu setahun saja telah berhasil membangun Mataram kembali menjadi jaya dan makmur.

Sang Prabu Samaratungga sendiri tertegun sejenak mendengar nama ini.

Ia merasa amat bangga dan juga binggung. Raja Mataram merupakan tandingan berat bagi Pangeran Sriwijaya, maka kini pilihannya hanya condong kepada kedua calon ini, yakni Pangeran Pati dari Sriwijaya atau raja muda dari Mataram.

Sebaliknya, Pramodawardani mengerutkan keningnya. Ia maklum bahwa raja muda dari Mataram itu beragama Hindu, maka bagaimanakah kalau sampai ia menjadi permaisurinya? Kalau mengingat akan kedudukan, tentu saja lebih baik menjadi permaisuri Mataram, akan tetapi kalau mengingat akan agama, agaknya lebih baik menjadi istri Raden Indrayana. Adapun tentang kegagahan dan kecakapan, sukarlah untuk memilih antara kedua pemuda ksatria itu. Sama halus, sama tampan, sama gagah. Tiba-tiba mendapat sebuah pikiran yang baik. Betapapun juga, agaknya ayahnya tentu akan memilih Raja Mataram daripada Raden Indrayana, dan untuk mencoba dari raja muda yang beragama Hindu itu hanya ada satu jalan yang amat baik.

Ibu kota Mataram dipindahkan kembali dari puncak Gunung Dieng ke ibu kota Medang yang makin lama makin menjadi besar dan ramai. Belum setahun Sang Prabu Pikatan memegang tampuk kerajaan, Mataram telah menjadi besar dan jaya, bahkan boleh dikata lebih besar daripada dahulu-dahulu. Semua ini berkat kebijaksanaan Sang Prabu Rakai Pikatan yang adil dan membela rakyat. Para petugas yang curang dan memeras rakyat disapu habis-habisan. Semua pamongpraja bekerja dengan setia dan jujur, benar-benar merupakan pimpinan dan pembimbing rakyat yang membela dan melindungi kawula Mataram, tidak seperti di bawah perintah Prabu Panamkaran, di mana tidak ada pemimpin yang benar-benar memimpin, yang ada melainkan pembesar yang hanya mementingkan urusan perut sendiri tak perduli akan keadaan rakyat jelata yang tercekik, kelaparan dan telanjang!

Setelah Sang Prabu Pikatan pindah ke Medang, Indrayana lalu minta diri dari sahabatnya ini untuk kembali ke Syailendra mencari ayahnya, Sang Wiku Dutaprayoga,

“Aduhai, dimas Indrayana. Mengapa hendak meninggalkan aku? Kita telah bersama semenjak mengalami kesengsaraan, sama-sama berjuang bahu-membahu. Setelah kini aku mencapai pantai cita dan menikmati hasil perjuangan kita, mengapa kau hendak meninggalkanku? Marilah kita bersama menikmati kebahagiaan di Mataram dan kau bantulah pekerjaanku. Tidak ada patih yang lebih kuingini selain engkau, adikku yang budiman!” kata Sang Prabu Pikatan.

Indrayana tersenyum dan menyembah. Setelah Pancapana menjadi raja, tentu saja ia tidak dapat bersikap seperti dahulu, dan menurut tatasusila, ia harus menunjukkan sikap sebagai seorang hamba kepada junjungannya.

“Paduka telah maklum bahwa tiada kegembiraan lain kecuali mengabdi kepada pasuka dan bekerja sama dengan paduka yang selalu menjadi cita-cita hamba. Akan tetapi, sekarang Mataram telah bangkit kembali, sudah tercapai idam-idaman hati yang dikandung selama kita berjuang. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban hamba untuk mengingatkan kembali kepada Kerajaan Syailendra. Oleh karena betapapun juga, hamba adalah kawula Syailendra. Hamba mendengar berita angin bahwasanya kerajaan Sang Prabu Samaratungga kini sedang berada dalam ancaman musuh dari timur. Tentu takkan membenarkan apabila hamba berpeluk tangan saja.”

Sang Prabu Pikatan mengangguk-angguk.

“Kau benar, dimas, memang demikianlah seharusnya watak seorang kesatria, siap-siaga berjuang membela negara, membela kebenaran, dam mengerahkan tenaga untuk menghancurkan segala macam kejahatan. Akan tetapi, sebelum kau pergi ke Syailendra, kuharap kau suka mampir lebih dahulu di pondok paman Panembahan Bayumurti.”

Merahlah wajah Indrayana mendengar ini karena tentu saja nama panembahan ini mengingatkan dia akan puteri panembahan itu, Candra Dewi, kekasihnya.

“Baiklah, dan ada pesan apakah yang harus hamba sampaikan?”

“Dimas Indrayana, dengarlah baik-baik, dimas. Aku hendak mengirim sebuah surat kepada paman panembahan, dan kau sebagai utusan dan wakilku, ada baiknya bila kau mengetahui apa yang menjadi maksud hatiku.

Ketahuilah bahwa para pinisepuh yang mengembani Kerajaan Mataram, termasuk para panembahan dan senopati sepuh yang banyak berjasa semenjak tama prabu masih hidup, telah berkali-kali mendesak kepadaku untuk segera krama (menikah). Seorang raja besar tanpa permaisuri akan tampak janggal dan dapat mengecewakan hati para kawula. Kupikir benar juga desakan itu dan kurang enaklah kalau aku menolak terus-menerus, apalagi karena sekarang akupun telah cukup dewasa.”

Indrayana tersenyum dan mukanya berseri gembira.

“Catatlah Sang Prabu, bahwa hamba juga menjadi seorang di antara mereka yang mendesak usul ini! Alangkah gembira hati hamba menyaksikan paduka bersanding dengan permaisuri yang cantik dan juga mulia dan agung bijaksana.”
“Benar katamu, dimas. Seorang permaisuri harus cantik dan juga mulia, harus indah lahir batin. Inilah yang amat kukhawatirkan. Mudah saja mencari wanita cantik jelita, akan tetapi sukarlah mendapatkan yang cantik hatinya. Oleh karena itu, menurut pandanganku, hanya seoranglah wanita di dunia ini yang cantik lahir batin, yang sudah kuuji dan kuketahui sendiri keindahan lahir batinnya. Hanya dia seoranglah yang patut menjadi permaisuriku, dan terutama sekali, menjadi seorang wanita termulia yang dipuja-puja oleh seluruh rakyat di Mataram.“

Makin berserilah wajah Indrayana. Tak pernah disangkanya bahwa Pancapana telah mempunyai pilihan. Belum pernah pemuda itu dahulu memberitahukannya.

“Bolehkah kiranya hamba mengetahui siapa adanya puteri yang mulia itu?“
“Siapa lagi kalu bukan diajeng Candra Dewi?"

Kalau ada halilintar menyambar masuk ke dalam ruang keraton itu dan meledak di depan matanya, tak mungkin Indrayana akan sekaget itu. Wajahnya seketika menjadi pucat dan sepasang matanya memandang ke arah Sang Prabu Pikitan dengan bengong bagaikan padang mata orang yang kehilangan semangatnya.

“Ampunkah hamba, mohon diulang sekali lagi nama puteri itu, agar hamba tidak sampai salah dengar,“ akhirnya Indrayana dapat juga mengeluarkan suara, lalu mendengarkan jawaban yang akan diucapkan oleh raja muda itu dengan penuh perhatian hampir tak bernapas saking tegangnya.

Melihat pandangan mata Indrayana, terharulah Sang Prabu Pikitan, sehingga ia turun dari singasana, menghampiri kawannya itu dan memegang kedua pundaknya.

“Indrayana, tidak salah pendengaranmu tadi, memang yang kumaksudkan adalah diajeng Candra Dewi, puteri tunggal paman Panembahan Bayumurti, atau juga adik seperguruan kita.“

Kedua pundak Indrayana mengeras di bawah pegangan Prabu Pikatan dan wajahnya kini seakan-akan tak berdarah lagi.

“Tidak …… tidak kelirukah pilihan paduka……?“ tanyanya perlahan dan lemah.

Sang Prabu Pikatan menarik napas panjang lalu duduk kembali di atas singgasananya. Ia memandang tajam lalu berkata dengan suara tenang.

“Dimas Indrayana, aku maklum akan perasaan hatimu. Aku tahu bahwa kau mencintai diajeng Candra Dewi dan mungkin juga dia mencintaimu. Akan tetapi, harus kauketahui bahwa sebelum dia berjumpa denganmu, akupun telah menaruh hati kasih sayang yang besar kepadanya. Kasih sayangku itu dahulu seperti kasih sayang kepada seorang adik kandung, akan tetapi sekarang, karena aku membutuhkan seorang permaisuri yang sempurna, kiraku selain diajeng Candra Dewi, tidak ada lagi lain wanita yang patut menduduki singgasana Mataram sebagai permaisuri. Kalau kiranya aku tidak menjadi raja di Mataram, agaknya akan dapat aku merelakan hati, mengalah terhadapmu, dimas Indrayana. Akan tetapi ketahuilah bahwa Mataram adalah yang terutama bagiku, yang harus kujaga, baik namanya maupun kemakmuran dan kejayaannya. Kerajaan Mataram bagiku lebih berharga, lebih suci dan lebih kuutamakan daripada apapun juga. Lebih besar daripada rasa sayangku kepadamu, bahkan lebih besar daripada sayangku kepada nyawa sendiri. Harap kau maklum akan hal ini, dimas,“

Ucapan yang panjang itu terdengar oleh Indrayana bagaikan suara dari khayangan yang lambat laun turun dan berubah menjadi sebatang keris yang menancap di jantungnya sehingga berdarah dan perih ia menundukkan mukanya dan berkata dengan suara berisik,

“Sang Prabu, tidak adakah lain wanita yang sepadan menjadi permaisurimu?“
“Jangan salah faham, dimas Indrayana. Banyak sekali wanita yang cukup pantas mejadi isteri Pancapana, akan tetapi, selain diajeng Candra Dewi, kiranya tidak ada lain dara yang patut menjadi permaisuri Sang Prabu Pikatan, raja dari Mataram! mengerti aku?“

Indrayana tak kuasa menjawab, hanya mengganguk. Kemudian ia menggigit bibirnya dan berkata,

“Serahkanlah surat itu kepada hamba, hendak hamba kerjakan tugas terakhir untuk paduka.“

Sang Prabu Pikatan memberikan suaranya kepada Indrayana dan berkata,

“Dimas Indrayana, selama hidupku takkan kulupakan kemuliaan budimu, dan kalau sewaktu-waktu kau telah menjatuhkan pilihanmu kepada seorang puteri, katakan saja kepadaku. Akulah yang akan mendapatkannya untukmu, baik dengan cara halus maupun kasar!“

Akan tetapi, tanpa menjawab Indrayana lalu menerima surat itu dan mundur. Bagaikan terbang, ia ia berlari keluar dari keraton dan terus melakukan perjalanan menuju ke tempat pertapaan Panembahan Bayumurti.

Setelah bayangan Indrayana lenyap dari hadapannya. Sang Prabu Pikatan menarik napas panjang berulang-ulang dan berbisik seorang diri.

“Maafkan aku, dimas Indrayana. Aku tidak melihat jalan lain. Selain Candra Dewi, siapakah lagi yang patut disembah oleh rakyatku? Tidak ada pilihan lain bagiku. Biarlah kau dan aku berkorban perasaan demi kejayaan dan kebesaran nama Mataram……

“Candra Dewi, anakku yang ayu, anakku yang manis. Mengapa dalam beberapa hari ini kulihat engkau selalu bermuram durja? " demikian pertanyaan yang keluar dari mulut Sang Panembahan Bayumurti kepada puteri tunggalnya yang duduk menundukkan mukanya.

Dara itu hanya memandang sekejap kepada ayahnya tannpa berani menentang pandang mata ayahnya yang tajam menembus itu, lalu menunduk kembali.

“Tidak apa-apa, rama. Aku hanya merasa agak kesal dan sunyi. Rama, mengapa engkau tidak mau pindah ke kota? Alangkah akan senangnya kalau kita tinggal di ibu kota Mataram.“

Ayahnya tersenyum.

“Baru sekarang aku mendengar bahwa engkau merasa kesunyian di puncak bukit yang indah dan yang selamanya engkau suka ini. Mengapa, nak? Adakah sesuatu yang membimbangkan hatimu? Katakanlah terus terang kepada ayahmu!“

Akan tetapi, gadis itu hanya menunduk dan menggelengkan kepala, dan tiba-tiba mukanya menjadi kemerahan seakan-akan jawaban yang terkandung dalam hatinya membuatnya merasa malu dan jawaban itu hanya terdengar yang manis itu tidak kuasa mengucapkannya.

“Candra Dewi, tak perlu kiranyanya kau menyembunyikan perasaan hatimu terhadap ayahmu sendiri. Aku tahu bahwa engkau telah cukup dewasa, sudah tiba saatnya untuk meladeni pria, menjadi isteri dan ibu yang bijaksana.“

Panembahan Bayumurti mengelus-elus jengotnya, lalu tersenyum-senyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Candra, anakku, kurasa aku tidak mendahuli kehendak Dewata dan juga tidak menduga keliru kalau kukatakan bahwa ahtimu telah tertambat kapada jaka bagus Indrayana, bukan?“
“Ah, rama Panembahan …… “ sambil menahan-nahan senyum gadis itu menunduk makin rendah dan jari-jari tangannya meremas-remas ujung kembennya.
“Candra, tak usah engkau ragu-ragu dan khawatir anakku yang manis. Aku sebagai ayahmu dan juga kakang Wiku Dutaprayoga sebagai ayah Indrayana, sudah cukup awasa dan mklum akan keadaan hatimu dan hati pemuda itu. Oleh karena itu, diam-dieam ketika kami berdua mengunjungi Sang Panembahan Ekalaya dahulu itu, kami telah berjanji untuk mengikat tali perjodohan antara engkau dan Indrayana!“
“Ah, rama …… “
“Ha-ha-ha, tidak senangkah hatimu, Candra?“ panembahan itu tertawa dengan hati penuh kebahagiaan itu tertawa dengan hati penuh kebahagiaan.
“Betapapun juga, perjanjian kami belum resmi, anakku. Belum diadakan upacara untuk itu, hanya sebagai pembicaraan sambil lalu saja. Sebelum mengambil keputusan, aku dan kakang Wiku akan bertanya kepada orang-orang yang bersangkutan lebih dulu. Maka sekarang, jawablah, anakku. Maukah engkau menjadi sisihan Raden Indrayana?“
“Rama …… !“ Candra Dewi tak dapat menahan rasa girangnya dan juga tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya, akan tetapi ia merasa amat malu. Ia bangkit berdiri dan sambil berkata,
“Masabodoh rama panembahan sajalah!“ Ia lalu berlari-lari ke belakang, keluar dari pintu belakang dan terus berlari ke dalam hutan di belakang rumahnya.

Candra Dewi berlari ke sebuah tempat di mana banyak tumbuh pohon waringin yang besar-besar. Pohon itu tumbuh sedemikian rapatnya sehingga daun-daunnya merupakan atap dan tempat di bawah pohon-pohon itu tidak sampai basah kuyup apabila hujan turun dan juga tidak terlalu panas apabila Sang Surya memanggang jagat. Di sebelah kiri tempat teduh ini terdapat sebuah pondok kecil yang dipergunakan oleh Panembahan Bayumurti sebagai sanggar pemujaan, tempat bermuja samadhi, dan sebelah kanan dijadikan sebuah taman bunga oleh Candra Dewi. Tempat ini selain indah, harum, juga bersih sekali karena setiap hari disapu dan dibikin bersih oleh gadis itu, dijadikan tempat bermain, tempat membuat patung dan juga melepas lelah setelah bekerja dan melayani keperluan ayahnya sehari-hari.

Candra Dewi masuk ke tempat itu dan mengambil sebuah patung tanah yang dibuatnya dan disembunyikan di balik semak-semak. Ia mengangkat patung itu ke tengah taman, kemudian duduk bersimpuh di depan patung yang tak berapa besar itu.

Dipandangnya patung itu sampai beberapa lamanya dengan mata mesra dan mulut tersenyum kemudian diraihnya patung itu dan diusapinya pipi patung beberapa kali.

“Mengapa malah setahun lebih kau tidak datang mengunjungiku? Mengapa kau tidak mengirim berita, tidak memberi kabar sedikitpun juga? Apakah kau sudah lupa kepadaku, lupa kepada Dewimu? Apakah hatimu terpikat oleh sinar mata seorang puteri di Mataram?“

Candra Dewi sama sekali tidak tahu bahwa semua perbuatannya itu diawasi oleh sepasang mata yang semenjak tadi mengintainya, tidak menyangka bahwa semua ucapannya setengah berbisik itu didengarkan orang. Dan orang ini bukan lain adalah Indrayana sendiri.

Sebagaimana telah dituturkan bagian depan pemuda ini dengan hati hancur meninggalkan Kerajaan mataram, menjadi utusan Sang Prabu Pikatan dan membawa surat lamaran raja itu untuk Candra Dewi kekasihnya.

Telah semenjak tadi ia tiba di lerang bukit tempat tinggal kekasihnya, akan tetapi berat rasa hatinya untuk naik ke puncak dan menyerahkan surat lamaran yang merupakan surat pembawa sengsara baginya itu. Ia bahkan lalu naik dari belakang pondok Panembahan Bayumurti dan tiba di belakang rumah di mana terdapat taman bunga Candra Dewi. Berkali-kali ia hendak melanjutkan perjalanannya menjumpai Sang Panembahan, akan tetapi kedua kakinya menggigil dan terpaksa berkali-kali ia menunda pula niatnya dan duduk di bawah sebatang pohon waringin yang besar. Kemudian ia melihat Candra Dewi berlari-lari memasuki taman di bawah pohon waringin itu.

Berdebar-debar jantung Indrayana ketika melihat gadis itu dan ia cepat menyembunyikan diri di belakang pohon. Naik sedu-sedan dari dadanya yang membuat kerongkongannya tertutup dari sesak bernapas ketika ia menyaksikan betapa kekasihnya itu nampak makin ayu dan denok. Dengan mata berlinang ia memandang Candra Dewi mengagumi kecantikan dara itu, bekas kekasihnya yang tal lama lagi akan menjasi permaisuri taja di Mataram.

“Dewi ……, kekasihku …… “ ratapnya di dalam hati, akan tetapi ia tidak keluar dari tempat sembunyinya da hanya mengintai dengan dada berdebar. Ia melihat betapa dara itu lari ke rumput alang-alang, duduk dan mengeluarkan menghadapi patung sambil bicara seorang diri.

Alangkah terkejut dan panas hati Indrayana ketika mendengar kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu kepada patung tadi. Ia memandang dengan penuh perhatian dan telinga terasa panas. Telinganya terngiang-ngiang dan pelupuk matanya menggigil. Tiba-tiba saja ia merasa amat cemburu terhadap patung itu. Memang sungguh mengherankan keadaan pemuda ini.

Kalau tadinya ia hanya dapat bersedih mengingat berapa kekasihnya akan diperistri oleh Sang Prabu Pikatan atau Raden Pancapana bekas sahabatnya, kini tiba-tiba ia merasa cemburu dan marah melihat kekasihnya bercumbu rayu terhadap sebuah patung. Sesungguhnya, kalau saja hendak merampas gadis itu dari tangannya bukan Sang Raja Pikatan, tentu ia akan malabrak perampas itu dan mengajaknya bertanding mati-matian. Ia memandang lagi dengan hati panas dan melihat betapa Candra Dewi mendekap patung itu sambil berkata,

“Ah, kusuma hatiku, tidak tahukah kau betapa kau telah membuat hatiku sunyi dan tak berarti semenjak kau meninggalkanku? Tidak tahukah kau betapa besar rindu dendamku kepadamu? Sudah musnakah rasa cinta kasihmu terhadap Candra Dewi?“

Indrayana tak dapat menahan sabar lagi. Ingin ia merampas patung itu dan membantingnya sampai hancur berkeping-keping. Ia melompat dari tempat persembunyiannya dan berdiri di depan Candra Dewi dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pingang.

Candra Dewi terkejut dan mengangkat muka memandang. Sepasang matanya yang seperti bintang pati itu membelalak lebar, mulutnya yang berbibir indah segar itu ternganga, seakan-akan tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Tak terasa lagi, patung yang dipegangnya terlepas dan patung itu rebah terlentang sedangkan gadis itu sendiri perlahan-lahan berdiri sambil berbisik berkali-kali.

“kau ……? Kau ……? Kangmas ……? ?“

Akan tetapi Indrayana tidak memandang kepadanya. Pemuda itu sedang tunduk, memandang kepada patung tadi dengan mata terbelalak. Seperti belum maupercaya kepada matanya sendiri, ia menggerakkan kedua tangannya mengambil patung itu memandang wajah patung itu dengan penuh perhatian. Ternyata patung itu adalah patung Indrayana sendiri. Pemuda itu tiba-tiba membanting patung itu sampai hancur lalu mendekapkan kedua tangannya di depan mukanya. Sepuluh jari tangannya mengigil, kedua kakinya yang berdiri juga ikut menggigil sedangkan dari celah-celah jari tangannya keluarlah butir-butir air mata.

“Dewi …… Dewi …… “ terdengar keluhnya tercampur isak tertahan. Ia merasa seakan-akan dadanya ditusuk oleh ribuan ujung keris berbisa.

Melihat kekasihnya demikian setia, tetap mencintainya sepenuh jiwa, kemudian mengingat betapa ia tadi telah menyangka yang bukan-bukan. Menyangka gadis sesuci ini berlaku serong mencinta orang lain. Mengingat betapa kekasihnya yang demikian setia dan memang mencintainya, akan dipersunting oleh Sang Prabu Pikatan. Ah, hancurlah hati Indrayana.
Sebaliknya, ketika Candra Dewi menyaksikan keadaan pemuda itu, ia amat terheran-heran dan juga gelisah. Terutama sekali ketika ia melihat air mata pemuda itu mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya.

Serentak gadis itu melompat maju dan memegang kedua lengan Indrayana, membetotnya dengan keras sehingga Indrayana melepaskan tangannya dari depan mata. Pemuda itu memeramkan kedua matanya, hidungnya berkembang kempis menahan dorongan isak yang menaik dari dalam dada, mulutnya terengah menahan hawa perasaan yang bergolak.

“Kakangmas Indrayana …… kau kenapa??“ Candra Dewi bertanya sambil mempererat pegangan tangan pada lengan pemuda itu.

Mendengar suara ini sadarlah Indrayana daripada keadaannya. Ia membuka kedua matanya melalui jari-jarinya ia memandang kepada wajah gadis itu. Melihat betapa sinar mata gadis itu dengan sayu dan mesra menatapi wajahnya, Indrayana menggeleng-geleng kepala dengan keras untuk menahan hasrat hatinya yang ingin memeluk dan mendekap kepala kekasihnya itu ke dadanya, ia bahkan segera menarik kembali kedua tangannya sehingga terlepas dari pegangan Candra Dewi,

“Kakangmas Indrayana …… mengapakah? Apa yang terjadi?“ gadis itu mendesak dan kini iapun menjadi pucat karena menduga bahwa pasti terjadi sesuatu yang amat hebat sehingga pemuda peujaan hatinya itu bersikap sedemikian rupa.

“Tidak ….. tidak …… jeng Dewi …… jangan kau menyentuh aku …… jangan.“

Akan tetapi Candra Dewi bahkan menubruk maju dan memeluk pinggang pemuda itu, menjatuhkan mukanya pada ada Indrayana sambil menangis.

“Kangmas Indrayana …… agaknya kau telah membenci aku …… agaknya kau telah lupa kepadaku …… Gusti Yang Maha Agung …… benar-benarkah kau telah terpikat oleh seorang gadis lain di Mataram …… ?“ Dara ini lalu menangis sehingga Indrayana merasa betapa kulit dadanya menjadi basah dan hangat oleh air mata gadis itu.

Lupakan segala hal dan kedua lengannya yang kuat itu segera merangkul dan memeluk kepala kekasihnya, didekapnya kuat-kuat ke dadanya.

“Dewi …… Dewi …… Dewata menjadi saksi bahwa kaulah satu-satunya wanita di mayapada ini yang menjadi pujaan kalbu dan kesuma hatiku …… “

“Kangmas Indrayana …… “ bisik Candra Dewi dan terisaklah gadis ini karena terharu dan girang. Untuk beberapa lamanya, sepasang teruna remaja ini diam tak bergerak, tenggelam dalam ayunan perasaan masing-masing. Akan tetapi Indrayana sadar kembali dan segera melepaskan rangkulnya, lalu melangkah mundur sambil menggeleng-geleng kepalanya.

“Kangmas Indrayana …… !“ Candra Dewi mengembangkan kedua lengannya dan memandang heran.
“Jeng Dewi, jangan …... jangan kau mendekati aku! Ketahuilah bahwa aku
…… aku tak berhak menyentumu, aku tak berhak memandangmu …… bahkan
…… bahkan aku seharusnya berlutut menyembahmu sebagai junjungan ……
sebagai …… sebagai Maha Puteri Mataram …… "
"Eh-eh, kau kenapakah, kakangmas Indrayana? Sungguh berobah sekali sikapmu. Apakah yang telah terjadi? Katakanlah, aku bersedia menerima pukulan yang bagaimana beratpun, katakanlah."
“Diajeng …… aku …… aku datang sebagai utusan Sang Prabu Pikatan dari Mataram!“

Wajah Candra Dewi berseri.

“Apakah buruknya hal itu? Tentu yang kau maksudkan dengan Sang Prabu Pikatan itu adalah Raden Pancapana, bukan? Ah, kau tentu akan menjadi patihnya. Bagaimanakah keadaan Sang Prabu?“

Melihat kegembiraan Candra Dewi mengenangkan Raden Pancapana yang hampir seperti kakak kandungnya sendiri itu, Indrayana menarik napas panjang.

“Ah, kau tidak tahu, Dewi …… “ keluhnya di dalam hati,
“kau tidak tahu …… “
“Jeng Dewi, memang kakangmas Pancapana yang mengutusku ke sini, untuk menyerahkan sepucuk surat kepada paman panembahan.“
“Rama panembahan berada di dalam pondoknya, akan tetapi, kau masih belum menceritakan apa yang menjadikan kau bersikap seperti itu. Kau nampak berduka sekali, ada apakah? Apakah hubungannya penyerahan surat ini dengan kedukaanmu?“
“Dengarlah baik-baik, jeng Dewi, surat ini …… maksudnya tidak lain bahwa Sang Prabu Pikatan dari Mataram meminang engkau untuk menjadi permaisuri Kerajaan Mataram.“

Lenyaplah semua warna muka merah dari Candra Dewi, sepasang matanya terbentang lebar-lebar memandang kepada Indrayana.

“Tak mungkin Raden Pancapana mempunyai niat seperti itu. Dia seperti kakakku sendiri ……!Ah, tak mungkin!“

Indrayana menunduk.

“Bagaimanapun juga, memang demikianlah halnya. Sang Prabu harus menikah dan mencari seorang permaisuri, dan …… menurut pandangannya …… hanya engkaulah orangnya yang patut menjadi permaisurinya, menjadi wanita termulia di Mataram.”
“Tidak …… tidak …… aku tidak mau. Ah, kakangmas Indrayana ……, bagaimanakah engkau ini ……? dan kau …… justeru engkau yang melakukan tugas meminang ini ……? Apakah kita sudah gila?“

Melihat betapa kekasihnya berdiri dengan binggung dan wajah pucat, hampir saja Indrayana tidak kuat menahan gelora hatinya, hendak menghiburnya ingin sekali ia memeluk gadis itu, membisikkan kata-kata hiburan, menyenangkan hatinya, mengatakan bahwa semua itu hanya kelakar belaka, bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini, dewatapun tidak, yang sanggup untuk memisahkan mereka, memutuskan kasih sayang mereka.
Akan tetapi, ia harus menarik napas berkali-kali dan menunduk saja.

“Kakangmas Indrayana! Jawablah! Mengapa engkau membiarkan saja hal ini terjadi? Mengapa engkau tidka menentangnya, tidak mengajaknya bertanding, tidak mengubur ujung karismu di dadanya? Mengapa?“

Indrayana mengangkat muka dan memandang tajam.
“Tidak, jeng dewi, Sang Prabu Pikatan adalah seorang raja besar di Mataram. Di dalam tangannyalah terletak keselamatan, kejayaan dan kemuliaan Mataram. Sesungguhnya daripada …… daripada …… mengikuti aku yang bodoh dan hina. Dan dalam pandanganku, tidak ada wanita yang lebih patut menjadi sesembahan rakyat Mataram selain engkau.“

Ucapan ini merupakan keris yang menusuk jantung Candra Dewi. Ia memeramkan kedua matanya, keningnya berkerut dan giginya menggigit bibir. Tak sebutirpun air mata mengalir turun dari matanya, akan tetapi tubuhnya seakan-akan telah ditinggalkan sukmanya sehingga tiada daya sama sekali. Akhirnya ia terhuyung-huyung dan tentu ia sudah roboh kalau tidak Indrayana cepat melompat dan memeluknya.

“Aduh, jeng Dewi ….. jeng Dewi, kuatkanlah hatimu ……" kata Indrayana dengan terharu sekali.

Untuk beberapa lama Candra Dewi tak bergerak dalam pelukan Indrayana, kemudian ia menangis tersedu-sedu.

“Kangmas Indrayana …… mengapa terjadi hal begini ……? Mengapa ……? aku lebih baik mati daripada harus mengalami derita sebesar ini …… sampai hati Raden Pancapana berbuat seperti ini an bagaimana pula engkau orangnya yang menjadi utusannya untuk melamarku……?“

“Tenanglah, jeng Dewi dan pikirkan baik-baik. Raden Pancapana yang dulu tidak ada lagi, yang ada adalah Sang Prabu Pikatan yang mulia dan berkuasa atas kawula Mataram. Kita tak dapat membantah kehendaknya dan anggaplah saja bahwa kita tidak berjodoh, diajeng. Akan tetapi percayalah bahwa selama hidupku aku takkan menikah dengan wanita lain dan bahwa cinta kasihku terhadapmu akan sama kekalnya dengan sukmaku.“

Tiba-tiba Candra Dewi merenggutkan tubuhnya dari pelukan Indrayana dan kedua matanya bersinar-sinar bagikan mengeluarkan api.

“Kangmas Indrayana! kau sungguh mengecewakan hatiku! Kau, seorang yang tadinya kukira segagah-gagahnya orang, kesatria yang kusangka seorang raja kesatria yang semulia-mulianya, ternyata hanya seorang pemuda yang lemah! Kau bukan seorang kawula Mataram, kau seorang kawula Syailendra, mengapa kau harus tunduk kepada Raja Maratam? Sudah terang bahwa Raden Pancapana telah berlaku khianat terhadap kawan dan adik angkatnya sendiri, mengapa kau diam dan mengalah saja? Aku akan seribu kali lebih senang melihat kau tewas dalam usahamu menentang kehendak Sang Prabu Pikatan yang kurang patut ini untuk membelaku, dari pada melihat kau berlemah hati dan mengalah serta mengorbankan aku! Kalau kau tidak berani, biarlah aku sendiri yang akan menentangnya! Awas kau, Pancapana, jangan kau kira bahwa aku Candra Dewi selemah Indrayana! Awas dan tunggulah datangnya pembalasanku!“

Setelah berkata demikian Candra Dewi melompat dan lari pergi dari situ.
Indrayana hendak mengejar, akan tetapi ia menghela napas dan merasa bahwa untuk saat ini lebih baik menjauhkan diri dari gadis itu. Ia lalu pergi menuju ke pondok tempat tinggal Panembahan Bayumurti.

“Selamat datang, Raden Indrayana!“ tegur sang panembahan dengan gembira.
“Duduklah!“

Indrayana berusaha untuk menekan penderitaan hatinya, duduk memberi hormat, bersila dengan spontannya lalu berkata.

“Maafkan saya, paman panembahan, kalau kedatangan saya ini mengganggu.“ “Ah, tidak sama sekali Raden. Apakah selama ini kau sehat-sehat saja?“
“Terima kasih paman panembahan, saya sehat dan selamat, karena doa restu paman. Tak lain saya menghaturkan sembah bakti kepada paman panembahan, juga saya membawa sambah bakti dari Sang Prabu Pikatan untuk disampaikan kepada paman panembahan.“

Panembahan Bayumurti tertawa girang.

“Ya, ya, aku sudah mendengar tentang kemajuan Mataram dalam bimbingan Raden Pancapana. Syukurlah, saat ini telah lama kunanti-nanti. Adakah kau datang berkunjung untuk menengok saja ataukah ada keperluan khusus yang lain, Raden?“

“Pertama-tama saya datang untuk menengok keadaan paman panembahan yang telah lama berpisah dan kedua kalinya, sebenarnya saya datang membawa perintah dari Sang Prabu Pikatan untuk menghaturkan sebuah suratnya kepada paman panembahan. Inilah surat itu, paman.“ Sambil berkata demikian, Indrayana lalu mengeluarkan surat dari Sang Prabu Pikatan itu dan menyerahkan kepada Sang Panembahan Bayumurti.

Pertapa, itu mengeluarkan tanagn menerima surat itu lalu membuka kemudian membacanya. Indrayana hanya duduk bersila sambil menundukkan mukanya, maka ia tidak melihat pretapa itu memandangnya dengan tajam sehabis membaca surat, kemudian ia mendengar pendeta itu menarik napas panjang berkali-kali.

“Jagad Dewa Batara …… kehendak Dewata pasti terjadi! Apakah yang dapat dilakukan seorang manusia yang menjalankan dharma hidup di mayapada tanpa dikehendakinya? Raden Indrayana, anakku, kau tentu sudah maklum akan isi surat ini, bukan?"

Indrayana mengangguk diam.

“Kau sudah maklum bahwa Sang Prabu Pikatan meminang adikmu Candra untuk diangkat menjadi permaisuri di Kerajaan Mataram?“ Kembali Indrayana mengangguk diam. Terdengar lagi pertapa itu menghela napas,

“Aku tak akan menyalahkan Sang Prabu Pikatan. Ia hanya hendak menjaga nama dan sekalian juga memuliakan nama Candra Dewi dan aku sebagai ayahnya. Akan tetapi ia lupa akan kata-kataku dahulu, lupa akan tugasnya mempersatukan Kerajaan Mataram Dan Syailendra, lupa akan tugasnya mempererat ikatan batin antara Agama Hindu dan Buddha.“

Kembali ia menarik napas,

“Memang, segala kemuliaan dan kebaikan selalu harus ditebus oleh pengorbanan dari manusia-manusia mulia! Raden Indrayana, aku orang tua yang dapat menghibur kepadamu yang kutahu sedang menderita tekanan batin!“

Indrayana terkejut dan mengangkat muka memandang dengan heran akan tetapi segera menundukkan kepalanya lagi ketika melihat betapa sinar mata pendeta itu betul-betul menyatakan bahwa pertalian cinta kasih antara dia dan Candra Dewi bukan merupakan rahasia lagi bagi orang tua itu.

“Hanya sedikit peringatanku kepadamu Raden, yang patut kau jadikan obor untuk menerangi kegelapan pikiranmu. Manusia hanya menjadi pelaku yang dapat berlaku menurut kehendak sendiri. Tak seorangpun manusia terlahir dan mati atas kehendak sendiri, namun sekali kelahiran dan kematian menyeretnya, iapun takkan dapat menolak atau membantah! Liku-liku hidup telah terbentang di depan kita, dan kita harus berjalan di atas lorong yang lebar, apakah kita suka atau tidak! Oleh karena itu, senjata yang paling ampuh hanyalah kesabaran dan ketenangan. Tenang dan sabarlah dalam menghadapi apapun juga yang terjadi dan menimpa padamu, karena tanpa dua senjata ini, kau akan mudah tergelincir dan tersesat. Raden, sedikit nasehat untuk bekal kau pulang ke Syailendra!“

Kembali Indrayana terkejut karena tak disangkanya bahwa pendeta ini demikian waspada sehingga tahu pula bahwa ia mengambil keputusan hendak pulang ke Syailendra. Ia menyembah dengan hormat lalu berkata.

“Terima kasih banyak, paman Panembahan. Mudah-mudahan saja saya yng bodoh ini dapat selalu mengingat akan nasehat dan petuah paman yang amat mulia. Karena tugas saya hanya menyampikan surat, maka setelah tugas ini selesai, perkenankanlah saya meneruskan perjalanan saya ke Syailendra.“
“Baiklah,“ pendeta itu menghela napas,
“semoga para dewata melindungi perjalananmu.“ Dengan hati kosong dan semangat lemah, Indrayana meninggalkan bukit itu dan berjalan cepat sekali menuju ke Syailendra.

Di dalam hatinya, ia hanya dapat berdoa semoga Candra Dewi akan hidup bahagia dengan Sang Prabu Pikatan, dan ia mengobati jantungnya yang terluka dan berdarah itu dengan pikiran bahwa ia akan bertapa dan menjadi pendeta seperti ayahnya.

Ayahnya merasa terharu melihat keadaan puteranya yang kurus dan pucat. Ketika mendengar bahwa Sang Prabu Pikatan meminang Candra Dewi, diam-diam Wiku Dutaprayoga maklum pula akan luka di hati puteranya, maka ia tidak banyak bertanya. Kedua ayah dan anak ini lalu tinggal di atas bukit sebelah barat Sungai Praga di mana mereka hidup sebagai petani sambil bertapa dan kadang-kadang membuat senjata keris yang dipesan oleh para perwira Kerajaan Syailendra. Walaupun kini tidak menjadi ahli, Dutaprayoga masih tetap setia dan selalu mengerjakan perintah Sang Prabu Samaratungga apabila Raja ini membutuhkan senjata yang baik.

Kalau Kerajaan Mataram di bawah perintah Sang Prabu Pikatan makin lama makin jaya dan makmur, sebaliknya Kerajaan Syailendra makin lemah dan surut, sungguhpun Agama Buddha yang dikembangkan oleh kerajaan ini makin luas dan makin banyak pengikutnya. Diam-diam Sang Maha Samaratungga merasa kagum akan kepandaian Sang Prabu Pikatan, karena di dalam waktu singkat saja Mataram telah bangun kembali, bahkan kini menjadi makin jaya, sehingga sebagian besar wilayah yang dahulu dirampas oleh para raja kecil, kini telah kembali. Banyak raja-raja kecil kini takluk tanpa diserang lagi dan kejayaan Mataram makin bersinar sampai di daerah Syailendra.

Syailendra pada waktu itu mengalami dua hal yang amat mengelisahkan pikiran Sang Maha Raja Samaratungga. Pertama-tama karena adanya gangguan dari gerombolan Srigala Hitam di bawah pimpinan Siddha Kalagana, pendeta yang sakti mandraguna, penyembah Sang Batari Durga itu. Pendeta itu kini makin besar kekuasannya, makin berani melakukan pelanggaran di wilayah kerajaan lain. Bahkan kini Siddha Kalagana telah mengangkat diri sendiri menjadi seorang raja dengan gelar masih tetap Sang Maha Raja Siddha Kalagana dan kerajaannya disebut Kerajaan Durgaloka.

Hal kedua yang memusingkan Sang Prabu Samaratungga adalah puteri Pramodawardani. Telah banyak pangeran dan raja yang datang mengajukan pinangan, akan tetapi selalu Sang Puteri menolak. Hal ini amat menggelisahkan hati Sang Prabu Samaratungga, oleh karena pinangan datangnya dari banyak pihak dan kalau selalu ditolaknya, maka hal ini akan membuat sakit hati para pangeran itu dan menimbulkan permusuhan.

Pada suatu hari, rombongan perahu layar yang besar-besar dan mewah berlabuh dan merapat di pantai Laut Jawa. Rombongan ini ternyata adalah perahu-perahu dari Kerajaan Sriwijaya di seberang, dan setelah para penumpangnya mendarat, ternyata bahwa mereka adalah utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang datang melamar Puteri Pramodawardani.

Menerima pinangan ini, Sang Maha Raja Samaratungga menjadi girang sekali, oleh karena pinangan ini dianggap yang paling berharga dan mulia bagi puterinya. Pangeran manakah yang datang melebihi pangeran dari kerajaan yang juga beragama Buddha ini? Setelah menerima para utusan itu diberi tempat yang layak segera Sang Prabu memanggil peuterinya menghadap Raja, permaisuri dan puteri mereka itu lalu mengadakan pertemuan di dalam istana.

“Pramodawardani, puteriku yang tercinta,“ kata Sang Prabu Samaratungga dengan suara halus,
“Ketahuilah bahwa hari ini datang warta yang amat menggirangkan dan membanggakan hatiku. Sudah sepatutnya pula kau merasa bangga pula karena warta ini sesungguhnya merupakan penghormatan besar bagimu.“
“Hamba ikut merasa gembira mendengar bahwa ramanda prabu menerima warta girang. Berita apakah gerangan yang mendatangkan kebanggaan itu, rama?“ tanya Pramodawardani sambil memandang kepada ayahnya dengan sepasang matanya yang indah dan bening.
“Baru saja ku menerima utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang besar di seberang, dan utusan itu membawa tugas dari Kerajaan Sriwijaya untuk meminangmu, anakku. Kau akan menjadi permaisuri dari kerajaan yang besar dan jaya! Nama Syailendra akan menjadi lebih besar dan terhormat karenanya. Maka, bergiranglah kau, anakku!“

Akan tetapi, sang puteri yang cantik jelita itu tidak menjadi girang sebagaimana yang diharapkan oleh ayahnya, sebaliknya bermenunglah ia dengan sepasang alis yang hitam kecil dan panjang itu dikerutkan. Setelah agak lama, Sang Prabu Samaratungga menegur puterinya,

“Pramodawardani, mengapa kau nampak tidak bergirang hati? Apakah kau tidak merasa puas menjadi calon permaisuri kerajaan besar itu?“
“Ramanda prabu, mohon ampun apabila hamba mengecewakan hati ramanda. Akan tetapi, terus terang saja hamba belum ada niat untuk meninggalkan ramanda dan bunda ratu. Hamba tak ingin pergi dari istana ini, di mana hamba dilahirkan dan dibesarkan. Kasihilah hamba, ramanda, jangan mengirim hamba ke tanah yang asing bagi hamba itu!“

Merahlah wajah Sang Maha Raja Samaratungga mendengar ucapan puterinya ini.

“Pramodawardani! Alasan-alasan usang yang kau ucapkan itu sudah membosankan hatiku. Penolakan-penolakan atas pinangan banyak pangeran dan bangsawan masih dapat kuterima oleh karena mengingat bahwa para peminang itu derajatnya masih belum melebihi kita. Akan tetapi kau harus tahu bahwa peminang yang terakhir ini adalah pangeran pati Sriwijaya! Kau tak boleh selalu berkepala batu dan membantah orang tuamu. Apakah selamanya kau takkan menikah?“

“Ampun beribu ampun, ramanda! Sesungguhnya, semenjak remaja puteri hamba telah mempunyai serta telah menanam sebuah prasetia di dalam hati tentang pernikahan hamba yaitu calon suami hamba haruslah seorang pemuda yang selain berbudi mulia, berwatak kesatria, juga harus memiliki kepandaian dan sakti mandraguna."

Tiba-tiba Sang Prabu Samaratungga tertawa bergelak, kemudian berkata,

“Ha, ha , ha, tentu saja anakku! Tentu saja! Akupun tidak pasti suka mempunyai seorang anak mantu yang berbudi rendah, yang lemah dan tidak memiliki kepandaian. Jangan kau khawatir, anakku. Pangeran pati Sriwijaya memenuhi semua syarat. Ia masih muda, gagah perkasa, dan bijaksana pula.“
“Akan tetapi hamba menghendaki bukti, ramanda. Hamba hanya mau menjalani tugas pernikahan kalau calon suami hamba dapat membuktikan semua sifat-sifat yang menjadi syarat itu.“
“Hm, jadi kau menghendaki agar supaya diadakan sayembara untuk memilih calon suami?“
“Demikianlah yang menjadi prsetia hamba, ramanda prabu.“

Sang Maha Raja Samaratungga mengangguk-angguk lalu menarik napas sambil meraba-raba kumisnya.

“Akan tetapi, didalam sayembara, semua orang boleh memasukinya, Pramodawardani. Bagaimana nanti kalau pemenang sayembara itu seorang keturunan biasa saja.?“

“Bagi hamba, lebih baik menjadi isteri seorang pemuda keturunan biasa yang memenuhi idaman hati daripada menjadi isteri seorang raja besar yang tidak memenuhi syarat!“

Setelah tertegun beberapa lama, Sang Prabu menggeleng-gelengkan kepala

“Sungguh berbahaya, anakku. Akan tetapi kalau sudah menjadi prasetiamu, tidak baik kalau dilanggar. Biarlah Yang Maha Agung menetapkan pilihan untukmu. Aku hendak mengadakan tiga macam sayembara. Pertama, peminangmu harus dapat menarik gendewa pusaka Dewandanu. Ke dua, ia harus dapat membersihkan hawa siluman yang mengotori puncak Gunung Papak.
Dan ke tiga, ia harus dapat bertanggung jawab dan menyambut semua serangan dari mereka yang menyerbu karena pinangannya ditolak dan harus membela Syailendra dari serangan musuh! Sudah puaskah hatimu, Pramodawardani?“

Berserilah wajah puteri jelita itu. Kalau seorang kesatria muda dapat melakukan tiga buah hal yang disebutkan oleh ayahnya itu, maka terlaksanalah cita-citanya yaitu menjadi isteri seorang yang gagah perkasa dan sakti! Ia hanya mengangguk lalu menundukkan kepalanya, akan tetapi kemudian terdengar kata-katanya perlahan.

“Sudah cukup, ramanda, hanya saja, siapapun juga yang memenangkan sayembara, harus pula melakukan sebuah syarat yang hamba tentukan sendiri kelak!“

Ayahnya tersenyum. Ia maklum bahwa puterinya mempunyaai watak yang keras dan tinggi hati, dan tentu saja sebagai seorang puteri mahkota, Pramodawardani ingin “menghargai“ diri sendiri setinggi mungkin. Akan tetapi, bagi seorang yang telah dapat menyelesaikan tiga macam tugas berat di atas, syarat apa lagi yang tak dapat dilakukan?

“Baiklah, anakku. Sekarang juga akan kuumumkan sayembara ini, sekalian dijadikan jawaban untuk pinangan Pangeran Kerajaan Sriwijaya!“

Setelah itu, Sang Maha Raja Samaratungga lalu bersiniwaka mengumpulkan semua pembesar dan hulubalang dan memerintahkan agar mengumumkan sayembara segera disebar luas. Juga para utusan dari Sriwijaya mendapat jawaban yang sama, yaitu pinangan dari pangeran pati Sriwijaya hanya dapat diterima apabila ketiga syarat sayembara itu terpenuhi. Utusan dari Sriwijaya itu dikepalai oleh dua orang senopati Sriwijaya yang bernama Kalinggajaya dan Kalinggapati, dua orang kakak beradik yang gagah perkasa. Sebagai utusan yang berbakti, mereka berdua sanggup untuk mengerjakan dan memenuhi syarat sayembara itu atas nama pangeran pati.

Selain utusan dari Sriwijaya ini, banyak pula pangeran dan ksatria yang memasuki sayembara. Hari yang baik untuk pembukaan sayembara itu dipilih dan kemudian diumumkan. Di alun-alun telah dibangun sebuah panggung untuk Sang Prabu, Permaisuri dan Puteri Mahkota.
Pada pagi hari dibukanya sayembara itu, rakyat berduyun-duyun datang ke alun-alun, mengelilingi pagar prajurit yang menjaga alun-alun itu. Di tengah alun-alun duduk bersila belasan laki-laki gagah perkasa belaka. Kepada mereka itulah semua mata penonton ditujukan dan mereka menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Di depan para calon itu terdapat sebuah meja tinggi di mana gendewa pusaka keraton, pusaka Dewandanu, diletakkan, terbungkus sutera kuning. Gamelan keraton sengaja dikeluarkan dan ditabuh meramaikan suasana.

Baru saja Sang Maha Raja Samaratungga beserta permaisuri dan Sang Dyah Ayu Pramodawardani telah keluar dari kedaton dan naik ke atas panggung itu, diiringi oleh para nayaka dan hulubalang. Kini perhatian orang ditujukan kepada Sang Puteri yang cantik jelita itu, yang berjalan menaiki tangga panggung dengan gerakan tubuh yang lemah gemulai, kemudian duduk di sebelah kanan ayahndanya dengan sikap agung, bagaikan seorang bidadari surgaloka. Para pengawal dengan tombak atau pedang di tangan berdiri berbaris di depan dan bawah panggung, menjaga keselamatan keluarga besar itu, sedangkan para pelayan yang juga cantik-cantik itu segera menggerakkan kipas bulu merak dan menyediakan segala keperluan keluarga agung itu, seperti minuman, buah-buahan dan lain-lain.

Gendewa pusaka Dewandanu bukanlah sebuah gendewa biasa, karena gendewa itu adalah milik seorang pemberontak pada zaman pemerintahan raja wanita di Kerajaan Keling, yaitu Ratu Sima. Pemberontak itu tinggi besar seperti raksasa bernama Kala Dibya, sakti dan memiliki tenaga yang mengerikan. Akan tetapi pemberontak ini akhirnya binasa di tangan seorang senapati Ratu Sima dan gendewa dari Kala Dibya yang telah menewaskan banyak sekali senapati dan prajurit dari Kerajaan Keling itu, masih tesimpan sebagai senjata yang dahsyat dan ampuh, yang bernama pusaka Dewandanu. Akhirnya senjata ini terjatuh ke dalam tangan Sang Maha Raja Samaratungga dan dianggap sebagai pusaka keraton.

Sang Prabu Samaratungga memberi tanda dengan mengangkat tangan kanannya, maka dimulailah sayembara itu. Seorang perwira kerajaan dengan penuh khidmat maju memberi hormat kepada pusaka itu, lalu membuka bungkusannya. Nampaklah sebuah gendewa yang sebesar lengan dan panjangnya hampir dua depa, terbuat dari pada kayu yang kehitam-hitaman dan mengkilap. Tali gendewanya berwarna putih dan kuat sekali karena tali ini terbuat daripada otot badak.

Pada saat seorang calon hendak maju menempuh ujian pertama ini, tiba-tiba para penonton di sebelah selatan terdengar ribut-ribut dan bergerak perlahan, memberi jalan kepada kedua pemuda yang tampan dan gagah. Tadinya orang-orang ini hendak marah melihat pemuda yang mendesak ke depan akan tetapi setelah melihat betapa pemuda itu amat tampan dan berpakaian mewah seperti seorang raja, juga wajah pemuda itu bercahaya dan penuh keagungan, maka mereka lalu mengundurkan diri dengan sikap menghormat sekali. Seruan terdengar dari banyak mulut sebagai tanda kagum akan kegagahan dan ketampanan pemuda ini, terutama sekali ketika mereka melihat bahwa pemuda bangsawan ini mempunyai belasan orang pengiring yang terdiri dari orang-orang bangsawan belaka.

Dengan tindakan kaki yang tenang dan tegap, pemuda ini menuju ke tengah alun-alun, kemudian duduk di deretan belakang, bersila dengan gagahnya, sama sekali tidak menyembah kepada Sang Prabu Samaratungga permaisuri dan puterinya yang berada di atas panggung.

Pramodawardani memandang dan sepasang matanya bercahaya penuh kekaguman. Di dalam hatinya ia bertanya siapakah adanya pemuda yang tampan dan gagah itu, yang tejanya bersinar gemilang. Juga Sang Prabu Samaratungga memandang dengan penuh perhatian, karena raja ini dapat menduga bahwa pemuda itu tentu bukan orang sembarangan. Akan tetapi ia merasa penasaran melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak mau memberi hormat dan menyembah ke arah panggung sebagaimana mestinya.

Seorang penjaga yang melihat sikap pemuda itu, segera melangkah maju hendak menegur, akan tetapi ketika telah berdiri di depan pemuda itu dan bertemu pandang ia terkejut dan melangkah mundur. Bukan main hebatnya pengaruh pandang mata pemuda itu, mengandung perbawa yang luar biasa.

“Kau siapakah, Raden? Agaknya kau tidak tahu bahwa yang berada di atas panggung itu adalah Sang Prabu sendiri bersama permaisuri. Kau harus memberi hormat terlebih dahulu.“

“Ponggawa, mundurlah kau. Seorang raja tidak memberi hormat kepada raja lain kalau tidak bertemu muka. Lagipula, paman Prabu Samaratungga duduk di atas panggung sedangkan aku berada di bawah. Kedatanganku untuk mengikuti sayembara, bukan untuk menghadap Sang Prabu!“

Ponggawa itu tertegun. Ucapan seperti itu hanya dapat dikeluarkan oleh seorang raja! Siapakah raja muda ini? Akan tetapi ia tidak berani banyak bertanya dan lalu mundur, berdiri di tempat penjagaannya kembali, yaitu di bawah. Sementara itu, pemuda itu lalu mengerling ke atas panggung.
Siapakah pemuda ini? Tentu mudah diterka, karena ia bukan lain ialah Sang Prabu Pikatan atau pemuda Raden Pancapana yang tampan dan gagah.

Sebagaimana diketahui di bagian depan, Sang Prabu atau Sang Raja Pikatan ini mengutus Indrayana untuk meminang Candra Dewi puteri Penembahan Bayumurti, akan tetapi beberapa hari kemudian ia menerima berita balasan dari Panembahan bahwa Candra Dewi tidak mau menerima pinanganya, bahkan gadis itu telah melarikan diri tanpa memberi tahu kepada ayahnya.

Mendengar ini, Sang Prabu Pikatan menghela napas dan ia tidak menjadi marah, bahkan berkata perlahan

“Candra Dewi, engkau sungguh setia. Aku tahu, penolakanmu ini tentu karena cintakasihmu terhadap Indrayana!“ Raja muda ini mengira bahwa Candra Dewi melarikan diri bersama Indrayana, maka ia tidak memikirkan lagi tentang gadis itu, bahkan di dalam hatinya ia mendoakan kebahagiaan bagi Indrayana dan Candra Dewi yang disayanginya itu.

Kemudian, Sang Rakai Pikatan itu mendengar tentang sayembara yang diadakan oleh Kerajaan Syailendra. Tergeraklah hatinya, dan ia teringat akan cerita Indrayana yang memuji-muji kecantikan Puteri Pramodawardani dari Syailendra. Kalau Candra Dewi tidak suka menjadi sesembahan di Mataram, agaknya yang patut menempati kursi kedudukan permaisuri, selain Puteri Mahkota Pramodawardani dari Syailendra, tidak ada orang lain lagi. Kerajaan Syailendra terkenal sebagai kerajaan besar dan juga nama Sang Prabu Samaratungga cukup terkenal. Tidak akan memalukan apabila ia dapat berhasil memboyong Puteri Pramodawardani ke keraton Mataram untuk dijadikan permaisurnya.

Akan tetapi, ketika ia berunding dengan senopati sepuh di Mataram, para senopati itu menyatakan kesangsian mereka oleh karena Kerajaan Syailendra beragama Buddha.

“Kalau paduka mengajukan pinangan sebagai Raja Mataram, kemudian sampai ditolak hanya karena alasan agama, bukankah itu merupakan tamparan besar bagi Kerajaan Mataram? Sebagaimana paduka telah mengetahui, banyak terjadi kesalahpahaman antara kawula Mataram dan kawula Syailendra karena agama maka janganlah sampai kesalahpahaman ini menjalar kepada keraton kedua kerajaan.“

“Tidak demikian, paman senapati,“ jawab Sang Raja Pikatan,
“oleh karena Kerajaan Syailendra telah mengadakan sayembara pilih menantu maka siapapun juga, baik beragama Buddha atau lain, berhak untuk ikut memasuki sayembara, tidak sebagai seorang raja besar yang datang meminang dengan membawa bala tentara, melainkan sebagai seorang peserta dan aku harap akan pergi dengan beberapa orang pengiring saja.“

Akhirnya berangkatlah Sang rakai Pkatan diiringi oleh beberapa belas orang prajurit saja. Ketika Sang Prabu Pikatan mengerling ke atas panggung dan bertemu pandang dengan Puteri Pramodawardani, ia menjadi bengong dan tak dapat mengalihkan pandangan matanya dari atas panggung. Kecantikan puteri itu jauh melampaui dugaannya, jauh melampaui pujian-pujian Indrayana. Hatinya berdebar keras dan pada saat itu juga ia merasa yakin bahwa inilah wanita idamannya dan ini pulalah wanita satu-satunya yang benar-benar ia inginkan menjadi permaisurinya, bukan hanya untuk pemantas atau demi keharuman nama kerajaannya akan tetapi oleh karena hatinya membisikkan sesuatu yang aneh, yang membayangkan bahwa hanya dengan puteri inilah hidupnya akan bahagia. Sementara itu, Pramodawardani yang juga kebetulan sedang memandang kepada pemuda gagah dan tampan itu, tak dapat lama-lama bertahan dan cepat-cepat menundukkan mukanya yang berobah merah.

Sementara itu, sayembara telah dimulai. Seorang demi seorang maju dan mencoba kekuatan mereka untuk menarik gendewa ampuh itu. Orang pertama adalah seorang pangeran dari timur yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Pangeran itu mengangkat dada, sengaja menanggalkan baju yang memperlihatkan dadanya yang bidang dan membusung. Urat-uratnya melingkar-lingkar bagaikan ular di seluruh tubuhnya.

Puteri Pramodawardani meramkan matanya. Ia tidak tahan untuk membayangkan bagaimana kalau sampai pemuda raksasa ini berhasil memenangkan sayembara. Diam-diam ia menggigil penuh kegelian hati.

Ketika terdengar tepuk tangan para penonton yang menyatakan kagum atas kehebatan bentuk tubuh raksasa muda ini, Pramodawardani membuka matanya, Ia melihat betapa pemuda bermuka hitam itu membungkuk, mengambil gendewa dari atas meja, memegang batang gendewa dengan tangan kiri, kemudian sambil tersenyum mengejek tangan kanannya memegang tali gendewa, lalu dipentangnya. Mula-mula ia menarik perlahan-lahan, dan tali itu dapat tertarik kedua ujungnya oleh tali, ternyata tarikan pemuda itu menjadi mogok karena tali gendewa itu kali ini sama sekali tak dapat digerakkan. Ia mengerahkan tenaga dan mulai hilanglah senyum ejekan yang tadi terbayang pada wajahnya yang hitam. Akan tetapi percuma, gendewa itu benar-benar kuat dan masih lempeng, sama sekali tak dapat dipentang sedikitpun juga. Ia mengerahkan tenaga sambil menahan napas, mukanya makin menghitam, urat-urat kedua tangannya tersembul makin besar, peluh sebesar kacang hijau memenuhi jidatnya, namun percuma belaka. Beberapa kali ia memandang gendewa itu dengan penasaran dan heran, mengganti pegangan batang dengan tangan kanan dan menarik tali dengan tangan kiri, namun usahanya tetap sia-sia.

Kini sorak-sorai penonton makin ramai, akan tetapi bukan merupakan pujian lagi, melainkan sorak menertawakan. Akhirnya pangeran timur ini saking malunya, melemparkan gedewa itu di atas meja dan tanpa banyak cakap lagi lalu lari meninggalkan lapangan itu. Suara terkekeh-kekeh mengikutinya dari belakang. Sang Puteri Pramodawardani menarik napas panjang dengan hati lega, akan tetapi juga merasa kasian kepada pemuda raksasa itu.

Berturut-turut para calon itu mencoba tenaga mereka, akan tetapi gendewa pusaka Dewandanu itu benar-benar luar biasa sekali. Ada di antara para calon yang kuat menarik busur itu sampai setengah lengkungan, akan tetapi tidak dapat sampai busur itu membulat. Baru setengah tarikan telah dilepaskan lagi karena tidak kuat dan kehabisan tenaga.

Orang-orang terakhir yang mengikuti sayembara itu adalah Kalinggajaya, Kalinggapati dan Sang Rakai Pikatan. Para calon lain yang tidak dapat menarik busur itu telah meninggalkan lapangan sehingga kini hanya tinggal tiga orang itu saja yang masih belum mengukur tenaga. Sang Prabu Samaratungga telah menjadi gelisah dan kecewa sekali, harapannya untuk memilih mantu menipis. Baru syarat pertama saja sudah sedemikian mengecewakan, belasan orang ksatria pilihan tak mampu menarik busur itu.

“Ah, anak muda sekarang tiada gunanya!“ katanya perlahan akan tetapi cukup keras sehingga terdengar oleh Pramodawarani yang duduk di sebelahnya.
“aku biarpun sudah tua, masih sanggup menarik Dewandanu itu sampai bulat. Apakah benar-benar tidak ada orang gagah lagi di dunia ini?“

Akan tetapi, pada saat itu Kalinggapati adik Kalinggajaya, utusan dari Sriwijaya itu tampil ke muka. Sebelum melakukan percobaan tenaganya, ia menyembah lebih dulu ke arah panggung, kemudian ia menghampiri gendewa itu dengan wajah tenang. Sang Prabu menahan napas dan berbisik kepada permaisurinya,

“Kudoakan semoga utusan-utusan dari Sriwijaya itu akan berhasil!“

Permaisurinya setuju dengan pendirian suaminya ini dan diam-diam ikut pula mendoa, akan tetapi Puteri Pramodawardani berpikir lain. Diam-diam puteri juita ini berdoa semoga kesatria bagus itulah yang akan berhasil dan keluar sebagai pemenang sayembara. Betapapun tinggi pujian ramandanya akan kegagahan dan kebijaksanaan pangeran pati dari Sriwijaya, akan tetapi ia belum menyaksikan dengan kedua mata sendiri, sedangkan kesatria yang tidak diketahui siapa orangnya itu sudah dilihatnya sendiri dan hatinya berdebar apabila ia melirik ke arah kesatria itu.

Kalinggapati berdiri menghadapi busur Dewandanu dan mulutnya berkemik membaca menteranya kemudian ia menggerakkan tenaga dan kesaktiannya, mengambil busur itu dan menarik tali gendewa. Nampak betapa mukanya menjadi merah dan dahinya berpeluh, akan tetapi ia berhasil menarik tali gendewa sampai melengkung. Sorak-sorai menyambut menyambut hasil ini dan Kalinggapati lalu menaruh kembali gendewa itu di atas meja, menyembah ke arah meja dan “mundur kembali“, duduk di dekat kakaknya sambil memeramkan mata mengatur napas yang terengah-engah. Gendewa itu terlampau berat sehingga ia harus mengerahkan seluruh tenaganya. Kini Kalinggajaya maju. Seperti adiknya tadi, ia menyembah kepada Sang Prabu Samaratungga, kemudian iapun mengerahkan aji kesaktiannya, menarik tali gendewa yang segera melengkung. Tidak ada peluh memenuhi dahinya, hanya wajahnya saja menjadi merah dan urat lehernya mengembung, tanda bahwa ia mengerahkan tenaga dan mudah di lihat bahwa Kalinggajaya lebih sakti dan lebih kuat daripada adiknya. Kembali sorak-sorai riuh rendah menyambut kegagahan ini.

Bukan main girangnya Sang Prabu Samaratungga dan permaisurinya menyaksikan hasil yang diperoleh utusan-utusan Sriwijaya. Sorak-sorai sebagai sambutan atas kegagahan kedua orang utusan Sriwijaya tadi masih riuh ketika Sang Rakai Pikatan berdiri dari tempat duduk, menghampiri meja itu dengan langkah seorang yang lemah lembut dan tenang. Berbeda dengan kedua orang utusan tadi ia tidak menyembah ke arah panggung, hanya membungkuk sedikit sebagai tanda penghormatan, kemudian ia menghampiri gendewa itu. Para penonton diam kembali, kini memperhatikan kesatria yang tampan dan halus itu.

“Orang yang begitu lemah lembut, mana dapat menarik gendewa pusaka Dewandanu?" terdengar orang berkata.

Puteri Pramodawardani juga mendengar ucapan itu dan ia menjadi gelisah. Ketengannya dapat dilihat jelas karena ia duduk sambil membungkukkan tubuh depan, memandang dengan kedua mata tak berkedip. Sang Prabu Samaratungga dan permaisurinya sebagai orang tua dara jelita itu, tentu saja melihat keadaan puterinya ini, maka mereka saling pandang denagn penuh pengertian, kemudian mereka menundukkan pandangan mata ke bawah panggung pula.

Sang Rakai Pikatan menunduk dan mencium gendewa itu, bibirnya bergerak dan tersenyum. Kemudian dengan gerakan tenang dan lemah lembut ia mengambil gendewa itu dengan tanagn kiri, mengangkatnya ke atas kepalanya, memegang tali gendewa dengan tangan kanan di belakang terpentang lebar, tubuhnya agak cendong ke belakang dengan pundak kanan merendah, muka menengadah memandang angkasa, mukanya yang tampan tersenyum manis, kemudian tangan kanannya menarik tali gendewa dengan amat mudahnya, seakan-akan busur itu hanya terbuat dari pada lidi aren dan tali gendewanya dari kulit pohon pisang. Busur itu melengkung sampai menjadi bulat dan ketika tali gendewa dilepaskan, terdengar bunyi

“sing!!“ karena tali gendewa itu menggetar keras. Biarpun gendewa itu tidak dipasangi anak panah, akan tetapi getaran tali gendawa mendatangkan sinar seakan-akan ada anak panah yang melesat ke cakrawala.

Bukan main hebatnya sambutan penonton atas hasil gemilang ini. Gegap-gempita bunyi tepuk tangan dan sorak-sorai, jauh mengalahkan sambutan-sambutan yang tadi.

Sang Prabu Samaratungga dan permaisurinya menahan napas karena merekapun tertegun melihat kesaktian anak muda itu, dan ketika melihat betapa puterinya itu telah berdiri dari tempat duduknya dengan kedua tangan saling peluk, meremas-remas jari.

“Pramodawardani ……!“ terdengar permaisuri menegur dengan bisikan.

Pramodawardani baru sadar ketika mendengar teguran ini, ia menengok ke arah kedua orang tuanya, kemudian duduk kembali dan menundukkan mukanya yang kemerahan. Akan tetapi, pada saat itu, terjadi kegemparan baru di kalangan penonton.

Dua orang telah melompat masuk dalam kalangan, seorang dari utara dan seorang dari selatan. Orang yang masuk dari utara adalah seorang pemuda tampan dan gagah, sama tampan, sama halus dan sama gagah jika dibandingkan dengan Sang Rakai Pikatan. Pemuda ini lagsung menuju ke tempat ketiga calon yang berhasil itu duduk lalu menjatuhkan diri bersila dan menyembah ke atas panggung dengan penuh khidmat.

Ketika Pramodawardani memandang, kedua matanya terbelalak. Ia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Raden Indrayana, pemuda “kurang ajar“ yang dulu berani membuka tirainya ketika ia bersama ayahnya menjunjung pembukaan Candi Lokesywara. Juga Sang Prabu Samaratungga mengerutkan alisnya. Sungguhpun pemuda itu cukup gagah dan tampan, akan tetapi ia hanya keturunan seorang wiku dan pernah melakukan pelanggaran. Namun, apakah hendak dikata, setiap orang boleh saja mengikuti sayembara. Yang lebih mengejutkan hati Sang Prabu adalah orang kedua yang masuk ke dalam kalangan selatan. Orang ini adalah seorang pertapa tua yang amat menyeramkan. Kulit mukanya hitam gelap dan mukanya menunjukkan bahwa ia adalah seorang Hindu. Keningnya tinggi, matanya amat dalam, dipayungi oleh sepasang alis yang panjang dan tebal. Hidungnya panjang, mulutnya tipis. Telinganya panjang dan lebar, dan kepalanya terikat oleh pengikat kepala yang berwaarna putih dilibatkan beberapa kali di atas kepalanya. Jenggotnya pendek dan kasar sekali bagaikan ijuk. Sang Prabu Samaratungga tidak tahu siapakah orang ini dan apa perlunya masuk ke dalam lapangan sayembara, maka ia lalu memberi isyarat kepada penjaga di bawah panggung.
Penjaga itu segera maju dan menghampiri pertapa itu, lalu bertanya,

“Hai, sang panembahan, engkau seorang pertapa tua mempunyai keperluan apakah memasuki lapangan ini?“

Pertapa itu tertawa begelak, suara ketawanya tinggi dan nyaring sekali sehingga menyeramkan semua pendengarnya. Lalu ia mendorong penjaga itu dengan tangan kiranya. Aneh sekali, biarpun tangannya tidak menyentuh dada penjaga yang berdiri sekira satu tombak jauhnya, penjaga itu terlempar ke belakang dan bergulingan beberapa kali di atas tanah.

Kemudian pertapa itu lalu menjura ke arah panggung dan berkata Sang Prabu Samaratungga, perkenankanlah saya memperkenalkan diri sebagai calon mantu Kerajaan Syailendra.

“Saya adalah seorang raja pula, seorang calon raja besar yang akan dapat mengangkat tinggi derajat Kerajaan Syailendra. Saya adalah Sang Maha Raja Siddha Kalagana, raja besar dari Kerajaan Durgaloka. Saya mendengar tentang sayembara pemilihan mantu, maka saya datang untuk memasuki sayembara. Mana gendewa itu, hendak saya tarik sampai patah. Ha, ha, ha !“

Akan tetapi, ketika ia menengok, ia melihat Indrayana sedang menghampiri gendewa itu, maka ia berdiri saja menonton sambil tersenyum mengejek.
Seperti Rakai Pikatan tadi, Indrayana dengan mudahnya dapat menarik gendewa itu sampai bulat, lalu menaruh kembali gendewa itu di atas meja, mengundurkan diri dan duduk di belakang kedua orang utusan dari Sriwijaya.
Ketika semua orang bersorak gemuruh memuji Indarayana. Sang Rakai memandang ke arah Indrayana dengan muka pucat dan kening berkerut.

Apakah maksud Indrayana dengan mengikuti sayembara ini, pikirnya tak senang. Bukankah Indrayana sudah melarikan diri dengan Candra Dewi dan sudah mengawini gadis itu?

Akan tetapi alagkah heran dan terkejutnya ketika kebetulan Indrayana juga memandangnya dengan sinar mata yang amat mengejutkan, karena sinar mata Indrayana mengandung kebencian besar. Ia tahu bahwa Indrayana mempunyai perasaan yang sama, bahkan merasa marah dan penasaran. Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, setelah Indrayana menyerahkan surat pinangan Sang Rakai Pikatan kepada Panembahan Bayumurti, pemuda yang patah hati ini lalu pulang ke Syalendra, selanjutnya tinggal bersama ayahnya dan hidup sebagai seorang pertapa. Penghidupannya sudah aman dan luka hatinya sudah mulai sembuh.

Akan tetapi ketika ia ikut menonton sayembara yang diadakan Sang Prabu Samaratungga, hendak melihat siapa orangnya yang keluar sebagai pemenang dan menjadi calon suami Pramodawardani, tiba-tiba ia melihat Sang Rakai Pikatan memasuki sayembara.

Bukan main marahnya, Raden Pancapana ini ikut pula memasuki sayembara.

“Keparat!“ makinya di dalam hati.
“Baru saja mengambil Candra Dewi merampas kekasihku dari tanganku, sekarang ia sudah meninggalkannya untuk mencoba mendapatkan Pramodawardani! aku harus menghalang-halangi kesesatannya ini untuk menolong Candra Dewi!“

Demikianlah, tanpa banyak pikir lagi, ia lalu masuk ke dalam kalangan sayembara dan ikut menarik gendewa itu hingga berhasil baik. Melihat betapa Indrayana musuh besarnya dahulu berhasil menarik gendewa, Siddha Kalagana lalu melangkah lebar menuju ke meja gendewa itu, tanpa banyak peradatan lagi ia menyambar gendewa dengan tangan kiri, tangan kanan menyahut talinya dan ditariknya gendewa ini sekuat tenaga. Akan tetapi ia merasa terkejut sekali karena gendewa itu benar-benar ampuh dan kuat sekali, sehingga jangankan untuk melengkungkannya, menggerakkannya saja ia tak mampu. Memang sesungguhnya Siddha Kalagana tidak memiliki kedigdayaan yang timbul dari latihan-latihan oleh raga, akan tetapi ia hanya memiliki aji kesaktian yang timbul dari mantera dan segala ilmu hitam yang aneh-aneh. Ia lalu berkemak-kemik membaca mantera, dari kedua tangannya mengepul uap hitam dan ketika ia menariknya mukjizat yang melawan dan menolak tenaga hitam yang keluar dari tangan Siddha Kalagana. Terjadilah pergulatan antara tenaga hitam dan daya mujizat, dan akhirnya terpaksa gendewa pusaka itu harus mengakui keunggulan tenaga luar biasa yang keluar dari kedua tangan pendeta itu.
“Krak!“ maka patahlah gendewa itu pada tengahnya, karena biarpun gendewa itu telah melengkung dan membulat, Siddha Kalagana masih saja membekuknya terus dengan tenaga yang makin lama makin ganas.

“Ramanda prabu, hamba juga hendak menerangkan syarat hamba sendiri. "

Kemudian Sang Puteri membisikkan sesuatu kepada ayahnya dan wajah Sang Maha Raja Samaratungga berseri-seri. Ia memandang kepada puterinya dengan kagum sekali, kemudian sambil tersenyum girang ia berdiri lagi dan mengangkat tangan memberi tanda agar semua orang berdiam. Kemudian terdengarlah kata-katanya yang lantang dan berpengaruh.

“Dengarlah, hai rakyatku di Syailendra! Dan terutama sekali kalian yang mengikuti sayembara ini! Selain syarat-syarat yang kuajukan tadi, puteriku sendiripun mempunyai prasetia dan hanya mau menerima peminang yang dapat membangun sebuah candi Buddha yang besarnya segunung anakan! Untuk bangunan itu telah tersedia tanah suci milik puteri mahkota sendiri yaitu Desa Teru di Tepusan. Nah, sekian adanya syarat-syarat sayembara dan rakyat menjadi saksi utama siapa yang akan sanggup mengerjakan semua syarat dan mengadakan bukti-bukti yang diminta, berhak menjadi suami dari pada anakku. Puteri Pramodawarani!“

Bukan main hebatnya sambutan rakyat atas syarat baru dari sang puteri ini. Berarti bahwa agama baru dari sang puteri ini. Berarti bahwa agama mereka akan tetap terjunjung tinggi, siapapun yang akan memenangkan sayembara itu akan memperisteri Sang Puteri Mahkota.

Sang Rakai Pikatan tertegun sebentar, kemudian ia mengangguk-angguk, di dalam hati ia memuji kebijaksanaan gurunya, yaitu Sang Panembahan Bayumurti yang pernah menyatakan bahwa tanah Jawa akan makmur dan persatuan dapat tercapai kalau Mataram sudah bangkit kembali dan jalannya hanya bersatu dengan Kerajaan Syailendra.

Setelah itu, pertemuan di alun-alunpun dibubarkan. Para pengikut sayembara yang lulus dalam ujian pertama itu dipersilakan untuk melakukan tugas dan pelaksanaan syarat-syarat selajutnya, sedangkan Sang Prabu beserta keluarga lalu kembali ke dalam keraton.

Sepasang senopati dari Sriwijaya, yaitu Kalinggajaya dan Kalinggapati, menjelajah seluruh Bukit Papak, mengelilinginya, masuk keluar hutan dan mendekati puncaknya sampai sehari, mereka berdua tidak menemukan sesuatu.
Menjelang senjakala, kedua senopati itu mengaso dan duduk di bawah sebatang pohon randu alas yang amat besar.

“Dimas Kalinggapati,“ kata Kalinggajaya kepada adiknya,
“telah sehari penuh kita berputar di gunung ini, akan tetapi iblis yang kita singkirkan itu tak juga muncul. Aku merasa ragu-ragu apakah benar-benar ada iblis yang mengganggu manusia tinggal di bukit ini?“
“Sesungguhnya, kangmas Kalinggajaya,“ jawab Kalinggapati,
“sungguhpun alas dan gunung ini cukup angker dan liar, akan tetapi akupun tidak melihat sesuatu. Menurut cerita penduduk di dekat gunung yang kutanyai sebelum kita berangkat, memang dahulu sering sekali terjadi penculikan atas diri gadis-gadis kampung yang dilakukan oleh seorang liar yang amat sakti. Boleh jadi dahulu memang ada seorang sakti yang jahat tinggal di sini, akan tetapi siapa tahu kalau-kalau dia sudah mati.“

Baru saja Kalinggajaya mendorong tubuh adiknya dan bersama-sama mengelundung dari tempat dudduknya sampai beberapa tombak jauhnya. Kalinggapati hendak menegur karena heran, akan tetapi alagkah terkejutnya ketika ia melihat kepala seekor ular amat besar dan panjang bergantung dari cabang pohon randu alas itu ! Kalau saja Kalinggajaya tidak berlaku cepat, tentu tubuh Kalinggapati telah kena disambar oleh ular itu.

“Binatang keparat!“ seru Kalinggapati dengan amat marah dan senapati ini mencabut pedangnya, siap menyergap maju menyerang ular besar itu.

Nanti dulu, dimas. Kaulihat, bukankah ular ini aneh sekali? Seperti bukan ular biasa? " seru Kalinggajaya kepada adiknya yang segera memandang dengan penuh perhatian.

Memang ular itu amat mengerikan. Besar tubuhnya seperti gelugu (batang pohon kelapa). Kulitnya mengkilap berwarna kelabu (abu-abu) kehitam-hitaman. Kepalanya lebar dan gepeng, akan tetapi mulutnya dapat terbuka lebar. Di antara kedua matanya yang kecil bergerak-gerak itu terdapat daging jadi yang bentuknya meruncing seperti tanduk. Dari mulutnya mendesis-desis itu nampak mengepul uap kehitaman. Inilah yang membuat Kalinggajaya menjadi heran dan sangsi, timbul kekhawatirannya dan mencegah adiknya berlaku gegabah.

“Awas, dimas, agaknya ia berbisa. Lebih baik menggunakan anak panah!”

Sambil berkata demikian Kalinggajaya mengambil busur dan anak panah, sedemikian Kalinggapati. Kedua orang senopati setengah tua itu mementang busur dan ketika tali gendewa dilepas, melesatlah dua batang anak panah bagaikan kilat menyambar, tepat menuju kearah kedua mata binatang itu. Akan tetapi ular itu benar-benar hebat. Agaknya ia maklum bahwa kedua matanya takkan dapat menahan dua batang anak panah itu, maka cepat sekali kepalanya ditundukkan dan ia menerima datangnya kedua batang anak panah itu dengan kepalanya yang berbentuk daging! Dan …..alangkah kaget dan herannya kedua orang senopati Sriwijaya itu ketika melihat anak panah mereka mengenai kepala ular dan meleset tanpa melukainya sedikitpun juga.

“Dia kebal!!” seru Kalinggapati dengan kedua mata heran.

Ular itu menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri, kemudian meluncur makin panjang dan agaknya hendak mengayun tubuhnya kea rah kedua orang penyerangnya.

“Lekas pergunakan panah putih!” kata Kalinggajaya kepada adiknya. Kedua orang senopati ini memang memiliki anak-anak panah yang ujungnya terbuat daripada logam putih yang amat keras dan jangankan tubuh orang atau binatang kebal, bahkan besi dan bajapun akan dapat tertembus oleh anak panah ini.

Kedua orang senopati Sriwijaya ini telah memasang anak panah putih mereka pada busur masing-masing dan ular itu ketika melihat cahaya yang keluar dari ujung anak-anak panah itu agaknya tahu akan keampuhan senjata ini, karena kepalanya bergerak-gerak ke kanan kiri seolah-olah merasa gelisah.

Gendewa dipentang dan agaknya sebentar lagi tubuh ular itu akan termakan oleh dua batang anak panah itu, akan tetapi tiba-tiba kedua orang senopati itu memekik keras lalu roboh terguling. Busur dan anak panah terlepas dari pegangan dan di punggung mereka menancap lembing-lembing yang dilepas dari arah belakang. Mereka roboh mandi darah dan tak bernyawa lagi, dengan kulit berubah hitam karena lembing-lembing itu ternyata mengandung bisa ular yang amat jahat.

Masih terdengar gema suara jeritan kedua orang senopati yang tewas itu ketika dari balik semak-semak melompat keluar dua orang laki-laki yang berkapala gundul dan bertubuh jangkung kurus. Usia mereka ini kurang lebih empat puluh tahun dan keadaan mereka memang amat luar biasa sehingga siapapun juga yang bertemu dengan mereka, terutama di waktu malam hari tentu akan mengira bahwa mereka adalah iblis-iblis dan bukan manusia.

No comments:

Post a Comment